Indonesia
NovelToon NovelToon
SANG PENAFSIR LANGIT

SANG PENAFSIR LANGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Action
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kang Minho, juru tulis arsip Kota Eunha, meninggal kecelakaan. Di tubuhnya, Nuri terbangun—peramal rasi dari Negeri Cahaya yang kini menempati raga itu. Nuri bukan Minho; ia hanya memakai identitas Minho. Di kota, ia tetap dipanggil Minho. Di baliknya, Nuri membawa peta langit dan warisan Sang Gaib yang mengguncang kerajaan. Dari arsip kota yang sederhana, ia naik menjadi penafsir seluruh cakrawala dan pemimpin Majelis Batu Cakrawala. Namun tiap keping yang ia ungkap mendekatkannya pada Dewa Tua, sementara Pangeran Selat sudah mencuri namanya sejak langit pertama terbuka. Di balik pertempuran dan konspirasi yang berlarut-larut, satu pertanyaan menggantung: apakah Nuri menyelamatkan dunia, atau justru menulis takdir yang menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Perkenalan Ulang

Kabut dini hari menyelusup di antara atap-atap rumah sewa ketika bayangan itu masih berdiri di balik jendela ujung koridor. Bulan Rubi belum mau menepi; ia menggantung di barat seperti mata yang terpejam setengah.

Nuri merasakan napasnya kembali ke dada. Ia menelan ludah, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sedang tersesat di dalam mimpi yang sama.

Namun sosok di luar jendela itu lalu bergerak, dan pada saat itu ia mengerti: mimpi telah usai, dan kini malam yang asli menunggu jawabannya.

Jantungnya mencelos, dan Nuri tidak dapat menahan diri untuk mundur selangkah.

Untuk sesaat ia tidak yakin apakah ia terjaga atau masih berada di dalam mimpi.

Bayangan itu melepas topi hitamnya, lalu membungkuk sedikit sambil berkata dengan senyum, "Perkenalan ulang. Garda Malam, Kapten Baek."

Garda Malam? Nuri tiba-tiba teringat sesuatu, dan setelah menghubungkan titik-titik itu ia berseru, "Kau bisa mengendalikan mimpi? Kau barusan membuatku memimpikan semua itu?"

Garda Malam adalah pasukan rahasia kerajaan untuk urusan gaib—nama yang pernah disebut oleh Batu Keadilan dan Batu Lentera di tengah pertemuan Majelis Batu Cakrawala.

Kapten Baek memakai kembali topi hitamnya, menyembunyikan dahi yang sedikit tinggi. Dengan mata abu-abu yang dalam, ia berkata, "Bukan. Aku hanya memasuki mimpimu dan memberikan pengarahan yang diperlukan."

Suaranya dalam dan menenangkan; suara itu bergema di lorong yang redup tanpa sekali pun mengganggu mimpi indah para penyewa yang lain.

"Dalam mimpi, banyak emosi yang biasanya kau tekan dan berbagai pikiran gelap di dalam dirimu ikut diperbesar—membuat segalanya tampak kacau, absurd, bahkan gila—tetapi semuanya itu berakar pada kenyataan, sebab kenyataan itu ada. Bagi orang berpengalaman sepertiku, semuanya terang benderang. Dibandingkan dengan dirimu yang sadar, aku lebih memercayai dirimu yang berada di dalam mimpi."

Ini... Orang normal mana yang bisa mengendalikan mimpi? Kalau aku memimpikan sesuatu tentang Negeri Cahaya, tidakkah Kapten Baek akan menyadarinya? Nuri dibuat ngeri oleh apa yang baru saja terjadi pada dirinya.

Tetapi dengan cepat ia merasa aneh. Ia ingat dirinya sadar dan rasional di dalam mimpi—tahu apa yang harus dikatakan dan apa yang sebaiknya disembunyikan.

Sederhananya, itu sama sekali tidak terasa seperti mimpi!

Jadi, Kapten Baek hanya "melihat" apa yang ingin ia perlihatkan?

Pikiran Nuri berputar cepat, dan ia memperoleh secercah pemahaman.

Ini anugerah yang berasal dari perpindahan jiwa? Semacam raga dan jiwa yang istimewa? Atau efek dari ritus penyeimbang nasib itu?

Ia mencoba mengingat kembali apa yang ia rasakan di dalam mimpi barusan: dingin, jernih, seperti menatap ke dalam sumur yang dalam pada malam yang hening; setiap keputusan datang tanpa guncangan emosi, seolah ada tangan lain yang menjaga pikirannya agar tidak tersesat ke wilayah terlarang.

Sebelum malam ini, ia tidak pernah menyadari bahwa kemampuan itu ada pada dirinya. Semakin ia menelusuri jejak ingatannya, semakin ia yakin bahwa sesuatu telah berubah secara fundamental di dalam jiwanya sejak ia terjaga di raga Kang Minho—sebuah kepekaan yang tidak ia minta dan tidak sepenuhnya ia pahami. Kepekaan itu bisa menjadi pelindung sekaligus pengkhianat, tergantung siapa yang mencarinya.

"Jadi, Tuan Baek, apakah kau memercayai bahwa aku benar-benar kehilangan ingatanku?" Nuri menata pikirannya dan bertanya balik.

Kapten Baek tidak menjawabnya secara langsung. Ia menatapnya dengan tajam.

"Kau sebenarnya tidak terkejut dengan semua yang terjadi tadi?"

"Aku pernah bertemu orang-orang yang tidak percaya pada kekuatan para Praktisi, dan mereka lebih memilih memercayai bahwa mereka belum benar-benar terbangun."

Nuri mengangguk singkat seraya berkata, "Mungkin aku selalu berdoa, berharap ada kekuatan semacam itu untuk menolongku."

"Jalan pikiran yang menarik... Mungkin kau selamat bukan hanya karena keberuntungan." Kapten Baek mengangguk tanpa ekspresi. "Kini aku dapat memastikan bahwa kau benar-benar kehilangan sebagian ingatanmu karena peristiwa itu, terutama yang berhubungan dengannya."

"Jadi, bolehkah aku pulang sekarang?" Nuri menghela napas lega di dalam hatinya sambil menebak.

Baek memasukkan satu tangan ke dalam sakunya dan berjalan perlahan mendekati Nuri. Kegelapan di sekelilingnya terasa tenang dan lembut.

"Belum. Kau masih harus ikut denganku menemui sang ahli," ia tersenyum sopan dan berkata.

"Mengapa?" tukas Nuri, lalu menambahkan, "Kau tidak memercayai temuan dari mimpiku?"

Ini pasti semacam lelucon; kalau sang 'ahli' menguasai hipnosis atau kemampuan membaca pikiran, bukankah rahasia terbesarku akan terbongkar?

Konsekuensinya akan berada di luar dugaan!

"Aku biasanya rendah hati, tetapi untuk hal-hal yang berkaitan dengan mimpi aku masih percaya diri." Baek menjawab dengan tenang. "Namun untuk urusan yang penting dan krusial, tidak ada salahnya memastikan sekali lagi. Lagipula, bidang keahlian kami berbeda-beda. Mungkin, ia dapat membantumu memulihkan sebagian dari ingatanmu."

Tanpa menunggu jawaban Nuri, suaranya berubah lebih dalam. "Terlebih lagi, kau berhubungan dengan keberadaan Buku Kulit Harimau milik keluarga Miru."

"Apa?" Nuri membeku.

Baek berhenti tepat di hadapannya, mengunci mata abu-abunya pada mata Nuri, dan berkata, "Di lokasi kematian itu, tidak ditemukan sepatah jejak pun dari buku catatan peninggalan Zaman Silam itu. Tuan Hyun sudah mati, Nyonya Seol juga sudah mati; kaulah satu-satunya petunjuk kami."

"...Baiklah kalau begitu." Nuri terdiam sejenak sebelum menghela napas.

Sebuah buku catatan yang hilang... benar-benar di luar dugaan!

Bagaimana mungkin aku tidak pernah berpikir tentang keberadaan buku peninggalan Zaman Silam itu!

Kapten Baek mengangguk ringan, berjalan melewati Nuri, dan berkata, "Kunci pintumu, lalu ikut denganku ke rumah Tuan Hyun. Sang ahli menantimu di sana."

Nuri menarik napas dalam-dalam tanpa suara. Jantungnya berdebar kencang, dan ia merasa semakin gelisah.

Ia ingin menolak, bahkan berniat melarikan diri. Namun ia percaya bahwa dengan apa yang telah terjadi di dalam mimpi, Kapten Baek pasti telah meningkatkan kewaspadaannya. Mengingat perbedaan kekuatan antara manusia biasa dan seorang Praktisi, hanya ada sedikit peluang untuk berhasil dengan cara kekerasan.

Ia pasti juga menyimpan senjata... ia pasti juga sudah terlatih menggunakannya...

Banyak pikiran melintas, dan akhirnya Nuri memilih untuk menerima kenyataan.

"Baiklah."

Ia menenangkan jantungnya dengan menarik napas pelan berulang kali, mengingatkan dirinya bahwa ia pernah menghadapi hal-hal yang lebih menakutkan daripada seorang petugas dengan tatapan tajam. Di Negeri Cahaya, ia pernah berjaga sendirian di tepi sumur pada malam-malam ketika bulan tenggelam, dikelilingi bisikan yang datang dari arah yang tidak terlihat. Ia telah belajar bahwa ketakutan hanya menjadi berbahaya ketika ia membiarkannya menguasai lidahnya. Selama ia tetap diam dan berhati-hati, masih ada harapan untuk keluar dari sarang laba-laba ini dengan rahasia yang utuh.

Ah, kujalani saja selangkah demi selangkah dan kulihat bagaimana perkara ini berjalan. Mungkin, kekuatan aneh yang menyelamatkanku di dalam mimpi akan kembali menolongku di dunia nyata...

"Kalau begitu mari kita pergi," kata Kapten Baek dengan nada acuh tak acuh.

Nuri berbalik dan mengikuti. Setelah berjalan dua langkah, ia tiba-tiba berhenti dan berkata, "Tuan Baek, aku... aku ingin ke kamar mandi dulu."

Aku keluar dari kamar pertama kali memang untuk ke kamar mandi...

Baek tidak menghentikannya. Ia justru menatapnya tajam dan berkata, "Tidak masalah, Minho. Percayalah, di dalam malam aku jauh lebih kuat daripada yang dapat kau bayangkan."

Di dalam malam... Nuri mengulang kalimat itu dalam hati.

Ia tidak melakukan percobaan nekat untuk melarikan diri. Ia jujur pergi ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin, dan menenangkan dirinya sepenuhnya.

Nuri mengganti pakaiannya, menutup pintu rumah sewanya dengan kunci, dan dengan langkah lembut mengikuti Kapten Baek menuruni tangga menuju pintu masuk gedung.

Dalam suasana yang hening itu, Kapten Baek membuka mulut dan berbicara tiba-tiba. "Di akhir mimpi tadi, mengapa kau mencoba melarikan diri? Apa yang kau takuti?"

---

Nuri langsung memikirkan sebuah jawaban. "Aku tidak ingat apa yang kulakukan di rumah Tuan Hyun, juga tidak ingat apakah aku terlibat langsung dalam kematian mereka. Aku takut jika benar terbukti itu perbuatanku, aku lebih memilih berjudi dan melarikan diri. Aku bisa memulai hidup baru di Benua Selatan."

"Kalau aku jadi dirimu, aku akan melakukan hal yang sama," kata Kapten Baek sambil mendorong pintu gedung, membiarkan angin dingin dini hari masuk untuk menghalau hawa panas yang mengendap di dalam.

Ia tidak takut Nuri akan berusaha kabur ketika mereka naik ke delman. Itu persis delman yang diimpikan Nuri: delman beroda empat yang ditarik seekor kuda dengan seorang pengemudi, dan lambang penyidikan kota berupa sepasang kuas bersilang di bawah timbangan kecil terukir di sisi pintunya.

Nuri mengikuti masuk ke dalam delman. Di dalamnya terhampar permadani tebal, dan ruangan itu dipenuhi aroma yang menenangkan.

Setelah duduk, ia mencari topik untuk menggali lebih banyak informasi.

"Tuan Baek, bagaimana jika—dan maksudku jika—sang 'ahli' memastikan bahwa aku benar-benar lupa sebagian ingatanku? Dan tidak ada bukti lain yang menunjukku sebagai pelaku ataupun korban, apakah ini akan berakhir?"

"Secara teori, ya. Kami akan berusaha mencari buku itu dengan cara lain. Asalkan ia ada, ia pasti dapat ditemukan. Tentunya, sebelum itu, kami harus memastikan bahwa kau tidak terkena kutukan, tidak menyisakan aroma makhluk jahat, dan tidak memiliki masalah batin yang mengendap. Kami harus memastikan kau dapat menjalani sisa hidupmu dengan damai dan sehat." Wajah Kapten Baek menampilkan sebuah senyum—senyum yang agak tidak biasa.

Nuri menangkap titik itu dengan cepat, dan segera bertanya, "Secara teori?"

"Ya, hanya secara teori. Dalam bidang pekerjaan ini, selalu ada hal-hal yang bengkok, tidak lazim, dan tidak dapat dijelaskan." Baek menatap mata Nuri. "Kelanjutan atau akhir dari semuanya bukanlah sesuatu yang selalu dapat kami ramalkan ataupun kendalikan."

"Misalnya?" Nuri sebenarnya merasa takut untuk sesaat.

Delman itu melesat melewati jalan yang hampir kosong. Baek mengeluarkan kertas kuning dan sejumput tembakau dari sakunya, melintingnya tanpa menyalakan, lalu menyelipkan lintingan itu ke balik telinganya seraya berkata, "Ketika kami meyakini bahwa semuanya telah berakhir dan kembali normal, ia akan muncul kembali dengan cara yang menakutkan dan mencekam."

"Beberapa tahun lalu, kami menangani sebuah kasus sekte jahat. Mereka menyerahkan nyawa para pengikutnya sebagai persembahan demi menyenangkan dewa yang mereka anggap agung. Ketika giliran salah seorang pengikut sampai, naluri bertahannya mengalahkan kebodohan, keyakinan yang melenceng, dan obat-obatan yang merusak akal. Ia melarikan diri diam-diam dan melapor kepada penyidik."

"Kasus itu diserahkan kepada kami. Itu misi yang sangat kecil, sebab tidak ada seorang pun Praktisi di dalam sekte itu. Dewa yang mereka sembah sebenarnya dirancang oleh pemimpin mereka sendiri semata-mata demi uang dan kepuasan. Kemanusiaan telah musnah di sana."

"Kami hanya mengerahkan dua anggota, ditambah dengan dukungan dari penyidik, untuk menekan sekte itu. Tidak ada satu pun yang lolos. Untuk pelapor itu, kami juga memastikan tidak ada aroma makhluk yang tersisa padanya. Ia tidak terkena kutukan dan tidak menderita gangguan batin. Tidak ada masalah watak ataupun keanehan lain. Tidak sama sekali."

"Belakangan ia mendapat kemajuan yang layak dalam pekerjaannya, menikahi istri yang baik, dan memiliki seorang putra dan seorang putri. Masa lalunya yang gelap tampak jauh darinya. Kengerian dan pertumpahan darah seolah telah benar-benar lenyap."

Pada titik ini, Kapten Baek tertawa. "Namun pada bulan Maret tahun ini, meskipun keuangan keluarganya sehat dan ia dikelilingi istri yang penuh kasih serta anak-anak yang menggemaskan... ia ditemukan tewas seorang diri di kantornya. Pintunya terkunci dari dalam, jendelanya rapat, dan tidak ada satu jejak pun yang menjelaskan kematiannya. Yang tersisa di wajahnya hanyalah senyum aneh yang tidak dapat dijelaskan siapa pun."

Cahaya Bulan Rubi di luar jendela delman jatuh ke wajah Kapten Baek. Pada saat itu, senyum yang tampak mengejek dirinya sendiri itu membuat Nuri merasa ngeri tanpa kata.

"Tewas seorang diri di kantor yang terkunci..." Nuri menarik napas dingin tanpa suara, seolah melihat akhir serupa menantinya.

Kisah itu menancap lebih dalam daripada apa pun yang ia dengar sepanjang malam. Bukan karena ia takut pada akhir yang sama—tetapi karena kisah itu mengajarkan sesuatu yang jauh lebih menenangkan sekaligus mengerikan: cara kerja dunia ini tidak pernah benar-benar selesai. Hutang dibayar, perkara ditutup, orang kembali kepada kehidupan yang normal; tetapi kegelapan yang pernah menyentuh seseorang tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Ia hanya menunggu di tempat yang sepi, menantikan celah yang paling tak terduga. Ketika Nuri membayangkan dirinya beberapa tahun ke depan—dengan pekerjaan yang layak, keluarga yang damai, dan masa lalu yang jauh—bayangan itu tidak lagi menenangkan.

Bahkan kalau aku lolos sekali, bisa jadi itu hanya bersifat sementara?

Apakah ada cara untuk menyelesaikannya secara tuntas?

Menjadi seorang Praktisi untuk melawannya?

Delman kembali hening. Banyak pikiran bercampur aduk di benak Nuri.

Di bawah keheningan yang canggung itu, delman melaju lama dengan kecepatan tinggi.

Tepat ketika Nuri memutuskan untuk meminta saran kepada Kapten Baek, delman itu berhenti.

"Tuan Baek, kita sudah tiba di rumah Tuan Hyun." Suara pengemudi terdengar dari luar.

"Turunlah." Baek merapikan mantel hitamnya yang menjuntai hingga ke lutut.

"Oh, sebelum itu perkenankan aku menyampaikan sesuatu: penyamaran resmi sang 'ahli' adalah perantara roh paling terkenal di Kabupaten Eunha."

Nuri menekan pikiran-pikiran yang lain dan bertanya dengan penasaran, "Lalu apa identitas aslinya?"

Ia menahan napas, sadar bahwa jawaban berikutnya akan menjadi salah satu dari sedikit kunci yang ia miliki untuk memahami lapisan dunia tempat ia terperangkap.

Baek menoleh setengah badannya dan memutar kepalanya ke belakang. Dengan mata abu-abunya yang penuh teka-teki, ia berkata, "Seorang Perantara Roh sejati."

1
-Thiea-
kayaknya minho sengaja dilenyapkan kali ya. 🤔
-Thiea-
bertransmigrasi kayaknya dia ya.🤔
-Thiea-
dia kenapa? apakah hilang ingatan? kayaknya asing sama keadaan.
Xlyzy
itu kayak nya harus di cari tau deh penyebab nya kenapa tiba tiba berpindah di tubuh orang lain lagi
Tamaa
mahalnya
Tamaa
anak gadis sukanya yang begituan
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
aku bayanginnya ala drakor korea min 🤣😭
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
ini latarnya korea berati ya tor?
Kartika Candrabuwana: mirip korea..tp mix fantasi jg
total 1 replies
Miu.Nuha
wiii ajaib juga ya
aku jadi penasaran sok kalo minho cedera lagi apa y gk bakal ngerasa sakit 🙄
Miu.Nuha
ini kalo keluar rumah apa gk pada jerit tuh para warga 😅🙄
Filan
malam ini dia memang terlalu banyak berpikir sampai pusing.
Filan
woah, bulannya merah... ini bukan Korea ya, negeri fantasi? Dan dia juga berasal dari negeri yang beda tapi serupa.
Kartika Candrabuwana: semi korea dan fantasi
total 1 replies
Filan
nyalain lampunya pakai koin?
Kartika Candrabuwana: iya betul
total 1 replies
Filan
orangnya memang sudah mati kalau ga ada jiwa lain yang menempati.
Myz Pena
iih ngeri bangettt... seharusnya orang dengan benjolan kepala itu bisa sekarat berhari2 di rumah sakit🤧
Putry Chan
bangkit lah nuri emang tangguh
abis nagis langsung mode srius mental baja gitu loh
ginevra
ou begitu... karena jiwanya gantinmaka raganya ikut pulih
ginevra
lukanya sembuh sendiri ya
ginevra
ngeri banget lukanya, harus cek ke dokter deh, takutnya ada pendarahan otak
Arni Arlinawati Pratiwi💃
oke.. jadi nuri yang masuk ke tubuh nya kang minho ini adalah peramal.. jadi jiwa nuri yang punya kemampuan diem di tubuh nya kang minho, 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!