Siapa perempuan yang ingin menjadi mandul .?? tidak ada satupun yang menginginkan itu semua, setiap wanita pasti ingin punya keturunan punya buah hati yang akan menjadi pelengkap dalam bahtera rumah tangga nya, sebagai pemanis dalam cinta yang di arungi bersama teman hidupnya.
Namun rencana yang kuasa tetap lah rencana nya siapa yang dapat menghindar atau mengelak jika ia sudah berkehendak, itu lah yang di alami kora.
11 Tahun pernikahan nya ia selalu mendambakan ada buah hati yang sudi tumbuh dalam rahim nya, 11 tahun penantian yang panjang. Pernikahan yang sempurna, memiliki suami yang sempurna ternyata bukan lah obat dari sebuah penawar kebahagiaan.
pernikahan yang dikira akan berjalan seumur hidup harus kandas kala tuntutan dan penghianatan yang terjadi. kora tidak marah tidak juga menyalahkan siapapun ia memilih mengalah dan merelakan cinta nya pergi dan memilih menghilang untuk menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeinXD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH 25
Andre menatap foto buram di tangan nya ada 3 anak yang berdiri dengan tersenyum manis, ia memperhatikan foto buram tersebut dan mengusap nya.
Gadis kecil bergaun putih itu tersenyum dengan manis namun wajahnya tidak tampak jelas karena foto nya buram termakan usia, Andre yang tak menyadari grace masuk ke ruangan nya kaget kala tangan Grace dengan lembut menyentuh pundak nya.
Grace hanya tersenyum namun hatinya pedih, lagi lagi ia harus melihat Andre yang menangis sembari mengusap foto wanita lain di depan nya. Ia tidak tau siapa gadis itu ia ingin tau siapa wanita yang bisa membuat suaminya jatuh cinta.
Andre mengusap air mata nya ia berusaha menutupi nya seolah tak terjadi apa-apa, Grace tau tapi dia hanya diam ia tau bagaimana kisah mereka bisa sampai berkahir seperti ini.
" ada apa?"
Andre bertanya pada Grace yang biasanya tak datang ke kantornya jika tak ada hal mendesak, grace memposisikan dirinya duduk di depan Andre.
" nanti malam ada makan malam bersama di rumah mama, dia mengundang kita untuk hadir!"
" baiklah, jam berapa?"
" jam setengah delapan!"
Grace ingin sekali menanyakan wanita yang ada di foto yang dilihat suaminya tadi, dan dimana wanita itu sekarang apakah dia sudah menikah atau bagaimana.
Semua pertanyaan itu hanya berenang di kepala grace ia tak ingin terlalu dalam jatuh, toh jika suatu saat masa lalu suaminya kembali. Ia sendiri yang akan mundur dan pergi tanpa pernah mengagu kebahagiaan Andre.
" apa yang kau pikirkan?"
" tidak apa, hanya memikirkan bagaimana dengan lili sekarang!"
" bukan kah setiap hari bertemu?"
Grace hanya tersenyum yang ia maksud bukan lah bagaimana keadaan lili sekarang, yang ia maksud adalah bagaimana jika nanti ia membawa lili pergi bersama nya apakah putrinya akan sangat terluka sebab harus berpisah dengan ayah nya.
Memikirkan nya saja sudah membuat hati Grace nyeri, ia bangkit dari duduknya.
" aku akan menjemput lili!"
" hmm!"
Andre hanya mengagukan kepalanya ia tak banyak berntanya lagi, karena hati nya masih memikirkan cinta masa lalunya.
...----------------...
Tiara yang sedari tadi menanti kedatangan Hendra sudah mempersiapkan diri sepenuhnya, ia akan menghabiskan waktunya untuk memuaskan pria ini karena ia sudah menyiapkan rencana yang mungkin nanti akan membuat semua orang terkejut.
Hendra membawa bekal di tangan nya ia tersenyum sumringah, pacaran mata yang bahagia itu membuat Tiara tak senang ia menatap bekal makanan yang ada di tangan Hendra.
Tiara mendekati Hendra ia menarik kerah baju pria itu dengan genit, ia mengecup bibir Hendra dengan pelan dengan senyum memikat nya membuat Hendra tak dapat menahan gejolak dalam hatinya.
Mereka kembali melakukan hal itu mereka terlalu larut dalam permainan, mereka lupa akan konsekuensi dari perbuatannya segala yang terjadi akan menjadi senjata yang akan menusuk mereka.
Mereka tak menyadari kamera tersembunyi yang di pasang di kamar tersebut oleh seseorang, mereka terlalu asik tanpa sadar akan bahaya yang sedang mengincar mereka.
Seseorang yang menonton adegan itu melalui ponsel nya, ia dengan senyum sinis menatap kebejatan dua manusia tanpa merasa berdosa itu.
" bersiaplah!"
Ia tertawa ia telah mengumpulkan banyak senjata untuk menghancurkan nya, dendam di hatinya membuat nya begitu semangat untuk menghancurkan orang itu, bertahun-tahun lamanya ia mencari nya dan di tempat ini lah ia menemukan nya orang yang telah menghancurkan kebahagiaan nya.
" mama!"
Dalam ingatan nya masih tampak jelas sang ibu yang memilih bundir Dangan cara gantung diri, semuanya akibat dari sang ayah yang lebih memilih selingkuhan dan keluarga baru nya hingga membuat sang ibu depresi berat dan memilih bundir saat ia baru usia 10 tahun.
Saat itu di benak nya hanya ada bagaimana cara ia balas dendam terhadap orang orang yang merusak kebahagiaan nya, membayar nyawa ibunya.
" kalian yang harus membayar apa yang kalian perbuat!"
Ia mengepal tangannya dengan erat kebencian ini sudah terlalu lama hingga mengakar dalam hatinya, ia sudah tak perduli lagi dengan semua yang ia inginkan sekarang adalah mereka harus menerima pembalasan yang jauh lebih menyakitkan dari dirinya.
...----------------...
kora memilih keluar jalan jalan untuk melepas rasa lelah, kesepian dan sakit hatinya. Ia tak ingin membiarkan rasa sakit itu terus tumbuh dalam hatinya meski kini ia mulai meragukan kepercayaan pernikahan ini.
Semenjak Hendra tau ia mendul lelaki itu sudah mulai berubah, lebih banyak diam dan menjauh dari nya. Kora memikirkan jika saja hal buruk itu terjadi apa ia akan siap menerima dan mengalah.
Tantu hatinya merasa tak rela namun jika ia memikirkan nya lagi, ia terlalu egois bukan terlalu egois jika ia memaksakan seseorang itu untuk tetap selalu bersama nya sedangkan dirinya tak bisa memberikan kebahagiaan itu.
Kora menengadahkan kepalanya ia berusaha menahan air mata agar tak jatuh, namun ia gagal gagal untuk berusaha kuat ia tak kuasa jika memikirkan kemungkinan terburuk itu terjadi di hidup nya.
" Tante!"
Seorang anak kecil menarik gaun nya, ia menunduk kan padangan nya pada anak kecil yang membawa setangkai bungga.
Anak kecil itu tersenyum sembari menyerahkan setangkai bungga pada kora, setelah kora menerima bungga tersebut anak tersebut pergi meninggalkan nya. Kora berusaha mencari anak kecil tersebut namun tak menemukan nya.
Dalam bungga tersebut terselip sepucuk surat kecil, tulisan tangan itu begitu indah. Kora menatap tulisan itu dan kata kata romantis dalam surat itu, ia seperti mengenali tulisan tangan dan kata itu.
Kepala kora terasa sakit sekali ia meraba di sekitar untuk mencari sesuatu yang bisa menjadi sandaran nya, kenapa hanya sepucuk surat dapat kembali membuat kepala nya pusing. Terakhir yang membuat nya bisa seperti ini adalah orang itu orang yang dalam ingatan nya hanya terlihat samar.
Apakah dia? Kora berusaha menatap dan mencari orang yang dia rasa mungkin ada di sekitar sini, tapi Dimana?
" kamu siapa? Kenapa kamu terus bersembunyi? Katakan kami sebenarnya siapa?"
Kora berteriak ia merasa semua yang terjadi ada sesuatu yang saling mengikat, ia benar-benar merasakan kepalanya semakin berputar pandangan nya perlahan mengelap dan ia terjatuh pingsan.
Pria tersebut keluar dari persembunyiannya ia panik dan takut.
" bangun! Maafkan aku aku tak dapat menemui mu sekarang, aku janji setelah ini semua aku akan membawa mu pergi!"
Ia memeluk kora dengan erat ia menangis ia menangis karena sudah terlalu lama merindukan nya, sudah lama membiarkan gadis ini menderita sendirian. Ia merasa bersalah kerna pernah mempercayakan kora pada laki-laki brengsek itu yang dulunya bermulut manis seolah akan menjaga kora dengan baik.
" maafkan aku, aku salah mempercayai seseorang!"