Indonesia
NovelToon NovelToon
Salman Prakarsa

Salman Prakarsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."

Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dilema 2 hati

Di dapur rumah yang hangat, aroma masakan malam itu terasa sedikit hambar bagi Ningsih. Tangannya yang sedang merapikan beberapa perabotan mendadak kaku ketika sang ayah, Pak Karsono, berdehem pelan sambil meliriknya dari balik meja makan.

"Nak... Aku denger kabar malam minggu kemaren kamu jalan sama karsa.. Kata pak karsono.."

Jantung Ningsih berdesir sesaat. Dia berusaha menjaga ekspresi wajahnya tetap tenang, meski rona merah tipis mulai menjalar di kedua pipinya. Dengan cekatan dia mencoba mengalihkan perhatian agar tidak terkesan menyembunyikan sesuatu.

"Aaah ia pa...

tapi...

G cuma sama karsa..

Kemaren kami rame rame ko pa.. Ada dewi dan budi juga..." jawab Ningsih buru-buru, mencoba memberi pembelaan agar suasana tidak terasa begitu mengintimidasi.

"Ohw .." kata bapak nya manggut manggut.Pak Karsono menyesap kopi hitamnya yang masih mengepul, membiarkan keheningan malam desa merayap di antara mereka selama beberapa detik. Tatapan matanya yang sarat akan pengalaman hidup beralih menatap putri tunggalnya itu dengan raut serius namun tetap tenang.

"Bapak sih g pp nak.. Klo sekedar teman... Tapi kalo untul lanjut.. Sebaiknya cari yg pondasinya kuat nak.."

Ningsih hanya mengangguk pasrah. Kata-kata itu meluncur tanpa nada tinggi, tanpa bentakan, bahkan tanpa kemarahan sedikit pun. Memang benar ayahnya tak memarahinya,

namun...

sindiran halus seperti itu lebih mengena didalam hati ningsih. Rasanya jauh lebih menusuk ketimbang omelan langsung.

Ningsih terdiam menatap lantai dapur. Kalimat "pondasi yang kuat" dari ayahnya bergaung berulang-ulang di dalam kepala. Ningsih tau... Karsa adalah pemuda yg baik. Selain wajahnya yg lumayan, Karsa juga memiliki sifat ulet dan bertanggung jawab yang jarang dimiliki pemuda seusianya.

Tapi jujur saja, realitas di dunia nyata tidak bisa hanya bermodalkan kebaikan sifat semata. Sebagai anak yatim piatu..

Dia memang tak punya apa apa lagi...

Hanya tersisa 1 rumah sederhana dan ... 1 petak lahan...

Lahan yang sekarang bahkan sudah selesai dipanen dan tidak tahu bagaimana nasibnya ke depan. Di mata seorang ayah seperti Pak Karsono, masa depan bersama pemuda sebatang kara seperti Karsa terlihat begitu abu-abu dan penuh ketidakpastian.

Ningsih menarik napas dalam-dalam, dadanya terasa sesak oleh konflik yang berkecamuk antara logika dan perasaan. Tapi.... ningsih juga g bisa mendustai hati...

Yah... dia sudah lama menyukai karsa..

Jauh sebelum badai kedukaan menimpa pemuda itu, perasaan itu sudah tumbuh subur di sudut hatinya dan tidak bisa dihapus begitu saja hanya karena Karsa kini tidak memiliki apa-apa lagi.

Malam kian larut, namun kantuk tak kunjung datang menghampiri Dewi. Di dalam kamarnya yang remang, dia hanya bisa telentang menatap langit-langit langit kamar yang sepi. Pikirannya melayang jauh kembali ke suasana lapangan desa pada malam Minggu kemarin. Bayangan kedekatan Karsa dan Ningsih terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak.

Dewi membalikkan badinya menghadap dinding, menarik bantal untuk menutupi wajahnya yang mulai terasa panas. Sementara dewi yg lagi rebahan dikamarnya...

"Mas karsa ko malah dekat sama ningsih..."

bisiknya lirih pada kesunyian malam.

Ada rasa sesak yang tertahan di dalam dadanya. "Padahal kan aku juga suka..." lanjutnya dalam hati. Rasa kagum dan suka yang dipendamnya sejak lama kepada Karsa kini harus berbenturan dengan kenyataan pahit bahwa mata pemuda itu hanya tertuju pada satu gadis lain.

Dewi menghela napas panjang, bergelut dengan nuraninya sendiri. "Tapi... klo aku maju.. Nanti malah merusak hubungan mereka..." Pikirannya langsung beralih pada sosok gadis manis pemilik warung itu. "Ningsih juga teman baik.."

Dewi tidak mungkin sejahat itu untuk merebut kebahagiaan sahabatnya sendiri. Menjadi perusak hubungan orang lain adalah hal terakhir yang ingin dia lakukan di dunia ini. Namun, di sisi lain, menekan perasaannya sendiri juga terasa sangat menyiksa.

"Haduhhh pusing ini," kata dewi dalam hati sambil sedikit meremas rambutnya karena frustrasi dengan labirin emosi yang dia hadapi sendiri.

Dia mengubah posisi tidurnya lagi, mencoba mengalihkan pikiran ke arah hal lain yang lebih realistis bagi masa depannya. Sebuah rencana besar yang sudah dipersiapkan oleh orang tuanya sejak kelulusan SMK kemarin.

"Sudahlah... besok sepertinya ayah mau mendaftarkan aku buat kuliah..." Dewi mencoba menghibur dirinya sendiri dengan kenyataan itu. Jalur pendidikan tinggi kini membentang di hadapannya, sebuah kesempatan emas yang sayangnya tidak bisa dirasakan oleh semua remaja di desanya.

"Yah... kemungkinan.. untuk sementara aku meninggalkan desa ini," kata dewi dalam hati. Kuliah berarti dia harus merantau, mengepak pakaian ke dalam koper, dan pergi jauh dari lingkungan yang membesarkannya. Pergi dari Ningsih, pergi dari Budi, dan yang paling berat... pergi dari Karsa.

Meninggalkan desa mungkin adalah jalan terbaik yang diberikan takdir untuk menyembuhkan luka hatinya secara perlahan. Namun, sebelum roda bus membawanya pergi melintasi batas desa, ada satu ganjalan kecil yang tersisa di sudut hatinya.

Dewi menatap jendela kamar yang memperlihatkan bayangan pohon hitam di luar. "Hm... apa sebaiknya aku pamitan sama mas karsa dulu ya..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!