Indonesia
NovelToon NovelToon
TAWANAN MUSUHKU

TAWANAN MUSUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

​Di dalam ruang kantor eksklusif milik David Xander, suasana terasa begitu tenang namun dipenuhi aura intimidatif. Pria paruh baya itu tampak fokus meneliti lembar demi lembar berkas laporan penting di atas meja kerjanya.

​Tak lama kemudian, suara ketukan pintu memecah konsentrasi David.

​"Masuk," ucap David singkat tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya.

​Pintu kayu jati tebal itu terbuka. Seorang pria dengan setelan jas rapi melangkah masuk dengan gestur tegap dan formal, lalu berhenti tepat di depan meja David. Pria itu adalah Jay, asisten kepercayaan David yang selama ini menangani berbagai urusan rahasia.

​"Ada laporan apa, Jay?" tanya David seraya menutup berkasnya.

​"Mengenai pergerakan Tuan Muda Moreno, Pak," ujar Jay dengan nada tenang namun tegas.

"Sesuai perintah Anda, saya sudah mengecek keberadaan beliau. Tuan Muda Moreno ternyata tidak pernah pulang atau menetap di apartemen milik keluarga Xander."

​Kening David langsung berkerut dalam. "Tidak tinggal di sana? Lalu?"

​"Namun, keberadaan beliau di kampus masih sangat aktif. Tuan Muda tetap menghadiri perkuliahan seperti biasa," lanjut Jay.

"Hanya saja, sampai saat ini kami belum bisa memastikan lokasi pasti tempat tinggal yang beliau gunakan selama di Indonesia."

​David terdiam sejenak. Pemikiran pragmatisnya langsung berputar cepat. Jika Moreno tidak tinggal di apartemen keluarga dan menyembunyikan tempat tinggalnya, berarti ada sesuatu yang sedang ditutupi oleh putra bungsunya itu.

​"Di mana sebenarnya anak itu tinggal..." gumam David dengan nada rendah.

​Ia memajukan tubuhnya, menatap Jay dengan pandangan tajam.

"Terus selidiki Moreno. Cari tahu lokasi tempat tinggalnya saat ini, dan pantau siapa saja orang-orang yang terlihat dekat atau sering berinteraksi dengannya. Jangan ada yang terlewat."

​"Baik, Pak. Segera saya laksanakan perintah Anda," sahut Jay seraya membungkukkan badan sedikit sebagai tanda hormat, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan.

​Pintu kembali tertutup rapat. David menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi eksekutif berbahan kulit premium itu. Matanya menatap kosong ke arah jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan pencakar langit kota, tenggelam dalam pikirannya sendiri untuk merancang langkah berikutnya.

Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden kamar membangunkan Luna. Ia menggeliat pelan, menyadari dirinya bangun sedikit lebih siang dari biasanya, tubuhnya terasa jauh lebih segar; rasa pening dan demam tinggi yang menyiksanya semalam sudah menghilang.

​Saat kesadarannya terkumpul penuh, memori semalam mendadak berputar di kepalanya. Bayangan Moreno yang menyeka tubuhnya dengan air hangat, menyuapinya obat, hingga ucapan-ucapan kasar yang dibungkus perhatian kecil pria itu melintas jelas.

​Tanpa sadar, ukiran senyum tipis terbit di bibir Luna. "Ternyata dia enggak seburuk yang gue kira..."

gumamnya lirih.

Menyadari jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat, Luna bergegas bangkit dari kasur, melangkah ke kamar mandi, dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus.

​Sementara itu, di area meja makan, Moreno sudah duduk manis sejak tadi. Mengenakan pakaian kasual dengan secangkir kopi hangat yang masih mengepul di tangannya, di meja sudah tersaji dua porsi nasi goreng yang baru saja ia masak sendiri.

​Langkah kaki Luna yang baru keluar dari kamar memecah keheningan penthouse. Pandangan gadis itu langsung tertuju pada sosok Moreno yang sedang fokus menatap layar ponselnya.

​Luna tertegun sejenak. Di bawah sorotan cahaya pagi, ia tidak bisa memungkiri betapa tampannya pria blasteran di hadapannya itu. Rambut blonde-nya yang sedikit berantakan alami, garis rahangnya yang tegas, hidung mancung yang simetris, serta manik mata abu-abu yang unik dan memikat.

Meskipun penampilan Moreno terkesan seperti berandalan—terlebih dengan anting yang terpasang di salah satu telinganya—aura dan kharismanya sama sekali tidak bisa diabaikan.

​Sadar pikirannya mulai melenceng, Luna menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk membuyarkan lamunannya.

"​Udah gila ya gue ?! rutuk Luna dalam hati, berusaha sadar sepenuhnya bahwa sifat Moreno yang dominan dan pemaksa itu jelas tidak seindah parasnya.

Menyadari kehadiran Luna, Moreno perlahan menurunkan ponselnya. Sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—terukir di sudut bibirnya.

​"Udah baikan?" tanya Moreno, suaranya terdengar datar namun ada nada ketertarikan yang terselip di sana.

​Luna berdeham pelan, mencoba menetralkan rasa canggung.

"Udah. Udah jauh mendingan."

​"Baguslah. Ayo duduk, sarapan," suruh Moreno seraya mengibaskan tangannya santai ke arah meja.

​Mata Luna tertuju pada dua piring nasi goreng yang masih mengepulkan asap tipis di atas meja makan. Ia menatap makanan itu dan Moreno bergantian dengan dahi berkerut.

"Ini... lo yang bikin?"

​Moreno mendengus pelan, menjawab dengan nada asal-asalan yang menyebalkan.

"Ya menurut lo siapa lagi? Setan? Di penthouse ini kan cuma ada gue sama lo."

​Luna menyunggingkan senyum kecut mendengar jawaban asal pria itu. Namun, aroma gurih nasi goreng itu memang menggugah selera. Ia pun menggeser kursi dan duduk di hadapan Moreno.

​Melihat Moreno hanya memegang cangkir tanpa menyentuh piring satunya, Luna kembali bertanya, "Lo sendiri enggak sarapan?"

​Moreno meletakkan cangkir kopi yang baru saja ia teguk perlahan ke atas tatakan. Bunyi klik halus cangkir itu seolah menandai perubahan atmosfer di antara mereka.

​Moreno memajukan sedikit tubuhnya, menyandarkan siku di meja seraya menatap Luna dengan sangat intens. Manik mata abu-abunya mengunci pandangan Luna.

​"Gue mau makan hidangan pembuka dulu sebelum sarapan," ucap Moreno santai, namun sarat akan maksud.

​Luna mengerutkan kening, sama sekali tidak paham.

"Maksud lo? Hidangan pembuka apaan?"

​Tatapannya kian memusat dan menusuk tajam, dengan nada suara rendah yang berat dan bergetar halus.

​"Pindah ke pangkuan gue."

Luna terbelalak seketika. "Apa-apaan sih, Reno?! Ini masih pagi!" protesnya dengan wajah memerah. "Lo mau apa lagi?"

​Moreno menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, menatap Luna dengan senyum tipis yang meremehkan.

"Terserah gue mau ngapain. Gak usah banyak tanya, tinggal nurut dan cepat pindah ke pangkuan gue."

​Luna menghela napas berat. Rasanya ia sudah kehabisan tenaga untuk meladeni serta mendebat bule sinting di hadapannya ini. Mau menolak pun, ujung-ujungnya Moreno pasti akan memaksa dengan caranya sendiri.

​Dengan langkah ragu namun pasrah, Luna akhirnya bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Moreno. Berjalan perlahan, ia memberanikan diri mendaratkan tubuhnya di atas pangkuan pria itu.

Karena ini bukan pertama kalinya berada di posisi seintim ini, rasa canggung Luna mendadak jauh berkurang dibanding sebelumnya.

​Moreno tersenyum puas. "Gue suka sama cewek patuh," bisiknya datar.

​Jemari Moreno yang hangat perlahan terulur, menyentuh kerah kemeja yang dikenakan Luna. Dengan gerakan lambat yang menyiksa, jemarinya menyusuri deretan kancing baju itu, bergerak turun terus hingga berhenti persis di depan lekukan dada berisi milik Luna.

Sentuhan tipis itu seketika membuat darah Luna berdesir hebat, jantungnya berdegup kencang di luar kendali.

​"Lo tahu sarapan pembuka yang gue maksud, hm?" tanya Moreno dengan suara yang mendadak berubah agak serak dan dalam.

​Meski di dalam pikirannya Luna sudah bisa menebak dengan sangat jelas apa arah pikiran mesum pria ini, ia memilih menggeleng pelan dengan polos.

"Enggak... gue gak tahu," jawabnya lirih, hampir tak bersuara.

​Seketika itu juga, jemari Moreno bergerak cepat dan cekatan membuka kancing kemeja Luna satu per satu. Di saat yang sama, tangan yang satunya melingkar erat di pinggang Luna, menarik tubuh gadis itu agar makin menempel rapat padanya tanpa ada celah untuk kabur.

​Dengan senyum miring di wajah tampannya, Moreno memajukan wajahnya hingga napas hangatnya berembus di ceruk leher Luna.

​"Hidangan pembuka yang gue maksud..." bisik Moreno tajam, "...ya itu elo , Luna."

1
piercing
novel stuck with you up tidak? kalau up lanjut aku mau baca
Meow: Halo kak terima kasih atas atensinya novel stuck with you akan update 1-2 hari lagi 🙏
total 1 replies
piercing
masih ori ga lu ren? 🐊
piercing
jangan kasih ampun! plok2 segera🌚🌚🌚
piercing
cie 🐊
piercing
semangat ya.. harus sampai ending☻️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!