Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Alena mengambil ponselnya dan menelepon atasannya dengan mode pengeras suara.
Tut. Tut. Tut.
"Halo, Alena?"
Suara berat dan berwibawa terdengar dari seberang telepon.
Itu adalah suara Kombes Darmawan.
"Siap, Komandan."
"Mohon maaf mengganggu waktu istirahat Anda."
"Ada apa? Kau sudah berhasil menangkap aktor buronan itu?" tanya Darmawan dengan nada sedikit mendesak.
"Belum, Komandan."
"Tapi saya baru saja mendapatkan sebuah bukti video dari informan rahasia saya."
"Video ini menunjukkan dengan jelas wajah pelaku asli yang menaruh racun di gelas mendiang Hakim Sudarsono."
Keheningan sesaat terjadi di seberang telepon.
Reyhan bisa mendengar suara helaan napas yang sedikit tertahan.
"Benarkah itu?"
"Tentu saja, Komandan."
"Tapi saya tidak berani membawanya ke markas karena takut videonya diretas."
"Bisakah kita bertemu malam ini? Saya butuh arahan Komandan untuk langkah selanjutnya."
"Baiklah," jawab Darmawan dengan nada yang terdengar lebih waspada.
"Datanglah ke restoran VIP di lantai atas Menara Cendana jam delapan malam ini."
"Saya sudah memesan ruang privat di sana."
"Siap, Komandan. Saya akan ke sana."
Sambungan telepon terputus.
Alena menatap Reyhan dengan wajah tegang.
"Dia masuk perangkap."
"Tapi restoran VIP Menara Cendana adalah tempat yang sangat eksklusif."
"Aku tidak mungkin bisa membawamu masuk ke dalam ruang privat itu."
Reyhan tersenyum penuh rahasia.
"Siapa bilang aku akan masuk sebagai Reyhan?"
"Malam ini, aku akan menjadi pelayan khusus untuk meja kalian."
Malam harinya, tepat pukul delapan.
Alena tiba di restoran VIP Menara Cendana dengan mengenakan pakaian formal.
Ia diarahkan oleh resepsionis menuju sebuah ruangan privat bergaya Jepang yang tertutup pintu geser.
Sret.
Alena membuka pintu geser itu.
Kombes Darmawan sudah duduk bersila di sana sambil menyesap teh hijau hangat.
Wajah pria paruh baya itu terlihat tenang, namun matanya memancarkan kelicikan.
"Duduklah, Alena."
"Siap, Komandan. Terima kasih."
"Mana video yang kau sebutkan tadi?" tanya Darmawan langsung pada intinya.
Alena berpura-pura mencari sesuatu di dalam tasnya.
"Sebentar, Komandan. Flashdisknya ada di dalam dompet saya."
Di saat yang sama, pintu geser ruangan itu kembali terbuka.
Seorang pelayan pria dengan seragam restoran khas Jepang masuk sambil membawa nampan berisi dua gelas minuman dingin.
Pelayan itu menunduk sangat rendah sehingga wajahnya tidak terlihat jelas.
Ia meletakkan gelas pertama di depan Alena.
Lalu ia bergerak ke sisi meja Kombes Darmawan untuk meletakkan gelas kedua.
"Ini minuman pembukanya, Tuan," ucap pelayan itu dengan suara pelan.
Darmawan menatap pelayan itu dengan kesal.
"Saya tidak memesan minuman dingin."
"Keluar dari sini, kami sedang membicarakan hal penting."
Pelayan itu tidak bergerak pergi.
Ia justru perlahan mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke kedua bola mata Darmawan.
Pelayan itu adalah Reyhan.
Tatapan mata Reyhan saat ini terlihat sangat kosong, dingin, dan mematikan.
Ia mengaktifkan kemampuan Akting Psikopat dan Manipulasi Pikirannya secara bersamaan.
Wenggg.
Gelombang sugesti yang tidak kasat mata memancar dari mata Reyhan, langsung menembus pertahanan mental Darmawan.
"Apakah uang dua puluh miliar itu sepadan dengan nyawa Anda, Tuan Darmawan?" bisik Reyhan dengan suara yang terdengar menggema di dalam kepala sang komandan.
Mata Darmawan seketika terbelalak lebar.
Jantungnya tiba-tiba berdegup sangat kencang, seolah-olah ia baru saja melihat hantu di siang bolong.
"K... kau siapa?"
"Beraninya kau bicara seperti itu padaku!" bentak Darmawan, tapi suaranya bergetar hebat.
Reyhan tidak melepaskan kontak matanya.
Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat.
"Mereka sudah mati, Darmawan."
"Hendra sudah mati, Sudarsono sudah mati."
"Dan sekarang giliranmu."
Kemampuan manipulasi pikiran Reyhan bekerja dengan sangat efektif.
Ketakutan terdalam Darmawan tentang pembunuh bertopeng itu tiba-tiba meledak tak terkendali di dalam dadanya.
Keringat dingin membanjiri wajah Darmawan.
Ia merasa seolah-olah pria berseragam pelayan di depannya ini adalah malaikat maut yang siap mencabut nyawanya detik ini juga.
"Tolong... jangan bunuh aku!"
Darmawan tiba-tiba memundurkan tubuhnya hingga menabrak dinding ruangan.
Alena yang melihat reaksi atasannya itu hanya bisa diam terpaku.
Ia tidak menyangka Reyhan bisa membuat seorang komandan polisi yang keras ketakutan setengah mati hanya dengan beberapa patah kata.
"Aku tidak akan membunuhmu," ucap Reyhan dengan nada sangat lambat dan menghipnotis.
"Tapi kau harus mengakui dosamu."
"Katakan padaku, untuk apa uang dua puluh miliar dari Yayasan Pelita Hati itu?"
Darmawan memegangi kepalanya, mentalnya sudah benar-benar hancur oleh sugesti ketakutan yang diperkuat oleh sistem.
"Aku... aku menerima suap itu untuk menutup kasus penyelundupan yang dilakukan yayasan!"
"Aku yang menghapus bukti-bukti mereka dari database kepolisian!"
"Aku mohon, jangan bunuh aku!" tangis Darmawan pecah, wibawanya sebagai polisi hilang tak bersisa.
Di seberang meja, Alena dengan sigap merekam semua pengakuan itu menggunakan ponselnya yang disembunyikan di balik tas.
Reyhan tersenyum puas.
Rencananya berhasil dengan sangat sempurna.
Namun, baru saja Reyhan hendak melepaskan pengaruh manipulasi pikirannya.
Prang!
Kaca jendela besar di ruang privat itu tiba-tiba pecah berkeping-keping.
Sebuah tabung kecil berwarna perak meluncur masuk dari luar jendela dan jatuh tepat di tengah meja.
Tsss!
Asap putih tebal berbau almond manis langsung menyembur keluar dari tabung tersebut.
"Gas beracun!" teriak Alena panik.
"Tutup hidung kalian!"
Pembunuh bertopeng hitam itu ternyata sudah mengincar Darmawan malam ini juga.
Dan ia baru saja melempar bom gas beracun ke dalam ruangan yang tertutup rapat ini.