Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.
Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?
#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Amanda menatap Tira. “Maksudmu?”
“Aku delapan tahun menunggu Dimas. Dan sekarang aku sadar, mungkin yang paling menyakitkan bukan kehilangan orang yang kita cintai. Yang paling menyakitkan adalah menyadari bahwa selama ini kita menunggu seseorang yang sebenarnya tidak pernah benar-benar berusaha mendapatkan kita.”
Amanda merasa tenggorokannya tercekat. “Tir...”
“Hm?”
“Kalau...” Amanda berhenti. “Kalau kamu masih mencintai Dimas, apa kamu benar-benar bisa menikah dengan Fahri?”
Tira terdiam cukup lama. “Aku tidak tahu.” Ia tersenyum sedih. “Tapi aku akan mencoba.”
“Kalau ternyata setelah menikah kamu masih mencintai Dimas?”
“Mungkin aku harus belajar melepaskan.” Tira menatap sahabatnya. “Karena kalau aku terus menunggu Dimas, aku akan menghabiskan hidupku untuk sesuatu yang tidak pernah pasti.”
Amanda menunduk. Ia ingin mengatakan bahwa ia memahami perasaan itu. Terlalu memahami, bahkan. Tetapi ia tidak berhak.
“Kamu juga harus belajar memilih, Man,” kata Tira lembut. “Kalau Arga sudah datang berkali-kali, mungkin sudah waktunya kamu berhenti mencari alasan untuk menunda.”
Amanda mengangguk pelan. “Iya, sih Tir." meski nada bicaranya masih penuh keraguan.
Tira memeluknya sekali lagi. “Aku doakan kamu bahagia.”
Setelah Tira pergi, Amanda tetap duduk sendirian di meja itu. Kata-kata sahabatnya terus berputar di kepalanya. Berhenti mencari alasan untuk menunda. Amanda menatap cincin di jarinya. Hampir dua tahun cincin itu melingkar di sana. Hampir dua tahun Arga menunggu. Dan selama itu pula Dimas tetap menjadi bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Ponsel Amanda tiba-tiba bergetar di atas meja. Satu pesan masuk. Nama pengirimnya membuat seluruh tubuh Amanda menegang. Dimas.
Hanya satu kalimat, [Kita perlu bicara.]
Amanda menatap layar lama sekali. Kemudian ia memejamkan mata. Ternyata bahkan setelah ia mengusir Dimas pagi tadi, lelaki itu masih belum benar-benar pergi dari hidupnya. Dan Amanda mulai takut bahwa mungkin masalah sebenarnya bukan apakah Dimas akan mengejar Tira. Masalahnya adalah apakah Amanda sendiri akan pernah cukup berani untuk benar-benar melepaskan Dimas.
***
Sepulang kerja, Tira baru saja keluar dari gedung kantornya ketika langkahnya terhenti. Di seberang jalan, seorang lelaki berdiri bersandar pada mobil berwarna hitam. Kemejanya masih rapi, tetapi wajahnya tampak berbeda dari biasanya. Tidak ada senyum santai, tidak ada sikap seolah semuanya baik-baik saja.
Dimas berdiri seperti seseorang yang sudah menghabiskan berjam-jam untuk memikirkan apa yang hendak dikatakannya, tetapi tetap tidak menemukan kalimat yang cukup tepat.
Tira mengenal lelaki itu terlalu baik untuk tidak menyadari kegelisahan di matanya. “Dimas?”
Dimas langsung berjalan mendekat. “Bisa bicara sebentar?”
Tira menggenggam tali tasnya lebih erat. “Untuk apa?”
“Tolong.” Hanya satu kata sambil menangkupkan kedua tangannya di depan.
Tira hampir tidak pernah mendengar Dimas memintanya dengan nada seperti itu. Biasanya Dimas selalu yakin. Selalu merasa Tira akan mengerti. Selalu menganggap apa pun yang terjadi di antara mereka pada akhirnya akan kembali seperti semula. Tetapi sore itu, untuk pertama kalinya, Dimas terlihat takut. “Aku mau pulang,” kata Tira.
“Aku antar.”
“Nggak perlu.”
“Tira...”
“Aku sudah bilang, aku mau pulang.” Tira menegaskan dengan nada suara agak tinggi sehingga membuat orang-orang yang lalu-lalang pulang kerja melihat ke arah mereka. Lagian Dimas maksa banget!
Dimas menahan napas. “Lima menit saja.”
Tira menatapnya lama. Ia tahu seharusnya ia pergi. Tetapi delapan tahun bersama membuat tubuhnya masih mengenali suara lelaki itu, masih mengenali tatapan itu, masih menyimpan kebiasaan lama untuk memberikan kesempatan. Akhirnya Tira mengangguk. “Lima menit.”
Mereka berdiri agak jauh dari keramaian. Dimas membuka mulut, tetapi beberapa detik tidak ada suara yang keluar. Tira menunggu. “Batalkan pernikahanmu,” katanya akhirnya.
Tira membeku. Ia tidak menyangka kalimat pertama yang keluar dari mulut Dimas adalah itu. “Apa?”
“Batalkan.” Dimas menatapnya. “Jangan menikah dengan Fahri. Tolong ya Tir, ingat bagaimana kita saling mencintai dan itu sudah jalan delapan tahun." Dimas berusaha melakukan manipulasi.
Tira mengembuskan napas pelan. “Kenapa?”
“Karena aku masih mencintaimu.”
Tira menunduk. Kalimat itu adalah kalimat yang selama delapan tahun ingin didengarnya. Berkali-kali. Tetapi anehnya, ketika akhirnya Dimas mengucapkannya, hatinya tidak lagi berlari seperti dulu. “Aku tahu kamu mencintaiku,” jawab Tira. “Kalau tidak, kamu tidak akan bertahan delapan tahun.”
“Kalau begitu, kenapa kamu tetap mau menikah?”
“Karena mencintai seseorang dan berani menikahinya ternyata dua hal yang berbeda.” Tira menatapnya. “Aku sudah meminta kamu melamarku, Mas.”
“Aku tahu, tapi tolong kah Tira, masa cinta kita kalah begitu saja.”
“Aku bahkan memberikan pilihan. Aku bilang, kalau kamu tidak datang melamarku, kita selesai. Dan kamu tidak melakukan apa-apa.” Suara Tira tetap tenang, tetapi matanya mulai berkaca-kaca. “Sekarang setelah aku benar-benar menerima lamaran orang lain, kamu datang dan meminta aku membatalkannya?”
Dimas mengangguk. “Iya.”
“Kenapa baru sekarang?”
Dimas menundukkan kepala. “Karena aku takut. Aku takut kehilangan kamu. Dari dulu cuma kamu Tir, perempuan yang aku suka. Sumpah!" Dimas menarik napas panjang. “Selama ini aku selalu berpikir kamu akan tetap ada. Aku pikir kita bisa menikah nanti. Aku pikir kalau aku belum siap sekarang, kamu akan mengerti. Aku pikir... delapan tahun cukup untuk membuatmu bertahan.” Ia tersenyum pahit. “Ternyata aku salah.” Tira tidak mengatakan apa-apa. Dimas melanjutkan, “Waktu kamu bilang mau putus, aku kira kamu cuma marah. Waktu kamu bilang dua minggu, aku pikir kamu akan berubah pikiran. Tapi ketika kamu memberikan undangan itu...” Suaranya tercekat. “Aku baru sadar kamu benar-benar pergi.”
“Dimas, kamu ... Aghhhh” Tira benar-benar kesal, ia sampai meremas kedua tangannya sekeras mungkin.
“Aku nggak siap melihat kamu menikah dengan orang lain.”
“Aku juga dulu tidak siap melihat hubungan kita tidak punya masa depan.”
Dimas terdiam. “Aku minta maaf.”
“Maaf untuk apa?”
“Untuk semuanya.”
"Yaelah!" Tira menepuk jidatnya. “Semuanya terlalu luas.” emosinya benar-benar sudah tidak tertahan. Laki-laki ini maunya apa sih? Ia sudah berada di sisinya selama delapan tahun tapi tak ada kepastian juga sampai sekarang, siapa yang sanggup?
Dimas menatapnya. “Untuk membuatmu menunggu. Untuk tidak memberimu kepastian. Untuk selalu mengatakan nanti. Untuk menganggap kamu akan selalu ada.”
Tira menahan air mata. “Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?” Dimas menggeleng. “Aku tidak pernah meminta kamu menjadi lelaki paling sempurna. Aku cuma ingin kamu berani.”
Dimas memejamkan mata. “Aku tahu.”
“Fahri datang kepadaku ketika aku sedang lelah. Dia datang bersama keluarganya. Dia bicara kepada Ayah. Dia mengatakan niatnya dengan jelas. Itu namanya menghargai perempuan, nggak kayak kamu yang cuma bisa membuatku menunggu. Kamu tau nggak sih, gara-gara kamu aku sampai mau pacaran diam-diam, berharap lulus kuliah, habis dapat kerja kamu datang ke rumah ketemu ayahku, tapi kamu pengecut, kamu nggak punya nyali. Aku jadi sangsi dengan cinta kamu.” Tira mengusap air matanya. “Aku bahkan belum mencintai dia tapi aku lebih mempercayakan masa depanku padanya!”