Indonesia
NovelToon NovelToon
GADISKU SEORANG BAR-BAR

GADISKU SEORANG BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Romantis / Komedi
Popularitas:901
Nilai: 5
Nama Author: Icita

GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Katering Berdarah dan Godaan Nyonya Macan Putih

Persiapan pernikahan Gala dan Senja berlanjut ke tahap yang paling krusial sekaligus paling rawan memicu perang dunia ketiga: food tasting atau uji coba menu katering.

Siang itu, mereka berada di restoran VIP milik Vendor Katering "Lidah Dewa". Di atas meja bundar yang mewah, tersaji belasan piring sampel makanan. Mulai dari rendang daging sapi, sop kimlo, ayam kodok, hingga puding mangga berlapis emas yang harganya bisa membuat Gala berpuasa sebulan penuh.

Senja sedang mengunyah sepotong sate lilit dengan wajah serius, sementara Gala sibuk menghitung estimasi biaya menggunakan kalkulator di ponselnya. Di ujung meja, berdiri Siska—yang kini merangkap jabatan dari Kepala Keamanan menjadi Wedding Organizer. Wanita itu tidak memakan apa pun; ia justru sibuk menusukkan termometer digital ke dalam panci sop kimlo untuk memastikan suhunya sesuai standar kelayakan.

"Gal, ayam kodoknya enak. Kita pesan ini lima ratus porsi," ucap Senja sambil menunjuk piring berisi ayam tanpa tulang yang diisi daging cincang itu.

"Nja, kamu gila? Satu porsinya seratus ribu! Kalau dikali lima ratus, itu lima puluh juta cuma buat ayam yang wujudnya udah nggak kayak ayam!" Gala membelalakkan matanya. "Kita pakai ayam suwir bumbu rujak aja. Lebih merakyat, lebih ekonomis."

"Pelit banget sih! Ini kan nikahan kita sekali seumur hidup!" omel Senja, bersiap melempar garpunya.

Sebelum Gala sempat membalas, suasana restoran yang tenang mendadak berubah mencekam. Musik gamelan modern yang mengalun dari pelantang suara tiba-tiba mati. Pintu ganda restoran didobrak terbuka. Delapan pria berbadan tegap, semuanya mengenakan setelan jas berwarna putih bersih tanpa noda, berbaris masuk dan mengunci semua akses keluar. Pemilik katering dan para pelayan langsung diseret ke dapur dengan todongan senjata api.

Gala langsung berdiri, insting jurnalis dan pertahanannya menyala. Senja meletakkan sate lilitnya, perlahan memutar pergelangan tangannya hingga berbunyi krek, bersiap untuk bertarung. Hanya Siska yang tetap tak bergeming, masih mencatat suhu sop kimlo di papan klipnya.

Dari balik barisan pria berjas putih itu, melangkahlah seorang wanita yang membuat napas siapa pun akan tertahan.

Wanita itu mengenakan gaun sutra ketat berwarna merah menyala dengan belahan tinggi hingga ke paha, memperlihatkan kaki jenjangnya yang dibalut stoking hitam. Di bahunya tersampir mantel bulu berwarna putih salju. Rambut hitam legamnya dibiarkan tergerai bergelombang. Bibirnya dipoles lipstik merah darah, mengapit sebuah pipa rokok emas panjang yang mengepulkan asap tipis beraroma cherry.

"Jadi, ini jurnalis tengil yang sudah menghancurkan gudang senjataku bulan lalu?" Suara wanita itu berat, serak-serak basah, dan mengalun penuh aura intimidasi.

Gala menelan ludah. Otaknya bekerja cepat menyatukan kepingan informasi. Pakaian serba putih, gudang senjata... "Macan Putih," desis Gala. "Kalian sindikat saingan Naga Hitam."

Wanita itu tertawa pelan, suara tawa yang elegan namun membekukan darah. Ia berjalan meliuk mendekati meja mereka, mengabaikan Senja, dan langsung memfokuskan pandangannya pada Gala.

"Tepat sekali, Jurnalis. Namaku Karmila. Tapi di dunia bawah tanah, mereka memanggilku Madame K," ucapnya sambil mengembuskan asap rokok tepat ke wajah Gala. "Artikel investigasimu yang bocor itu membuat polisi menggerebek jalur distribusiku. Aku rugi puluhan miliar. Normalnya, kepalamu sudah kujadikan pajangan di ruang tamuku saat ini."

Senja yang merasa diabaikan, langsung melangkah maju dan menepis asap rokok itu dengan tangannya. "Kalau begitu, coba saja ambil kepalanya sekarang, Tante. Biar kupatahkan lehermu sebelum hak sepatumu menyentuh lantai ini."

Karmila melirik Senja dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Oh, ini bidadari bar-bar yang sering kau banggakan itu, Gala? Pakaiannya seperti montir bengkel. Bahunya terlalu lebar. Benar-benar bukan selera pria berkelas."

Dada Senja kembang kempis menahan amarah. Kata "montir bengkel" benar-benar menghina sweternya yang baru ia beli dari thrift shop.

Alih-alih marah, Karmila justru mencondongkan tubuhnya ke arah Gala. Jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa sentimeter. Aroma parfum mawar dan mesiu menguar dari tubuh Karmila, memabukkan sekaligus mengancam. Jari Karmila yang dihiasi kuku palsu panjang berwarna merah mengusap rahang Gala dengan gerakan menggoda.

"Tapi kau... kau menarik, Gala," bisik Karmila dengan nada sensual. "Pria-pria di sekitarku hanyalah preman bodoh berotot besar yang tak tahu cara berpikir. Tapi kau? Kau cerdik, nekat, dan punya nyali. Sindikatku butuh otak sepertimu."

"Maaf, Nyonya. Aku ini jurnalis, bukan penjahat kerah putih," jawab Gala, berusaha menjauhkan wajahnya namun tertahan oleh dua penjaga yang menodongkan pistol ke punggungnya.

"Aku bisa memberimu segalanya, Gala," goda Karmila, perlahan menggeser jarinya dari rahang ke kerah kemeja Gala. "Uang, kekuasaan, informasi apa pun yang kau butuhkan untuk memenangkan Pulitzer-mu... dan tentu saja, aku. Kau bisa berdiri di sampingku sebagai rajaku. Tinggalkan wanita tomboi yang hanya akan membuatmu miskin dan mati muda ini."

Untuk memberikan efek dramatis, Karmila dengan sengaja mendekatkan bibirnya ke telinga Gala, lalu mengecup pipi pria itu dengan gerakan lambat yang sangat memprovokasi. Bekas lipstik merah tertinggal jelas di pipi Gala.

Melihat adegan itu, akal sehat Senja putus. Api cemburu dan kemarahan meledak bersamaan di dadanya. "Berani-beraninya kau menyentuh calon suamiku, Ular Gila!" teriak Senja.

Namun, sebelum Senja melompat menerjang, Gala mengangkat tangannya, menghentikan Senja. Gala menatap tajam ke mata Karmila, lalu dengan tenang merogoh sakunya, mengeluarkan tisu, dan mengelap bekas lipstik di pipinya dengan kasar seolah itu adalah kotoran burung.

"Tawaran yang menarik, Madame K," ucap Gala dengan senyum sinisnya yang khas. "Sayangnya, selera wanita saya agak unik. Saya tidak suka wanita elegan yang bau darah. Saya lebih suka wanita tomboi, bar-bar, yang bisa membanting preman, dan selalu membuat dompet saya menangis. Kekacauan dia adalah satu-satunya rumah yang mau saya tinggali."

Gala menatap Senja dan mengedipkan sebelah matanya. Hati Senja yang tadinya mendidih seketika meleleh. Rasa ragunya lenyap. Pria tengil ini memang miliknya seutuhnya.

Wajah Karmila mengeras. Egonya terluka parah. Penolakan dari seorang pria kere adalah penghinaan terbesar baginya.

"Pilihan yang bodoh. Kalau begitu, kalian berdua akan mati bersama di antara hidangan murahan ini!" Karmila menjentikkan jarinya. "Habisi mereka!"

Kedelapan pria berjas putih itu serentak mengeluarkan senjata tajam dari balik jas mereka. Namun, sebelum ada yang sempat bergerak, sebuah suara datar dan mekanis memotong ketegangan.

"Interupsi," ucap Siska.

Semua mata menoleh ke ujung meja. Siska meletakkan termometernya dan mengambil buku notanya.

"Kalian merusak jadwal food tasting VIP saya. Suhu sop kimlo turun dua derajat karena pintu dibuka paksa. Biaya sterilisasi ruangan dari asap rokok Anda adalah dua juta rupiah. Biaya gangguan mental klien saya adalah lima juta rupiah per menit," Siska menatap Karmila dengan tatapan kosong mematikan. "Silakan bayar atau saya akan mendiskon nyawa kalian."

Karmila tertawa meremehkan. "Siapa wanita aneh ini? Bunuh dia duluan."

Dua preman maju menyerang Siska. Namun, dengan efisiensi mematikan, Siska mengambil dua buah garpu perak dari meja. Ia menunduk menghindari sabetan pisau, lalu menusukkan garpu itu ke titik saraf di pergelangan tangan kedua preman tersebut, membuat senjata mereka terjatuh. Detik berikutnya, Siska menendang lutut mereka hingga patah. Dua preman tumbang dalam waktu kurang dari lima detik.

"Waktu untuk food tasting tersisa dua puluh menit. Senja, Gala, bersihkan area ini agar kalian bisa kembali makan," instruksi Siska santai.

Mendapat aba-aba itu, Senja dan Gala langsung beraksi. Kombinasi mereka kini jauh lebih mematikan karena mereka bertarung untuk melindungi satu sama lain, bukan karena gengsi.

Gala meraih mangkuk besar berisi kuah sop kimlo yang masih panas dan menyiramkannya ke wajah tiga preman yang mencoba mendekat. Saat mereka menjerit kepanasan, Senja melompat ke atas meja makan, melakukan backflip yang indah, dan mendaratkan tendangan tumit ganda ke dada mereka.

Seorang preman berbadan besar mencoba menembak Gala, namun Senja dengan cepat meraih nampan besi dan melemparkannya seperti frisbee, menghantam pergelangan tangan preman itu hingga senjatanya terlempar. Gala meluncur di lantai yang licin oleh kuah sop, menyapu kaki preman tersebut, lalu menghajarnya menggunakan tabung chafing dish (pemanas makanan katering) yang terbuat dari baja.

Melihat anak buah elitnya dihabisi menggunakan sayur dan alat katering, wajah Karmila memucat. Ia mencoba melarikan diri ke arah pintu, namun Senja sudah berdiri di hadapannya.

"Mau ke mana, Madame K? Aku belum membalas kecupanmu di pipi Gala," desis Senja.

Karmila mencabut pisau belati kecil dari balik lipatan gaunnya dan menebas ke arah leher Senja. Namun, sebagai seorang mantan atlet bela diri campuran, Senja membaca gerakan itu seperti membaca buku anak-anak. Senja menunduk, menangkap lengan Karmila, memutarnya ke belakang punggung, dan memberikan satu bantingan judo telak (Osoto Gari).

BAM! Tubuh elegan Nyonya Macan Putih itu menghantam lantai marmer restoran dengan keras. Mantel bulunya kotor terkena noda bumbu rendang.

"Ini buat nyentuh pipi calon suamiku," Senja menarik rambut Karmila ke belakang, lalu meninju tepat di rahang wanita itu hingga ia pingsan seketika.

Suasana kembali hening. Restoran VIP itu kini berantakan parah. Noda makanan menempel di dinding, meja terbalik, dan delapan preman berjas putih (yang kini berwarna-warni oleh saus dan kuah) mengerang di lantai.

Siska berjalan santai mendekati tubuh Karmila yang pingsan. Ia memeriksa saku wanita itu, menemukan dompet kulit buaya, dan mengeluarkan kartu kredit black card yang mengilap. Siska mengeluarkan mesin EDC-nya, menggesek kartu tersebut, lalu mencetak setruknya.

"Tagihan ganti rugi restoran dan biaya interception WO berhasil dilunasi. Total ditarik: seratus lima puluh juta rupiah," lapor Siska dengan nada memuaskan, lalu menyelipkan setruk itu ke belahan dada Karmila yang pingsan.

Siska menoleh ke arah Gala dan Senja yang sedang mengatur napas sambil berpegangan tangan. "Gangguan selesai. Tapi ayam kodoknya sudah hancur diinjak preman. Jadi, kita sepakat pakai menu ayam suwir bumbu rujak untuk resepsi?"

Gala mengusap keringat di dahinya, lalu merangkul pinggang Senja sambil tertawa lelah. "Terserah lo aja, Sis. Asal jangan sampai ada baku hantam lagi di hari-H nanti."

Senja menyandarkan kepalanya di bahu Gala, tersenyum puas karena tak ada satupun godaan mafia yang bisa menggoyahkan pria tengil di pelukannya ini. Namun, jauh di lubuk hati mereka, mereka tahu... dengan Siska sebagai WO mereka, hari pernikahan mereka dijamin tidak akan pernah berjalan normal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!