Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
.
Aisyah tidak langsung pulang setelah keluar dari bank. Tiba-tiba saja ia ingin pergi ke tempat yang selama ini jarang ia datangi. Restoran miliknya.
Selama menikah dengan Raka, terutama setelah kelahiran Rangga dan Fatimah, Aisyah memang tidak pernah lagi benar-benar ikut campur dalam pengelolaan usaha. Hanya sesekali saja Ia datang membantu. Ia percaya penuh bahwa suaminya bisa mengurus semuanya dengan baik. Jadi, ia tidak perlu ikut repot.
Namun, pagi ini tiba-tiba pikirannya berubah. “Pak, antar saya ke restoran RASYA” ujar Aisyah sambil memberikan alamat restorannya kepada sopir taksi.
Sopir itu mengangguk setelah melihat alamat yang diberikan. “Baik, Bu.”
Sepanjang perjalanan, Aisyah menyandarkan punggungnya pada kursi sambil memandangi jalanan dari balik jendela. Tidak menangis, tidak mengeluh. Wanita itu hanya mulai membuat keputusan dalam kepalanya. Mengantisipasi jika Raka dan Nabila melakukan sesuatu yang tidak ia sangka.
Aisyah merasa dirinya tidak boleh lagi menjadi perempuan yang hanya menunggu keputusan orang lain.
Sesampainya di restoran, Aisyah turun dari taksi dan berdiri beberapa saat di depan bangunan itu. Restoran itu dibangun beberapa tahun lalu karena merasa terlalu sempit jika restoran dijadikan satu dengan toko. Apalagi baik toko maupun restoran mereka sama-sama ramai.
Selama ini Aisyah tidak pernah menghitung berapa besar keuntungan yang dihasilkan. Ia bahkan tidak pernah bertanya karena ia percaya kepada suaminya.
Aisyah menarik napas panjang sebelum melangkah masuk.
Beberapa karyawan yang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, langsung mengenali wanita itu sebagai ibu bos mereka.
“Bu Aisyah?” salah seorang karyawan terlihat terkejut melihat kedatangannya.
Aisyah tersenyum tipis. “Iya. Saya mau melihat-lihat sebentar.”
“Pak Raka belum datang hari ini, Bu,” jawab karyawan itu dengan hati-hati.
“Saya tidak mencari Pak Raka,” balas Aisyah tenang sambil melangkah masuk lebih jauh. “Saya datang untuk melihat usaha saya sendiri.”
Kalimat itu membuat karyawan tersebut terdiam. Beberapa dari mereka saling pandang dengan teman yang ada di dekatnya. Mereka jelas tahu apa yang terjadi dalam rumah tangga Aisyah dan Raka. Dan mereka jelas berpikir, mungkin Aisyah mulai bersikap waspada.
Aisyah berjalan menuju meja kasir. Ia memperhatikan buku pencatatan yang berada di sana, kemudian menatap beberapa laporan yang tersusun di atas meja.
“Siapa yang biasanya memegang laporan keuangan restoran?” tanyanya sambil mengambil salah satu berkas.
“Pak Raka, Bu,” jawab karyawan itu.
“Kalau begitu, mulai hari ini saya ingin semua laporan keuangan disiapkan untuk saya.”
Karyawan itu tampak ragu. “Termasuk laporan beberapa bulan sebelumnya?”
Aisyah mengangguk mantap. “Semuanya.”
“Baik, Bu.” petugas kasir itu mengangguk patuh.
Aisyah meletakkan kembali berkas tersebut dengan mata yang masih menatap ke arah kasir. “Dan saya ingin mulai sekarang laba restoran tidak lagi dikirim ke rekening pak Raka. Kirim langsung ke rekening saya!”
“Saya mengerti, Bu.” Petugas kasir kembali mengangguk.
Beberapa karyawan yang mendengar percakapan mereka kembali saling pandang. Mereka belum pernah melihat Aisyah berbicara seperti itu. Biasanya wanita itu datang hanya untuk mengantarkan makan siang lalu makan bersama dengan Raka atau sesekali melihat keadaan restoran. Ia tidak pernah ikut mengatur.
Namun, pagi itu berbeda. Aisyah tidak sedang datang sebagai seorang istri. Ia datang sebagai pemilik.
“Bu, kami turut prihatin?” ucap salah satu karyawan yang kini telah berkerumun di dekatnya. “Kami sama sekali tidak menyangka, bahwa Pak Raka tega melakukan itu pada bu.”
“Tapi tenang saja, Bu,” potong karyawan lainnya. “Kami berdiri di belakang Ibu.”
Mereka semua tahu bagaimana Raka dan Aisyah. Dan selama ini Aisyah begitu baik pada mereka. Dan mereka juga bisa melihat bagaimana Nabila ketika wanita itu datang ke restoran. Wanita itu memang terlihat baik, tetapi mereka tahu kebaikan Nabilah palsu.
Aisyah menyapukan pandangannya pada mereka semua sambil memberikan senyum tipis. “Terima kasih.”
Setelah memastikan beberapa hal, Aisyah kemudian keluar dari restoran. Wanita itu melangkah kan kakinya menuju toko mereka yang berada tepat di sebelah restoran itu. Dan di sana wanita itu melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan di restoran.
Setelah dirasa semuanya beres, Aisyah masuk kembali ke dalam taksi yang memang ia suruh menunggu. Wanita itu duduk, menyandarkan punggungnya, lalu menghela napas panjang.
Ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya. Luka akibat pengkhianatan neraka masih ada. Namun, kini ia tidak lagi membiarkan luka tersebut membuatnya berhenti.
Aisyah membuka kembali ponselnya. Ada wajah Rangga dan Fatimah yang ia jadikan wallpaper. Dua anak itu adalah alasan mengapa ia harus menjadi lebih kuat.
“Untuk kalian, Ibu akan melakukan apapun yang Ibu bisa,” gumam Aisyah pelan sambil menggenggam ponselnya.
Puas memandangi wajah kedua putra-putrinya, Aisyah kemudian membuka aplikasi m.banking miliknya sendiri. Selama ini sebagian besar kebutuhan rumah tangga memang ditanggung Raka. Namun, Aisyah masih memiliki tabungan pribadi yang ia sisihkan dari uang belanja yang diberikan oleh Raka.
Dulu, ia menyimpan semua itu untuk digunakan sebagai jaga-jaga jika mereka tiba-tiba mengalami situasi darurat. Entah kenapa tiba-tiba saat ini ia ingin menggunakan tabungan itu untuk sesuatu yang lain. Sesuatu yang ia tidak ingin diketahui oleh Raka.
“
Sepulang dari toko dan restoran, Aisyah kembali untuk menjemput Fatimah di sekolah. Karena Fatimah yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak, akan pulang lebih dulu dibandingkan Rangga yang telah duduk di bangku kelas empat.
Begitu melihat ibunya, Fatimah langsung berlari kecil menghampiri. “Kenapa Ibu datang sendiri?” tanyanya sambil menggenggam tangan Aisyah.
Rangga yang kebetulan sedang jam istirahat ikut mendekat ke arah ibunya.
“Fatimah tidak suka dijemput ibu?” tanya Aisyah sambil mengusap kepala putrinya.
“Fatimah suka. Tapi Fatimah kira Ayah akan ikut menjemput,” jawab gadis kecil itu dengan wajah sedikit kecewa.
Aisyah menatap putrinya beberapa saat. Hatinya kembali merasa hancur mendengar ucapan putrinya. Namun wanita itu mencoba tersenyum.
“Kan Ayah lagi kerja, Sayang? Jadi, Ibu yang jemput,” ujarnya sambil menggenggam tangan Fatimah lebih erat.
Fatimah mengangguk meski raut kecewa tak hilang dari wajahnya.
Rangga yang sejak tadi berdiri di samping mereka hanya diam. Anak laki-laki itu menatap wajah ibunya cukup lama. Dan meskipun terlihat olehnya ibunya sedang tersenyum, tetapi anak itu tahu persis apa yang disembunyikan oleh ibunya di balik senyum itu.
—
Di toko, Raka baru datang ketika matahari tepat berada di atas kepala. Pria itu begitu terkejut mendengar laporan dari salah seorang anak buahnya bahwa Aisyah Baru saja datang ke toko mereka.
“Apa?” tanya pria itu menatap tak percaya. “Apa dia datang mencariku?”
Karyawan di hadapannya menggelengkan kepala membuat senyum di wajahnya pudar.
“Bu Aisyah meminta pembukuan dan laporan keuangan toko.” Laporan dari karyawannya membuat Raka lebih tak percaya lagi.
“Aisyah minta laporan keuangan? Untuk apa?”
demi kedua ank mu ,,
kalo msh ngandelin raka ,, tkut nenek kebayan d sebrang sana jd tantrum🤭🤭😒😒😒😒
Nabila belum tahu aja semua surat-surat berharga harta Raka selama perkawinan dengan Aisyah sudah di amankan Aisyah...