Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa yang aneh
Pagi tampak cerah menghamparkan cahayanya yang hangat. Nisa tak henti-hentinya tersenyum setelah semalam menangis semalaman. Menangis di malam hari kini sudah menjadi kebiasaannya sejak dia melakukan kesalahan besarnya. Memanjatkan doa dan meminta pengampunan selalu menjadi rutinitasnya saat malam mulai membungkus dunianya. Walau dia kotor dengan dosa, tapi Nisa selalu sadar akan satu hal, Tuhannya Maha pengampun dan Maha pengasih. Saat dia rapuh, Nisa selalu mengingat akan hal ini hingga membuatnya cukup kuat sampai sekarang ini.
Saat ini, dia dan suaminya sedang berangkat menuju rumah sakit untuk check up kehamilannya. Rangga akhirnya memilih untuk mengantarnya dulu sebelum bertemu dengan Tiwi. Nisa sudah cukup berpuas diri dengan itu, setidaknya Rangga masih mau bertanggung jawab penuh pada janin yang di kandungnya.
"Bagaimana keadaan bayi saya, Dok?" tanya Nisa pada dokter yang menanganinya setelah pemeriksaan. Dokter itu tampak memperhatikan komputernya, mencoba melihat perkembangan dari janin Nisa.
"Alhamdulillah, keadaan bayi Anda terlihat baik-baik saja tapi ada indikator yang membuatnya harus diperhatikan. Sebaiknya mulai saat ini Anda harus mulai mengurangi kegiatan Anda, serta hindari stress berlebihan karena itu akan sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang janin di kandungan Anda" tutur sang Dokter menjelaskan yang membuat Nisa menundukkan kepalanya. Sulit untuk tidak menjadi Stress jika jadi dia.
Melihat reaksi Nisa, sang Dokter beralih menatap pada Rangga disebelah Nisa yang hanya diam mendengarkan pembicaraan sang istri dengan Dokter tersebut sedari tadi.
"Dan untuk bapak sebaiknya jaga istri Anda agar tidak kelelahan dan banyak pikiran, karena itu jelas berpengaruh bagi kandungannya. Usahakan untuk menghindari berbagai potensi yang berkemungkinan membuat janin itu dalam bahaya" ujar sang Dokter memberitahu pada Rangga.
"Baik Dok!" Rangga hanya mengangguk mengiyakan.
🍀🍀🍀
Desahan keberatan keluar dari bibir Rangga saat istrinya mengajaknya keliling taman kota yang tak jauh dari rumah sakit dimana mereka melakukan konsultasi, tapi Rangga tetap menuruti keinginan kecil Nisa tersebut.
Sedangkan Nisa, wanita yang saat ini berbadan dua itu tak henti-hentinya tersenyum, senyuman yang merekah indah layaknya bunga musim semi. Mungkin ini adalah senyuman yang paling ceria yang ditunjukkannya selama delapan bulan terakhir ini.
Sebenarnya, Rangga ingin menolak saat Nisa mengajaknya ke sana tadi karena dia ingin segera berjumpa dengan Tiwi, tapi mengingat perkataan Dokter dia jadi tidak tega untuk menolak permintaan kecil istrinya itu. Apalagi dia bukan pria yang tak punya hati. Bagaimana pun Annisa adalah wanita yang sudah lama menjadi sahabatnya sebelum akhirnya kini menjadi istrinya.
Langkah keduanya berjalan beriringan menyusuri taman tersebut, dimana banyak juga orang-orang yang sedang menghabiskan waktu dengan keluarga mereka disana, walau hanya sekedar dengan bermain bola dan saling mengobrol penuh canda. Nisa tidak pernah melepaskan rangkulan tangannya dari sang suami hingga akhirnya mereka memutuskan beristirahat di sebuah bangku taman setelah lelah berkeliling.
"Kamu senang?" tanya Rangga sembari memandang Nisa disampingnya yang masih setia merangkul tangannya.
"Eum, iya! Aku senang banget, Mas" Nisa mengangguk dengan senyum yang terkembang di wajah. Wanita itu terlihat bahagia saat ini.
"Syukurlah! Semoga dengan begini kamu bisa hilang dari yang namanya stress ya! Dan bayi kita akan sehat. Oh, ya! Apa kamu ingin makan sesuatu?" tanya Rangga lagi setelah berucap kata-kata yang menentramkan untuk Nisa dengar.
"Aku ingin makan es krim!" tunjuk Nisa kearah gerai es krim. Sebenarnya dia sudah begitu ingin dengan es krim, tapi merasa malu dan canggung untuk memintanya pada Rangga. Apalagi suaminya itu sudah berbaik hati mau menuruti keinginannya untuk berkeliling taman ini.
"Oh baiklah! Aku akan membelinya! Kamu tunggu disini! Jangan kemana-mana!" peringat Rangga yang kemudian langsung berlari kearah gerai es krim yang berada cukup jauh dari tempat mereka berada.
Sembari berlari, Rangga perlahan menyentuh dada kirinya yang rasanya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa, tadi saat dia memalingkan wajahnya tiba-tiba kearah Nisa, dia terpaku dengan senyuman istrinya itu, terlebih jarak wajah Nisa yang begitu dekat dengan wajahnya membuatnya tiba-tiba menjadi gugup, beruntung Rangga masih bisa mengontrol dirinya. Setelah pernikahan mereka, Rangga tidak pernah melihat senyum selepas itu dari wajah sang istri selama hampir delapan bulan pernikahan mereka, dan sekarang Rangga merasa ada yang aneh dengan dirinya.
Mencoba mengabaikan rasa aneh yang tiba-tiba hadir dalam hatinya, dia melangkah cepat untuk mengantri es krim sambil sesekali melihat kearah Nisa yang masih tersenyum memandangnya.
Senyuman Nisa semakin lebar saat suaminya berlari dan mengantri untuk membelikannya es krim. Dia tersenyum saat melihat suaminya sempat berdebat dengan beberapa anak kecil dan berakhir dengan Rangga yang mengalah saat anak-anak itu memotong antrian untuk mendapatkan es krim lebih cepat.
"Ayah terlihat berbeda, Sayang! Dia jadi perhatian sekarang sama ibu dan kamu," ujarnya pada perut buncit yang di elusnya selalu. Tapi perlahan air matanya merembes kembali saat ingatannya terbayang pada kejadian tiga hari yang lalu dimana Rangga sukses membuat hatinya tak berbentuk.
Tiga hari lalu, Nisa sedang menonton TV di ruang tamu saat Rangga datang membawa map yang berisi surat perceraian. Pria itu mengatakan akan menceraikannya tepat setelah dua minggu dia melahirkan anak mereka. Karena memang untuk itulah dia menikahi Nisa. Rangga menikahi Nisa hanya sebatas pertanggung jawaban atas anak yang di kandung wanita itu.
"Aku sudah mengurus semuanya. Kamu hanya perlu menandatangani surat ini setelah kamu melahirkan dua minggu kemudian," ujar Rangga tanpa perasaan. Nisa hanya mampu menatap surat itu dengan pandangan kosong. Ternyata Rangga memang tidak pernah mencintainya sedikit pun. Pandangan Nisa kemudian beralih dari map surat tersebut ke wajah Rangga, dia mencoba untuk menatap mata Rangga sembari batinnya bertanya-tanya, apa mungkin Rangga sekejam itu? Kalau pun Rangga tidak mencintainya haruskah pria itu bertindak sekejam sekarang menyerahkan surat cerai dan berkata akan menceraikannya setelah melahirkan.
"Soal hak asuh, kamu tidak perlu khawatir. Kita akan membahasnya setelah bayi itu lahir," ujar Rangga yang membuat Nisa menyerah untuk mengungkapkan isi batinnya. Rangga sudah bertekad, apalagi yang mungkin bisa mengubah keinginan pria itu untuk menceraikannya.
Nisa hanya mampu mengangguk untuk setuju dengan keputusan Rangga. Dia menunduk untuk tidak lagi menatap wajah pria yang di cintainya itu, tapi matanya kembali menatap pada suatu hal yang menyakitkan. Tanda tangan suaminya sudah terbubuhi diatas surat. Sebegitu besar kah keinginan Rangga untuk tidak terikat dengannya? Semua usahanya selama ini sia-sia. Nisa pikir dengan mengikat status pria itu sebagai suaminya akan membuat Rangga perlahan mencintainya. Tapi ternyata hanya luka dan luka yang dia dapatkan. Nisa juga tahu bahwa suaminya itu ingin segera menikah dengan Tiwi dan berencana berbulan madu ke luar negeri. Rangga pergi setelah berhasil membuat hati Nisa remuk dengan surat perceraian tersebut.
.
.
.
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean