Indonesia
NovelToon NovelToon
Hutang Harta Berujung Cinta

Hutang Harta Berujung Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Bad Boy
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Ia dijodohkan dengan anak orang kaya di kampungnya. Pria lumpuh dengan latar belakang yang tak enak di dengar. Anak tunggal dari orang terkaya di kampung itu. Cap play boy yang suka mempermainkan wanita melekat sangat kuat di nama si cowok.

Namun, Aulia tetap menerima pernikahan itu karena hutang ayahnya yang besar. Iya. Singkatnya, pernikahan itu karena hutang keluarga yang besar, yang tidak bisa ayahnya kembalikan.

Namun, siapa sangka kalau hidup akan berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode *6

Tentu saja Lia merasa semakin tak karuan. Mana ada kata lagi yang terdapat dalam ucapan Zihan barusan. Yang langsung membuat Lia semakin bertambah malu lagi dan lagi.

"Itu ... maafkan aku, Kak. Aku ... benar-benar tidak sengaja kok. Aku ... tidak sadar. Maaf." Lia berucap pelan karena merasa tidak nyaman juga terlalu canggung.

"Sudah aku katakan sebelumnya, bukan? Bukan masalah besar kok. Tidak apa-apa."

"Oh iya, ayo turun! Kita sudah tiba di rumahku."

"Hah? Sudah sampai?" Lia berucap sambil mengalihkan pandangannya dari Zihan.

Dia pun langsung sibuk dengan apa yang baru ia lihat untuk yang pertama kalinya. Rumah itu cukup indah. Layak disebut rumah mewah karena keadaan rumah itu yang luar biasa.

"Ini ... rumah Kakak?"

"Iya. Ini rumahku. Kenapa? Tidak percaya atau tidak sesuai dengan yang kamu harapkan?"

"Eh, tidak kok. Tidak. Bukan keduanya. Rumah ini indah. Bahkan, sangat indah dan terlalu besar."

"Hm ... tidak untuk ukuran orang kaya, bukan? Ah, ya sudah. Tidak perlu dipikirkan lagi. Ayo masuk! Kamu bisa langsung istirahat sekarang."

"Istirahat? Aku kan ... sudah tidur tadi. Masa iya aku Kakak suruh istirahat lagi, Kak."

"Ya aku lihat, kamu sepertinya masih cukup lelah sekarang. Karena itu aku suruh kamu istirahat, Lia."

"Eh, hehe ... tidak kok. Aku sudah tidak capek."

Mereka pun langsung masuk ke dalam sambil sesekali mengeluarkan suara untuk saling menjawab kata. Tapi, sepertinya, Lia lebih banyak diam saat ini. Karena apa yang ia lihat membuat ia merasa tertarik untuk memperhatikan.

Tiba di kamar utama, Zihan langsung mengatakan kalau itu adalah kamar dia yang akan menjadi kamar mereka sekarang. Lia pun dengan langkah pelan berjalan masuk ke dalam kamar tersebut.

Sangat luas, kamar itu begitu besar karena mungkin sengaja didesain seperti itu agar Zihan merasa nyaman. Ukuran ranjangnya pun lebih besar dari yang biasa ia pakai di rumah tantenya di kota.

Tapi, di dalam kamar itu juga ada meja. Mungkin, kamar itu satu ruangan dengan ruangan kerja milik Zihan. Kalau begini, Lia langsung merasa kurang nyaman dengan keadaan kamar tersebut.

Raut tidak nyaman itu pun langsung bisa Zihan baca. Ia pun langsung menjalankan kursi rodanya untuk mendekat. "Kenapa? Apa ada yang membuat kamu merasa tidak nyaman, Lia?"

"Eh, tidak kok. Tidak. Aku merasa ... ya biasa saja. Namanya juga baru, ya wajar kan kalau merasa aneh."

"Mm ... benar juga apa yang kamu katakan itu. Ya sudah, jika ada yang tidak nyaman, katakan saja langsung. Karena aku tidak ingin memberatkan kamu selama kamu tinggal di rumahku. Dan, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, lakukan sesuka hati kamu saja saat kamu tinggal di sini. Aku tidak akan keberatan selagi itu tidak mengganggu aku."

Kebebasan yang terang-terangan itu membuat Lia langsung memberikan Zihan tatapan lekat. Ingin rasanya mengatakan kata terima kasih karena sudah berbaik hati padanya. Tapi itu tidak bisa Lia lakukan. Karena bibirnya terasa cukup berat untuk ia ucapkan.

...

Waktu berjalan cukup cepat. Satu minggu pun sudah Lia lalui dengan baik-baik saja. Kehidupan barunya ini terasa cukup membuat Lia nyaman. Karena Zihan, cukup bersahabat dan juga hangat ketika dia kenali lebih dekat.

Mereka menghabiskan waktu bersama dengan tenang dan bahagia. Lia yang bisa melakukan apapun membuat dia begitu bersemangat untuk merawat taman yang ada di samping rumah.

Setiap hari, Lia akan menyibukkan diri dengan mengurus taman itu dengan sepenuh hati. Tentunya, setelah membantu merawat Zihan terlebih dahulu.

Sementara Zihan, sekarang ia juga sangat merasa bahagia. Selain punya orang merawat dengan sepenuh hati, ia juga punya teman yang bisa menghilangkan rasa sepi yang sebelumnya ia rasakan. Karena sejak kecelakaan itu, dia jarang bergaul dengan orang yang ada di luar sana. Karena itulah ia merasa sangat kesepian.

Ingin rasa berteman seperti sebelumnya. Tapi kondisi tidak mengizinkan. Ia merasa minder terlebih dahulu sebelum ia mencoba. Karena pada kenyataannya, dia bukan pria yang normal seperti dulu lagi. Teman-temannya pasti akan mengolok-olok dia jika ia ingin bergaul dengan mereka.

Karena itulah, ia sangat bahagia setelah kehadiran Lia. Karena Lia adalah orang pertama yang begitu dekat dan membuat hari-harinya menjadi berwarna setelah kecelakaan itu terjadi.

"Lia, kamu suka banget sama bunga ya? Aku lihat, tiap hari kamu tidak pernah lupa buat merawat juga bahkan kamu terus saja menanam bunga setiap harinya tanpa lelah."

Lia langsung tersenyum sambil menoleh ke arah Zihan yang ada di sampingnya. "Aku memang suka bunga. Mm ... tepatnya, aku suka sama bunga setelah tinggal di rumah Tante. Karena sepupuku sangat suka dengan bunga. Jadi, aku juga ikut ketularan dia deh setelah tiap hari menikmati indahnya bunga bareng dia."

"Sepupumu ... lelaki atau perempuan, Lia?" Pertanyaan yang terasa seperti orang yang sedang dibakar api cemburu itu membuat Lia langsung menatap lekat wajah Zihan. Sedangkan Zihan yang mendapat tatapan itu, berusaha memikirkan alasan untuk mengubah pokok pembicaraan karena merasa kalau apa yang sudah ia tanyakan itu sedikit tidak nyaman setelah ia pikirkan lagi.

"Mm .... "

"Eh, hehehe ... itu ... aku hanya penasaran saja kok sama sepupumu itu, Lia. Tidak mungkin kalau pria suka bunga, iya kan? Sudah jelas dia wanita. Ah, aku ini ada-ada saja pikirnya." Zihan berucap cepat memotong perkataan Lia.

Perbuatan memotong omongan itu semakin terlihat aneh saja. Karena semakin ia berusaha menjelaskan, maka semakin terlihat pula kalau dia seperti orang yang sedang menahan api kecemburuan agar tidak terlihat.

'Ya Tuhan, Zihan. Kamu ngomong apa sih? Ish! Bukannya memperbaiki keadaan, malah memperburuk suasana.' Zihan mengumpat dalam hati karena kesalahan yang telah ia timbulkan sendiri.

Lia yang merasakan hal aneh itu malah merasa geli. Zihan yang begitu ingin suasana baik-baik saja malah menimbulkan kesal lucu saat dia tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Wajahnya pun terlihat kusut seperti kain yang masih belum disetrika.

"Dia perempuan kok, Kak Zihan. Mm ... pikiran Kakak itu benar, Kak. Pria tidak suka bunga. Buktinya saja rumah ini, bukan? Tidak ada satu bunga pun yang tumbuh di sini." Lia bicara sambil tersenyum.

Dia juga ingin membuat Zihan tenang. Karena itu, ia berusaha mengalihkan pembicaraan mereka dari apa yang sudah terasa sangat canggung sebelumnya.

Pada akhirnya, suasana di antara mereka berdua pun kembali membaik. Lia sedikit-sedikit mengalihkan pikiran Zihan dengan bercerita tentang masa lalunya saat tinggal di rumah tantenya. Hingga cerita tentang pernikahan perjodohan yang sepupunya jalani pun ia keluarkan.

1
sunaryati jarum
Sadar diri namanya buruk,takut jika usahanya tidak dilirik masyarakatnya karena citramu buruk.Cerdik juga.
sunaryati jarum
Baru mampir
Green_Rose: yuhu... moga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!