Indonesia
NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.

Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.

Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIKET PENERBANGAN DAN BISIKAN DI BALIK KABIN

Suara isolasi kedap udara kamar tak sepenuhnya mampu meredam gema sisa percekcokan yang baru saja pecah di lantai bawah.

Aku berdiri tegak di depan cermin rias, membiarkan jemariku kembali menelusuri ukiran dingin rantai platina dan permukaan halus liontin blue sapphire 15 karat yang masih menggantung cantik di cekungan dadaku.

Kilau birunya berkerlip pekat di bawah temaram pendar lampu tidur, persis bagaikan kilatan iris mata hazel Raymond sewaktu pria itu mengunci mataku di tengah riak ketegangan tadi.

Kemenangan malam ini terasa begitu manis sekaligus meletupkan rasa haus yang baru.

Ibu yang selama ini membanggakan tahta kemewahan hasil mencampakkan Ayah, kini meratapi nasibnya sendiri di ruang tengah.

Wanita itu dipaksa menelan kenyataan pahit bahwa pria 35 tahun yang dipamerkannya ke seantero Jakarta justru pasang badan membela diriku, mengesampingkannya seolah ia tak lebih dari kerikil pengganggu di tengah transaksi bisnis berkelas.

Dengan gerakan penuh kehati-hatian, aku melepaskan pengait kalung bernilai tiga puluh miliar tersebut.

Aku meletakkannya kembali ke dalam kotak beludru hitam eksklusif bermerek The Tear of Serpent, menutupnya rapat, lalu menyembunyikannya di kedalaman laci meja yang terkunci.

Gaun beludru hitam berbelahan tinggi yang malam ini menjadi saksi bisu runtuhnya martabat Ibu pun kutanggalkan, berganti dengan piyama sutra tipis berwarna krem yang terurai lembut membungkus tubuhku.

Ketika aku baru saja hendak merebahkan diri di atas ranjang king size, sebuah ketukan halus berirama terkontrol terdengar dua kali di pintu kamarku.

Dahiku berkerut tipis.

Ritme ketukan itu terlalu teratur untuk ukuran Ibu yang saat ini pasti sedang menangis histeris di kamar lamanya.

Itu adalah ketukan seseorang yang terbiasa memegang komando total.

Aku melangkah perlahan menuju pintu, memutar gagang kuningan dingin tersebut, lalu membukanya sedikit.

Di balik pintu, Raymond berdiri tegak.

Pria berpostur tinggi menculang itu telah melepaskan dua kancing atas kemeja putihnya, menampilkan garis leher kokoh yang dipadu bahu tegap.

Wajah tegas bersudut tajam itu tampak diterpa kelelahan tipis usai penerbangan panjang dari Balikpapan dan konfrontasi emosional beberapa saat lalu, tetapi sorot mata hazel-nya tetap menyala tajam dan fokus sepenuhnya mengunci pandanganku.

"Kamu belum tidur, Clarissa?" suara bass-nya bergema rendah, begitu parau dan bergetar halus di keheningan lorong lantai dua yang remang.

"Belum, Raymond," jawabku pelan, menyandarkan separuh bahuku di tepi daun pintu.

Piyama sutra krem yang kukenakan sedikit merosot di bahu kiri, mengekspos tulang selangka dan kulit mulusku di bawah pendar lampu koridor.

"Aku baru saja menyimpan kalung itu.

Ada apa?

Ibu..."

"Ibumu sudah mengurung diri di kamar utama setelah meminum obat penenangnya," potong Raymond datar, sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah atau iba atas kondisi istrinya.

Pandangan nya bergulir perlahan turun, menatapi bahu kiriku yang terbuka sebelum kembali menetap di manik mataku.

"Aku ke sini hanya untuk menyerahkan ini padamu."

Raymond menyodorkan sebuah amplop kulit berwarna biru dongker yang elegan.

Aku mengulurkan tangan mengambilnya.

Sentuhan singkat antara ujung jariku yang hangat dengan jemari kokoh Raymond yang kasar menimbulkan letupan sengatan listrik kecil yang membuat napasku tertahan sesaat.

Aku membuka amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat sebuah paspor khusus, dokumen pendaftaran perjalanan, serta sebuah tiket penerbangan first class pesawat komersial tujuan Bali untuk jadwal esok pagi jam delapan.

"Bukankah di undangan lelang tadi Pak Herman bilang keberangkatan ke Bali baru lusa depan?" tanyaku dengan kening berkerut halus, menatap tiket di tanganku lalu beralih menatap wajah tampan pria dewasa di hadapanku.

"Jadwalnya kuajukan menjadi besok pagi," sahut Raymond tenang, melangkah satu senti lebih rapat ke arah ambang pintu kamarku.

Aroma parfum kayu cendana bercampur alkohol halus menguar hangat dari tubuhnya, mengurung indra penciumanku.

"Ada agenda peninjauan lahan calon resort baru Perkasa Group di Uluwatu yang butuh keputusan secepatnya.

Dan aku tidak punya waktu untuk menunggu lusa."

"Kenapa harus membawaku?" bisikku lirih, menengadah menatap garis rahangnya yang keras.

"Kamu tahu kan kalau situasi rumah ini sedang memanas?

Ibu pasti akan makin murka kalau tahu aku pergi bersamamu ke Bali esok pagi."

Sudut bibir Raymond terangkat sangat tipis, membentuk senyuman sinis yang dingin namun teramat memikat.

Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara kami hanya tersisa beberapa senti.

"Sejak kapan kamu peduli dengan kemarahan ibumu, Clarissa?" bisik Raymond dengan nada suara yang sangat dalam dan mengintimidasi.

"Aku tahu betul permainan apa yang sedang kamu mainkan di rumah ini.

Dan Bali... adalah tempat yang tepat untuk kita menyelesaikan apa yang sudah kamu mulai."

Jantungku berdegup kencang secara liar di balik rongga dada.

Pernyataan terselubung Raymond merupakan sebuah konfirmasi terbuka bahwa sang taipan menyadari godaan dan jebakan yang kupasang selama ini—tetapi bukannya menghindar, pria itu justru secara sadar melangkah masuk ke dalam jerat tersebut dan menantangku balik.

"Siapkan barang-barangmu.

Mobil jemputan ke bandara berangkat jam enam pagi," lanjut Raymond tegas tanpa menunggu balasan dariku.

Pria itu memutar tubuhnya, melangkah pergi menyusuri koridor sunyi menuju ruang kerjanya tanpa sekali pun menoleh lagi.

Aku menutup pintu kamar perlahan, menyandarkan punggungku di kayu dingin dengan napas terengah.

Di jemariku, tiket penerbangan ke Bali itu tergenggam erat.

Permainan dendam ini kini berpindah arena—dari mansion megah di Jakarta menuju kebebasan pulau dewata yang penuh dengan intrik terlarang.

Keesokan harinya, pendar fajar baru saja membiaskan warna keemasan tipis di ufuk timur Jakarta.

Suasana mansion terasa sepi bagai kuburan.

Ibu tidak keluar sama sekali dari kamar utamanya—mungkin karena rasa malu yang mendalam atau pengaruh obat tidur yang masih kuat melekat.

Sebuah koper bahan kulit berukuran sedang milikku sudah diangkut oleh Pak Herman ke dalam bagasi mobil.

Aku melangkah turun mengenakan pakaian perjalanan yang terkesan santai namun tetap elegan: sebuah blouse bahan sutra melayang berwarna nude yang dipadu celana kulot putih berpotongan high-waist, lengkap dengan kacamata hitam berbingkai besar yang bertengger di atas kepalaku.

Di dalam Alphard hitam yang membawakan kami menuju Bandara Soekarno-Hatta, Raymond duduk di sampingku.

Pria itu mengenakan setelan kasual mewah kemeja rajut berwarna abu-abu gelap yang melekat ketat di dada bidangnya serta celana bahan berwarna senada.

Ia sibuk meneliti beberapa lembar dokumen cetak di pangkuannya sambil sesekali menyesap kopi hitam tanpa gula dari tumbler emasnya.

Sepanjang perjalanan satu jam menuju bandara, hampir tak ada percakapan berarti di antara kami.

Namun, ketegangan tak kasat mata yang pekat terus mengudara di dalam interior mobil.

Setiap kali Raymond menggeser lembar kertas dokumennya atau saat lengannya tak sengaja bergesekan dengan lenganku di atas sandaran tangan tengah, aliran darahku berdesir kencang.

Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta, kami langsung diarahkan melalui jalur keberangkatan VIP tanpa perlu mengantre dengan penumpang biasa.

Sebuah jet pribadi berlogo Perkasa Group berukuran sedang rupanya sudah terparkir megah di area apron khusus sebuah kejutan kecil karena tiket first class yang diberikan Raymond semalam ternyata hanya sampul penyamaran untuk prosedur penerbangan privat ini.

"Silakan naik, Nona Clarissa," Pak Herman membukakan tangga pesawat dengan membungkuk sopan.

Aku menaiki tangga pesawat dengan langkah mantap.

Saat melangkah masuk ke dalam kabin jet pribadi tersebut, kemewahan serba melimpah langsung menyambut pandangan mata.

Kabin berlapis kayu mahoni mengilap, kursi-kursi kulit tebal berwarna krem yang sanggup berputar 360 derajat, serta sebuah meja makan mini dan sofa pajang di bagian belakang.

Aku memilih duduk di salah satu kursi tunggal dekat jendela besar.

Raymond masuk tak lama berselang, melepas jas kasualnya dan melemparkannya santai ke atas sofa sebelum mengambil posisi duduk tepat di kursi yang berhadapan denganku, dipisahkan oleh sebuah meja kayu kecil.

Suara raungan mesin turbin pesawat mulai bergema halus dari luar saat jet pribadi itu perlahan meluncur di atas runway, melakukan proses take-off yang sangat mulus menuju angkasa.

Pemandangan gedung-gedung tinggi Jakarta berangsur-angsur mengecil di balik awan putih, menggantikannya dengan hamparan biru lautan Jawa yang membentang luas.

Seorang pramugari pribadi berseragam rapi melangkah mendekati meja kami membawa nampan perak.

"Selamat pagi Tuan Raymond, Nona Clarissa.

Ini pesanan sarapan dan minuman hangatnya."

"Tinggalkan di meja dan jangan biarkan siapa pun mengganggu kabin depan sampai kita mendarat di Ngurah Rai," perintah Raymond dingin tanpa berpaling dari iPad di tangannya.

"Baik, Tuan Perkasa," pramugari itu membungkuk hormat lalu menarik diri kembali ke area dapur belakang, menutup tirai pembatas kabin rapat-rapat.

Kini, hanya ada aku dan Raymond di dalam kabin depan yang melayang puluhan ribu kaki di atas udara.

Aku menyesap sedikit cappuccino hangat dari cangkir porselenku, mencoba memecah keheningan yang kian pekat.

"Jadi, apa rencana peninjauan di Uluwatu nanti?

Apakah aku benar-benar harus berpura-pura menjadi asisten investasimu di depan para investor lain?"

Raymond meletakkan iPad-nya ke atas meja kayu.

Manik mata hazel-nya menatapku lurus, tajam, dan penuh intrik yang tak tertebak.

"Kamu tidak perlu berpura-pura menjadi apa pun, Clarissa," sahut Raymond lambat, suara bass-nya yang berat terdengar sangat bergema di ruang kabin yang sunyi.

"Tugasmu di Bali sangat sederhana: berdiri di sampingku, kenakan perhiasan yang kuberikan, dan biarkan semua pengusaha di sana tahu bahwa Perkasa Group memiliki standar kecantikan dan kecerdasan yang tak terjangkau."

Aku tertawa kecil, suara tawa yang halus dan sedikit mengejek.

"Standar kecantikan?

Kamu bicara seolah-olah aku ini barang pameranmu, Raymond.

Ibu mungkin sudi dijadikan pajangan formalitas demi uang belanjamu, tapi aku bukan Ibu."

Mendengar nama Ibu disebut, sorot mata Raymond mendadak berubah makin dalam.

Pria itu memajukan tubuh tegapnya ke depan, menopang kedua siku kokohnya di atas meja, membuat jarak wajah kami kembali terkikis drastis di dalam ruang kabin penerbangan yang sempit.

"Jangan pernah menyamakan dirimu dengan Siska di hadapanku," ujar Raymond rendah, nada suaranya mengandung ancaman berbahaya yang sekaligus memabukkan.

"Ibumu mengejar hartaku karena rasa haus akan status sosial yang dangkal.

Sementara kamu... kamu mendekatiku karena dendam dan obsesi terlarang, bukan?"

Napasku mendadak tertahan di tenggorokan.

Pengakuan jujur yang meluncur dari mulut Raymond bagaikan sambaran petir yang menelanjangi seluruh strategiku.

Pria ini tahu persis bahwa aku sedang memanfaatkannya untuk menghancurkan Ibu, namun bukannya marah atau mengusirku, Raymond justru menikmati permainan ini denganku.

"Kalau kamu sudah tahu..." bisikku memberanikan diri, memajukan tubuhku menantang tatapannya hingga napas hangat kami beradu halus di udara kabin, "...kenapa kamu tetap membiarkanku berada di sisimu?

Kenapa kamu membelikanku kalung tiga puluh miliar dan membawaku ke Bali dengan jet pribadimu?"

Raymond tidak langsung menjawab.

Jemari tangannya yang besar dan hangat perlahan terangkat melintasi atas meja kayu, mengusap lembut garis rahangku hingga berhenti di bawah daguku.

Sentuhan kulitnya yang agak kasar dan penuh dominasi membuat seluruh pertahananku bergetar hebat.

"Karena di dunia bisnis yang membosankan ini, Clarissa..." bisik Raymond parau di depan bibirku, manik hazel-nya mengunci seluruh jiwaku, "...kamu adalah satu-satunya racun paling indah yang ingin kunikmati sampai habis."

Suara raungan mesin pesawat di luar terasa melenyap seketika, kalah oleh detak jantungku yang bergemuruh liar.

Di atas ketinggian belasan ribu kaki, di balik tirai kabin yang tertutup rapat, batas-batas moralitas antara seorang ayah tiri dan anak tiri resmi menguap tak berbekas, digantikan oleh jalinan obsesi terlarang yang siap meledak di Pulau Dewata.

1
Nda
ditunggu double upnya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!