Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.
Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!
Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)
Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33: Langkah pertama di ibu kota dan sandiwara busuk keluarga xie
Kereta kuda yang membawa Xie Yufei akhirnya berpisah dari rombongan utama militer di persimpangan jalan utama ibu kota. Pangeran Mo Cheng bersama Xie Jian bergerak lurus menuju Istana Kekaisaran untuk menyerahkan si pembunuh berwajah arang langsung ke hadapan Kaisar. Sementara itu, Yufei diantar oleh beberapa prajurit pengawal menuju kediaman resmi keluarga Xie.
Begitu kereta kuda berhenti di depan gerbang kediaman yang megah namun terasa dingin itu, Yufei menarik napas panjang. Xiao Mei di sampingnya tampak meremas saputangan dengan wajah cemas.
"Nona... kita sudah sampai," bisik Xiao Mei ketakutan. "Ibu Suri Kedua... maksud hamba, Ibu Tiri Anda pasti sudah menunggu di dalam bersama Nona Kedua. Mereka pasti akan mencari-cari kesalahan Anda karena gagal... maksud hamba, karena Anda kembali dengan selamat."
Yufei memperbaiki jubah luar sutranya, lalu menyunggingkan senyum tipis yang penuh kelicikan tersembunyi.
(Halah, tenang aja Xiao Mei! Di dunia modern gue udah biasa ngadepin bos korporat yang mukanya bermuka dua dan rekan kerja yang hobi tusuk dari belakang. Cuma ngadepin ibu tiri sama anak perempuan manja versi dinasti kuno mah kecil! Mari kita tunjukkan akting kelas Oscar kita!)
Saat Yufei melangkah memasuki aula utama kediaman Xie, suasananya mendadak menjadi sangat sunyi. Di kursi utama, duduk seorang wanita paruh baya dengan pakaian sutra mewah bersulam benang emas. Dialah Nyonya Besar Lin, ibu tiri Yufei yang terkenal kejam namun selalu memasang wajah bak malaikat di depan publik. Di sampingnya, duduk Xie Ruolan, adik tiri Yufei yang wajahnya tampak cemberut dan penuh rasa iri.
"Oh! Yufei, putriku yang malang!"
Nyonya Lin langsung berdiri dari kursinya dengan gerakan dramatis, bergegas menghampiri Yufei dengan mata yang dipaksa berkaca-kaca seolah-olah dia hampir mati karena mengkhawatirkan keselamatan Yufei. Dia langsung meraih tangan Yufei dengan erat.
"Mendengar berita bahwa rombonganmu diserang babi hutan di Hutan Terlarang, jantung Ibu rasanya seperti mau berhenti, Nak! Puji Dewa Langit, kau kembali dengan selamat tanpa kekurangan satu helai rambut pun!" ucap Nyonya Lin dengan suara bergetar yang terdengar sangat meyakinkan bagi orang luar.
Namun, Yufei yang sudah tahu sifat asli wanita ini hanya bisa mencibir habis-habisan di dalam hatinya:
(Prettttt! Akting lu kurang natural, Tante! Matanya kering gitu gak ada air matanya sama sekali. Bilang aja lu kecewa berat karena rencana lu (atau sekutu lu si Perdana Menteri) buat ngejadiin gue santapan babi hutan gagal total! Sialan, tangan lu kenceng banget lagi megangnya, pengen gue taburin bubuk sereh perih semalam rasanya!)
"Ibu... terima kasih atas kekhawatiran Anda," balas Yufei di luar dengan suara yang dibuat bergetar, kepalanya menunduk dalam-dalam seolah-olah dia adalah gadis rapuh yang trauma hebat. "Hamba sangat ketakutan semalam... Beruntung, Yang Mulia Pangeran Mo Cheng selalu berada di sisi hamba dan melindungi hamba dengan segenap jiwanya."
Mendengar nama Pangeran Mo Cheng disebut dengan nada seintim itu, Xie Ruolan yang sejak tadi diam langsung berdiri dengan wajah memerah karena cemburu.
"Kakak Besar! Kau tidak tahu malu sekali!" tegur Ruolan dengan suara melengking. "Kau hanyalah seorang gadis yang belum menikah, bagaimana bisa kau terus-terusan menempel pada Pangeran Mo Cheng yang agung sepanjang perjalanan?! Apakah kau sengaja menggoda Yang Mulia demi menaikkan statusmu?!"
Yufei perlahan mendongak, menatap adik tirinya itu dengan pandangan sedih yang dibuat-buat, namun matanya memancarkan kilatan tajam.
"Adik Kedua, bagaimana bisa kau menuduh Kakakmu seperti itu?" ucap Yufei dengan suara cicitan rapuh andalannya. "Yang Mulia Jenderal adalah seorang pria sejati yang bertanggung jawab atas keselamatan seluruh rombongan. Jika kau tidak percaya... kau bisa menanyakannya langsung pada pasukan khusus beliau yang mengantarku sampai ke depan gerbang rumah kita tadi."
Mendengar kata 'pasukan khusus', Nyonya Lin langsung menarik lengan baju putrinya, memberikan isyarat agar Ruolan tidak sembarangan bicara. Nyonya Lin tahu betul bahwa Pangeran Mo Cheng bukanlah orang yang bisa mereka singgung. Jika pangeran itu benar-benar menaruh perhatian pada Yufei, maka posisi mereka di kediaman ini bisa terancam.
"Sudahlah, Ruolan! Kakakmu baru saja pulang dari bahaya, jangan bicara sembarangan!" tegor Nyonya Lin pura-pura bijak, lalu kembali menatap Yufei dengan senyum palsu terbaiknya. "Yufei, kau pasti sangat lelah. Masuklah ke paviliunmu dan beristirahatlah. Ibu sudah menyuruh pelayan menyiapkan sup hangat untukmu."
"Terima kasih atas kemurahan hati Ibu. Hamba mohon pamit," ujar Yufei membungkuk hormat, lalu berbalik melangkah pergi menuju paviliunnya dengan langkah yang dibuat selemas mungkin.
Namun begitu tirai aula tertutup di belakangnya, Yufei langsung menegakkan punggungnya tegak lurus dan mengembuskan napas panjang.
(Huft! Kelar juga drakor episode pertama di rumah ini. Xiao Mei, ayo cepat ke kamar! Gue udah gak sabar mau ngeliat sisa bahan kosmetik gue. Kita harus bersiap, karena insting akuntan gue bilang... setelah Mas Jenderal kelar urusan di istana, perang politik yang sebenernya baru bakal dimulai!)
Sementara itu, di Aula Agung Istana Kekaisaran, suasana justru jauh lebih mencekam. Pangeran Mo Cheng berdiri tegak di tengah ruangan, sementara di depannya, Perdana Menteri duduk dengan wajah tenang namun matanya memancarkan kebencian yang mendalam saat melihat si pembunuh berwajah arang diseret masuk dalam kondisi hidup.