Tiga tahun lalu, Alessandra Valente membakar seluruh dunianya demi seorang pria—seorang raja mafia bermata madu yang menjanjikannya kebebasan, lalu mencampakkannya di jalanan dengan sebuah rahasia di dalam rahim.
Kini ia hanyalah seorang ibu tunggal di sudut kumuh Queens, bertahan hidup di antara tumpukan tagihan dan tawa kecil putranya. Sampai suatu sore kelabu, aroma cendana dan bahaya itu kembali menghantui: Damian Smirnov, sang Pakhan Bratva yang dulu menghancurkannya, berdiri di ambang pintu—dan menatap lurus ke mata madu anak yang begitu mirip dengannya.
"Apa pun yang berasal dari darahku, adalah milikku."
Tapi Alessandra bukan lagi gadis rapuh yang ia tinggalkan. Untuk melindungi putranya, ia rela belajar menarik pelatuk, menantang para bos paling ditakuti di lima keluarga, dan berdiri di garis depan perang yang bisa menelan mereka semua. Di antara pengkhianatan keluarga, dendam yang membara, dan gairah yang tak pernah benar-benar padam, seorang perempuan yang dulu dihina sebagai "si gendut dari Queens" perlahan menjelma menjadi sesuatu yang membuat seluruh dunia bawah tanah bertekuk lutut: Sang Singa Betina.
Jika mereka mengira bisa merebut anaknya, mereka akan belajar satu hal—tak ada yang lebih berbahaya daripada seorang ibu yang tak lagi punya apa pun untuk kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamila22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Abu Sebuah Imperium
Tiga tahun sebelumnya...
Fajar merembes masuk lewat jendela-jendela besar loft Damian dengan cahaya kelabu yang dingin, tetapi di dalam kamar suasananya masih sarat oleh hangatnya dosa. Aku terbangun sendirian di ranjang yang luas itu, seprai sutra hitam melilit kakiku, dengan perasaan aneh di dada, sebuah kekosongan yang tak kutahu apakah itu kebebasan atau ketakutan. Tempat Damian tidur tadi masih menyimpan hangatnya dan aroma cendana yang kini seolah telah menetap di pori-poriku untuk selamanya.
Aku duduk di tepi ranjang, mengusap wajah. Setiap otot tubuhku mengingatkanku pada perbuatannya semalam. Damian tidak bercinta denganku; ia mengklaimku, menandaiku seolah aku wilayah taklukan, demi menghapus semua hinaan ayahku. Saat berdiri, kakiku sedikit gemetar, dan saat itulah kulihat ponselku di atas meja lampu. Ada puluhan notifikasi.
Kunyalakan layarnya, dan jantungku serasa terjun. Berita-berita lokal secara harfiah tengah membara.
"KEBAKARAN DAHSYAT DI GUDANG VALENTE: KERUGIAN JUTAAN DOLAR DI PELABUHAN."
Foto-fotonya memperlihatkan kepulan asap hitam yang membubung ke langit malam dan rangka-rangka besi yang melengkung terpanggang. Itu jantung bisnis ayahku. Sesuatu yang paling ia cintai, "putri kesayangannya" yang sesungguhnya, telah menjadi abu. Aku merinding. Damian yang melakukannya. Belum lewat enam jam sejak ia melihat bekas cengkeraman di lenganku, dan ia sudah menepati janjinya.
Pintu loft terbuka dan ia masuk. Ia tak tampak lelah. Sebaliknya, ia melangkah dengan energi yang seolah bermuatan listrik, masih berbusana hitam, rambutnya sedikit acak-acakan diterpa angin pelabuhan. Ia menenteng beberapa kantong kertas di satu tangan, dan tatapannya melunak barang sedikit saat melihatku sudah bangun.
"Selamat pagi, Sayang." Suara seraknya membelai telingaku. "Kubawakan pakaian untukmu. Kamu tak boleh terus memakai kain hijau lusuh yang mengingatkanmu pada mereka itu."
Ia meletakkan kantong-kantong itu di atas ranjang. Isinya busana sutra, kasmir, dan renda, merek-merek yang hanya dipakai ibuku pada kesempatan istimewa. Tetapi bagiku pakaian itu tak penting.
"Damian... soal pelabuhan itu..." Suaraku nyaris hanya bisikan.
Ia mendekat, mengikis jarak dengan langkah santai seorang pemangsa yang tak lagi menakutkanku, melainkan menyalakan gairahku. Ia memegang daguku, memaksaku menatapnya. Matanya bagai dua sumur minyak, pekat dan kelam.
"Sudah kubilang, tak seorang pun boleh menghinamu lalu lolos tanpa luka. Ayahmu lebih menghargai pelabuhannya ketimbang dirimu. Nah, sekarang dia tak punya keduanya lagi." Ia tersenyum dengan kedinginan yang membuat bulu di lenganku meremang. "Tapi ini baru permulaan. Aku ingin mereka melihat bagaimana kamu mekar sementara mereka layu."
Ia melepaskanku dan mulai mengeluarkan barang-barang dari kantong. Bukan hanya pakaian; ia mengeluarkan sebuah kotak beludru dan membukanya di depanku. Sebuah kalung emas dengan batu delima semerah darah yang malam itu pasti telah tumpah di pelabuhan.
"Pakai," perintahnya.
"Damian, ini terlalu berlebihan... aku tak bisa begitu saja menerima semua ini sementara keluargaku hancur berantakan."
Ia tertawa hambar, tanpa setitik pun humor.
"Keluargamu? Alessandra, mereka membakar pakaianmu dan menyebutmu jalang kemarin sore. Mereka menjualmu ke penawar tertinggi seolah kamu sepotong daging cacat. Mereka bukan lagi keluargamu. Akulah keluargamu sekarang. Dan aku menjaga apa yang jadi milikku."
Ia berdiri di belakangku, menyibak rambut hitamku untuk mengaitkan kalung itu. Jari-jarinya yang dingin menyentuh tengkukku, dan kurasakan arus listrik menjalar turun di punggungku. Ia membungkuk dan mengecup tempat di mana tanda darinya masih segar dari semalam. Tangannya turun melintasi bahuku, menyelinap ke balik seprai yang nyaris tak menutupi tubuhku, membelai kulit dadaku dengan keakraban yang membuatku terengah.
"Hari ini kita akan keluar," bisiknya di telingaku. "Kita akan ke pusat kota, masuk ke toko-toko paling mahal, dan kamu akan menghamburkan uangku di depan teman-teman ibumu. Aku ingin Bianca melihatmu dan tahu bahwa sementara dia menangisi gaun-gaunnya yang terbakar, kamu punya seluruh dunia di bawah kakimu."
"Kenapa kau sekejam ini pada mereka?" tanyaku, berbalik dalam pelukannya.
Damian menatapku dengan keseriusan yang menahan napasku.
"Karena mereka menyentuhmu. Dan di duniaku, Alessandra Smirnov, tak ada yang namanya pengampunan. Yang ada hanyalah pembalasan."
Ia menciumku dengan desakan yang tak menerima bantahan. Tangannya, yang masih samar beraroma mesiu dan parfum mahal, mencengkeram pinggulku, mengangkatku dari ranjang untuk merapatkanku ke tubuhnya yang keras. Kurasakan hasratnya membesar menekan perutku, dan meski di tengah kekacauan, meski di tengah kebakaran dan pengkhianatan darahku sendiri, aku pun menginginkannya. Aku ingin tersesat dalam dirinya agar tak perlu memikirkan asap yang mengepul dari pelabuhan.
Ia membawaku kembali ke kasur, mengabaikan pakaian baru yang berserakan di lantai. Kali ini berbeda. Tak ada amarah pelindung seperti semalam, melainkan gairah yang lambat, penuh nafsu memiliki, hampir seperti seorang ahli bedah. Ia meluangkan waktu menyusuri setiap lekuk tubuhku dengan lidahnya, berhenti di pahaku, membelai pinggulku dengan pemujaan yang membuatku merasa bagai dewi alih-alih orang buangan.
"Berteriaklah, Alessandra. Biar sampai ke mansion ayahmu mereka dengar bagaimana kujadikan kamu milikku," geramnya di antara kedua kakiku sebelum kembali memilikiku dengan kekuatan yang membuatku kehabisan napas.
Erangannya berbaur dengan erangku di dalam loft yang senyap. Setiap hentakan adalah satu paku lagi di peti mati kehidupan lamaku. Aku bergelayut pada bahunya yang bertato, menancapkan kukuku di punggungnya, merasa akhirnya ada seseorang yang benar-benar melihatku. Ia tak melihat sang pewaris, tak melihat "si gendut" yang selalu dicela ibuku, ia melihat perempuan yang mampu membalas tatapan sang iblis.
Ketika kami selesai, matahari sudah tinggi. Aku berbaring di dadanya, mendengar jantungnya berdetak dengan ketenangan yang menakutkan.
"Damian..." gumamku.
"Hmm?"
"Bagaimana kalau ayahku mencoba sesuatu lagi? Dia takkan tinggal diam."
Damian membelai rambutku, jari-jarinya menjerat simpul-simpul hitam yang kusut. Tatapannya terpaku ke langit-langit, dingin dan penuh perhitungan.
"Biar saja dia coba. Setiap kali dia mengangkat tangan melawanmu, akan kupotong satu jarinya. Saat dia menyadari kesalahannya, takkan tersisa apa pun untuk menudingmu."
Sore itu, kami keluar. Aku berjalan menyusuri jalan utama dengan menggandeng lengan Damian Smirnov, mengenakan batu delima di leherku dan gaun yang harganya melebihi gaji setahun para pegawai ayahku. Kami berpapasan dengan orang-orang yang dulu menyapaku, tetapi kini menundukkan pandangan dengan ketakutan. Lalu, kulihat dia.
Bianca baru saja keluar dari sebuah butik, matanya merah dan bengkak, sambil menggandeng lengan ibuku yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Saat matanya beradu dengan mataku, kulihat kebencian, tetapi juga kulihat ketakutan. Mereka melihat mobil hitam itu, melihat para pria bersenjata yang mengikuti kami dari jarak aman, dan yang terpenting, melihat tangan Damian yang bertengger penuh nafsu memiliki di punggung bawahku.
Aku tak mengatakan apa pun pada mereka. Tak perlu. Senyumku, sarat oleh rasa percaya diri yang seumur hidup mereka coba rampas dariku, sudah cukup.
Kami kembali ke loft dan gairah kembali meledak, seolah kebencian yang kami terima di jalanan tadi adalah bahan bakar yang kami butuhkan. Tetapi malam itu, sementara Damian tertidur di sisiku dengan satu tangan masih di perutku, aku merasakan tikaman keraguan yang pertama. Apakah aku kabur dari satu penjara hanya untuk masuk ke penjara yang lain? Ataukah ini memang nasib para perempuan yang mencintai pria seperti Smirnov?
Aku tak tahu bahwa jawabannya baru akan datang berbulan-bulan kemudian, saat "imperium" yang ia janjikan padaku berubah menjadi medan perang, dan aku harus melarikan diri dengan sebuah rahasia dalam kandunganku, kabur dari pria yang telah memberiku segalanya, hanya untuk kutemukan bahwa ia pun mampu merampas segalanya dariku.