Indonesia
NovelToon NovelToon
KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sci-Fi / Sistem
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Fajar Kemenangan Pertama

Sesi praktikum basis data di laboratorium komputer akhirnya selesai saat jarum jam menunjuk angka sebelas siang. Pak Bambang menutup laptopnya dan keluar dari ruangan, disusul riuh mahasiswa yang mulai membereskan barang-barang mereka. Nadeo dan kedua pengikutnya lebih dulu melesat keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun ke arah Bayu.

Dimas menyenggol lengan Bayu seraya mengemas buku catatannya. "Bay, sumpah ya, gaya lu tadi pas di lorong bener-bener bikin si Nadeo kapok. Dia sepanjang praktikum cuma diam sambil melototi layarnya."

Bayu tersenyum tipis seraya mengemas laptop tuanya ke dalam tas ransel lusuh. "Sudahlah, Dim. Yang penting materi indeksasi basis data tadi bisa kita selesaikan tepat waktu."

Tiba-tiba, nada getar halus terasa di saku kemeja Bayu. Melalui earphone yang terpasang di telinga kirinya, suara sintesis Jarvis terdengar begitu jernih.

"Bayu, eksekusi transaksi tahap kedua pada tiga instrumen pasar modal lokal telah diselesaikan secara otomatis," panggil Jarvis tanpa jeda.

Bayu serta-merta menghentikan jemarinya. Ia merogoh ponsel Android murahnya dari saku dan menyalakan layar yang retak tipis di sudutnya.

"Bagaimana hasilnya, Jarvis?" bisik Bayu pelan.

Dimas yang mendengar bisikan itu langsung menghentikan kegiatannya dan mendekatkan kepala ke arah layar ponsel Bayu. "Ada apa, Bay? Jarvis sudah memproses perdagangan saham lagi?"

Layar ponsel menampilkan antarmuka finansial dengan grafik hijau menanjak tajam. Di bagian atas layar, tertera angka saldo kas yang sudah terealisasi secara sah dalam akun rekening investasi milik Bayu.

"Seluruh posisi penjualan terikat telah ditutup pada titik tertinggi sesi pertama," papar Jarvis presisi. "Total akumulasi modal bersih yang berhasil dibukukan adalah sebesar tiga puluh lima juta empat ratus ribu rupiah. Seluruh dana telah ditransfer ke rekening bank utama Anda."

Dimas membelalakkan matanya hingga hampir melompat dari pijakannya. "Tiga puluh lima juta?! Bay! Lu nggak salah lihat kan?! Itu angka tiga puluh lima juta rupiah?!"

"Dimas, suaramu," tegur Bayu pelan seraya melirik beberapa mahasiswa yang masih berada di dalam laboratorium.

Dimas segera menutup mulutnya dengan kedua tangan, lalu berbisik heboh dengan mata berbinar-binar. "Gila, Bay! Tiga puluh lima juta rupiah cuma dalam waktu semalam dan tadi pagi?! Ini beneran uang asli kan?"

"Jarvis, tingkat keabsahan pencairan dana ini sudah terverifikasi penuh oleh sistem perbankan?" tanya Bayu memastikan melalui mikrofon earphone.

"Tentu, Bayu," jawab Jarvis mantap. "Transaksi dilakukan melalui mekanisme pasar reguler yang sah dan terdaftar resmi di otoritas bursa. Dana tersebut seratus persen bersih, legal, dan sudah mengendap di rekening pribadi Anda."

Bayu menarik napas panjang. Beban berat yang bertengger di pundaknya selama bertahun-tahun seolah terangkat seketika. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memegang jumlah uang yang sangat besar, uang hasil kejeniusan teknologinya sendiri.

"Dim," panggil Bayu, menatap sahabatnya dengan binar mata yang jernih di balik kacamata tebal. "Kita ke rumah sakit sekarang."

"Ayo, Bay! Gue antar pakai mobil!" sahut Dimas antusias.

Tiba di Rumah Sakit Medika sepuluh menit kemudian, Bayu langsung melangkah menuju bagian administrasi dan keuangan pusat. Petugas wanita di balik konter tebal yang kemarin melayaninya menengadah saat Bayu mendekati meja.

"Selamat siang, Mas Bayu. Ada yang bisa saya bantu terkait pasien Ibu Suminah?" sapa petugas itu ramah.

"Selamat siang, Mbak," jawab Bayu dengan nada suara yang sangat tenang dan mantap. "Saya ingin meminta rincian seluruh tagihan perawatan ibu saya. Bukan cuma deposit awal, tapi total biaya pengobatan intensif, perawatan penuh selama dua minggu ke depan, serta seluruh resep obat spesialis secara menyeluruh."

Petugas administrasi itu tertegun sejenak. Ia merapikan kacamatanya dan menatap Bayu yang masih mengenakan kemeja lusuh dan membawa tas ransel kusam. "Mas Bayu yakin? Total estimasi biaya penanganan menyeluruh untuk paket ICU dan perawatan transisi ruang rawat inap bisa mencapai belasan juta rupiah."

"Saya sangat yakin, Mbak," ujar Bayu tanpa keraguan sedikit pun. "Tolong totalkan semuanya sekarang. Saya akan melunasinya hari ini juga."

Dimas berdiri tegak di samping Bayu, menyilangkan tangan di dada dengan senyum bangga yang tak bisa ia sembunyikan.

Jemari petugas wanita itu dengan cepat mengetik di atas papan ketik komputernya. Setelah dua menit memeriksa sistem data rumah sakit, ia memutar layarnya ke arah Bayu.

"Total rincian keseluruhan biaya tindakan medis darurat, obat-obatan spesialis paru-paru dosis tinggi untuk satu bulan, serta sewa ruang perawatan VIP transisi selama dua minggu adalah sebesar tujuh belas juta delapan ratus ribu rupiah, Mas," jelas petugas itu.

"Baik. Saya bayar menggunakan transfer mesin EDC," sahut Bayu seraya mengeluarkan kartu debit baru yang terkoneksi langsung dengan rekening hasil transaksi Jarvis.

Petugas kasir memasukkan nominal tujuh belas juta delapan ratus ribu rupiah ke mesin EDC dan menyerahkannya kepada Bayu. Bayu memasukkan PIN dengan tenang. Hanya dalam hitungan detik, mesin berbunyi nyaring dan mencetak resi pembayaran berwarna putih panjang.

[Status]: Transaksi Berhasil. [Total Dibayar]: Rp17.800.000,- [Sisa Tagihan]: Rp0,- (LUNAS)

Petugas kasir menatap struk bukti pembayaran itu dengan mata melotot tak percaya, lalu mengalihkan pandangannya ke wajah Bayu. "Sudah... sudah lunas seratus persen, Mas Bayu. Semua pasokan obat kelas satu dan pemindahan Ibu Suminah ke ruang VIP lantai tiga akan segera dilaksanakan siang ini."

"Terima kasih atas pelayanannya, Mbak," ucap Bayu tulus seraya menerima lembar rincian lunas tersebut.

Saat mereka melangkah menjauhi loket administrasi, Dimas menepuk punggung Bayu dengan keras. "Bayu! Lu bener-bener luar biasa! Melunasi tujuh belas juta lebih cuma pakai sekali tempel kartu! Gue sampai merinding melihat muka mbak kasir tadi!"

Bayu tertawa pelan, rasa haru menyusup hangat di dadanya. "Ini kemenangan pertama kita, Dim. Dan yang paling penting, Ibu bisa mendapatkan penanganan medis terbaik tanpa perlu mengkhawatirkan biaya lagi."

"Kondisi finansial primer telah stabil, Bayu," timpal Jarvis dari balik earphone. "Sisa saldo kas Anda saat ini adalah sebesar tujuh belas juta enam ratus ribu rupiah. Saya merekomendasikan alokasi modal berikutnya untuk dana darurat keluarga."

"Terima kasih banyak, Jarvis. Kamu bekerja sangat luar biasa," bisik Bayu.

Keduanya berjalan menyusuri lorong menuju lantai tiga, tempat ibu Bayu baru saja dipindahkan ke ruang perawatan VIP yang luas, bersih, dan berpendingin udara.

Di dalam ruangan yang tenang itu, Ibu Suminah berbaring di atas tempat tidur medis yang nyaman. Wajahnya yang pucat kini mulai menampakkan rona segar setelah menerima cairan infus obat baru. Ketika melihat pintu terbuka dan Bayu melangkah masuk, wanita tua itu mengukir senyuman hangat.

"Bayu... Dimas..." panggil Ibu dengan suara yang jauh lebih bertenaga. "Kenapa Ibu dipindahkan ke ruangan sebagus dan seluas ini, Nak? Ini pasti biayanya sangat mahal..."

Bayu berjalan mendekat, duduk di kursi samping tempat tidur sang ibu, lalu menggenggam jemari ibunya yang lembut dengan penuh rasa kasih sayang.

"Ibu tidak perlu memikirkan biaya lagi," kata Bayu lembut, menatap mata ibunya dengan ketenangan yang dalam. "Seluruh biaya rumah sakit, obat-obatan, dan perawatan Ibu sudah Bayu lunasi sampai sembuh total."

Mata Ibu Suminah berkaca-kaca karena terkejut dan terharu. "Lunas, Nak? Uang dari mana sebanyak itu, Bayu? Kamu tidak melakukan hal yang melanggar hukum, kan?"

"Sama sekali tidak, Bu," jawab Bayu tegas dan jujur sambil tersenyum hangat. "Bayu mendapatkan kontrak proyek teknologi kecerdasan buatan dari klien besar. Keahlian sistem yang Bayu bangun dihargai sangat tinggi. Ini semua rezeki halal untuk kesembuhan Ibu."

Dimas ikut melangkah mendekat dan mengangguk mantap. "Betul, Tante! Bayu itu mahasiswa paling jenius di kampus kita. Karya teknologinya diakui mahal. Tante tinggal fokus istirahat dan sembuh total saja!"

Air mata bahagia menetes pelan di pipi Ibu Suminah. Ia mengusap kepala putra tunggalnya itu dengan penuh rasa syukur. "Terima kasih, Ya Allah... Terima kasih, Bayu. Kamu anak yang sangat berbakti."

Bayu menggenggam tangan ibunya lebih erat, merasakan kedamaian yang luar biasa di dalam dadanya. Di ruang perawatan yang tenang itu, bayang-bayang penderitaan dan kemiskinan yang selama ini menghimpit kehidupannya resmi berakhir. Bayu Anggara telah meraih kemenangan finansial pertamanya, siap melangkah menuju babak baru kehidupan yang lebih besar dan penuh harapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!