Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2

Ibu dan Anak, Pukul Dua-duanya

"Di kebun belakang," jawab Ratri tanpa berdiri. "Sedang diajari sopan santun."

Suryani menatapnya seolah baru saja mendengar penghinaan terbesar dalam hidupnya.

Di belakang perempuan itu berdiri enam pengawal dari kediaman pribadinya, tiga kerabat pihak ibu, dan seorang lelaki berkacamata yang masih memeluk tas kerja kulit. Pengacara keluarga, rupanya. Mereka datang begitu terburu-buru hingga dua di antara para pengawal masih mengenakan sandal rumah.

"Kau apakan Bimo?"

Ratri menyeka darah di punggung tangannya dengan kain kasa. Warna merah segera merembes melewatinya.

"Tanyakan sendiri kepadanya."

Seolah dipanggil oleh kalimat itu, jeritan Bimo kembali terdengar dari balik rumpun bambu.

"Mama! Tolong! Mereka mau membunuhku!"

Wajah Suryani langsung berubah. Ia menerobos masuk, tetapi Wira berdiri di depannya.

"Minggir!"

"Maaf, Bu Suryani."

"Kau cuma anjing bayaran. Berani sekali menghalangi saya di rumah keluarga saya sendiri!"

Wira tidak bergeser. "Perintah Nyai Ratri."

Suryani mengangkat tangan hendak menamparnya. Wira menangkap pergelangan tangannya sebelum telapak itu menyentuh wajah.

"Lepaskan!"

"Wira," panggil Ratri.

Lelaki itu segera melepaskan tangan Suryani dan mundur satu langkah.

"Biarkan dia melihat anaknya."

Dua pengawal membawa Bimo kembali ke halaman. Mereka tidak perlu memegangnya terlalu kuat. Lutut lelaki itu telah lemas, bahunya terbalut kain kasa yang memerah, dan wajahnya penuh lebam baru.

"Bimo!"

Suryani berlari memeluknya.

Bimo mengaduh keras, lalu menunjuk Ratri dengan tangan gemetar. "Dia gila, Ma. Dia memanggilku ke kamarnya. Begitu aku menolak, dia mengikatku dan mau memotong..."

Ia melirik ke bawah, tidak sanggup menyelesaikan kalimat.

"Dia mau membunuhku seperti dia membunuh Mas Baskara!"

Beberapa orang di belakang Suryani saling pandang. Pengacara keluarga mendorong kacamatanya, lalu memperhatikan Ratri dengan kewaspadaan baru.

Ratri tetap duduk.

"Sudah selesai?"

"Kau masih bisa bersikap seperti ini?" Suryani bangkit, suaranya bergetar karena marah. "Anak saya hampir mati!"

"Sayangnya hanya hampir."

"Ratri!"

"Kalau dia datang lagi ke kamar saya, hasilnya tidak akan sama."

Suryani menoleh kepada lelaki berkacamata. "Dengar sendiri ancamannya. Catat semuanya. Besok kita laporkan perempuan ini. Percobaan pembunuhan, penyekapan, penganiayaan. Masukkan semua pasal yang bisa membuatnya membusuk di penjara!"

Pengacara keluarga itu membuka mulut, tetapi tidak langsung menjawab. Matanya jatuh pada kamera di sudut pendopo, lalu pada pakaian Bimo yang koyak.

"Bu Suryani," ujarnya hati-hati, "sebaiknya kita mengetahui kronologi lengkap lebih dulu."

"Kronologinya jelas! Lihat tubuh anak saya!"

"Ada rekaman kamera," kata Ratri.

Bimo menegang.

Suryani memandang putranya. Perubahan kecil itu tidak luput dari matanya. Namun, kasih seorang ibu yang buta lebih kuat daripada kecurigaan.

"Rekaman bisa diedit. Semua orang tahu kau pengacara licik. Kau bisa membuat bukti apa pun terlihat benar."

Ratri tersenyum singkat. "Kalau begitu, laporkan. Bawa juga Bimo untuk diperiksa. Minta rumah sakit mengambil sampel darahnya. Obat yang ia masukkan ke minuman saya mungkin masih tersisa di tubuhnya sendiri. Orang bodoh biasanya mencicipi barang yang dibelinya."

Bimo memucat.

"Ma, jangan dengarkan dia. Dia cuma menggertak."

"Saya tidak menggertak." Ratri memandang pengacara keluarga itu. "Anda tahu apa yang terjadi kalau pemeriksaan menemukan obat penenang, sidik jari di gelas saya, dan rekaman dia mengunci pintu kamar."

Lelaki itu menutup tas kerjanya kembali.

"Bu Suryani, saya sarankan Den Bimo dibawa berobat dulu. Masalah lain bisa dibicarakan setelah semua pihak tenang."

"Pengecut," desis Suryani.

Ia berbalik kepada para pengawalnya. "Bawa Bimo. Kalau ada yang menghalangi, hajar sampai mati."

Enam lelaki itu bergerak serempak.

Wira memutar lehernya sekali. Bunyi sendinya berderak.

"Nyai?"

Ratri meletakkan kain kasa yang sudah merah ke meja. "Jangan bunuh. Saya sedang malas membersihkan rumah."

Perkelahian pecah.

Pengawal pertama mengayunkan tongkat pendek ke kepala Wira. Ia menunduk, menghantamkan siku ke ulu hati lawan, lalu menyapu kakinya. Lelaki itu jatuh sebelum tongkatnya menyentuh lantai.

Dua orang lain menyerbu dari sisi kanan. Para pengawal Ratri yang sejak tadi berjajar tenang akhirnya bergerak. Satu pukulan menghentikan rahang. Satu bantingan membuat punggung menghantam batu. Tidak ada teriakan perang, tidak ada gerakan sia-sia. Mereka bekerja seperti orang-orang yang sudah terbiasa menghadapi ancaman yang jauh lebih berbahaya daripada para pengawal rumah tangga.

Belum tiga menit, enam orang bawaan Suryani sudah terkapar.

Salah seorang kerabatnya mencoba maju, lalu mengurungkan niat ketika Wira menatapnya.

Suryani menarik tangan Bimo. "Kita pergi."

Wira kembali berdiri di jalur mereka.

"Minggir!" jerit Suryani.

"Belum ada perintah."

"Saya ibunya!"

"Itu bukan jawaban untuk apa yang dia lakukan."

Bimo bersembunyi setengah badan di belakang Suryani. "Lo jangan sok jago. Begitu Mas Baskara pulang, kalian semua bakal dibuang."

Ratri akhirnya berdiri.

Pandangannya kembali berkunang-kunang. Ia menahan sisi meja selama satu detik, lalu berjalan seolah tak terjadi apa-apa.

"Mbak Ratri," Bimo buru-buru mengubah panggilannya saat perempuan itu mendekat. "Sudahlah. Aku juga sudah dihukum. Kita anggap impas."

"Impas?"

"Kau sudah menusuk dan memukulku. Mama cuma mau membawaku berobat."

Suryani merangkul bahu putranya. "Kau lihat? Anakku masih mau berdamai meski kau hampir membunuhnya."

"Mengharukan sekali."

Ratri berhenti di hadapan mereka.

"Ibu dan anak saling melindungi. Saya kagum."

Bimo mengangguk cepat, salah mengira itu jalan keluar. "Benar. Jadi suruh Wira minggir."

"Karena begitu kompak," lanjut Ratri, "kalian dihukum bersama saja."

Tangannya melayang.

Tamparan pertama mendarat di pipi Suryani.

Plaak!

Kepala perempuan itu terlempar ke samping. Anting mutiaranya jatuh dan menggelinding di antara darah serta pecahan porselen.

Sebelum siapa pun sempat bereaksi, Ratri berbalik dan menampar Bimo tepat pada bagian wajah yang belum lebam.

Bimo tersungkur.

"Kau... kau menampar saya?" Suryani menyentuh pipinya dengan tangan gemetar. "Saya ibu mertuamu!"

"Dan dia adik ipar saya." Ratri memandang Bimo di lantai. "Kalian berdua rupanya lupa batas."

"Perempuan tidak tahu diri!" Suryani hendak menerjang, tetapi Wira menahan bahunya. "Dasar anak tak tahu asal-usul! Tidak ada ibu yang mengajarimu tata krama. Pantas perempuan yang melahirkanmu memilih mati daripada melihat wajahmu!"

Langkah Ratri berhenti.

"Ambil cambuk," katanya.

Seorang pengawal masuk ke ruang penyimpanan di sisi pendopo.

Suryani masih belum menyadari bahwa udara di halaman telah berubah. "Saya akan datang ke kuburan ibumu besok. Saya injak makam perempuan sial itu. Kalau perlu saya bongkar tanahnya, saya buang tulangnya ke selokan supaya tidak ada lagi yang bisa kau ziarahi!"

Pengawal kembali membawa cambuk kulit berwarna hitam.

Ratri menerimanya dengan tangan kanan.

Darah dari tangan kirinya menetes ke gagang cambuk. Wajahnya tetap pucat, tetapi sesuatu di matanya telah padam, menyisakan ketajaman yang membuat Wira perlahan melepaskan bahu Suryani.

Ratri membuka gulungan cambuk itu.

Ujung kulitnya jatuh ke lantai dengan suara pelan.

Lalu ia berjalan menuju Suryani.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!