"Aku usaha, kamu juga usaha. Kita sama-sama berusaha demi mewujudkan wedding dream kita."
Demi janji itu, Rhea rela menjadi TKI dan mengubur mimpinya untuk bekerja di perusahaan yang sangat ia inginkan.
Saat pulang, tenda biru justru berdiri di depan rumah Oza. Pria yang sangat ia cintai itu menikahi Trisna, sahabat yang paling ia percaya.
Rhea berlari dengan air mata berurai, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya, seseorang menahan tubuhnya dan menariknya.
"Jangan bertindak bodoh. Jangan hanya karena manusia, kamu rela memberikan nyawa."
Sejak hari itu, takdirnya berubah. Akankah pengkhianatan itu menjadi akhir hidupnya, atau awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenda Biru 27
"Kamu kok masih kayak gitu, belum rapi juga?"
Oza mengerutkan alisnya ketika melihat tampilan Trisna yang masih dengan piyama. Padahal saat ini jam sudah menunjukkan pukul 07.00, waktunya mereka berangkat ke kantor.
"Aku nggak enak badan. Aku izin satu hari. Kepala ku pusing banget," jawab Trisna tanpa melihat ke arah Oza. Wanita itu hanya menatap ke atas meja sambil memijit keningnya.
"Ya udah kalau gitu, istirahat. Aku berangkat," ucap Oza. Dia tak bertanya apapun lagi.
Trisna menganggukkan kepalanya, dia tak mengantarkan Oza hingga ke teras. Dimana hal itu dulu merupakan salah satu cita-citanya setelah menikah. Bahkan Trisna berpikir untuk resign dan sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga. Tapi satu per satu cita-citanya agaknya hanya tinggal angan.
Setelah suara mobil terdengar lalu menghilang, Trisna bergegas kembali ke kamar. Bukan kamar yang ditempatinya bersama Oza, melainkan kamar yang sering digunakan Oza secara pribadi.
"Sial, dikunci," ucap Trisna saat menekan handle pintu.
Ia melihat ke sekeliling, kepalanya terus berpikir tentang membuka pintu kamar tersebut. Apa yang ditemukannya kemarin di laci meja kerja Oza membuat Trisna memilik dugaan bahwa di kamar ini pun pasti ada.
"Kunci serep, seharusnya ada? Kalau nggak ada, masa iya aku harus panggil tukang kunci? Ah nggak, ay cari dulu. kelamaan kalau manggil tukang kunci."
Trisna mulai melakukan pencarian. Dia ingat saat diberik semua kunci pintu rumah itu oleh Oza saat pertama kali menempatinya. Namun waktu itu ia tak hanya menganggapnya sambil lalu.
"Apa waktu itu di sini ya?"
Trisna membuka satu per satu laci lemari kecil yang ada di ruang keluarga. Ia tak melewatkan satu pun dari laci itu.
"Ini, buset banyak banget. Yang mana ya."
Trisna bergegas kembali menuju ke kamarnya sendiri. Dia mengambil kunci kamarnya, dan mencari yang serupa.
Design pintu kamar di rumah itu semua sama, setidaknya memperkecil pencarian kunci yang cocok untuk kamar pribadi Oza.
Ada setidaknya 4 kunci, Trisna mencoba satu per satu.
Klak
Mata Trisna berbinar, bibirnya tersenyum lebar. Baru percobaan kedua tapi ia berhasil membuka kamar tersebut.
Trisna langsung masuk, dia membuka lemari yang ada di sana, mencari benda yang sama dengan benda yang ia temukan di kantor. Namun di lemari besar itu hanya terdapat pakaian Oza.
Trisna bergeser ke bagian nakas samping tempat tidur, tadi di laci itu tak ada apapun.
Mata Trisna memindai seluruh ruangan. Ada sebuah meja kursi di sana, yang oza fungsikan sebagai ruang kerja. Trisna berjalan ke arah meja tersebut, lalu duduk di kursi. matanya terkunci pada sebuah nakas.
Saat tangannya mengulur, dadanya menjadi berdegup kencang.
Sreeek
deg deg deg
Jantung Trisna berdegup kencang, nafasnya memburu. Apa yang dicarinya, kini benar-benar ditemukannya.
Sebuah foto, diman ada dua orang di sana. Satu orang sangat ia kenal, dan satunya tidak. Namun orang yang tidak ia kenal itu, sangat ia ketahui nama dan kisahnya.
"Alya," ucap Trisna lirih. Dadanya masih saja bergemuruh, dan nafasnya tidak teratur. Ia lantas mengusap wajahnya kasar.
"Apa karena ini?"
Trisna mengambil foto itu, foto seroang wanita cantik dengan Oza yang berdiri di sampingnya. Di bawah foto tersebut, ternyata masih banyak foto-foto yang lainnya.
Trisna tak mampu berkata-kata. Dia memilih diam, mengembalikan foto-foto tersebut ke posisinya semula. Trisna juga segera keluar dari kamar dan menguncinya kembali.
Ia menyandarkan tubuhnya sejenak di pintu, mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
"Seenggaknya bukan karena Rhea," ucapnya lirih.
Di kantor, Oza yang datang sendirian mendapat banyak pertanyaan dari rekan kerja dan anak buahnya tentang keberadaan Trisna. Ia hanya berkata bahwa Trisna sedang tidak enak badan sambil tersenyum.
Oza menghembuskan nafasnya kasar ketika sudah sampai di ruangannya.
Blak
"Za?"
Oza memutar bola matanya malas. Temannya ini memang sedikit mengesalkan, karena selalu masuk tanpa permisi.
"Apaan, Dar. Pagi-pagi udah nangga aja. Kamu emang nggak sibuk ya? Kabag Keuangan kok kerjaannya lompat sana-sini."
Haidar hanya tersenyum tipis mendengar ucapan temannya. Tidak, pria itu malah tertawa mendengar ceramah Oza yang sebenarnya adalah sebuah gerutuan.
Haidar tak peduli degan wajah Oza yang kusut. Ia juga tak membahas tentang absennya Trisna, istri dari temannya itu.
"Aku ini baru selesai dengan semua pekerjaanku. Baru sekarang aku bisa napas tahu nggak. Itu, soal karyawan baru. Pas pertama kali dikenalin, wajahnya sama sekali nggak asing. Dan setelah kuingat-ingat, ternyata dia adalah cewek yang kamu tembak waktu itu di pantai. Bener kan?"
Degh!
Oza yang tadinya tak melihat ke arah Hadar, kini menatap mata temannya itu tajam. Nafasnya sedikit tercekat, namun dia bisa mengaturnya kembali sehingga terasa lebih tenang. Hanya saja dadanya masih berdegup dengan cepatnya, dan tengkuknya terasa panas.
"Bener kan, aku masih belum pikun buat inget-inget muka orang," ungkap Haidar.
"Dia sudah jadi masa lalu, jadi jangan ungkit lagi," ucap Oza sengit. Ia mengalihkan wajahnya, dia tak lagi melihat ke arah Haidar.
Haidar sendiri juga tak lagi membahasnya karena melihat wajah Oza yang menunjukkan ketidaksukaannya.
Drtzzz
Ponsel Haidar berbunyi. Pria itu langsung menjawabnya dengan cepat.
"Ya, ada apa?"
"Pak, Bu Rhea ada di sini. Beliau mencari bapak."
Haidar hanya menjawab singkat, ia lalu mematikan ponselnya dan bergegas pergi dari ruangan Oza. Tapi saat di depan pintu, Haidar kembali menoleh ke arah Oza.
"Kalau gitu Za, nggak masalah dong ya kalau aku coba buat deketin dia."
Tanpa menunggu jawaban dari Oza, Haidar melenggang pergi dengan cepat. Menyisakan Oza yang melayangkan tatapan tajam dan kepalan tangan erat.
Oza terpaku melihat ke arah pintu. Perkataan Haidar sama sekali tidak salah, tapi membuat dadanya sedikit panas.
"Nggak, ini bukan rasa nggak suka. Ini hanya rasa kesal. Ya benar, rasa kesal karena dia bisa-bisanya hidup dengan tenang seperti ini. Dia seharusnya sengsara, dia seharusnya menderita."
TBC
lanjutin napa, kasian loh itu Nayaka dah nunggu lama momen ini 🤭🤭