"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"
"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"
"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."
"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"
"Itu hakmu untuk menyimpulkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10. PEEJAMUAN MEJA BERACUN
BAB 10. Perjamuan di Meja Beracun
Ruang makan keluarga Arshaka berada di sisi timur rumah utama, menghadap taman belakang yang diterangi lampu-lampu berwarna keemasan. Sebuah meja makan panjang dari kayu ek memenuhi hampir seluruh ruangan, dikelilingi kursi-kursi berlapis kulit yang tersusun rapi. Berbagai hidangan telah tersedia di atas meja, mulai dari sup hangat, aneka hidangan laut, hingga masakan nusantara yang masih mengepulkan uap.
Kemewahan ruangan itu tidak terasa berlebihan. Justru setiap sudutnya memancarkan wibawa keluarga yang telah membangun kerajaan bisnis selama puluhan tahun.
Di salah satu sisi meja telah duduk seorang pria berusia sekitar empat puluh lima tahun dengan setelan jas abu-abu gelap. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya memperlihatkan kecermatan seorang pebisnis yang telah lama berkecimpung di Arshaka Group.
Hagia mengenalinya dari rapat direksi beberapa hari sebelumnya.
Danu ternyata adik kandung Winda sekaligus salah satu direktur senior perusahaan.
Melihat Kalandra memasuki ruang makan, Danu segera berdiri.
"Kamu akhirnya datang."
Kalandra mengangguk singkat.
"Maaf membuat kalian menunggu."
"Belum lama."
Pandangan Danu kemudian beralih kepada Hagia.
"Ini istrimu?" Danu sedikit memicingkan matanya.
Hagia membungkukkan badan sedikit. "Selamat malam, Pak Danu. Kita pernah bertemu di ruang rapat beberapa hari yang lalu."
"Ah, ya ya. Saya baru ingat. Jadi dia asisten pribadimu juga, Kal?"
Akhirnya rasa penasaran Danu terjawab. Senyum Danu tampak ramah, meski tetap menyisakan jarak yang wajar bagi seseorang yang baru pertama kali bertemu.
"Nama kamu cukup sering muncul di rapat beberapa hari terakhir."
Hagia hanya membalas dengan senyum sopan. Belum sempat percakapan berlanjut, langkah kaki lain terdengar mendekat dari arah ruang tengah.
"Kalian sudah berkumpul rupanya."
Seorang perempuan paruh baya dengan gaun berwarna zamrud memasuki ruang makan sambil tersenyum hangat. Perhiasan berlian sederhana menghiasi leher dan pergelangan tangannya, sementara riasan wajah yang anggun membuatnya tampak jauh lebih muda dari usianya.
"Ibu."
Kalandra menyapanya lebih dulu. Winda menghampiri putra tirinya tanpa ragu, lalu menepuk pelan lengan pria itu.
"Kamu benar-benar membuat Ibu terkejut." Nada suaranya terdengar lembut. "Bayangkan saja, tiba-tiba Ibu mendapat kabar kalau kamu sudah menikah."
Kalandra hanya tersenyum tipis lalu menunduk. "Maaf, Bu."
"Itu yang membuat Ibu semakin penasaran. Sejak pindah ke panthouse, kamu sering melakukan sesuatu tanpa memberitahu ibu, Kal."
Tatapan Winda kemudian beralih kepada Hagia. "Jadi, ini istrimu?"
"Iya, Bu."
Hagia kembali membungkukkan badan dengan sopan. "Selamat malam."
Winda mengangguk sambil menggenggam kedua tangan Hagia sekilas. "Selamat datang di keluarga Arshaka."
"Seharian ini ibu dibuat penasaran dengan sosok menantu ibu. Akhirnya, malam ini bertemu juga."
Kalimat itu terdengar tulus hingga membuat Hagia sedikit terkejut.
"Ibu minta maaf karena tidak menyiapkan apa pun untuk menyambutmu dengan lebih baik."
"Jangan repot-repot, Bu."
"Seharusnya pernikahan anak itu menjadi kabar yang membahagiakan bagi orang tua."
Winda menoleh kepada Kalandra sambil menggeleng pelan.
"Sayangnya, kamu ini sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Ibu untuk mempersiapkan apa pun."
"Ibu tahu sendiri kondisi Kakek."
"Iya." Winda mengembuskan napas pelan. "Ibu mengerti."
Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Namun, sorot matanya sempat menyiratkan kekecewaan kecil yang segera menghilang di balik senyumnya. Selama bertahun-tahun, ia memang pernah beberapa kali memperkenalkan Kalandra kepada putri-putri dari sahabatnya. Namun, tanpa diduga, Kalandra justru datang membawa seorang istri yang sama sekali belum pernah dikenalnya. Dan semua itu terjadi begitu cepat.
"Sudahlah," ujar Danu sambil tersenyum. "Makanan keburu dingin kalau kita terus ngobrol."
Winda tersenyum kecil. "Kamu benar."
Ia mempersilakan semua orang duduk. Seperti biasa, Kalandra lebih dulu menarik kursi di sampingnya untuk Hagia sebelum dirinya sendiri duduk. Gerakan sederhana itu tidak luput dari perhatian Winda. Sekilas, senyumnya sedikit mengembang.
Para pelayan segera menyajikan hidangan satu per satu. Beberapa menit pertama diisi percakapan ringan mengenai perkembangan perusahaan dan kondisi kesehatan sang kakek yang masih menjalani perawatan di rumah sakit.
"Ibu belum sempat ke rumah sakit hari ini," ujar Winda.
"Bagaimana keadaan beliau?"
"Lebih baik dibanding minggu lalu," jawab Kalandra tenang.
"Dokter masih meminta beliau menjalani observasi beberapa hari lagi."
"Syukurlah."
Winda mengangguk pelan.
"Kakek pasti merasa jauh lebih tenang sekarang."
Hagia menghentikan gerakan tangannya sejenak.
"Pernikahan kalian," lanjut Winda sambil tersenyum. "Beliau sudah lama berharap melihatmu memiliki pendamping."
Kalandra tidak menanggapi. Ia hanya mengambilkan semangkuk sup dan meletakkannya di depan Hagia sebelum mengambil makanannya sendiri. Hagia sempat melirik pria itu sekilas. Perhatian kecil itu dilakukan begitu saja, tanpa kata-kata. Dan seolah telah menjadi sesuatu yang biasa.
Di seberang meja, Winda diam-diam memperhatikan pemandangan tersebut tanpa memberikan komentar apa pun. Malam masih panjang. Masih banyak waktu untuk mengenal perempuan yang kini duduk di samping putra tirinya.
Beberapa saat mereka menikmati makan malam dalam suasana yang jauh lebih tenang. Percakapan beralih kepada perkembangan Arshaka Group dan beberapa proyek yang sedang berjalan. Hagia lebih banyak mendengarkan. Sesekali ia menjawab singkat ketika Winda menanyakan apakah ia sudah mulai beradaptasi dengan pekerjaannya.
"Bagaimana bekerja bersama Kalandra?" tanya Winda.
Hagia menoleh sekilas kepada pria di sampingnya sebelum menjawab.
"Sejauh ini tidak ada masalah, Bu."
"Tidak kewalahan?"
"Masih banyak yang harus saya pelajari lagi."
Winda mengangguk pelan.
"Itu wajar. Kalandra memang tidak pernah memberi pekerjaan yang ringan kepada orang-orang di sekitarnya."
Sudut bibir Hagia terangkat tipis lalu melirik ke arah Kalandra.
"Saya juga mulai menyadarinya."
Danu terkekeh pelan. "Kalau begitu, kamu cukup beruntung."
Hagia memandangnya. "Beruntung?"
"Belum pernah ada orang baru yang langsung bekerja satu ruangan dengan Kalandra. Kalau pun ada, mereka menyerah lebih dulu sebelum benar-benar mengenal cara kerjanya."
Kalandra tidak menanggapi komentar itu. Ia tetap menikmati makan malamnya dengan tenang.
Tidak lama kemudian, Winda kembali membuka percakapan.
"Ibu dengar kamu akan mempresentasikan proyek renovasi Arshaka Mall."
Hagia menghela napas sambil kembali melirik sekilas ke arah Kalandra yang tetap menikmati makan malam tanpa banyak berkomentar.
"Iya, Bu," jawab Hagia sopan. "Kalau tidak ada perubahan."
"Baru beberapa hari bekerja, lalu langsung dipercaya mempresentasikan proyek sebesar itu." Winda tersenyum tipis. "Berarti Kalandra benar-benar yakin pada kemampuanmu."
"Naskah presentasinya memang disusun olehnya," sahut Kalandra tenang. "Cuma Hagia yang memahami rancangan itu."
Winda menoleh kepada putra tirinya. "Kamu tidak khawatir orang lain salah paham?"
"Mengenai apa, Bu?"
"Orang bisa saja mengira kamu terlalu mengistimewakan istrimu."
Kalandra meletakkan sendoknya.
"Kalau seseorang dipilih karena kemampuan, saya tidak melihat alasan untuk menjelaskan apa pun."
Danu menganggukkan kepala pelan.
"Itu memang cara kerjamu sejak dulu."
"Dan tidak akan berubah." Jawaban singkat itu menutup pembahasan.
Winda tidak lagi mempermasalahkan urusan pekerjaan. Ia justru kembali memusatkan perhatian kepada Hagia.
"Kalau boleh tahu, orang tuamu tinggal di mana sekarang?"
"Ibu saya sudah meninggal beberapa waktu lalu."
Raut wajah Winda berubah.
"Maaf... Ibu tidak tahu."
"Tidak apa-apa, Bu."
"Lalu ayahmu?"
"Tinggal di luar negeri."
Winda mengangguk pelan.
"Pasti tidak mudah menjalani semuanya sendirian."
"Saya sudah terbiasa."
Nada bicara Hagia tetap tenang. Tidak terdengar ingin dikasihani, tetapi juga tidak berusaha menutupi kenyataan.
Winda memperhatikannya beberapa saat.
"Kalau begitu, mulai sekarang anggap saja rumah ini juga rumahmu."
Kalimat itu diucapkan dengan tulus. Setidaknya, begitulah yang terdengar.
Hagia membalas dengan senyum sopan. "Terima kasih, Bu."
Keheningan kembali menyelimuti meja makan. Beberapa pelayan datang mengganti piring dan menambahkan hidangan penutup sebelum kembali menghilang tanpa suara. Baru setelah suasana kembali tenang, Winda membuka pembicaraan yang sejak tadi sebenarnya ingin ia sampaikan. Ia meletakkan sendoknya perlahan sebelum kembali menatap Hagia.
"Sebulan lagi ada Gala Dinner Arsitektur Nasional."
Hagia mengangkat pandangan.
"Iya, Bu, saya pernah mendengarnya."
"Hampir semua investor besar, pengembang, pejabat, dan tokoh konstruksi akan hadir." Senyum Winda tetap hangat. "Sebagai istri Kalandra, tentu kamu akan mendampinginya."
"Kalau memang diperlukan, saya siap."
"Tentu diperlukan." Winda mengangguk pelan.
"Lingkungan keluarga Arshaka sedikit berbeda." Ia berbicara lembut, seperti seorang ibu yang sedang memberi nasihat kepada anaknya. "Di sana, orang sering kali menilai keluarga kami sebelum mengenal pribadi kami."
Hagia mendengarkan tanpa menyela.
"Karena itu..." Winda berhenti sejenak. "Ibu berharap kamu tidak menjadi alasan orang lain meragukan penilaian Kalandra."
Keheningan langsung memenuhi meja makan. Kalimat itu tidak keras. Tidak pula terdengar merendahkan. Namun, maknanya sangat jelas. Jika Hagia gagal menempatkan diri, bukan hanya dirinya yang dipermalukan, tetapi keputusan Kalandra memilihnya sebagai istri juga akan dipertanyakan.
Di bawah meja, jemari Hagia tanpa sadar menggenggam serbet sedikit lebih erat. Saat itulah sebuah tangan hangat menyentuh punggung tangannya. Hagia sedikit terkejut. Ia menoleh sekilas. Kalandra tetap duduk tegak dengan pandangan lurus ke depan. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun. Namun, jemari pria itu menggenggam tangannya dengan mantap. Bukan untuk menghentikannya berbicara. Melainkan agar ia tahu bahwa ia tidak sedang menghadapi semua itu sendirian.
Hagia mengembuskan napas pelan sebelum kembali menatap Winda.
"Terima kasih atas nasihat Ibu." Senyumnya tetap sopan. "Saya akan berusaha menjaga nama baik keluarga Arshaka sebaik yang saya mampu."
Winda mengangguk pelan. "Itu yang Ibu harapkan."
Barulah Kalandra membuka suara.
"Hagia tidak perlu membuktikan apa pun di depan semua orang." Nada bicaranya tetap tenang. "Kalau saya memilihnya menjadi istri saya, berarti saya sudah siap mempertanggungjawabkan pilihan itu."
Makan malam berakhir ketika para pelayan mulai membereskan meja satu per satu. Setelah berpamitan kepada Winda dan Danu, Kalandra dan Hagia melangkah keluar dari rumah utama menuju halaman depan. Winda tetap berdiri di ambang pintu dengan senyum hangat, sementara Danu menganggukkan kepala sebagai salam perpisahan.
Beberapa saat kemudian, Kalandra membukakan pintu mobil untuk Hagia sebelum mengambil tempat di balik kemudi. Mobil itu pun perlahan meninggalkan rumah utama keluarga Arshaka, membelah suasana malam kawasan Menteng yang mulai lengang.
Next--->
semoga bukunya sukses
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻