Indonesia
NovelToon NovelToon
Pendekar Buta : Sang Penyair Kematian

Pendekar Buta : Sang Penyair Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update tiap hari dijam 12.00 WIB.

Ji Mo-Xian, pemuda yang terlahir di keluarga berdarah bangsawan. Namun, ia memiliki mata yang unik menurut para tetua klan mata Mo-Xian adalah mata dewa naga air yang masuk ke dalam tubuh Mo-Xian.

Alih-alih dibenci Ji Mo-Xian menjadi buronan para kultivator karena kekuatan matanya yang hebat. Ji Mo-Xian memilih menutup matanya menjadi pendekar buta yang menggunakan kekuatan syair kematian.

Ketika Ji Mo-Xian membuka ikatan matanya, maka musuh akan hancur seketika tanpa sisa. Kekuatan Ji Mo-Xian bukan asalan untuk digunakan.

Apa yang terjadi dengan Ji Mo-Xian? Ikuti kisahnya!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Kristal di Kota Gerbang Langit

Hutan kristal di perbatasan Benua Abadi membentang luas bagaikan permadani permata yang memantulkan pendar cahaya keemasan dari langit senja. Dahan dan daun-daun pohon tersebut terbuat dari mineral kristal alami yang berdenting merdu setiap kali dihembus oleh angin sepoi-sepoi. Di sepanjang jalur setapak berbatu giok putih, jejak langkah Ji Mo-Xian dan Lin Su terasa begitu ringan, menyatu dengan keheningan alam yang megah namun misterius.

Lin Su berjalan di sisi kanan sang tuan muda, sesekali mengagumi kilau cahaya dari pepohonan di sekitarnya. Meskipun ancaman dari para pengawal Sekte Phoenix Es sempat mengejutkan mereka di pantai tadi, ketenangan absolut yang dipancarkan oleh Ji Mo-Xian membuat rasa takut di hati gadis itu menguap sepenuhnya. Ia tahu, selama ia berada di belakang sang pendekar buta, tidak ada satu pun marabahaya di Benua Abadi ini yang mampu merenggut nyawa mereka.

"Tuan Muda," Lin Su memecah keheningan pelan, "dari kejauhan, gerbang besar mulai terlihat di ujung jalan setapak ini."

Ji Mo-Xian sedikit menganggukkan kepalanya. Tanpa menggunakan mata fisiknya, indra spasialnya telah merekam struktur arsitektur megah yang berdiri kokoh beberapa mil di depan mereka.

Itu adalah Kota Gerbang Langit—benteng terluar dan pintu gerbang utama menuju wilayah teritorial Sekte Phoenix Es di Benua Abadi. Dinding benteng kota tersebut dibangun dari batu es abadi yang tidak pernah mencair, menjulang tinggi setinggi ratusan tombak dengan pilar-pilar giok putih yang diukir dengan relief burung phoenix bersayap megah. Di atas gerbang utama, terpampang sebuah plakat besar bertuliskan aksara kuno: Gerbang Langit Abadi.

Berbeda dengan kota-kota di Tiga Benua yang penuh dengan hiruk-pikuk pedagang dan kultivator rendahan, suasana di sekitar gerbang Kota Gerbang Langit tampak sangat tertib, dingin, dan dipenuhi oleh aura penekanan spiritual yang tinggi. Para kultivator yang keluar masuk gerbang mengenakan jubah bermotif es dengan lambang sekte di dada mereka, berjalan dengan kepala tegak dan tatapan penuh arogansi.

Saat Ji Mo-Xian dan Lin Su mendekati gerbang utama, para pengawal gerbang—yang mengenakan zirah es transparan dan memegang tombak panjang berenergi dingin—langkah mereka terhenti. Mereka menatap tajam ke arah dua pendatang asing tersebut dengan sorot mata penuh curiga.

"Berhenti!" bentak seorang pengawal gerbang berbadan tegap, mengarahkan ujung tombaknya ke depan. "Kota Gerbang Langit adalah wilayah suci di bawah perlindungan Tetua Agung Lu Tian dari Sekte Phoenix Es. Orang asing dilarang masuk tanpa menunjukkan token identitas sekte atau mempersembahkan upeti batu spiritual!"

Lin Su sedikit mengerutkan keningnya, hendak melangkah maju untuk berbicara, namun Ji Mo-Xian mengangkat tangan kanannya secara perlahan, memberi isyarat agar pelayannya tetap tenang di tempat.

Ji Mo-Xian melangkah maju mendekati pos penjagaan. Kain sutra hitam yang melilit matanya menghadap lurus ke arah pengawal tersebut.

"Kami tidak memiliki token sekte, dan kami tidak membawa upeti batu spiritual," ucap Ji Mo-Xian dengan nada datar, tenang, namun membawa wibawa mutlak yang membuat para pengawal gerbang langsung merasakan tekanan dingin di dada mereka. "Kami hanya ingin melewati kota ini untuk melanjutkan perjalanan."

Pengawal tegap itu mendengus sinis, menurunkan sedikit tombaknya sambil menatap remeh. "Tidak punya token? Tidak membawa upeti? Kalau begitu, kalian adalah gelandangan fana atau penyelundup dari daratan rendahan! Pergi dari sini sebelum kami membekukan kalian menjadi patung es di depan gerbang!"

Suasana di sekitar gerbang mulai menarik perhatian para kultivator lain yang hendak masuk ke dalam kota. Mereka berhenti sejenak, menatap ke arah Ji Mo-Xian dan Lin Su dengan pandangan mengejek, berbisik-bisik mengenai keberanian dua orang asing yang berani menantang otoritas Sekte Phoenix Es di gerbang utama.

Namun, Ji Mo-Xian tidak menunjukkan emosi apa pun. Wajahnya tetap tenang, tanpa ekspresi.

"Kalian terlalu mudah mengusir orang," suara Ji Mo-Xian meluncur dingin. "Padahal, pintu kota ini terbuka lebar untuk siapa saja yang datang dengan damai."

"Kurang ajar!" bentak pengawal itu geram, kehilangan kesabaran. Ia mengayunkan tombak esnya ke arah bahu Ji Mo-Xian, bermaksud memberi pelajaran fisik kepada sang pendekar buta.

Sebelum ujung tombak itu sempat menyentuh jubah putihnya, Ji Mo-Xian sedikit menggerakkan jari tangannya.

FZZZRT!

Sebuah gelombang Qi tipis meluncur deras, menghantam tombak es di tangan pengawal tersebut hingga hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu kristal. Pengawal itu terpental mundur beberapa langkah, menubruk rekan-rekannya sendiri dengan napas tersengal-sengal dan dada yang terasa sesak.

Para kultivator yang menonton di sekitar gerbang tertegun kaku. Mereka tidak menyangka pemuda buta berzirah sederhana itu memiliki kekuatan spiritual yang mampu menghancurkan senjata es tingkat tinggi dalam sekejap tanpa menyentuhnya secara langsung.

"Musuh menyusup! Bunuh dia!" teriak pengawal yang jatuh tadi panik.

Seketika itu juga, puluhan pengawal gerbang lainnya menghunuskan senjata es mereka, melompat maju membentuk formasi kepungan melingkar untuk membunuh Ji Mo-Xian di tempat.

Lin Su mencengkeram ujung jubahnya, meskipun ia tahu kemampuan tuannya jauh melampaui para pengawal tersebut.

Ji Mo-Xian menghela napas pelan. Ia merogoh lipatan jubahnya, mengeluarkan seruling giok naga purba, dan mengangkatnya ke bibirnya. Tanpa ragu, ia meniupkan bait pertama dari syair kematian gerbang kota.

KENCENG!

Gelombang sonik biru galaksi meledak dahsyat dalam radius sepuluh tombak. Suara tiupan seruling itu merobek udara Kota Gerbang Langit, menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan sebagian gerbang es abadi di sisi kiri dan kanan.

Puluhan pengawal sekte yang mengepung seketika kaku. Senjata mereka hancur menjadi debu kristal, dan tubuh mereka terpental jauh ke belakang, jatuh berserakan di atas tanah tanpa nyawa.

Kesunyian mendadak mencekam seluruh area depan gerbang. Para penonton berlarian panik, menjauh dari sosok pendekar buta yang berdiri tenang dengan seruling giok di tangannya.

Ji Mo-Xian menurunkan serulingnya, lalu melangkah tenang melewati reruntuhan gerbang yang hancur, diikuti oleh Lin Su di belakangnya.

"Mari masuk, Lin Su," ucap Ji Mo-Xian datar. "Kota ini sepertinya menyimpan cerita yang cukup menarik untuk diselesaikan."

1
Iskandar Muda
seru cerita ny ..
ᵣₕyₜₕₘ.ₒf.ᵣₐᵢₙ: makasih kak🤩🤩 akan lebih seru selanjutnya karena Ji Mo-Xian akan berpetualang menjelajahi dunia dewa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!