Di lima alam kultivasi yang bertingkat — Dunia Fana, Dunia Roh, Dunia Dewa, Dunia Dewa Kuno, hingga Dunia Kekosongan — seorang Kaisar Dewa gagal menembus batas tertinggi dan tubuhnya hancur menjadi debu. Namun jiwanya yang tak pernah mati terlahir kembali ke dunia fana sebagai Ye Hu, anak tertua seorang Marquis yang dicap sampah karena dantian-nya hancur akibat keracunan tiga tahun lalu.
Dengan ingatan ribuan tahun dan pengetahuan alkimia serta teknik kuno yang telah hilang dari dunia, Ye Hu bangkit perlahan. Ia menyembuhkan dantian-nya sendiri, menciptakan pil dengan kemurnian mustahil bagi siapa pun di tingkatnya, dan mengungkap pengkhianatan di dalam keluarganya sendiri —
Ini barulah awal perjalanannya, Selanjutnya dia menemui keturunan dari murid-muridnya sedang menderita di dunia dana ini. Dengan kondisi tubuh yang terbatas, Ye Hu berusaha untuk membantu buyut dari murid-muridnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan
Diluar Balai Pelelangan, Seorang gadis cantik menatap gedung itu. Itu adalah Chu Hua. Terakhir kali dalam ingatan Ye Ba, Mu Yun dari Balai Pelelangan dan Adipati mendukung Ye Hu. Jadi kemungkinan Ye Hu berada di Balai Pelelangan. Chu Hua memantau dari luar setiap pergerakan Balai Pelelangan.
Sementara di ruang pribadi Balai Pelelangan, Ye Hu duduk bersama Adipati Wu Ling, Mu Yan, dan Wu Jing. Mereka belum tahu sedikit pun tentang tragedi mengerikan yang baru saja terjadi di kediaman Keluarga Ye. Hanya ada perasaan berat di udara — karena Ye Hu tidak lagi memiliki rumah untuk pulang.
Mu Yan menatapnya dengan perhatian tulus. "Adik Ye Hu, ke mana kau akan pergi sekarang? Tidak ada tempat untukmu kembali. Jika kau bersedia, Balai Pelelangan membukakan pintu untukmu. Kau bisa bekerja di cabang mana saja yang kau inginkan, di kota mana pun di seluruh kekaisaran. Tidak perlu tetap di Kota Awan jika tempat ini tak lagi menyenangkan bagimu."
Ye Hu tersenyum tipis, tatapannya menembus jendela menuju langit biru yang luas. "Terima kasih atas kebaikanmu, Nona Mu Yan. Namun aku tidak berniat menetap di satu tempat. Aku mengejar keabadian — jalan menuju puncak kultivasi. Dunia ini terlalu kecil, dan tidak ada tembok yang mampu menahanku untuk selamanya."
Suaranya tenang namun berisi keyakinan yang tak tergoyahkan, seakan ia sedang berbicara tentang hal yang sudah pasti.
"Aku mungkin tidak akan kembali lagi ke kota Awan. " Sahut Ye Hu dengan ringan.
"Sungguh disayangkan," Mu Yan tampak tak puas "hubungan kerja kita hanya seumur jagung. "
"Jika saudara Ye membutuhkan bantuan saya, kapanpun itu... Jangan sungkan. " Adipati menambahkan.
Wu Jing yang sedari tadi diam mendekat perlahan. Matanya berkaca-kaca, ada rasa kehilangan yang mendalam di sana. "Kapan… kapan kita bisa bertemu lagi, Kakak Ye? "
Ye Hu menatap gadis itu, melihat jauh ke dalam dirinya — melihat tubuh Es yang sejak lahir mengikat potensinya, melihat kesungguhan hatinya yang murni. "Jika takdir masih mengizinkan, kita pasti akan berjumpa lagi."
Ye Hu juga merasa menyesal karena dirinya belum cukup kuat untuk mengangkat Wu Jing menjadi muridnya. karena semua muridnya Xuan Ling, memiliki tubuh istimewa.
Namun ia tidak berniat membiarkan bakat istimewa itu terbuang sia-sia. Sebelum berpisah, Ye Hu mengulurkan tangan dan meletakkan telapak tangannya perlahan di atas kepala Wu Jing. "Tetaplah diam sejenak."
Seketika itu juga, kesadaran mereka berdua beralih ke tempat lain — ke lautan jiwa yang luas dan putih bersih di dalam diri Wu Jing. Berkat teknik Jiwa yang dikuasai Ye Hu, ia mampu masuk dan berbicara langsung di ruang paling dalam dari kesadaran seseorang.
Di sana, di tengah lautan kabut putih, Wu Jing berdiri takjub melihat sosok Ye Hu di hadapannya. Tanpa banyak kata, Ye Hu mengangkat tangan dan satu prasasti bercahaya berwarna putih berkilauan perlahan turun dan menyatu ke dalam dada gadis itu.
"Ini adalah Prasasti Teknik Bunga Salju," ucap Ye Hu di dalam jiwanya. "Berlatihlah dengan giat dan tekun. Jangan pernah ceritakan teknik ini kepada siapa pun. Selain itu, usahakanlah untuk masuk ke Sekte Teratai suatu hari nanti — di sana kau bisa mempelajari Pedang Es yang sejati. Kedua hal ini akan membantumu melampaui batas tubuh Es yang kau miliki."
Wu Jing tertegun, lalu perlahan berlutut bersujud penuh rasa syukur. "Terima kasih, Tuan Ye Hu! Aku berjanji akan berlatih sekuat tenagaku. Dan suatu hari nanti… aku pasti akan mencarimu!"
Namun Ye Hu menggeleng pelan. "Jangan mencariku sebelum kau mencapai tingkat Core Formation. Saat itu tiba, jika takdir mengizinkan, kita akan saling menemukan."
Dengan itu, kesadaran Ye Hu kembali ke ruangan Balai Pelelangan. Wu Jing terbangun, air mata menetes di pipinya — bukan karena sedih, melainkan karena rasa syukur yang meluap-luap. Ia masih ingat jelas perkataan Ye Hu sebelumnya: tubuh Es-nya akan menghambat kultivasi hingga mentok di tingkat Foundation Establishment, kecuali ia menemukan pasangan bertubuh Api atau mempelajari teknik yang sesuai. Kini salah satu jalan itu telah diberikan kepadanya. Ia tidak bisa lagi mengungkapkan rasa terima kasihnya dengan kata-kata.
Dengan indera nya yang peka, Mu Yan mengetahui kalau diatas balai pelelangan ada perahu terbang. "Perahu terbang Puteri Ping Yue sudah datang. Entah sejak kapan ia menunggu di langit, namun tak seorang pun mendengar kedatangannya."
Bukan hanya Mu Yang saja, Chu Hua juga melihat dari luar akan Perahu Terbang yang besar dan megah. Begitu melihat Core Formation Ru Shun dan Foundation Estabilishment Puteri Ping Yue, Chu Hua yakin bahwa Ye Hu juga ada hubungannya.
Chu Hua dengan cepat melempar alat kecil ke arah kapal dan menempel di kapal.
Chu Hua juga mengeluarkan alat berbentuk lencana baru kecil berbentuk persegi untuk mengirim pesan.
"Semua yang dekat dengan kota awan segera mengikuti perahu terbang dengan alat penanda yang telah ku taruh dikapal. Jangan Lupa jaga jarak karena yang terkuat adalah core formation tahap menengah. "
Sementara didalam ruangan Mu Yan.
"Apakah bahan racikan sudah terkumpul semua. " Mu Yan tersenyum.
"Jangan kuatir, kakak Yan. Semua sudah berada di cincin. Terima kasih akan semua bantuan kakak selama ini dan juga Tuan Adipati. Semoga kita berjumpa lagi.
Tak lama kemudian pintu terbuka lebar, dan Ping Yue melangkah masuk dengan pakaian perjalanan yang sederhana namun anggun. Di belakangnya berdiri Ru Shun dan beberapa pengawal.
"Sudah siap?" tanya Ping Yue pelan.
Ye Hu mengangguk. Ia berbalik kepada Adipati, Mu Yan, dan Wu Jing. Ye Hu memberikan penghormatan terakhir.
"Aku akan merindukanmu Adipati Ye Hu. " Mu Yan mengatakan dengan ringan. Wu Jing terlihat tidak menyukainya.
Tanpa menoleh ke belakang, Ye Hu berjalan keluar ruangan itu, naik ke atas perahu terbang besar yang melayang di halaman Balai Pelelangan. Kapal itu perlahan naik ke langit, lalu melesat menembus awan, menjauhi Kota Awan yang perlahan mengecil di bawah mereka.
Malam harinya ada berita bahwa pengawal yang membawa Marquis Ye dan isteri belum juga datang. Adipati memerintahkan untuk memeriksanya lagi.
Keesokan paginya, Kota Awan gempar. Berita mengerikan menyebar ke seluruh penjuru kota — Keluarga Ye, kediaman Marquis Ye, seluruh anggotanya ditemukan tewas di dalam aula utama. Tidak ada jejak pertempuran, tidak ada darah, namun puluhan orang mati serentak.
Karena yang meninggal adalah petugas kerajaan maka kasus ini langsung diambil alih oleh pihak istana karena dianggap sebagai musibah yang tidak wajar dan berbahaya bagi kaum bangsawan.
Adipati Wu Ling dan Mu Yan dipanggil untuk menjadi saksi utama, karena merekalah orang terakhir yang berurusan dengan Keluarga Ye. Namun ketika petugas istana ingin memanggil satu-satunya anggota Keluarga Ye yang masih hidup — Ye Hu — ternyata ia sudah pergi. Seseorang memberitahukan bahwa ia telah dijemput oleh rombongan Puteri Ping Yue pagi sebelumnya, dan perahu terbang itu sudah hilang entah ke mana.
Di atas perahu terbang yang melayang tinggi di angkasa, Ye Hu berdiri di haluan kapal, menatap ke arah cakrawala. Ia belum tahu apa yang baru saja terjadi pada keluarganya, namun hatinya merasa tenang.
Ia tahu kalau orang yang menitipkan nya dulu pasti akan bertemu lagi. — dan ia juga tahu bahwa ia tidak perlu lagi kembali ke tempat itu.
Ping Yue mendekat perlahan. "Ku dengar kau tidak akan kembali ke kota Awan. Kau tidak menyesal pergi begitu saja? Kabar dari Kota Awan mungkin tidak baik untukmu."
"Tempat itu bukan rumahku," jawab Ye Hu lembut namun tegas. "Rumahku ada di mana pun aku berdiri. Dan tujuanku ada di depan."
"Aku sudah memeriksa data pribadi mu anak dari Marquis Ye yang dantiannya rusak lalu bisa kembali lagi. Buat orang lain mungkin mustahil tapi kata Paman Ru Shun, itu bisa saja terjadi selama gurumu adalah ahli alkemis. "
Ye Hu tersenyum.
Perahu terbang itu melesat semakin cepat, membelah awan putih menuju pegunungan kuno yang jauh di timur, tempat di mana masa lalu Ye Hu dan takdirnya akan kembali bertemu.