Azarin mengira, setelah ia melahirkan anak, Fajar akan bersyukur dan menganggapnya istri.
Namun semua harapan itu hancur setelah ia mendengar percakapan suami dan Ibunya.
Fajar, tidak pernah menganggapnya istri. Baginya hadirnya Mia dalam hidupnya adalah aib. Dan akan membuang Mia dengan dalih kecelakaan.
Mendengarnya Azarin langsung lemas. Ia pun memutuskan untuk kabur malam itu juga, dan tidak lagi mengharapkan belas kasih Fajar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dean sang serigala
"Disaat aku berusaha untuk bangkit, kau dengan tega menikahi wanita yang kau pilih. Apa pada saat itu kau ingat aku, Mas?!"
"Apa kau ingat mantan istrimu yang menyedihkan ini, hah?! Sekarang kau tau sifat asli istri keduamu, lalu kalian bercerai dan sekarang kau baru bilang menyesal?! Terlambat mas terlambat!"
"Aku benci melihatmu! Pergi kau dari hadapanku! Pergi!"
Dean melotot saat Azarin langsung menampar pipi Fajar kuat. Tidak hanya itu, ia bahkan menendang dan menjejak dada Fajar membabi buta.
Pria itu segera menarik Azarin mundur. Sementara wanita itu terus memberontak sekuat tenaga untuk memukulnya.
Sementara Fajar, ia hanya bisa berlutut dan merunduk lemah. Menangis pun tidak akan ada maaf lagi untuknya. Azarin benar-benar membencinya. Ia pun tak ada keinginan membela diri. Semua yang Azarin lontarkan itu benar. Ia memang laki-laki brengsek yang hanya menyesali keterlambatan.
"Lebih baik kau pergi, Fajar." ucap Dean nyaris susah payah menenangkan Azarin.
Pria itu berdiri dari keterpurukannya lemah. Merunduk dengan putus asa. Ia bahkan tak berani menatap muka Azarin saking malunya ia dengan kelakuannya sekarang.
Namun sebelum kaki ini melangkah pergi, Fajar melirik Azarin intens, "Maafkan aku, Azarin. Setidaknya aku sudah menyesali perbuatanku. Memaafkan ku atau tidak, itu hak-mu. Permisi."
Setelah Fajar pergi, barulah Azarin bisa lebih tenang. Tubuhnya terduduk seketika dengan tangis membuncah, bersama Dean yang selalu setia memeluknya.
Dean rengkuh tubuh lemah Azarin seraya mengelus pucuk kepalanya pelan. Sementara tatapannya terpaku pada sosok Fajar yang terus melangkah menghilang dari balik pintu kaca.
"Hufft." helaan nafas lelah terdengar lirih di bibir Dean.
Ia tidak mengira akan sepecah ini keadaannya. Azarin datang di waktu yang tidak seharusnya. Ia pun bingung apa yang nanti ia sampaikan saat calonnya ini sudah lebih mendingan.
"Hikss...dia fikir luka batin ini akan sembuh?! Dia tidak tau seberapa dalam luka yang ia tancapkan di dadaku." rintih Azarin sesak, "Jika saja aku hidup di dunia dimana HAM belum di sah-kan, sudah ku bunuh dia sedari awal."
Merinding langsung tubuh Dean. Sejak kapan kelincinya ini pandai mengancam dan membunuh? Haihh....disaat sedih seperti ini pun dia terlihat menggemaskan.
"Azarin bangkit sayang. Sini."
Dengan lembut Dean bantu Azarin berdiri, memapahnya menuju sofa samping meja kerja miliknya.
Ia sandarkan kepala Azarin di bahunya, memijit dahi wanita itu lembut.
"Gimana, apa kamu sudah lebih mendingan?"
Azarin buka matanya perlahan, menatap kosong meja kaca di depannya. Sebelum akhirnya menoleh mendongak menatap wajah Dean yang lebih tinggi di atasnya.
"Apa nanti saat menikah mas juga akan meninggalkanku?"
Pertanyaan Azarin mengejutkan Dean, "Mana mungkin sayang."
Azarin balik menatap ke depan lesu, memanyun kecil, "Jika mas nanti berubah seperti Mas Fajar. Aku tidak mau menikah."
Dean terkekeh kecil, menoel hidung Azarin gemas, "Kelinci ini, sejak kapan kamu jadi nethingan begini sama mas hm?"
Azarin memanyun, memeluk pinggang Dean erat.
"Janji yah."
Dean tersenyum tipis, menarik dagu Azarin mendongak, lalu mengecup bibir Azarin sekilas, "Janji."
Azarin peluk Dean semakin erat, mendusel gemas di dada pria itu. Membuat Dean terkekeh geli.
"Apa sekarang kau sudah puas menggodaku?"
Azarin mendongak seraya memanyun kecil, mengerlingkan matanya manja, "Tidak, aku sedang menghukummu."
Dean sugarkan rambutnya ke belakang seraya menyeringai tipis. Tak sadar pertumbuhan Azarin yang pemalu secepat ini menjadi bringas.
Dean tarik tengkuk leher Azarin mendekat, nyaris saja hidung mereka saling bersentuhan. Seringaian tipis Dean cukup membuat Azarin menegang. Sedikit menyesal dengan keberaniannya tadi.
"Ak-aku hanya bercanda."
Baru saja Azarin bangkit, tiba-tiba pinggangnya di tarik dari belakang, jatuh tepat di pangkuan Dean.
"Setelah menggodaku sekarang kau berfikir untuk kabur, hm? Kamu sudah membangunkan serigala yang lapar, Azarin."
Wanita itu palingkan wajah tegang, mencoba mendorong dada Dean yang semakin menempel.
"Mas...aku cuma bercanda aku mo—mhhh!"
Telat, Dean sudah lebih dulu menjatuhkan tubuhnya pada sofa, menindihnya dari atas lalu mengecup bibirnya intens.
"Serigala adalah hewan setia, Azarin. Namun n*fsunya juga tinggi saat masa estrus datang. Kau tau resikomu menggodanya kan?"
Bisikan Dean penuh akan n*fsu. Namun juga memabukkan. Semakin lama kecupan itu turun perlahan. Menyusuri setiap inci tubuh Azarin tanpa absen. Jejak merah terpampang jelas di l*her Azarin.
"Masmh—ini, geli...."
Azarin dorong perlahan wajah Dean dari dadanya. Membuat pria itu menghela karena aksinya di hentikan.
"Mas...ini belum waktunya." cicit Azarin gemetar, menatap Dean ngeri.
Ia tidak mengira Dean yang biasanya ramah dan lembut, bisa berubah menjadi hewan buas yang begitu beringas merenggut dirinya. Bahkan ia tak segan-segan menarik tali kerah baju miliknya yang menjuntai, nyaris saja di lepas paksa.
Dean tatap Azarin intens, menyatukan keningnya dengan kening Azarin lembut, memejam dalam.
"Mas akan selalu ada untukmu, sayang. Kau adalah alasan mas sendiri hingga sekarang."
Azarin pun memejam, seraya mendengarkan bisikan demi bisikan menenangkan pria di depannya.
Dean buka mata perlahan, menatap wajah wanita di bawahnya dengan tatapan hewan buas yang haus akan kasih itu.
Ia kecup pipi Azarin dalam, dan lama. Seolah ingin merasakan lebih lama daging kenyal itu membelai lembut bibirnya.
"Azarin." bisik Dean di telinga wanita itu, membuat bulu kuduk Azarin meremang seketika.
"I-iya..." cicitnya gugup.
Dean belai pipi Azarin hingga rahang, menarik dagunya cepat. Menatap intens bibir merah muda itu dengan seringaian tipis.
"Ada satu hal yang belum kamu tau."
Mendengar itu bola mata Azarin mengerjab, hendak bangkit namun Dean segera menahannya.
"Apa itu, mas?"
Dean kecup bibir Azarin lembut, sedikit menekan l*dahnya dengan jempol hingga mulut nya terbuka. Ia tatap ke dalam dimana baris demi baris gigi Azarin terpampang, dengan langit-langit yang ia lihat dengan jelas.
Fikiran kotor kembali bergerilya di dalam otaknya, segera menarik tangannya dari bibir Azarin cepat. Lalu bangkit dari aksinya menindih.
"Tidak jadi."
Memanyun lah Azarin disitu. Ia sudah antusias mendengarnya, Dean malah menarik kata-kata nya kembali.
"Tapi mas udah bikin aku penasaran." rengek wanita itu, menarik-narik lengan Dean memohon.
Pria itu terdiam sejenak. Jika Azarin tau kalo dia itu adalah senior yang dulu ia selamatkan, apa—Azarin masih mengingatnya?
Dean menoleh, menatap manik mata sendu itu intens.
"Azarin."
"Hmm?"
"Sebenarnya mas sudah kenal kamu lebih dari 7 tahun yang lalu."
Mendengar itu membola Azarin dibuatnya, semakin mencondongkan wajahnya di hadapan Dean.
"Benarkah?" senyum manis merekah di bibirnya, "Apa itu artinya mas sudah tau aku di awal kita ketemu?"
Dean tatap Azarin seraya tersenyum, mengangguk kecil.
"Kamu cinta pertama, sekaligus penyelamatku, Azarin."
lanjuut thor.....