Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?
UP SETIAP HARI JAM 06.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Suara detak jam dinding antik di sudut perpustakaan pribadi terdengar begitu lambat, mencatatkan detik demi detik waktu yang merangkak naik menuju pukul dua pagi. Di dalam penthouse megah itu, keheningan malam terasa begitu pekat, menghadirkan tekanan psikologis yang menyesakkan bagi siapa saja yang terjebak di dalamnya.
Rangga sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Bayangan pintu kamar Rania yang tertutup rapat tepat di depan hidungnya, serta tatapan mata dingin dan kata-kata telak yang dilontarkan istrinya beberapa jam lalu, terus berputar-putar di kepalanya bagaikan kaset rusak yang tak berujung. Setiap kali ia mencoba membalikkan badan di atas ranjang king-size kamar utamanya, rongga dadanya terasa dihantam oleh gelombang frustrasi dan rasa bersalah yang saling berbenturan. Harga diri seorang CEO besar terluka parah, bukan di arena bisnis, melainkan di dalam rumah tangganya sendiri.
Merasa lelah terus berguling dalam kegelisahan yang menyiksa, Rangga akhirnya menyerah. Dengan mengenakan piyama gelap dan jubah mandi sutra yang dibiarkan terbuka bagian depannya, ia bangkit dari tempat tidur. Langkah kakinya yang berat membawanya keluar dari kamar menuju koridor remang-remang, berniat mencari udara segar atau segelas air es di dapur.
Namun, saat ia melewati area ruang kerja terbuka yang terhubung dengan perpustakaan mini, langkah kaki Rangga mendadak terhenti.
Sebuah cahaya kebiruan yang lembut terpancar dari layar sebuah laptop di atas meja kayu mahoni yang besar. Di balik layar itu, sesosok bayangan ramping duduk dengan tenang mengenakan kardigan rajut abu-abu. Rania. Wanita itu tampak serius menatap layar laptop, sementara jari-jarinya yang lentik bergerak lincah di atas papan ketik, dikelilingi oleh beberapa berkas tebal dan catatan pembukuan toko roti miliknya yang berserakan rapi.
Rangga terpaku di ambang pintu ruangan. Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri di dalam bayang-bayang gelap koridor, mengamati punggung istrinya dalam diam.
Di tengah malam yang buta ini, ketika semua orang tertidur lelap, Rania justru sibuk merajut kemandiriannya sendiri. Pemandangan itu memicu sengatan aneh di dada Rangga—ada rasa kagum yang luar biasa, namun terselip rasa sakit yang teramat tajam karena ia sadar, kesibukan dan kemandirian itu adalah benteng pertahanan yang sengaja dibangun Rania untuk menjauhkan diri darinya.
Ego CEO yang melekat kuat di dalam diri Rangga berontak. Ia tidak tahan lagi hidup dalam ketidakpastian dingin ini. Harga dirinya menuntut sebuah konfrontasi, sebuah kejelasan atas perubahan drastis yang dilakukan istrinya.
Dengan langkah perlahan namun pasti, Rangga melangkah masuk ke dalam ruang kerja. Suara gesekan sandal rumahnya di atas lantai parket membuat Rania sedikit menghentikan ketikannya, meskipun wanita itu tidak langsung mendongak.
Rangga tidak memilih kursi di seberang meja. Sebaliknya, pria itu menarik sebuah kursi kerja berlengan kulit hitam, lalu duduk tepat di dekat sisi kiri Rania—begitu dekat hingga aroma sabun mandi beraroma lavender yang lembut dari tubuh Rania menguar tertangkap indra penciumannya.
Rangga menyilangkan kedua kakinya, memasang postur tubuh yang kaku namun berusaha menyembunyikan getaran di dalam dadanya. Ia mengangkat sedikit dagunya, mencoba menaikkan kembali topeng keangkuhan dan nada suara arogan yang selama ini menjadi ciri khasnya di ruang rapat korporat.
"Ada apa denganmu, Rania?" tanya Rangga membuka suara, nada bicaranya terdengar dingin, menuntut, dan diselimuti oleh gengsi tingkat tinggi. "Mengapa kau terus mengabaikanku selama beberapa hari ini? Apa sebenarnya yang merasukimu hingga kau berani bersikap sekaku itu pada suamimu sendiri?"
Pertanyaan itu dilontarkan dengan gaya khas seorang penguasa yang terbiasa mendominasi, berharap istrinya akan merasa terintimidasi atau setidaknya memberikan penjelasan yang memohon pengertian.
Namun, di luar dugaan pria itu, Rania sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda gentar, terkejut, atau takut.
Wanita itu perlahan menghentikan kegiatannya mengetik. Ia mematikan touchpad laptopnya sejenak, lalu membalikkan tubuhnya secara perlahan untuk menghadap langsung ke arah Rangga. Gerakan itu dilakukan dengan sangat tenang, anggun, dan tanpa terburu-buru.
Rania menatap lurus ke dalam bola mata suaminya. Tidak ada kilatan amarah di matanya, tidak ada air mata kekecewaan, dan tidak ada pula sisa-sisa pengharapan seperti dulu. Yang terpancar dari sepasang mata jernih itu hanyalah kehampaan yang sempurna—sebuah ketidakpedulian mutlak yang jauh lebih mematikan daripada kemarahan apa pun di dunia ini.
Dengan nada suara yang sangat santai, ringan, dan datar—seolah ia sedang membicarakan cuaca di luar jendela—Rania membuka bibirnya menjawab:
"Aku tidak mengabaikan apa pun, Tuan Rangga," ucap Rania pelan, senyuman tipis yang sangat sinis terukir di sudut bibirnya. "Kau terlalu percaya diri jika berpikir aku punya waktu luang untuk sengaja mengabaikanmu. Hanya saja... akhir-akhir ini aku sangat sibuk."
Sangat sibuk.
Dua kata sederhana itu dilontarkan dengan begitu enteng, seolah keberadaan Rangga di rumah ini, di sampingnya saat ini, tidak lebih penting daripada tumpukan resep adonan roti atau laporan omzet cabang toko barunya.
Deg!
Kalimat itu telak menghantam ulu hati Rangga. Keangkuhan yang tadi ia pasang dengan susah payah runtuh berkeping-keping dalam satu detik. Pria itu tertegun bisu di kursi kerjanya. Napasnya mendadak tercekat di tenggorokan, dan matanya melebar menatap wanita di depannya dengan rasa tidak percaya.
Selama ini, Rangga adalah pusat dunia bagi para mitra bisnisnya, pria yang ditakuti dan dihormati ribuan karyawan. Namun di hadapan istrinya malam ini, ia diperlakukan bagaikan butiran debu yang tidak bernilai—diabaikan bukan dengan teriakan atau tangisan, melainkan dengan sikap acuh tak acuh yang luar biasa santai.
Rangga membuka mulutnya, ingin membantah, ingin meluapkan amarah yang bergolak hebat di dadanya, namun tidak ada satu pun kata yang keluar dari bibirnya yang mendadak terasa kelu.
Melihat suaminya hanya terdiam membisu dengan wajah pucat pasi, Rania kembali memalingkan wajahnya dari Rangga. Wanita itu membuka kembali dokumen pembukuannya di layar laptop, mengabaikan sepenuhnya kehadiran pria di sampingnya, seolah-olah kursi di sebelah meja itu kosong melompong.
"Jika tidak ada hal penting yang ingin kau bicarakan soal pekerjaan atau urusan mendesak lainnya, silakan kembali ke kamar dan beristirahatlah, Rangga," ujar Rania dengan nada suara yang sangat sopan namun bernada mengusir secara halus. "Aku masih harus menyelesaikan laporan keuangan ini sebelum fajar menyingsing."
Di dalam keheningan malam yang panjang itu, Rangga duduk terpaku di kursi kerjanya. Ia menatap profil wajah istrinya yang diterangi cahaya biru laptop, merasakan untuk pertama kalinya dalam hidupnya apa artinya kekalahan mutlak. Ego besarnya telah dihancurkan berkeping-keping oleh jawaban santai seorang wanita yang dulunya begitu ia remehkan.
•
•
•
•
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak😉