Indonesia
NovelToon NovelToon
KISAH CINTA YANG BERACUN

KISAH CINTA YANG BERACUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

`KISAH CINTA YANG BERACUN`

Mereka kembar identik.
Tapi hidup mereka tidak pernah sama.

Lea Anggita. Ceria, pemberani, agak ceroboh. Tumbuh berkecukupan di luar negeri bersama ibunya.

Alia Anggita. Pintar, berprestasi, pendiam. Tumbuh dalam kesederhanaan bersama neneknya setelah ayah mereka meninggal.

Satu-satunya yang menyatukan mereka: pesan tiap malam.

Sampai suatu hari, pesan dari Alia berubah.
`Aku malu, Lea. Aku nggak mau sekolah lagi.`

Pria yang Alia cintai... ternyata hanya mempermainkannya.
Menjadikannya bahan taruhan.
Dan mempermalukannya di depan satu sekolah.

Nama pria itu: *Teo Ozawa*.
PENGUASA SMA OZAWA.
TIRAN YANG SEHARUSNYA DIHINDARI, BUKAN DICINTAI.

Dan Lea tidak terima.
Jika kakaknya tidak bisa membela diri...
Maka Lea yang akan datang.
Menyamar jadi Alia.
Dan membuat Teo Ozawa membayarnya.

Masalahnya...
Bagaimana jika tiran itu... mulai jatuh cinta pada "Alia" yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23_Badai di Balik Pintu Penthouse

...BAB 23_Badai di Balik Pintu Penthouse...

Matahari pagi menyinari gedung-gedung pencakar langit Jakarta dengan cahaya menyengat, namun suasana di Ozawa School justru diwarnai oleh tanda tanya besar yang mencengkam.

Di koridor lantai dua, tepat di depan kelas 11-A, `Teo Ozawa` mondar-mandir dengan gelisah. Sudah sepuluh menit bel masuk berbunyi, tetapi kursi di barisan tengah tempat 'Alia' biasa duduk tampak kosong melompong. Tidak ada bayangan gadis berambut panjang dengan mata kembar dua yang biasanya menatapnya penuh tantangan di sana.

Teo menghentikan langkahnya, rahangnya yang tegas mengeras hingga giginya bergemelutuk. Sepanjang malam kemarin, otaknya terusik oleh bayangan tatapan dingin dan jarak wajah mereka yang terlampau dekat di koridor kemarin pagi. Aroma wangi khas gadis itu seolah masih menempel di indra penciumannya. Ia datang pagi-pagi bukan untuk merundung seperti biasa, melainkan karena rasa penasaran yang membakar dadanya. Namun, melihat bangku itu kosong, ada rasa aneh yang mencubit ulu hatinya—sebuah sensasi asing bernama kekhawatiran yang mati-matian ia sangkal.

`Apa dia sakit? Atau dia sengaja menghindariku karena takut?` batin Teo kesal, mencengkeram pagar pembatas koridor dengan jemari yang memutih.

Karena rasa penasaran yang sudah di ambang batas kewarasan, Teo akhirnya merogoh saku seragamnya, mengeluarkan ponsel pribadi, dan memutuskan untuk mengirim pesan singkat ke nomor lokal siswi beasiswa tersebut—nomor yang ia dapatkan dari data administrasi sekolah.

Jauh dari hiruk-pikuk sekolah, di dalam penthouse mewah berlantai marmer dingin, pagi yang tenang justru terasa seperti neraka yang membara bagi Lea.

Di dapur terbuka yang terhubung langsung dengan ruang tamu, `Julian`—sang milyarder global yang biasanya hanya menyentuh dokumen kontrak miliaran dolar—tampak mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung sebatas siku, sibuk memasak sarapan sederhana untuk kekasihnya. Aroma kopi hitam pekat dan telur panggang menguar di udara, menciptakan kontras yang sangat janggal dengan kepanikan luar biasa yang sedang melanda jiwa Lea di kamar mandi.

Memanfaatkan momen kesibukan Julian di dapur, Lea berjalan dengan langkah sepelan mungkin menuju kamar mandi utama. Begitu pintu terkunci rapat, ia merogoh saku piyamanya dan mengeluarkan ponsel titanium berenkripsi khusus miliknya—ponsel yang menghubungkannya dengan jaringan VVIP internasional dan `Ethan` di Melbourne.

`Buzzz... buzzz...`

Begitu layar menyala, notifikasi pesan menumpuk bagai teror bom waktu. Puluhan pesan dan panggilan tak dijawab dari Ethan membanjiri layarnya.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, Lea membuka aplikasi pesan. Jantungnya serasa copot membaca rentetan teror dari pria emosional itu:

> `"Lea.. mari bertemu. Aku janji tidak akan marah.. kita bicara baik2. Aku hanya butuh penjelasan kamu. Kamu di mana. Kirim alamatnya sekarang juga saat aku masih bisa bersabar"`

> `"Lea... jawab.. Julian itu siapa? Apa dia lebih penting dari ku? :'( "`

> `"Lea kamu bilang kamu hanya mencintaiku"`

> `"Sayang kenapa kamu berubah. Kamu sudah tidak mencintai aku lagi T.T"`

Darah Lea mendadak tersedot turun ke ujung kaki. Napasnya tercekat di tenggorokan. Bukan hanya karena nada frustrasi dan putus asa dari pesan-pesan itu, melainkan karena pesan terakhir yang masuk beberapa detik lalu:

> `"Aku sudah di Jakarta, Lea. Jangan bersembunyi."`

`Gila! Dia benar-benar terbang ke Jakarta malam-malam dan sudah sampai?!` batin Lea menjerit histeris di dalam kamar mandi.

Kaki Lea mendadak lemas, hampir membuatnya terduduk di lantai keramik yang dingin. Memberikan alamat penthouse ini kepada Ethan sama saja dengan menyalakan detonator bom atom di hadapan Julian. Jika Ethan sampai nekat mendatangi tempat ini dan berpapasan langsung dengan Julian yang posesif akut, maka bukan cuma hubungan rahasianya yang tamat, tapi nyawanya sendiri yang berada di ujung tanduk. Ia masih ingin hidup lama dan menikmati kekayaan dari para pria bodoh ini, bukan mati muda karena terjebak di tengah perang dua singa alpha.

Dengan jemari yang gemetar hebat, Lea buru-buru mengetik balasan, mencoba meredam amarah dan kepanikan Ethan sebelum semuanya terlambat:

> `Lea: "Ethan, kumohon... Jangan lakukan ini. Kamu salah paham. Aku di Jakarta karena urusan keluarga yang mendadak dan rumit. Tolong jangan cari aku, kumohon kembali ke Melbourne..."`

Tidak butuh waktu sepuluh detik, balasan langsung masuk dengan huruf kapital yang mencerminkan emosi meledak-ledak di ujung sana:

> `Ethan: "Jangan bohongi aku lagi, Lea! Aku sudah tahu semuanya! Pria bernama Julian itu... dia bersama kamu sekarang, kan?! Kirim alamatnya atau aku akan cari tahu sendiri ke seluruh apartemen mewah di Jakarta!"`

Lea menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah. Matanya membelalak ngeri saat mendengar suara ketukan lembut di pintu kamar mandi dari luar.

`"Sweetheart?"` suara berat Julian memecah kesunyian, terdengar begitu tenang namun penuh dominasi dari balik pintu. `"Makanan sudah siap di meja. Kenapa lama sekali di dalam? Kamu tidak apa-apa?"`

Kepanikan Lea mencapai puncaknya. Di luar sana ada Julian yang sedang menunggunya, dan di luar kota Jakarta ada Ethan yang sedang mengamuk membawa ancaman kehancuran.

Namun, bencana terbesar ternyata bukan hanya datang dari Ethan.

Sesaat sebelum Lea sempat menyahut panggilan Julian, di atas nakas kayu jati yang terletak di sebelah tempat tidur utama—tepat di luar area kamar mandi—ponsel lokal milik Lea yang tergeletak diam mendadak bergetar terang. Layarnya menyala terang menampilkan sebuah pesan teks baru dari pengirim yang membuat darah Lea membeku seketika.

`Bzzzt!`

Suara getaran ponsel itu memecah keheningan kamar utama.

Di luar kamar mandi, Julian yang tadinya hendak melangkah kembali ke dapur menghentikan langkahnya. Pria itu menolehkan kepala, matanya yang setajam elang menangkap pantulan cahaya layar ponsel di atas nakas.

Tanpa buang waktu, Julian berjalan mendekati tempat tidur dengan langkah tenang namun berwibawa. Ia meraih ponsel lokal milik Lea yang tergeletak begitu saja.

`Ting!`

Sebuah notifikasi pesan muncul di layar utama tanpa terkunci, dikirim oleh nomor asing yang menggunakan nama panggilan tidak biasa:

> `Teo Ozawa: "Hai murid beasiswa.. kenapa kamu tidak masuk sekolah? Apa kamu sudah menyerah mengganggu ku?"`

Seketika itu juga, suhu di dalam kamar utama penthouse itu terasa turun drastis belasan derajat.

Julian memicingkan matanya. Rahang tegas pria itu mengeras hingga garis otot di wajahnya menonjol tajam. Matanya menatap lekat-lekat nama 'Teo Ozawa' yang terpampang jelas di layar ponsel kekasihnya.

`Teo Ozawa.` Bocah SMA arogan yang sempat disinggung Lea kemarin malam sebagai target permainannya di sekolah.

Bukannya meletakkan kembali ponsel tersebut atau membiarkannya, Julian justru menunjukkan sisi posesifnya yang paling gelap. Alih-alih membalas pesan itu dengan kata-kata, ibu jari Julian yang kokoh langsung menekan tombol panggil pada kontak `Teo Ozawa`.

`Kring... kring...`

Panggilan langsung tersambung di seberang sana. Julian mendekatkan layar ponsel ke telinganya, bersiap mendengarkan suara bocah SMA yang berani mendekati milik pribadinya.

Namun, sebelum Julian sempat mengeluarkan sepatah kata pun untuk menghancurkan mental bocah bernama Teo tersebut, pintu kamar mandi terbuka dengan sentakan kasar.

Lea keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat pasi. Begitu ia melihat ponsel lokalnya berada di genggaman tangan Julian dan panggilan telepon sedang tersambung ke nomor Teo Ozawa, seluruh kesadaran Lea seolah tersengat arus listrik bertegangan tinggi.

Napas Lea tercekat. Tanpa memedulikan penampilannya yang masih mengenakan piyama tidur, Lea melompat menerjang maju dengan kecepatan kilat, merebut ponsel itu dari tangan Julian secara paksa.

`Klik!` Dengan jari yang gemetar hebat, Lea langsung memutuskan sambungan telepon sebelum Teo sempat berbicara di ujung sana.

Lea mendongak, menatap tajam pria di hadapannya dengan manik mata kembar dua yang membelalak penuh kemarahan dan rasa ngeri yang luar biasa. Ia sudah kehilangan kendali.

`"Julian!"` bentak Lea dengan suara bergetar namun tajam menusuk, dadanya naik-turun menahan emosi yang meledak-ledak. `"Aku mengizinkanmu tetap tinggal di sini, tapi bukan berarti kamu bisa merusak semua rencana dan permainanku!"`

 

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
suka cwek badasss gini
Park ha: ini versi kebalikannya kinara wkwkkw... kinara sana rian dah mau tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!