"Darah yang menetes malam ini adalah saksi... bahwa Daren yang lemah telah mati."
Di balik kemegahan Kota Atlas yang berkilau, hidup Daren—seorang remaja yatim piatu yang nasibnya lebih buruk dari seekor anjing jalanan. Diadopsi sejak usia lima tahun oleh pasangan kaya raya, Deni dan Tia, Daren mengira dirinya telah menemukan sebuah keluarga. Namun, harapan kepolosannya dihancurkan oleh realita yang kejam.
Selama sepuluh tahun, rumah megah itu berubah menjadi neraka. Daren dijadikan babu tanpa upah, dihina, dan disiksa secara fisik maupun mental. Bahkan ketika tubuhnya digerogoti demam tinggi, sabetan gesper dan cambukan sapu tetap menjadi makanan sehari-harinya. Puncaknya, tuduhan palsu dari Dion—anak kandung mereka—membuat Daren disiksa hingga nyaris kehilangan nyawa hanya karena vas bunga yang pecah.
Malam itu, di bawah guyuran hujan deras Kota Atlas, Daren memilih kabur. Dia meninggalkan darahnya di lantai marmer dan bersumpah tidak akan pernah menjadi korban lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergerakan Viper Syndicate
Di dalam markas tersembunyi faksi geng motor Blue Horns yang terletak di sebuah gudang bengkel tua Sektor Selatan, aroma oli dan bahan bakar membumbung pekat. Puluhan anggota geng sibuk mengobati luka lebam dan mengurus motor-motor mereka yang rusak akibat bentrokan brutal di dermaga Sektor Barat.
Di sudut ruangan, Brian duduk menyandarkan punggungnya pada sebuah kursi besi. Pimpinan geng motor itu memegangi dadanya yang masih terasa sangat nyeri akibat hantaman Pukulan tunggal pria bertopeng masker hitam tadi siang. Pelindung dada kulitnya yang retak tergeletak di atas meja.
Brian termenung, menatap lurus ke arah lantai semen yang dingin.
Di dalam benaknya, bayangan pertarungan di dermaga berputar berulang kali. Saat pria bertopeng masker hitam itu melompat dari atas kontainer, gerakan refleksnya, dan terutama... tatapan dari sepasang mata kelabu dingin di balik kacamata taktisnya.
Tatapan mata itu... batin Brian seraya mengepalkan tangannya pelan. Kenapa mata kelabu yang membeku itu terasa begitu tidak asing? Seperti tatapan mata anak SMA Bintang yang mengembalikan slayer-ku pagi tadi...
Brian memejamkan matanya, menghembuskan napas panjang. Namun, dia segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat, membuang pemikiran absurd tersebut.
"Nggak mungkin," gumam Brian pada dirinya sendiri. "Anak sekolah yang sopan mengembalikan slayer pagi tadi nggak mungkin ada hubungannya dengan pembunuh bayaran bermasker milik Red Crows. Gue cuma kecapekan."
Brian memilih untuk mengabaikan pikiran itu dan kembali fokus mengurus pemulihan pasukannya.
SMA Bintang – Ruang Kepala Sekolah (Pukul 14.15 WIB)
Sementara itu, Daren telah kembali ke lingkungan SMA Bintang. Karena aksi nekatnya melangkah keluar dari kelas XII-A di tengah jam pelajaran Bu Ratna tanpa meminta izin, Daren langsung dipanggil untuk menghadap ke Ruang Kepala Sekolah.
Di dalam ruangan beraroma kayu cendana itu, Drs. H. Mulyadi duduk di balik meja mewahnya bersama Bu Ratna yang berdiri di samping dengan raut wajah cemas bercampur jengkel.
Daren berdiri tegap di tengah ruangan. Kemeja putih sekolahnya sudah kembali terpasang rapi, dipadukan dengan celana abu-abu dan tas kulit hitam di bahunya. Raut wajah tampannya tetap tenang, dingin, dan tanpa riak kepanikan sedikit pun.
"Daren..." ucap Pak Mulyadi seraya menatap murid barunya itu dengan cermat, memegang pena emasnya. "Bu Ratna melaporkan bahwa kamu meninggalkan kelas di tengah pelajaran matematika tanpa permisi. Bisakah kamu menjelaskan ke mana kamu pergi dan alasan di balik tindakan tidak disiplin ini?"
Daren tidak berkedip. Dengan kecerdasan taktis yang terstruktur, dia menyuarakan alasan logis yang sudah disiapkannya.
"Maafkan saya, Pak Mulyadi, Bu Ratna," jawab Daren, suaranya tebal, rendah, dan penuh ketenangan. "Saya mendapat panggilan darurat dari rumah. Pengawal pribadi keluarga kami mengabarkan bahwa sistem keamanan tempat tinggal saya mengalami gangguan teknis dan butuh verifikasi biometrik langsung dari saya. Karena masalah keamanan rumah adalah prioritas utama dari orang tua saya, saya harus segera kembali ke rumah sebentar untuk menyelesaikannya."
Penjelasan yang menghubungkan tindakan tersebut dengan keamanan rumah mewahnya di Perumahan Grand Pavilion serta orang tuanya yang pebisnis logistik ekspor-impor terasa sangat masuk akal bagi Pak Mulyadi.
Pak Mulyadi mengangguk-angguk paham, merasa alasan tersebut cukup beralasan dan tidak melanggar aturan berat. "Ah... begitu rupanya. Masalah keamanan rumah memang penting. Tapi lain kali, Daren, setidaknya beri tahu Bu Ratna atau satpam gerbang sebelum pergi agar tidak membuat pihak sekolah cemas."
"Baik, Pak. Saya mengerti. Terima kasih," sahut Daren singkat.
"Baiklah, kamu boleh kembali ke koridor atau bersiap untuk jam kepulangan," kata Pak Mulyadi.
Daren membungkukkan badannya tipis, lalu memutar tubuhnya melangkah keluar dari Ruang Kepala Sekolah.
Koridor Utama Lantai Dasar
Langkah kaki Daren yang tegap berbunyi teratur di atas lantai keramik koridor. Namun, saat dia melintasi deretan loker dekat mading sekolah, indera pendengarannya yang sangat tajam menangkap bisik-bisik dan desas-desus sengit dari beberapa siswi yang sedang berkumpul di dekat tangga.
"Iya, denger-denger Daren itu sengaja mendekati Clara karena Clara kan anak yatim kaya..."
"Iya, padahal Daren itu sebenarnya sukanya sama Siska! Katanya Clara yang gatal menggoda Daren!"
"Iya ih, Clara sok polos banget ya..."
Mendengar desas-desus murahan yang memojokkan nama Clara dan menyebarkan kebohongan tentang dirinya, langkah kaki Daren seketika terhenti total.
Bara dingin mendadak membakar dada Daren. Dia paling benci dengan intrik kepalsuan dan desas-desus licik yang merusak nama orang-orang yang dijaganya.
Daren memalingkan tubuhnya, melangkah lebar mendekati gerombolan siswi yang sedang berbisik-bisik tersebut.
Aura intimidasi dingin yang begitu pekat memancar dari tubuh Daren saat dia berdiri menatapi mereka. Ketiga siswi itu seketika membeku ketakutan, wajah mereka pucat pasi, dan pembicaraan mereka terhenti dalam seperseribu detik.
Daren menatap siswi di barisan depan dengan mata kelabunya yang membeku.
"Siapa yang pertama kali menyebarkan rumor ini?" tanya Daren, suaranya rendah dan begitu tebal hingga sanggup membekukan darah di koridor.
Siswi yang ditanya gemetar dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dengan jemari yang bergetar hebat, dia menunjuk ke arah koridor menuju kantin.
"Si... Siska... Daren!" jawab siswi itu dengan suara melengking ketakutan. "Siska yang cerita ke semua orang di kelas dan kantin kalau kau menyukainya dan Clara yang menggodamu!"
Daren tidak mengucapkan kata terima kasih. Setelah mendapatkan nama pelakunya, Daren membalikkan badan, melangkah dengan cepat dan mantap menuju area kantin utama.
Kantin Utama SMA Bintang
Suasana di kantin utama sore itu cukup ramai oleh puluhan murid yang sedang menikmati makanan ringan sebelum pulang sekolah.
Di sebuah meja kayu panjang di dekat area stan minuman, Siska sedang duduk santai bersama tiga siswi geng populernya. Siska tertawa-tawa renyah seraya memoles kuku jarinya, merasa puas karena rumor buatan dirinya berhasil membuat nama Clara tercemar di sekolah.
"Pokoknya kalian harus terus sebar cerita itu," kata Siska dengan gaya angkuh. "Biar si Clara itu tahu diri dan nggak berani lagi mendekati Daren-ku!"
Namun, tawa Siska dan gengnya tidak bertahan lama.
BAM!
Sebuah bayangan tebal meluncur mendadak ke arah meja mereka!
Tanpa peringatan satu detik pun, Daren yang baru saja tiba di kantin merogoh tepi meja kayu jati tebal yang diduduki Siska dan teman-temannya. Hanya menggunakan satu tangan kanannya yang sekeras catut baja, Daren mengangkat dan menghempaskan meja kayu raksasa berbobot ratusan kilogram itu ke udara!
BRAAAAAASHHHHHHH!
Meja kayu itu terlempar menembus udara, lalu dihantamkan secara brutal ke atas lantai semen kantin hingga terbelah dua dan remuk menjadi serpihan kayu yang beterbangan ke segala arah! Makanan, piring kaca, dan cangkir minuman di atas meja hancur berantakan memercik ke mana-mana!
"KYAAAAAAAAGGGHH!"
Jeritan histeris melengking dari Siska dan teman-temannya seketika meledak pecah! Ratusan murid di kantin yang terkejut setengah mati seketika membeku kaku di tempat mereka berdiri. Suasana kantin yang semula riuh seketika mendadak sehening makam.
Siska yang tersungkur di atas kursi plastik gemetar hebat, memandangi reruntuhan meja kayu yang baru saja dihancurkan oleh Daren hanya dengan satu tangan!
Daren tidak membiarkan Siska bernapas.
Daren melangkah satu maju, mencengkeram rahang dan dagu Siska dengan satu cengkeraman tangannya yang sangat kokoh. Daren menarik wajah Siska mendekat hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa senti.
Cengkeraman tangan Daren di dagu Siska begitu kuat hingga membuat tulang pipi siswi itu agak meringis kesakitan, air mata ketakutan seketika menetes di pipi Siska.
Daren menatap lurus ke dalam manik mata Siska dengan sepasang mata kelabu yang dipenuhi oleh naluri membunuh murni dari seorang eksekutif bawah tanah.
"Hentikan rumor murahanmu sekarang juga," bisik Daren dengan suara tebal yang sangat dingin, menembus langsung ke bagian terdalam jiwa Siska. "Jika aku mendengar namamu menyebut nama Clara atau namaku sekali lagi di sekolah ini... aku bersumpah akan memastikan kepala dan tubuhmu terpisah di gang sempit. Paham?"
Siska gemetar hebat bagaikan disengat listrik ribuan volt. Ancaman kematian murni dari Daren terasa sangat nyata, bukan sekadar gertakan anak sekolah biasa. Siska mengangguk kencang dengan air mata bercucuran di wajahnya.
"Pa... Paham, Daren! Aku janji... Aku janji tidak akan pernah melakukannya lagi! Ampun!" jerit Siska histeris.
Daren menghempaskan dagu Siska secara kasar hingga siswi itu kepala tertunduk menangis di atas kursi.
Sementara itu, tidak jauh dari lokasi keributan...
Di sebuah meja sudut, Lingga sedang duduk santai seraya menikmati semangkuk bakso daging hangat favoritnya. Pria tengil itu sama sekali tidak terpengaruh atau kaget oleh aksi brutal Daren yang baru saja membanting meja kayu. Lingga tetap mengunyah baksonya dengan santai, menyeruput kuah hangatnya seraya menonton aksi sahabatnya dengan tatapan terhibur.
Namun, Lingga tidak berhenti di situ. Sifat kerjilannya yang tak ada obatnya seketika menyala.
Lingga berdiri dari duduknya seraya mengangkat mangkuk bakso berisi kuah hangat bercampur cabai merah yang tebal di tangannya. Lingga melangkah santai menuju Siska yang sedang menangis tersedu-sedu.
BYUUUUUUURRRRRR!
Tanpa ragu sedikit pun, Lingga memiringkan mangkuknya, menyiramkan seluruh kuah bakso hangat bercampur cabai dan kecap itu tepat ke atas kepala dan baju mahal milik Siska!
"KYAAAAAAAGH! PANAS! KOTOR!" jerit Siska histeris seraya memegangi rambutnya yang basah kuyup oleh kuah bakso dan potongan seledri.
Lingga melempar mangkuk kosongnya ke atas lantai seraya meledak dalam tawa renyah yang luar biasa puas dan mengejek!
"HAHAHAHAHAHAHA!" Lingga tertawa terbahak-bahak seraya menunjuk-nunjuk Siska yang basah kuyup oleh kuah bakso. "Aduh, kasihan banget Mbak Halusinasi! Itu hadiah kuah bakso spesial dari gue biar otak lu yang suka sebar rumor sampah bisa agak segar dikit! Makanya, jangan kebiasaan mengganggu Daren dan Clara kalau nggak mau ketumpahan kuah bakso! Hahaha!"
Ejekan pedas dari Lingga dan ancaman kematian dari Daren membuat Siska dan teman-temannya menangis histeris. Mereka bergegas berdiri, berlari kencang keluar dari kantin dengan kondisi bajunya yang kotor bersimbah kuah bakso, melarikan diri dalam rasa malu yang teramat sangat.
Seluruh murid di kantin menatap Daren dan Lingga dengan rasa takut dan hormat yang makin tak tergoyahkan. Kombinasi antara daya hancur brutal Daren dan kejailan tanpa batas dari Lingga... benar-benar menjadikan mereka pasangan paling berbahaya di SMA Bintang.
Markas Utama Red Crows – Sektor Zero
Sementara heboh di sekolah mereda, di kedalaman lima puluh meter di bawah tanah Kota Atlas, suasana di Ruang Pribadi Pemimpin Tertinggi tampak lebih tenang namun tegang.
Argus sedang bersantai di kursi kulit kebesarannya seraya mengapit cerutu tebalnya. Asap putih membumbung melingkupi wajah mewahnya. Pria penguasa bawah tanah itu sedang memikirkan sebuah misi strategis yang jauh lebih berbahaya dari sekadar konflik wilayah di Sektor Barat.
Argus sedang menerka-nerka dan mempertimbangkan siapakah di antara para perwiranya—apakah Daren, Demian, atau Mike—yang paling cocok untuk diterjunkan ke dalam misi berisiko tinggi tersebut.
KREEEEK!
Pintu jati ganda ruang pribadi itu mendadak terdorong terbuka. Lukas melangkah masuk dengan gaya sangat santai seraya memutar-mutar kunci mobilnya di jari telunjuk.
"Boss Besar!" panggil Lukas seraya melangkah mendekati meja granit Argus. "Aku baru saja selesai memimpin pasukan pembersih untuk meratakan sisa-sisa markas geng preman jalanan di Sektor Barat Daya."
Lukas merogoh saku jaket kulit merahnya, menarik Keluar sebuah benda logam kecil lalu meletakkannya tepat di atas meja granit di hadapan Argus.
TAP!
"Aku menemukan benda ini terselip di dalam brankas rahasia pimpinan preman itu," lanjut Lukas dengan nada suara yang kali ini berubah menjadi agak serius. "Bukan simbol Viper Syndicate, bukan juga simbol faksi lokal Kota Atlas."
Argus menundukkan pandangan matanya, menatap benda logam yang diletakkan Lukas.
Sebuah emblem besi hitam berbentuk perisai bergambar tengkorak yang dikelilingi oleh api merah membara. Di bawah gambar tengkorak tersebut, terukir ukiran huruf latin bergaya gothic yang sangat tegas:
THE HELL
gt
Melihat simbol dan tulisan di atas emblem besi tersebut, mata hitam Argus seketika membelalak lebar. Cerutu tebal di antara jarinya membeku di udara. Wajah tenang sang penguasa bawah tanah berubah menjadi sangat kaku dan serius dalam hitungan seperseribu detik.
Ingatan tua yang sangat kelam mendadak melintas dahsyat di dalam kepala Argus.
The Hell...
Argus teringat pada sebuah organisasi bayangan raksasa yang bergerak di tingkat internasional. Sebuah organisasi yang keberadaannya begitu terselubung, misterius, dan hampir tidak pernah meninggalkan jejak fisik di permukaan bumi. Banyak pihak di dunia bawah tanah yang menganggap bahwa The Hell hanyalah sebuah mitos atau rumor urban yang diciptakan untuk menakut-nakuti para kartel.
Namun, rumor-rumor tua di dunia hitam selalu menyebutkan fakta yang mengerikan: The Hell adalah puncak tertinggi dari kejahatan terselubung. Kejam, memiliki jaringan persenjataan tak terbatas, dan keberadaannya jauh lebih mematikan serta jauh lebih berbahaya dibanding gabungan kekuatan Red Crows dan Viper Syndicate sekalipun.
"The Hell..." gumam Argus dengan suara rendah yang sangat tebal, dipenuhi oleh pendar kewaspadaan tertinggi yang pernah diperlihatkannya.
Lukas mencondongkan tubuhnya ke depan. "Boss Besar... apakah rumor tentang organisasi itu benar-benar nyata?"
Argus mematikan cerutunya pada asbak kristal, menatap emblem besi The Hell dengan pandangan mata yang membeku dingin.
"Mereka nyata, Lukas..." jawab Argus penuh ketegasan yang mencekam. "Dan jika emblem ini ditemukan di Sektor Barat Daya... itu artinya bayangan The Hell telah mulai merayap masuk ke Kota Atlas."
Ancaman baru yang jauh lebih gelap, lebih berbahaya, dan lebih raksasa... kini secara resmi telah menampakkan bayangannya di atas tanah Kota Atlas.