Indonesia
NovelToon NovelToon
Hello Panda

Hello Panda

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: Dena Tan

Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.


Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:


Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.


Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.


Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.


Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi Pertama dan Konspirasi Biskuit

Pagi hari di perumahan Griya Indah Permai nomor 12B disambut oleh sinar matahari yang hangat dan suara nyanyian konyol seorang bocah berusia empat tahun.

"Panda melompat ke atas awan... hap! Lalu jatuh ke mangkuk sup... cemplung!"

Lala Leonhart duduk bersila di atas kursi meja makan yang agak ketinggian untuk tubuh mungilnya. Kaki pendeknya mengayun-ayun riang di udara. Di tangannya, sepotong roti tawar berselai cokelat diubahnya menjadi bentuk kepala panda—atau setidaknya, bentuk tidak beraturan yang ia klaim sebagai panda.

Mila melangkah keluar dari dapur dengan celemek merah muda yang terpasang rapi. Di tangannya ada segelas susu hangat. Wajahnya memancarkan kehangatan seorang ibu rumah tangga yang sempurna, lengkap dengan senyuman manis tanpa celah.

"Lala Sayang, dimakan rotinya, jangan dimainkan terus," ujar Mila lembut sambil meletakkan gelas susu di dekat Lala.

"Bunda! Lihat, pandanya punya telinga cokelat!" seru Lala sambil menunjukkan rotinya ke wajah Mila dengan penuh kebanggaan. "Tapi pandanya ngantuk, jadi Lala mau makan telinganya dulu! Nyam!"

Mila tertawa kecil, mengusap kepala Lala yang berambut gelombang. "Pintar. Habiskan susunya juga ya."

Mila membalikkan badan kembali ke dapur untuk mengambil piring sarapan untuk suaminya. Namun, begitu membalikan badan, senyum manisnya langsung luntur. Matanya yang jernih berubah menjadi dingin dan tajam.

Pukul 07.15 WIB. Sensor gerak di halaman depan mencatat ada dua pergerakan tak dikenal. Jarak lima puluh meter. Mereka bukan penjual sayur atau tetangga, analisis Mila dalam hatinya.

Sebagai Viper, ketua tertinggi Black Crimson, insting bertahannya terasah di atas rata-rata manusia biasa. Jari jemari Mila yang halus menyentuh gagang pisau dapur. Hanya dalam hitungan detik, ia bisa melemparkan pisau itu menembus kaca jendela dan tepat mengenai tenggorokan penyusup di luar tanpa meleset satu milimeter pun.

Namun, Mila menarik napas pelan. Sabar, Mila. Kamu sedang menyamar jadi ibu rumah tangga yang lembut. Jangan buat kekacauan di hari pertama.

Atas dasar itulah, Mila berpura-pura sibuk memotong buah apel dengan sangat lembut—walau irisan apelnya terpotong presisi dengan ketebalan persis 0,5 sentimeter tanpa cela.

Di meja makan, Chiko melangkah keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak kancing tertutup rapat sampai leher, celana kain longgar, dan kacamata tebal yang meluncur turun di hidungnya.

"Selamat pagi, Bunda... selamat pagi, Lala," sapa Chiko dengan suara canggung khas pria pemalu.

"Pagi, Papa!" seru Lala riang, mulutnya penuh roti sampai pipinya mengembung bulat. "Papa, kok kancing kemeja Papa miring satu?"

Chiko mendadak panik. "Eh? M-miring ya?"

Dengan terburu-buru dan sedikit kikuk, Chiko mencoba membetulkan kancing kemejanya, tapi tangannya malah membuat kemejanya makin berantakan. "Aduh... Papa memang kurang teliti kalau pagi-pagi."

Mila tersenyum maklum, menghampiri Chiko. "Sini, Mas. Biar saya bantu."

Tangan Mila yang halus dengan cekatan merapikan kancing kemeja Chiko. Jarak mereka sangat dekat. Bagi orang luar, ini adalah adegan suami-istri yang sangat romantis di pagi hari.

Namun, di balik lensa kacamata tebalnya, mata Chiko menyipit dingin.

Melalui lensa kontak pintar berteknologi militer yang terpasang di matanya, Chiko sedang membaca denyut nadi dan suhu tubuh Mila. Denyut nadi 62 kali per menit. Stabil. Tapi ritme napasnya sangat tenang untuk wanita yang sedang disentuh pria. Wanita ini memiliki kontrol emosi tingkat tinggi. Sangat mencurigakan untuk seorang ibu rumah tangga biasa, batin sang Presdir Leonhart Enterprises itu.

Tapi sudah tentu, Chiko langsung menampilkan cengiran polos. "T-terima kasih ya, Mila. Kamu baik sekali."

"Sama-sama, Papa Chiko," sahut Mila manis, tanpa menyadari bahwa ia sendiri baru saja menganalisis Chiko. Bahunya kokoh, tapi dia sengaja mengendurkannya. Gerakan tangannya saat membetulkan kancing tadi terlalu terstruktur untuk orang yang gugup. Suamiku ini menyimpan rahasia.

Sementara kedua orang dewasa itu saling melempar senyum palsu dan analisis rahasia di atas meja makan, Lala menyengir licik di balik gelas susunya.

‘Dua orang dewasa ini lucu sekali,’ batin Lala riang. Otaknya yang ber-IQ 210 langsung memproses data mikro di ruang makan itu.

‘Bunda memotong apel dengan sudut kemiringan presisi 45 derajat—teknik khas ahli senjata tajam. Dan Papa memakai kacamata tanpa minus yang di dalamnya tertanam layar micro-HUD berbasis frekuensi kuantum.’

Lala menyesap susunya sampai meninggalkan kumis putih di atas bibir mungilnya. ‘Tapi Papa belikan Lala biskuit panda kotak merah dua boks kemarin, dan Bunda buatkan susu hangat yang manis. Jadi, Lala bakal pura-pura bodoh saja supaya keluarga konyol ini tetap bersatu!’

"Papa! Bunda!" panggil Lala dengan nada konyolnya yang paling menggemaskan.

Chiko dan Mila mendadak memutuskan tatapan analisis mereka, lalu menoleh bersamaan ke arah Lala. "Ya, Sayang?"

Lala menunjuk ke arah jendela depan rumah dengan jarinya yang pendek.

"Di luar ada mobil hitam besar!" seru Lala sambil menggoyangkan badannya. "Panda Lala bilang... orang di dalam mobil itu mau minta biskuit Lala! Tapi Lala tidak mau bagi-bagi!"

Seketika, aura di ruang makan itu berubah.

Chiko membetulkan letak kacamatanya. Mobil hitam? Itu mobil pelacak dari faksi direksi pembangkang. Mereka berhasil melacak sinyal daruratku sampai ke area perumahan ini.

Mila merapikan celemeknya. Van hitam tanpa tanda resmi? Itu tentara bayaran independen. Mereka berniat mengacaukan wilayah kekuasaan Black Crimson.

"Lala, makan rotinya di kamar sebentar ya? Papa mau... mau ngecek rantai sepeda motor Papa di luar," kata Chiko dengan senyum canggung yang dipaksakan.

"Iya, Lala Sayang. Bunda juga mau menyiram bunga di halaman depan," tambah Mila dengan suara lembut yang mendadak terdengar sedikit dingin di ujung kalimatnya.

"Siap, Komandan Papa dan Komandan Bunda!" seru Lala riang. Ia melompat turun dari kursi, memeluk boneka pandanya, lalu berlari-lari kecil menuju kamarnya. Puk-puk-puk! Suara kakinya menepuk lantai kayu dengan sangat lucu.

Begitu pintu kamar Lala tertutup rapat, ekspresi konyol di wajah bocah empat tahun itu hilang seketika.

Lala memanjat ke atas tempat tidurnya, menyingkap gorden kamar sedikit, lalu melongok ke luar. Matanya yang tajam memindai van hitam yang terparkir seratus meter dari rumah mereka.

Lala meraba jam tangan plastik Hello Panda di pergelangan tangannya. Ia menekan kombinasi tombol rahasia di samping jam tersebut.

Bip-bip.

Layar LCD mainan itu berubah menampilkan garis-garis kode peretasan.

"Duh, orang-orang dewasa di luar sana mengganggu waktu santai Lala saja," gumam Lala dengan suara parau khas anak-anak, tapi dengan nada bicaranya yang sangat dewasa. "Kalau Papa n Bunda berantem sama orang-orang di van itu, nanti rumah ini rusak. Kalau rumah rusak, Lala tidak bisa makan sup enak buatan Bunda lagi!"

Jari mungil Lala menari di atas layar jam tangannya dengan kecepatan luar biasa.

Ia memetakan frekuensi sinyal komunikasi van hitam itu, lalu menyuntikkan virus komputer mikro bernama Panda-Panic v1.0 ke dalam sistem navigasi dan mesin van tersebut.

Wush... Bzzzzt!

Di seberang jalan, mesin van hitam itu mendadak mati total. Seluruh sistem elektronik di dalamnya meledak kecil dan mengeluarkan asap tipis dari balik kap mesin. Para tentara bayaran di dalamnya panik, terjebak di dalam mobil yang terkunci otomatis dari dalam akibat ulah skrip program Lala.

Lala menyunggingkan senyum menang yang sangat menggemaskan, menunjukkan lesung pipinya.

"Nah, begitu kan pintar. Sekarang tinggal tunggu Papa dan Bunda mengurus sisanya," bisik Lala riang.

Ia melompat turun dari tempat tidur, meraih biskuit pandanya, dan kembali berakting menjadi bocah konyol berumur empat tahun yang sibuk meniru suara helikopter dengan mulutnya yang belepotan cokelat.

Di luar, Chiko dan Mila—yang sama-sama melangkah keluar rumah dengan niat menghabisi para penyusup—dibuat bingung melihat van musuh yang tiba-tiba mogok dan berasap tanpa alasan. Namun, demi menjaga keutuhan "keluarga palsu" yang baru terbentuk ini, kedua orang dewasa paling berbahaya di kota itu berjanji dalam hati masing-masing: Siapa pun yang mengganggu kedamaian rumah ini, akan kami hancurkan!

Dan di dalam kamar, Lala tersenyum bahagia. Keluarga barunya mungkin adalah sekumpulan penipu berdarah dingin, tapi bagi Lala... ini adalah keluarga terbaik yang pernah ia miliki!

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!