Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pagi-pagi sekali, kehangatan fajar menyusup masuk melalui celah gorden kamar utama.
Sasi terbangun lebih dulu dengan perasaan membuncah yang tak lagi menyisakan ketakutan.
Di sampingnya, Adrian masih tertidur pulas dengan lengan kokoh yang melingkar protektif di pinggangnya.
Sasi tersenyum tipis, meraba pelan pipi tegas suaminya.
Sentuhan lembut itu membuat mata Adrian terbuka perlahan.
Senyum hangat langsung terbit di wajah tampan pria itu begitu menatap paras cantik istrinya.
"Selamat pagi, sayang," bisik Adrian dengan suara parau khas bangun tidur, lalu mendaratkan kecupan mesra di dahi Sasi.
"Sudah siap untuk petualangan baru kita?"
"Selamat pagi, Mas. Siap sekali," jawab Sasi dengan binar bahagia yang terpancar jelas di matanya.
Setelah membersihkan diri dan memastikan seluruh koper serta dokumen perjalanan siap, mereka melangkah turun ke lantai dasar.
Para pekerja rumah tangga menyambut mereka di pintu depan dengan senyum merekah, memberikan ucapan selamat jalan dan doa untuk kebahagiaan mereka berdua.
Mobil sedan mewah hitam sudah bersiap di depan lobi rumah.
Adrian membukakan pintu untuk Sasi dengan sikap ksatria yang begitu manis, sebelum akhirnya memutari mobil dan duduk di sampingnya.
Mobil meluncur mulus membelah jalanan kota yang masih senggang di pagi hari menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Sepanjang perjalanan, Adrian tak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Sasi, sesekali mengelus punggung tangannya dengan penuh kasih sayang.
Setibanya di bandara, beberapa petugas ground handling khusus kelas first class sudah menyambut kedatangan mereka, dengan sigap membawa koper-koper menuju konter check-in.
Adrian menuntun Sasi berjalan melintasi area terminal keberangkatan yang megah.
Tangan Adrian bertengger protektif di pinggang Sasi, memastikan wanita yang sangat dicintainya itu merasa aman di tengah keramaian.
"Lelah, sayang?" tanya Adrian lembut seraya menatap Sasi yang tampak takjub memperhatikan suasana bandara.
"Tidak sama sekali, Mas. Aku cuma, masih merasa seperti bermimpi," tutur Sasi lirih seraya menatap wajah Adrian dari samping.
"Semuanya terasa begitu cepat dan indah."
Adrian menghentikan langkahnya sejenak di depan pintu masuk lounge eksekutif.
Ia merengkuh kedua bahu Sasi, menatap dalam-dalam manik mata wanita itu dengan rasa cinta yang begitu pekat.
"Ini bukan mimpi, Sasi. Ini kenyataan hidup kita yang baru," ucap Adrian tegas namun sarat akan ketulusan.
"Dunia luar, masa lalu, dan semua orang jahat itu sudah tidak ada lagi di antara kita. Hari ini, di Maldives nanti, dan seterusnya, cuma ada aku dan kamu."
Sasi tersenyum haru, menganggukkan kepalanya mantap.
Saat melangkah masuk ke dalam lounge untuk menunggu panggilan boarding, hati Sasi sepenuhnya mantap.
Badai besar telah berlalu, dan kini ia siap terbang menyongsong masa depan yang cerah bersama pria yang sepenuhnya telah menjadi pelindung dan belahan jiwanya.
Pesawat terbang tinggi menembus awan, membelah langit biru yang cerah.
Di dalam kabin first class yang tenang dan mewah, Sasi duduk di samping jendela, menatap hamparan awan putih yang membentang luas dengan perasaan takjub.
Adrian yang duduk di sebelahnya tidak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Sasi.
Jemari mereka tetap saling mengait erat di atas pembatas kursi.
Tak lama kemudian, lampu tanda kenakan sabuk pengaman dipadamkan.
Seorang pramugari dengan seragam anggun dan senyum ramah mendekati area tempat duduk mereka seraya mendorong kereta makanan.
"Selamat pagi, Pak Adrian, Bu Sasi," sapa pramugari tersebut dengan nada suara yang sangat sopan.
"Selamat datang di penerbangan menuju Maldives. Pagi ini kami menyajikan menu sarapan spesial. Untuk hidangan utama, kami menyediakan steak daging sapi lembut dengan saus truffle, atau omelet keju dengan sosis panggang dan buah-buahan segar. Untuk minumannya, ada jus jeruk murni, teh hangat, atau champagne."
Adrian menoleh menatap istrinya dengan lembut. "Kamu mau makan apa, sayang? Pilih saja yang paling kamu suka."
"Aku mau omelet keju dan teh hangat saja, Mas," sahut Sasi pelan, mengulas senyum ramah pada pramugari tersebut.
"Baik, untuk Bu Sasi omelet keju dan teh hangat. Kalau untuk Bapak?" tanya pramugari itu lagi.
"Sama seperti istri saya," jawab Adrian singkat dan mantap.
Pramugari tersebut mengangguk hormat, lalu menyajikan dua porsi hidangan hangat beraroma menggugah selera di atas meja lipat di hadapan mereka, lengkap dengan pelengkap roti segar dan buah-buahan.
"Selamat menikmati hidangannya, Pak Adrian, Bu Sasi. Jika membutuhkan bantuan lain, silakan tekan tombol panggil," ujar pramugari itu sebelum memundurkan langkahnya dengan sopan.
Adrian mengambil pisau dan garpu, lalu secara telaten memotong omelet dan sosis di piring Sasi menjadi potongan-potongan kecil agar lebih mudah dimakan oleh istrinya.
"Nih, dimakan ya. Harus habis supaya tenagamu pulih sepenuhnya saat kita sampai di Maldives nanti," tutur Adrian penuh perhatian seraya menyodorkan piring yang sudah rapi itu ke hadapan Sasi.
Sasi menatap perlakuan manis suaminya dengan binar mata berbinar haru.
"Terima kasih, Mas. Mas Adrian juga harus makan ya."
Mereka berdua menikmati hidangan di atas awan itu dengan penuh kehangatan, menyongsong petualangan indah yang sudah menanti di tempat tujuan.
Selesai menyantap sarapan, pramugari dengan sigap membersihkan meja mereka.
Adrian menarik pembatas privasi kabin, lalu merebahkan kursinya agar Sasi bisa beristirahat lebih nyaman.
Pria itu menyelimuti tubuh Sasi dengan selimut lembut, membiarkan kepala istrinya bersandar di dada bidangnya.
"Tidur lagi ya, sayang. Perjalanan kita masih beberapa jam lagi," bisik Adrian seraya mengusap lembut helai rambut Sasi.
"Mas tidak tidur?" tanya Sasi lirih, mendongak menatap rahang tegas suaminya.
"Mas cuma mau memandangi kamu," balas Adrian dengan senyum tipis yang amat hangat.
"Mas masih sering takut kalau semua ini cuma mimpi. Tapi begitu memelukmu seperti ini, Mas yakin kamu benar-benar ada di sini."
Sasi tersenyum manis, menyusupkan jemarinya di antara jemari Adrian.
Rasa aman yang begitu pekat memagari hatinya, mengikis habis sisa-sisa trauma dan ketakutan masa lalu.
Tak butuh waktu lama, alunan napas Sasi mulai teratur, terlelap dalam pelukan hangat pria yang kini sepenuhnya menjadi pelindungnya.
Beberapa jam berlalu, pengumuman dari kapten pilot terdengar merdu memecah keheningan kabin.
Pesawat mulai menurunkan ketinggian, bersiap mendarat di Bandara Internasional Velana, Male.
Sasi terbangun perlahan, menatap keluar jendela kaca.
Matanya berbinar takjub menyaksikan pemandangan menakjubkan di bawah sana: gradasi air laut berwarna biru jernih seperti kristal, mengelilingi pulau-pulau kecil dengan pasir putih yang berkilauan dihantam sinar matahari tropis.
"Indah sekali, Mas." gumam Sasi tanpa melepas pandangannya dari jendela.
"Ini baru permulaan, sayang," sahut Adrian mengulas senyum puas melihat binar bahagia di mata istrinya.
"Di resort nanti, pemandangannya jauh lebih indah."
Di tempat lain, di dalam sel tahanan yang dingin dan berbau lembap, Fitria duduk meringkuk di sudut ruangan.
Pakaian mewahnya kini telah berganti dengan seragam tahanan yang kusam.
Wajahnya pucat, rambutnya kusut, dan tidak ada lagi sisa-sisa keanggunan yang dulu selalu ia banggakan.
Setiap kali mendengar suara langkah kaki di lorong, matanya berbinar penuh harapan. Ia terus menanti kedatangan Adrian.
Dalam benaknya, Fitria yakin jika ia memohon, menangis, dan meminta maaf secara langsung, hati Adrian pasti akan melunak.
Pintu sel berkerit pelan. Langkah kaki seorang pria berjas rapi mendekat.
Namun, bukan Adrian yang berdiri di luar jeruji besi itu, melainkan pengacara yang ditunjuk untuk menangani kasusnya.
Fitria langsung menghambur ke arah jeruji besi, mencengkeram besi dingin itu erat-erat.
"Mana Mas Adrian?! Kamu bilang kamu sudah menyampaikan pesanku pada Mas Adrian! Dia mau datang bertemu denganku, kan? Aku mau minta maaf!"
Pengacara itu menatap Fitria dengan raut wajah datar tanpa simpati sedikit pun.
Ia memperbaiki letak kacamata dan merapikan dokumen di tangannya.
"Pak Adrian tidak akan datang," ujar sang pengacara dingin.
"Beliau sedang berada di luar negeri."
"Luar negeri?" Fitria mengerutkan dahi, bingung.
"Urusan bisnis?"
"Bukan," jawab pengacara itu singkat.
"Beliau sedang berbulan madu."
Langkah kaki Fitria mendadak mundur satu tapak. Napasnya tertahan di tenggorokan.
"Bulan madu?Dengan siapa?!"
Pengacara menghela nafas panjang dan menjawab pertanyaan Fitria.
"Dengan Ibu Sasi, istri sah beliau."
Seketika, ruangan sel yang sempit itu hening mencekam. Fitria membeku bagai patung.
Matanya membelalak lebar, memproses setiap
kata yang baru saja diucapkan oleh pengacaranya.
Lalu, secara perlahan, ujung bibirnya terangkat. Fitria tertawa kecil.
Tawa itu lambat laun berubah menjadi tawa sumbang yang melengking dan tertahan di tenggorokan—tawa penuh keputusasaan dan kepahitan yang mendalam.
"Bulan madu? Dengan Sasi? Hahaha!" Fitria menggelengkan kepalanya seraya mencengkeram rambutnya sendiri.
"Jadi, selama ini Mas Adrian membohongiku? Dia berpura-pura percaya padaku dan mengatakan kalau Sasi sudah meninggal dunia?!"
Tawa Fitria mendadak terhenti seketika. Raut wajahnya berubah sangat drastis; matanya menyalang merah penuh urat, memancarkan amarah yang luar biasa pekat.
Dada wanita itu naik turun menahan gelombang kemurkaan yang membakar seluruh dadanya.
Bukannya menyadari kesalahannya atau merasa bertaubat atas kejahatan yang telah ia lakukan, kebencian Fitria kepada Sasi dan Adrian justru kian menjadi-jadi, meracuni benaknya hingga ke akar-akarnya di balik dinginnya sel tahanan.