Saka mengalami kecelakaan tragis. Mobilnya menabrak pembatas jembatan lalu terjun bebas ke sungai dan meledak.
Ajaibnya Saka masih hidup. Namun saat membuka mata, dia terbangun di tubuh orang lain. Saka hidup dalam tubuh Aryan, pria yang mengalami kecelakaan di hari yang sama dengannya.
Setelah selamat dari kecelakaan tragis, hidup Saka berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan saja harus menjalani kehidupan orang lain, matanya juga bisa melihat kilatan masa depan.
Saka bisa melihat kejadian buruk di masa depan. Kejadian yang memaksanya ikut campur dalam takdir seseorang. Dan membuka tabir rahasia tentang kematiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Penglihatan
“Jelaskan apa yang terjadi!” Rudi mengulangi ucapannya, tetapi kali ini dengan penuh penekanan. Revan langsung mendekati ayahnya.
“Kita bicara di kantorku aja, Pa.”
“Jelaskan di sini! Tadi Papa sempat dengar para sopir ini akan mogok kerja. Apa yang terjadi?”
Seketika Revan langsung terbungkam. Mengetahui bahwa ayahnya adalah orang yang keras kepala, Revan memutuskan membatalkan pemecatan Gilang dan Saka.
Jika tidak begitu, ayahnya pasti akan terus bertanya. Jika sampai pria itu mengetahui bahwa dirinya mengabaikan permintaan bagian Fleet untuk melakukan maintenance kendaraan, dirinya pasti akan langsung terkena semprot.
“Hanya salah paham saja, Pa.” Revan mencoba menenangkan. Pria itu kemudian melihat Saka dan Dirga. “Segera lakukan pekerjaan kalian. Pak Adi, masukkan taksi mogok itu ke garasi dan hubungi bagian Fleet lagi.”
Setelah mengatakan itu, Revan segera mengajak ayahnya ke ruangannya. Sopir yang lain langsung membubarkan diri setelah yakin Dirga dan Saka akan tetap bekerja.
“Untung aja Pak Rudi datang, kalau nggak, urusannya bisa panjang,” ujar Wandi, sopir yang tadi mengancam akan mogok kerja.
“Ternyata kepemimpinan Pak Revan nggak lebih buruk dari Pak Rafi,” timpal sopir lain.
“Tapi setidaknya Pak Rafi tidak mengabaikan maintenance kendaraan. Taksi yang mogok itu dipaksa terus beroperasi, padahal sudah seharusnya diganti.”
“Kalau terus seperti ini, PRIMA TAKSI akan kalah dari armada lain.”
“Betul,” sahut yang lain menyetujui ucapan Wandi.
Sementara itu, di ruangannya, Revan sedang berbincang dengan Rudi. Belakangan ini dia sering mendengar selentingan bahwa manajemen PRIMA TAKSI tidak berjalan dengan baik.
Karena itu, dia sengaja datang tanpa pemberitahuan untuk melihat secara langsung bagaimana kinerja anak bungsunya.
Rudi memiliki empat orang anak dari istri pertamanya dan satu anak dari istri keduanya. Revan adalah anak dari istri keduanya.
Semua kakak Revan adalah laki-laki. Dan masing-masing sudah diberi tanggung jawab mengelola perusahaan.
Rian, anak pertamanya mengelola Ardhanusa Grup, yang menjadi perusahaan induk. Rama, anak keduanya mengelola Ardhanusa Property.
Ricky anak ketiganya mengelola Ardhanusa Finance. Sementara Rafi seharusnya mengelola PRIMA TAKSI dan Revan mengelola Ardhanusa Logistik.
Namun, kepemimpinan Rafi di PRIMA TAKSI diambil alih Revan, dan sekarang anak keempatnya itu mengelola Ardhanusa Logistik.
Rudi tahu bahwa Revan memiliki sifat tamak. Alasannya melengserkan Rafi karena ingin mengelola perusahaan transportasi ini yang pendapatannya lebih besar dari perusahaan logistik.
“Papa lihat pemasukan PRIMA TAKSI mengalami kenaikan pesat,” ujar Rudi membuka pembicaraan.
“Iya, Pa. Aku selalu menekankan pada para sopir untuk pelayanan prima saat mengantar penumpang.”
“Tapi, Papa juga mendengar manajemenmu sedikit amburadul. Papa dengar biaya maintenance kendaraan dipotong. Apa benar?”
“Bukan dipotong, Pa. Aku hanya menyeleksi lebih ketat, mana armada yang memang membutuhkan maintenance, mana yang tidak.
Terkadang para sopir itu sering bekerja sama dengan bagian Fleet. Mengatakan ada maintenance, padahal nyatanya tidak. Mereka membagi dua biaya maintenance yang didapat.”
“Apa kamu punya buktinya?”
Seketika Revan langsung terbungkam. Masalah yang tadi disebutkan memang hanya alasannya saja. Revan sengaja menekan biaya maintenance agar pemasukan PRIMA TAKSI terlihat besar.
Dan itu bisa menjadi tolak ukur bahwa dirinya mengelola PRIMA TAKSI dengan baik.
“Revan, kamu tahu bahwa perusahaan transportasi itu tidak hanya berkaitan dengan pelayanan dan kenyamanan saja. Tapi ada yang lebih penting, yakni keselamatan.
Papa tidak mau kamu hanya fokus menaikkan pendapatan dan mengabaikan biaya maintenance. Jika terjadi satu kecelakaan saja, itu bisa menjadi boomerang untuk kita.”
Revan mengangguk tanda paham. Kejadian tadi cukup memberi pelajaran untuknya. Hanya saja sifat Revan yang tidak mau disalahkan dan selalu ingin menang sendiri membuat pria itu tidak suka jika dikritik. Apalagi jika di depan banyak orang.
“Papa akan mengirim tim auditor ke sini.”
“Untuk apa, Pa?”
“Tentu saja untuk mengaudit keuangan di sini. Bukan hanya di sini, tapi di semua anak perusahaan juga akan dilakukan audit.”
Perasaan Revan langsung resah. Jika tim audit mengetahui banyak armada yang melewatkan waktu maintenance, pasti dia akan terkena masalah.
“Papa harap kamu tidak mengecewakan Papa.”
Rudi segera bangkit dari duduknya. Pria itu bermaksud pergi. Kejadian tadi sudah memberikan sedikit gambaran untuknya. Dia akan segera menurunkan tim audit untuk mengevaluasi pekerjaan Revan.
Revan mengantarkan Rudi sampai ke mobil. Dia masih bertahan di tempatnya sampai mobil yang membawa ayahnya tidak terlihat lagi. Saat Revan hendak kembali ke ruangannya, suara Saka menahannya. Pria itu kemudian mendekatinya.
“Ada apa?” tanya Revan.
“Apa pemecatanku dan Dirga akan diproses?”
“Apa kamu tidak dengar apa yang kukatakan tadi?” geram Revan.
“Jadi aku dan Dirga tetap bekerja?”
“Ya!” jawab Revan kesal.
“Baiklah. Saya dan Dirga akan bekerja seperti biasa. Oh ya, Pak Revan.” Saka sengaja menjeda ucapannya sebentar, membuat Revan semakin kesal. “Semoga auditnya berjalan lancar,” lanjut Saka sambil tersenyum. Setelah itu, dia segera meninggalkan Revan.
“Tunggu!” Secepatnya Revan mendekati Saka. Masalah audit adalah hal yang dibicarakan ayahnya. Mengapa Saka bisa mengetahui hal itu?”
“Dari mana kamu tahu soal audit?”
“Bukankah Bapak sudah tahu jawabannya. Bapak sudah meminta Dirga memata-matai saya. Bukan itu saja, Bapak bahkan mengirim orang untuk mengikuti dan mengawasi apa yang saya lakukan. Saya yakin Bapak sudah bisa menyimpulkan.”
“Jadi benar, kamu bisa melihat masa depan?” tanya Revan penasaran.
“Ya,” jawab Saka cepat. Dia sengaja memberitahukan kemampuannya, ingin melihat langsung reaksi pria itu.
“Kita bicara di ruangan saya.”
Revan langsung menarik tangan Saka agar mengikutinya ke ruangan. Sesampainya di sana, Revan langsung menanyakan hal yang selama ini membuatnya penasaran.
“Soal aku yang disandera tempo hari, kamu tahu dari mana?”
“Sudah kubilang, aku bisa melihat masa depan. Aku mendapat penglihatan kalau Bapak akan dijadikan sandera.”
“Lalu soal ledakan di rumah susun dan penculikan perempuan, itu semua kamu dapat dari penglihatanmu?”
“Ya,” jawab Saka sambil menatap Revan lekat-lekat.
“Lalu … apa kamu juga mendapat penglihatan tentang audit?” tanya Revan lagi. Pertanyaan itu hanya dijawab dengan anggukan oleh Saka. “Soal hasilnya, apa kamu sudah tahu?”
“Tentu saja. Tim audit menemukan bahwa Bapak sengaja menekan biaya maintenance agar pemasukan taksi terlihat besar.
Bapak ingin menunjukkan bahwa Bapak lebih layak memimpin perusahaan ini dibanding Pak Rafi. Tapi … itu juga yang akan membuat Bapak kehilangan perusahaan ini.”
Revan menelan ludahnya dengan susah payah. Tentu saja, dia tidak mau perusahaan ini lepas dari tangannya. Dia sudah bersusah payah merebutnya dari Rafi.
“Apa tidak ada cara untuk mencegahnya?”
“Ada, tentu saja ada.”
“Apa? Apa kamu bisa mengatakannya?” desak Revan.
“Aku bisa mengatakannya. Tapi … apa Bapak sanggup memberikan bayaran untuk informasi ini?”
“Tentu saja aku akan memberikan bayaran untukmu.”
“Jangan langsung menyanggupi. Bapak harus menuliskan hitam di atas putih bahwa Bapak akan melakukan apa yang saya minta. Bisa?”
Sejenak Revan terdiam. Dia masih menerka-nerka bayaran apa yang diinginkan Saka.
***
Saka udah mulai berani terbuka soal kemampuannya
bentar mau ambil air sama baskom...
mau di liat lewat media air dlm baskom... apakah bisa keliatan gk ya .... Saka mau jujur apa mingkem 😂
apakah mau jujur kau...ato kau masih mau ngeles blom mau terbuka 😔
jangan bikin in cemas pembaca Ka....kamu itu kuat dan dgn keyakinan seyakin-yakinnya pasti kerja kerasmu akan membuahkan hasil /Determined//Determined//Determined/