Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.
Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.
Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.
Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 : Waktu bukan alasan
Mobil hitam itu berhenti di sebuah lahan terbuka yang sunyi. Hamparan tanah luas terbentang tanpa penanda, seolah tempat ini sengaja dilupakan. Pintu mobil terbuka hampir bersamaan, dan kedua pria itu turun ke tanah yang lembap. Cahaya lampu mobil menyapu sekeliling untuk sesaat, lalu lenyap ketika mesin dimatikan, meninggalkan kegelapan yang menelan segalanya.
Nathan melirik ke samping. Theodore berdiri diam, menatap lurus ke depan. Tatapannya tenang, namun ada sesuatu di balik mata itu dengan tajam, waspada. Ekspresi wajahnya tak berubah, terlalu rapi untuk dibaca, membuat Nathan tak yakin apakah pria itu sedang berpikir… atau sudah menarik kesimpulan.
“Apa langkah kita selanjutnya?” tanya Nathan akhirnya, memecah hening.
Theodore tidak menjawab.
Ia melangkah maju, meninggalkan Nathan, bergerak menuju kegelapan seolah sudah tahu ke mana harus pergi. Alis Nathan mengerut. Ia menatap punggung pria itu sejenak sebelum menghela napas pendek dan mengikutinya.
Beberapa meter kemudian, langkah Nathan terhenti. Matanya membelalak.
Di balik pepohonan dan semak liar yang tumbuh tak beraturan, sebuah gudang tua berdiri nyaris menyatu dengan hutan. Dindingnya tertutup lumut, atapnya merendah seperti membungkuk menahan usia. Keberadaannya begitu tersembunyi hingga siapa pun yang lewat tak akan mengira ada bangunan di tempat ini, seakan gudang itu tidak pernah benar-benar ada di dunia.
Nathan menoleh ke arah Theodore yang masih diam, menatap bangunan itu dengan sorot penuh kecurigaan.
“Tidak heran,” gumam Nathan pelan. “Mereka bisa menutupi semuanya dengan mudah.”
Ia menyapu pandangan ke sekitar. “Tempatnya saja sudah mendukung seseorang melakukan dosa tanpa saksi.”
Rahangnya mengeras. “Apalagi menyembunyikan kematian.”
Theodore tidak menanggapi. Ia kembali melangkah, semakin mendekati gudang. Matanya bergerak cepat, memeriksa sekeliling, menangkap detail-detail kecil yang mudah terlewat. Ia berhenti tepat di depan pintu besar gudang itu.
Kayu pintunya rapuh dan dipenuhi debu, jelas tak sering disentuh. Theodore menarik napas dalam, bersiap menghadapi bunyi kayu berderit atau perlawanan engsel tua saat ia mendorongnya.
Namun pintu itu terbuka dengan mudah.
Pintu terbuka lebar tanpa suara berarti. Alis Theodore mengerut. Ada yang tidak beres.
Nathan menyusul dan menyentuh bahu Theodore dengan ringan. “Kalau kejadian ini sudah lewat beberapa hari,” katanya ragu, “apa memeriksa tempat ini tidak akan sia-sia? Semua bukti pasti sudah dihilangkan.”
Theodore meliriknya. Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba, ia membuka suara.
“Bahkan jika sudah berlalu sepuluh atau dua puluh tahun,” ucapnya tenang, datar, “tempat ini tetap harus diperiksa.”
Ia kembali menatap ke dalam gudang. “Waktu bukan alasan penderitaan seseorang dianggap selesai.”
Nathan terdiam. Ia melangkah masuk beberapa langkah, lalu berhenti.
“Gelap sekali,” katanya. “Bagaimana kita memeriksanya? Kita cuma berdua.”
Ia menghela napas, lalu menambahkan, seolah baru teringat, “Biasanya gudang punya lampu. Meski cuma satu.”
Tangannya meraba dinding yang kotor dan lembap. Beberapa detik kemudian, jari-jarinya menemukan sakelar. Ia menekannya.
Lampu di tengah gudang berkedip. Sekali. Dua kali. Cahaya redup itu berjuang melawan gelap sebelum akhirnya menyala penuh, menerangi ruangan.
Dan saat itulah, napas Theodore dan Nathan seakan berhenti bersamaan.
Di tengah gudang, sesuatu terbentang... pemandangan yang membuat perut mereka bergejolak, rasa mual naik ke tenggorokan, dan malam itu terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.
"Sialan, apa-apaan itu?" ucap Nathan terkejut.