Indonesia
NovelToon NovelToon
Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jadwal Baru — Waktu untuk Anak

Matahari baru saja mengintip dari ufuk timur, menyebarkan cahaya keemasan yang lembut di atas atap rumah-rumah kecil di perumahan yang tenang itu. Jam menunjukkan pukul lima pagi, dan di dalam rumah Su Wan, suasana sudah mulai bergerak pelan namun pasti. Su Wan bangun lebih awal dari biasanya, bukan karena Xiaoqi harus sekolah lebih pagi, tapi karena ada sesuatu yang baru — sesuatu yang selama lima tahun tidak pernah ada di rutinitasnya: seseorang yang akan datang, seseorang yang akan berbagi beban, seseorang yang akan menjadi bagian dari hari mereka.

Ia berdiri di depan kompor, menyiapkan sarapan — bubur gandum dengan potongan buah kesukaan Xiaoqi, telur dadar yang dipotong bentuk bintang, dan susu hangat. Tangan kanannya mengaduk bubur perlahan, sementara tangan kirinya sesekali meremas ujung celemek, tanda bahwa di balik ketenangan yang ia tunjukkan, ada kegelisahan yang masih menyelinap. Hari ini adalah hari pertama Yicheng benar-benar masuk ke dalam rutinitas harian mereka. Hari pertama di mana ia tidak lagi sendirian mengurus segala hal sendirian. Dan itu terasa asing — asing namun entah bagaimana, sedikit lebih ringan.

Pintu depan diketuk pelan, tepat pukul enam lewat tiga puluh — tidak lebih awal, tidak terlambat. Su Wan menarik napas dalam-dalam, membuka pintu, dan melihat Yicheng berdiri di sana, berpakaian rapi namun sederhana, tidak setegas biasanya, wajahnya segar namun matanya sedikit cemas, seakan takut kalau ia datang di jam yang salah atau melakukan sesuatu yang mengganggu. Di tangannya ada tas belanja berisi buah-buahan segar dan roti, serta kotak bekal yang cantik berwarna biru muda.

"Selamat pagi," sapa Yicheng pelan, suaranya rendah namun jelas, tidak berusaha terlalu keras untuk terdengar akrab. "Aku tidak terlambat, kan? Aku sudah mengecek jam berkali-kali di mobil."

Su Wan tersenyum tipis, mengangguk, membukakan pintu lebih lebar agar ia bisa masuk. "Tidak terlambat. Tepat waktu. Masuklah. Sarapan hampir siap."

Yicheng melangkah masuk perlahan, seakan takut menginjak lantai rumah itu terlalu keras, takut merusak keseimbangan yang sudah ada di sini selama bertahun-tahun. Ia meletakkan tas belanja di meja dapur, lalu menatap sekeliling — ruang tamu yang sederhana, dinding penuh gambar Xiaoqi, meja makan kecil yang selalu terlihat rapi, aroma makanan yang hangat dan menenangkan. Ini rumah tempat anaknya tumbuh, tempat Su Wan berjuang sendirian, tempat di mana ia seharusnya berada sejak awal. Hati Yicheng terasa penuh dan sekaligus perih — rasa syukur dan penyesalan bercampur menjadi satu, membuatnya ingin melakukan segala sesuatu dengan benar, dengan penuh hati-hati, seakan mengurus sesuatu yang paling rapuh sekaligus paling berharga di dunia.

"Aku membawa beberapa buah dan roti," katanya sambil mengeluarkan barang-barang dari tas, gerakannya pelan dan tidak berlebihan. "Aku tidak tahu apa yang kalian suka, jadi aku beli yang segar-segar. Kalau tidak cocok, katakan saja, lain kali aku akan beli yang lain."

Su Wan melihat kotak bekal biru muda yang diletakkannya di meja, tersenyum kecil. "Terima kasih. Itu bagus. Xiaoqi pasti suka warnanya."

Yicheng tersenyum lega, seakan pujian sederhana itu sudah cukup untuk membuat paginya sempurna. "Aku senang. Aku pikir… setiap hari aku bisa menyiapkan bekalnya, kalau kau mengizinkan. Supaya kau tidak terlalu lelah. Aku bisa membelikan bahan-bahannya, atau bahkan menyiapkannya sendiri di rumahku dan membawanya ke sini. Terserah kau, yang penting kau tidak perlu memikirkan hal itu lagi."

Su Wan berhenti sejenak, menatapnya. Tawaran itu sederhana, tapi maknanya besar — Yicheng ingin mengambil alih sebagian beban yang selama ini ia pikul sendirian, tanpa diminta, tanpa mengharapkan pujian, hanya ingin membantu. Ada kehangatan kecil yang menyentuh hatinya, namun ia tetap berhati-hati, tidak ingin terlalu cepat merasa nyaman. "Kita bisa bergantian. Kadang aku, kadang kau. Supaya tidak membebani salah satu dari kita. Dan kalau kau menyiapkannya, kirimkan saja foto daftar menunya malam sebelumnya, supaya aku tahu Xiaoqi tidak alergi terhadap apa pun dan tidak ada makanan yang ia benci. Dia agak pemilih soal makanan."

Yicheng mengangguk cepat, mengeluarkan ponsel dan mencatat di catatan dengan teliti. "Baik, bergantian. Setiap malam aku kirimkan menu untuk besok. Dan apa makanan yang dia benci? Apa yang harus aku hindari? Tuliskan saja, supaya aku tidak salah beli."

Su Wan melihat kesungguhan di matanya — ia tidak sekadar ingin terlihat membantu, ia benar-benar ingin tahu, ingin belajar, ingin melakukan hal yang benar. Ia menyebutkan makanan yang Xiaoqi tidak suka, makanan yang harus dihindari, cara memotong buah yang benar agar Xiaoqi mau memakannya, dan kebiasaan kecil lainnya. Yicheng mencatat semuanya, tidak ada satu pun yang terlewat, seakan itu adalah tugas paling penting dalam hidupnya — dan baginya, memang begitu.

Setelah sarapan siap, mereka berdua berjalan ke kamar Xiaoqi untuk membangunkan anak itu. Yicheng berhenti di ambang pintu, membiarkan Su Wan masuk lebih dulu, memberi ruang, tidak ingin terlihat mendesak. Su Wan berjalan ke tepi tempat tidur, mengusap rambut Xiaoqi dengan lembut. "Xiaoqi, bangun sayang. Hari ini kau harus sekolah. Dan lihat siapa yang datang pagi ini."

Xiaoqi membuka matanya perlahan, masih mengantuk, lalu melihat Yicheng berdiri di pintu. Matanya langsung terbuka lebar, seketika segar, wajahnya bersinar penuh kegembiraan. "Ayah! Kau datang!"

Yicheng berjalan mendekat, duduk di tepi tempat tidur, tersenyum lembut melihat antusiasme anaknya. "Ayah datang untuk mengantarmu sekolah, seperti yang Ayah janjikan. Ayah tidak terlambat, kan?"

"Tidak! Tepat sekali!" Xiaoqi langsung bangun dari tempat tidur, melompat turun, memeluk pinggang Yicheng erat. "Aku senang sekali Ayah datang! Semua teman-temanku akan iri melihat Ayah mengantarku!"

Su Wan tersenyum melihat mereka, lalu mengambil seragam dan perlengkapan mandi Xiaoqi. "Sudah, sekarang mandi dulu, lalu pakai seragam. Ayah dan Ibu menunggu di luar."

Di dapur, saat Xiaoqi sedang mandi, Yicheng dan Su Wan mulai menyusun jadwal — hal yang paling penting, hal yang akan menjadi fondasi kehadiran Yicheng dalam hidup mereka. Mereka duduk di meja makan, mengeluarkan kertas dan pulpen, menuliskan jam demi jam, hari demi hari, membangun struktur yang jelas, yang melindungi semua pihak, yang memberi kepastian bagi Xiaoqi.

"Baiklah," kata Su Wan, memegang pulpen, menatap Yicheng dengan serius namun terbuka. "Mari kita buat jadwal yang jelas. Supaya tidak ada kebingungan, supaya Xiaoqi tahu kapan ia akan bertemu Ayah, supaya kau juga bisa mengatur pekerjaanmu dengan baik. Kita mulai dari hari Senin sampai Jumat dulu."

Yicheng mengangguk, siap mendengarkan, siap menyesuaikan diri — bukan mendikte, tapi mengikuti kebiasaan yang sudah terbentuk. "Silakan. Kau yang sudah terbiasa dengan jadwalnya. Katakan padaku apa yang biasa dilakukan, dan aku akan menyesuaikan waktuku agar bisa masuk ke dalamnya tanpa mengganggu."

Su Wan mulai menuliskan rutinitas harian Xiaoqi: bangun jam enam, mandi, sarapan jam enam lewat tiga puluh, berangkat sekolah jam tujuh, pulang sekolah jam satu siang, istirahat dan makan siang, belajar atau bermain, sore hari bermain atau kursus, mandi sore, makan malam jam enam, membaca buku atau belajar, membaca dongeng sebelum tidur jam delapan, tidur jam delapan lewat tiga puluh.

"Jadi untuk hari kerja," lanjut Su Wan, "kau bisa datang pagi jam enam lewat tiga puluh, membantu mengantar Xiaoqi ke sekolah. Kalau kau sibuk pagi, kau bisa jemput dia pulang jam satu siang. Tapi tolong beri tahu aku malam sebelumnya kalau kau tidak bisa datang, supaya aku tidak menunggu dan supaya Xiaoqi tidak kecewa. Sore hari dari jam tiga sampai jam lima kau bisa datang bermain bersamanya, membantunya belajar, atau membawanya jalan-jalan sebentar, asalkan tidak terlalu lelah. Dan malam hari kau boleh datang jam tujuh, membacakan dongeng sebelum tidur, lalu pulang setelah Xiaoqi tertidur. Seperti yang kita sepakati — kau tidak menginap, pulang setelah dia tidur."

Yicheng mencatat semua itu dengan saksama, tidak ada satu pun yang ia protes atau minta diubah. "Baik. Pagi aku akan datang jam enam lewat tiga puluh, mengantarnya sekolah. Kalau aku benar-benar tidak bisa pagi, aku akan beri tahu malam sebelumnya, dan aku akan jemput dia pulang siang itu. Sore jam tiga sampai lima aku ada di sini. Malam jam tujuh datang, bacakan dongeng, pulang setelah dia tidur. Aku akan berusaha hadir setiap hari. Kalau ada perubahan, aku akan bilang paling lambat malam sebelumnya. Aku tidak akan membuat Xiaoqi menunggu sia-sia."

Lalu mereka menyusun jadwal akhir pekan — Sabtu dan Minggu. Di sini Su Wan memberi ruang lebih luas, karena Xiaoqi punya lebih banyak waktu luang, dan ini kesempatan bagi Yicheng untuk membangun ikatan lebih dalam.

"Sabtu pagi Xiaoqi ada kelas menggambar jam sembilan sampai jam sebelas. Kau bisa mengantar dan menjemputnya, kalau mau. Sore hari Sabtu bebas — kau bisa membawanya bermain ke taman, ke kebun binatang, atau ke mana saja yang dia suka, asal tidak terlalu jauh dan tidak terlalu lelah. Malam Sabtu kau boleh pulang lebih lambat, jam delapan atau jam sembilan, asal dia sudah makan dan mandi. Minggu pagi biasanya kita pergi ke pasar atau jalan-jalan sebentar, lalu istirahat di rumah. Kau boleh ikut, atau membawanya keluar selama beberapa jam, tapi tolong kembalikan dia sebelum jam empat sore, supaya dia bisa istirahat dan siap untuk sekolah besoknya."

Yicheng mencatat semuanya, lalu menatap Su Wan dengan tatapan penuh kesungguhan. "Aku akan ikut kelas menggambarnya setiap Sabtu pagi. Aku ingin tahu apa yang dia pelajari, melihat karyanya, bertemu teman-temannya. Sore hari aku akan bertanya padanya mau ke mana, membiarkan dia yang memilih. Minggu aku bisa ikut kalian ke pasar, atau membawanya keluar sebentar, dan aku akan mengembalikannya sebelum jam empat sore. Aku tidak akan pernah terlambat mengembalikannya, Su Wan. Kau bisa percaya itu."

Su Wan melihat keteguhan di matanya, dan untuk pertama kalinya, ia merasa yakin bahwa Yicheng benar-benar memahami pentingnya kepastian dan konsistensi — hal yang paling dibutuhkan anak, hal yang selama ini menjadi sandaran hatinya agar tidak goyang.

Lalu mereka menyusun aturan tambahan — hal-hal kecil namun penting yang menjaga ketertiban dan kenyamanan semua pihak:

- Selalu beri tahu minimal 2 jam sebelumnya jika harus membatalkan atau mengubah jadwal, kecuali keadaan darurat.

- Jangan membelikan mainan atau barang mahal tanpa membicarakannya dulu. Yang dibutuhkan Xiaoqi adalah waktu, bukan barang.

- Jangan membawa makanan yang tidak sehat berlebihan, terutama sebelum makan utama.

- Jangan mengambil Xiaoqi pergi jauh tanpa memberi tahu Su Wan sebelumnya dan memastikan keamanan serta kenyamanan anak.

- Selalu menjaga komunikasi — kabari di mana mereka berada, kapan pulang, dan bagaimana keadaan Xiaoqi.

- Jika Xiaoqi sakit atau ada hal penting di sekolah, keduanya harus hadir atau setidaknya berkomunikasi dengan jelas.

Setiap aturan itu dibicarakan bersama, tidak ada yang dipaksakan, tidak ada yang ditolak tanpa alasan. Yicheng menerima semuanya dengan rendah hati, karena ia tahu aturan ini bukan untuk membatasinya — melainkan untuk melindungi Xiaoqi, melindungi Su Wan, dan melindungi hubungan mereka yang sedang dibangun perlahan dari nol.

"Dan satu hal lagi," tambah Su Wan pelan, namun tegas, menatap Yicheng agar ia mengerti betul pentingnya hal ini. "Kalau kau datang, datanglah dengan sepenuh hati. Jangan sambil memegang ponsel terus-menerus, jangan sambil memikirkan pekerjaan, jangan terburu-buru ingin pergi. Xiaoqi bisa merasakan kalau kau tidak benar-benar ada. Waktu yang sedikit tapi berkualitas jauh lebih baik daripada waktu yang lama tapi terganggu. Saat kau bersamanya, jadilah benar-benar bersamanya."

Yicheng mengangguk dalam, kata-kata itu menancap di hatinya sebagai pengingat yang paling penting. "Aku mengerti. Saat aku bersamanya, ponselku akan diam. Pekerjaan akan menunggu. Karena tidak ada pekerjaan yang lebih penting daripada mendengarkan ceritanya, melihat gambarnya, mendengarkan tawanya. Aku akan ada di sana — sepenuhnya, bukan hanya tubuhku, tapi perhatianku juga. Aku berjanji."

Saat jadwal dan aturan sudah tertulis rapi di atas kertas, mereka berdua melihatnya — sebuah rencana yang jelas, terstruktur, aman. Tidak ada lagi ketidakpastian, tidak ada lagi tebakan, tidak ada lagi kebingungan. Xiaoqi akan tahu kapan Ayahnya datang, kapan Ayahnya pergi, dan bahwa Ayahnya akan kembali lagi. Itu adalah hal paling berharga yang bisa mereka berikan padanya — kepastian.

Xiaoqi berlari masuk ke ruang tamu, sudah mandi dan memakai seragam rapi, rambutnya tersisir rapi, wajahnya berseri-seri. "Ayah! Ibu! Kenapa lama sekali? Kita tidak terlambat, kan?"

Yicheng berlutut di depannya, membetulkan kerah seragamnya dengan lembut, lalu menunjukkan kertas jadwal yang sudah mereka buat. "Lihat, Xiaoqi. Ayah dan Ibu sudah membuat jadwal — kapan Ayah datang, kapan Ayah mengantarmu sekolah, kapan Ayah bermain bersamamu, kapan Ayah membacakan dongeng. Setiap hari Ayah akan ada di sini, seperti yang tertulis di sini. Tidak akan terlambat, tidak akan membatalkan tanpa alasan. Ayah akan selalu datang sesuai janji."

Xiaoqi melihat kertas itu, meskipun ia belum bisa membaca semua tulisannya, ia tersenyum lebar seakan mengerti maknanya — ada rencana, ada kepastian, ada Ayah yang akan selalu ada. "Benarkah? Setiap hari?"

"Setiap hari," janji Yicheng, mencium kening anak itu dengan penuh kasih sayang. "Dan kalau Ayah tidak bisa datang, Ayah akan bilang dulu. Ayah tidak akan pernah menghilang lagi. Jadwal ini adalah janji Ayah — tertulis, tidak akan berubah."

Su Wan berdiri di samping mereka, melihat wajah anaknya yang penuh kebahagiaan dan keyakinan, melihat Yicheng yang memegang tangan Xiaoqi dengan lembut namun tegas, dan hatinya terasa lebih tenang dari sebelumnya. Jadwal ini bukan sekadar daftar jam — ini adalah jembatan. Ini adalah cara mereka membangun keluarga kembali, bata demi bata, aturan demi aturan, dengan kesabaran dan rasa hormat.

Mereka berangkat bersama — Yicheng memegang tangan kiri Xiaoqi, Su Wan memegang tangan kanannya, berjalan beriringan menuju mobil yang diparkir di depan rumah. Xiaoqi berjalan di tengah-tengah, menengok ke kiri lalu ke kanan, tersenyum bahagia seakan ia adalah anak paling beruntung di dunia — dan memang, ia begitu. Ia memiliki Ayah dan Ibu yang berjalan bersamanya, yang memegang tangannya, yang bekerja sama demi dia.

Di dalam mobil, Xiaoqi duduk di kursi belakang di antara mereka, bercerita tanpa henti tentang sekolah, tentang teman-temannya, tentang apa yang akan ia pelajari hari ini. Yicheng menyetir dengan tenang, sesekali menoleh ke belakang untuk menjawab pertanyaan Xiaoqi, tersenyum mendengar cerita-ceritanya yang polos dan lucu. Su Wan duduk di sebelah anaknya, memastikan ia nyaman, sesekali melirik Yicheng dari kaca spion, melihat betapa alaminya ia menangani semua ini — betapa alaminya ia menjadi bagian dari mereka.

Hari ini adalah awal dari jadwal baru, awal dari rutinitas baru, awal dari kehidupan yang tidak lagi sendirian. Tidak sempurna, masih penuh batasan, masih harus berjalan pelan — tapi setidaknya mereka berjalan bersama. Dan itu, untuk saat ini, sudah cukup

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!