Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Reuni

Empat hari setelah malam di kantor polisi, Keira menerima dua kabar sekaligus.

Kabar pertama datang melalui petugas yang menangani laporannya. Bukti CCTV, pesan, dan keterangan saksi dinyatakan cukup untuk memproses tindakan Ricky. Setelah pemeriksaan dan jalur cepat untuk pelanggaran yang terbukti, pria itu dikenai penahanan beberapa hari serta denda. Pengelola Sanggar Bahasa Cerdas juga memberhentikannya karena menyalahgunakan data staf paruh waktu.

Kabar kedua berupa pesan dari Tante Ida di grup penghuni lantai delapan.

Kalau ada tamu asing mengikuti penghuni masuk, jangan dibukakan akses. Keamanan perempuan adalah urusan bersama.

Tidak ada lagi sindiran tentang anak muda yang keluar masuk unit lawan jenis. Sebaliknya, beberapa tetangga mengirim makanan dan menanyakan keadaan Keira. Omongan yang semula membuatnya sesak kini berbalik menjadi pagar perlindungan.

Keira menunjukkan pesan itu kepada Reynard saat sarapan.

"Tante Ida minta maaf lagi semalam."

"Bagus."

"Kamu masih marah?"

Reynard mengoleskan selai ke roti tanpa melihatnya. "Aku nggak marah sama Tante Ida."

Keira tahu persis siapa yang masih membuatnya marah. Bekas merah di pergelangan tangannya sudah berubah kekuningan, tetapi setiap kali Reynard melihatnya, rahangnya mengeras.

"Kasusnya selesai," kata Keira. "Aku aman."

"Aku tahu."

"Berarti jangan pasang wajah mau membunuh orang."

Reynard akhirnya mengangkat kepala. "Aku nggak akan membunuh siapa pun. Repot urusannya."

Keira tertawa, dan untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, tawa tersebut tidak terasa dipaksakan.

***

Sabtu berikutnya, Reynard pergi menghadiri reuni kecil angkatan SMA Kristen Kasih Bangsa. Acara dimulai di sebuah kafe di Jakarta Barat. Begitu ia datang, Rendy Setiawan langsung merangkul bahunya.

"Gila, Rey. Baru beberapa minggu nggak ketemu, badanmu tambah jadi. Tinggal di mana sekarang? Gym dua kali sehari?"

"Dekat kampus," jawab Reynard.

Anton Kusuma menunjuk kausnya. "Dekat kampus sama siapa? Katanya unit Cici-mu ada di situ juga."

"Banyak tanya."

Cindy Oei yang duduk di ujung meja tersenyum kecil. "Dia makin pendiam, ya. Dulu saja sudah susah diajak ngomong."

"Sekarang lebih parah," sahut Rendy. "Chat dibalas tiga jam kemudian. Kalau soal tugas baru cepat."

Reynard membiarkan mereka menggodanya. Setelah berminggu-minggu mengurus kepindahan dan menyesuaikan hidup dekat Keira, mendengar suara teman lama terasa menyenangkan. Ia ikut tertawa ketika Anton membongkar foto kelulusan buruk Rendy, dan untuk sesaat bahunya benar-benar santai.

Namun setiap kali ada yang bertanya siapa perempuan yang sering muncul di unggahan makanannya, Reynard mengalihkan pembicaraan.

"Itu yang masak siapa?" Cindy bertanya. "Kelihatannya bukan makanan pesan antar."

"Aku."

Tiga orang menatapnya tidak percaya.

"Bohong," kata Rendy.

"Serius."

"Sejak kapan?"

Reynard mengambil minum. "Sudah lama belajar."

Ia tidak menyebut untuk siapa ia belajar. Nama itu disimpan rapat di belakang giginya.

Setelah makan, rombongan berpindah ke Golden Star KTV. Musik keras, lampu warna-warni, dan teriakan teman-teman membuat suasana cepat panas. Mereka bermain tebak lagu. Yang salah harus meneguk minuman dari gelas kecil di meja.

Di sela permainan, Cindy duduk di sebelah Reynard dan menyodorkan air mineral. "Pelan-pelan. Kamu dari dulu nggak kuat minum."

"Aku baik-baik saja."

"Wajahmu sudah merah."

Rendy bersiul dari depan layar. "Perhatian banget, Cin."

Cindy segera menarik tangan, sedangkan Reynard menerima botol itu hanya untuk meminumnya sampai habis. Ia mengucapkan terima kasih dengan sopan, tidak lebih. Keira muncul tanpa diminta di kepalanya, mengingatkannya pada cara perempuan itu menaruh obat dan air di depan mata setiap kali ia terlihat lelah.

"Nah, giliran Rey pilih tantangan," kata Anton. "Telepon orang terakhir yang bikin kamu senyum hari ini."

Jari Reynard berhenti di atas ponsel. Pesan terakhir dari Keira hanya foto makan malam dengan komentar masakan hari ini delapan dari sepuluh. Namun ia sudah membaca pesan itu berkali-kali.

"Aku pilih minum," katanya.

Sorakan memenuhi ruangan. Cindy menunduk pada botol di tangannya, dan Anton menyimpan reaksi kecil itu dalam ingatan tanpa ikut menggoda.

Reynard kalah dua kali karena tidak mengenali lagu lama. Tegukan ketiga datang setelah Rendy sengaja mengganti judul. Tegukan keempat dipaksakan Anton karena Reynard menolak menjawab pertanyaan tentang orang yang disukainya.

"Sebut inisial saja," desak Anton.

"Nggak ada."

"Kalau nggak ada, minum."

Reynard seharusnya berhenti. Ia jarang minum, lambungnya mudah bereaksi, dan kepalanya sudah terasa ringan. Namun bayangan bekas cengkeraman di tangan Keira kembali muncul. Disusul ingatan tentang Keira yang gemetar di pelukannya dan kalimat aku takut yang masih mengganggu tidurnya.

Ia menghabiskan gelas itu.

Satu jam kemudian, Cindy dan Rendy pulang lebih dulu karena searah. Teman-teman lain menyusul sedikit demi sedikit. Anton kembali dari toilet dan menemukan Reynard bersandar di sudut sofa dengan mata terpejam.

"Rey? Kita pulang."

Tidak ada jawaban.

Anton menepuk pipinya pelan. Reynard membuka mata setengah, lalu menggumamkan sesuatu.

"Apa?"

"Ci Kei..."

"Siapa?"

"Jangan takut. Aku di sini."

Anton mengangkat alis. Ini jelas bukan kalimat untuk kakak biasa. Ia mencoba membuat Reynard berdiri, tetapi tubuh tinggi itu hanya bertahan beberapa detik sebelum jatuh lagi ke sofa.

"Hebat. Minum sedikit langsung tumbang."

Ponsel Reynard tergeletak di meja. Anton membukanya dengan sidik jari pemilik yang setengah sadar dan mencari kontak keluarga. Di bagian paling atas daftar WhatsApp ada satu nama yang dipasangi tanda favorit.

Ci Kei.

Foto profilnya memperlihatkan perempuan yang pernah Anton lihat samar dalam unggahan makanan Reynard. Tanpa banyak berpikir, ia menekan tombol panggil.

***

Di Meranti Park, Keira baru selesai memeriksa tugas murid Sanggar Bahasa Cerdas. Ia sudah memakai piyama dan berniat tidur awal ketika nomor Reynard muncul di layar.

"Tumben," gumamnya sebelum mengangkat. "Halo?"

"Ini Ci Kei?"

Keira langsung duduk tegak. Suara di ujung sana bukan milik Reynard.

"Iya. Siapa?"

"Aku Anton, teman SMA Reynard. Maaf mengganggu. Rey mabuk dan kami nggak bisa bikin dia berdiri lama. Yang lain sudah pulang. Bisa tolong jemput di Golden Star?"

Suara musik dan seseorang yang menggumamkan namanya terdengar dari jauh.

"Dia minum sebanyak apa?"

"Nggak banyak buat ukuran kami. Banyak buat dia. Aku bisa antar sampai depan, tapi keluargaku juga sudah datang menjemput."

Keira sudah bangkit sebelum Anton selesai menjelaskan. Ia mengambil jaket, dompet, dan kartu akses.

"Jangan biarkan dia minum lagi. Kirim lokasi persisnya. Aku berangkat sekarang."

"Siap. Oh iya, Ci..."

"Apa?"

Anton melirik Reynard yang masih menggumamkan nama yang sama.

"Nggak jadi. Cepat datang saja."

Keira memutus sambungan, memesan mobil, lalu berlari ke pintu sambil mengenakan jaket. Di seberang lorong, unit 8A gelap dan kosong.

Untuk pertama kalinya, ia sadar betapa terbiasa dirinya mengetahui Reynard ada hanya sejauh beberapa langkah.

Sekarang cowok itu mabuk di tempat lain, memanggil namanya tanpa sadar.

Keira meraih gagang pintu dan melangkah keluar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!