Indonesia
NovelToon NovelToon
Hi My Lord

Hi My Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu susu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______

"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______

Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.

Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.

Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.

Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#19

Suasana di dalam Aula Utama Kediaman Kerajaan terasa bagaikan ruang eksekusi yang kedap udara. Udara dingin membeku menyelimuti pilar-pilar granit tinggi yang menjulang di bawah pendar lampu gantung kristal.

Pintu kayu jati berukir setinggi empat meter dikunci rapat dari dalam, dijaga oleh pengawal pribadi paling terpercaya. Tidak ada pelayan, tidak ada menteri, dan tidak ada pihak luar yang diizinkan melangkah mendekati area tersebut.

Ini adalah sidang rahasia internal—sebuah pertemuan mendadak yang dipimpin langsung oleh penguasa tertinggi Istana Blackwood.

Di atas takhta kayu cendana berukir lambang singa emas, Raja Alistair Blackwood duduk tegap dengan raut wajah yang menggelap bagaikan langit sebelum badai.

Di sampingnya, Ratu Baxeena berdiri dengan dada yang naik turun memburu, berusaha keras mempertahankan sisa-sisa wibawa kerajaannya meski guratan kekecewaan dan kemurkaan yang mendalam terpatri jelas di paras cantiknya.

Pangeran Arthur berdiri di sisi kanan meja panjang. Pria tegap berseragam militer lengkap itu mengepalkan jemarinya di samping paha, matanya menyipit tajam menatap dua wanita yang duduk di hadapan mereka.

Arthur sepenuhnya bingung, rahangnya mengetat kaku. Ia sama sekali tidak memahami pusaran kegilaan apa yang baru saja meledak di Sayap Barat hingga sang ibu menyeret mereka semua ke dalam ruang sidang tertutup ini.

Di hadapan keluarga inti kerajaan, Savea duduk di kursi kayu berukir dengan tubuh yang bergetar hebat. Wajahnya yang pucat pasi nampak kontras dengan balutan gaun mewahnya.

Sementara di sampingnya, Snow duduk dengan posisi yang teramat tenang dan anggun. Jemari Snow bertaut rapi di atas pangkuan, menundukkan kepalanya dalam gestur patuh yang diperhitungkan secara sempurna.

"Jelaskan padaku..." suara Raja Alistair menggelegar rendah, bergema di seluruh ruangan yang sunyi senyap. "Apa arti dari semua kekacauan memalukan ini, Dixie Savea Lopez?"

Savea menyapu keringat dingin di dahinya dengan saputangan sutra yang basah.

Paranoia dan ketakutan mendadak merayapi seluruh sel tubuhnya. Begitu efek obat penenang dan ledakan emosinya mereda di bawah tatapan intimidatif sang Raja, Savea baru menyadari betapa fatalnya lubang menggali yang baru saja ia ciptakan sendiri.

Mengakui bahwa Ocean bukan darah daging Arthur di depan umum adalah aksi bunuh diri yang bisa mencabut seluruh gelar, perlindungan, dan kedudukannya sebagai Duchess Blackwood.

"Y-Yang Mulia... Ayah... Ibu..." suara Savea bergetar hebat, matanya bergerak liar mencari kebohongan yang paling masuk akal. "Demi Tuhan... saya mohon ampun. Apa yang terjadi di pelataran tadi pagi... semuanya adalah kekhilafan saya akibat tekanan emosional yang tak tertahankan."

Ratu Baxeena melangkah maju satu tapak, tatapan matanya menembus tepat ke retina Savea. "Kekhilafan?! Kau berteriak di depan belasan pelayan bahwa Pangeran Ocean bukan cucuku! Kau menuduh suami dan ibu susu ini melipatgandakan pengkhianatan di belakangmu! Apakah itu yang kau sebut kekhilafan, Savea?!"

"Saya... saya sungguh kurang beristirahat belakangan ini, Ibu!" cicit Savea, air mata buayanya mulai menetes melintasi pipinya yang memerah. Ia meremas gaunnya, bersilat lidah demi menyelamatkan posisinya. "Pikiran saya gelap... saya mengonsumsi obat tidur terlalu banyak semalam hingga ilusi dan halusinasi merusak akal sehat saya. Saya merasa terabaikan... saya merasa cemburu yang berlebihan hingga melemparkan tuduhan tanpa dasar pada Snow dan Pangeran Arthur. Saya tidak sadar dengan apa yang saya ucapkan!"

Ratu Baxeena menghembuskan napas berat, menggelengkan kepalanya dengan raut kekecewaan yang mendalam. Sebagai seorang Ratu, Baxeena sama sekali tidak bisa menerima alasan murahan tersebut.

Menantunya yang berasal dari keluarga elit terpandang ini kini bertingkah bagaikan wanita tak berpendidikan, melontarkan kata-kata vulgar di halaman terbuka, lalu dengan mudahnya bersilat lidah menyalahkan obat penenang begitu disidang oleh keluarga.

"Kau benar-benar mengecewakanku, Savea," ucap Ratu Baxeena dingin, nadanya sarat akan penyesalan karena telah merestui pernikahan ini tiga tahun lalu. "Tingkah lakumu makin hari makin tak terkendali. Kau tidak hanya merendahkan martabatmu sendiri, tapi juga mencoreng kehormatan keluarga ini di hadapan para pelayan!"

Arthur yang berdiri menyimak perdebatan itu hanya bisa mengepalkan tangannya makin erat. Kepala Arthur serasa mau pecah oleh ketidakjelasan ini.

Mengapa Savea harus berteriak dan mengaku bahwa Ocean bukan putranya?

Arthur mengingat dengan sangat jelas rentetan peristiwa satu tahun yang lalu: Savea yang histeris ingin memiliki keturunan, proses medis rahasia bayi tabung yang mereka jalani tanpa sepengetahuan keluarga kerajaan untuk menghindari skandal medis, hingga kelahiran Ocean dari rahim Savea—atau begitulah yang dipercayai oleh Arthur selama ini.

Bagi Arthur, tindakan Savea pagi tadi adalah puncak dari kegilaan tanpa batas.

Raja Alistair menghentakkan tangannya ke atas meja kayu, mengakhiri perdebatan emosional tersebut dengan satu keputusan tegas.

"Cukup!" tegas sang Raja. "Demi menjaga kerahasiaan dan martabat keluarga ini, rahasia mengenai ucapan Savea pagi tadi tidak boleh bocor keluar dari ruangan ini satu kata pun! Siapa pun pelayan yang mendengar kekacauan tadi akan dipindahkan ke wilayah perbatasan sore ini juga!"

Sang Raja lalu menatap Savea dengan pandangan dingin yang menghancurkan. "Dan kau, Savea... kau dilarang keluar dari Sayap Timur selama satu bulan penuh. Obat-obatanmu akan disita dan diperiksa oleh dokter kerajaan. Jika kau sekali lagi membuat skandal memalukan seperti ini, aku sendiri yang akan mencabut gelar Duchess dari namamu!"

Savea menunduk dalam-dalam, menelan bulat-bulat kejahatan dan kepahitannya sendiri. "Baik... Yang Mulia..."

"Mengenai Snow," lanjut Raja Alistair menatap ibu susu yang masih membisu di samping Savea. "Ia hanya menjalankan tugasnya dan menjadi korban dari histeria ini. Snow akan tetap menjalankan tugasnya mengasuh Ocean di bawah pengawasan ketat."

Snow membungkuk secara anggun. "Terima kasih atas keadilan Anda, Yang Mulia Raja."

Sidang tertutup itu dibubarkan dengan ketegangan yang masih membakar udara.

••••

Begitu pintu kamar pribadi mereka di Sayap Timur tertutup rapat dan terkunci dari dalam, topeng ketenangan Arthur pecah sepenuhnya.

Pria tegap itu berbalik kasar, menatap Savea yang sedang bersandar pada daun pintu dengan tubuh yang gemetaran.

"Kau benar-benar sudah gila, Savea!" desis Arthur dengan suara rendah yang amat berbahaya, melangkah mendekati istrinya bagaikan macan tutul yang siap menerkam.

"Arthur... dengarkan aku dulu..." bisik Savea ketakutan, merapat pada pintu.

"Dengarkan apa?!" bentak Arthur, urat-urat di lehernya menegang rapat. "Bagaimana mungkin putra yang kau lahirkan sendiri... putra yang kau dapatkan melalui proses bayi tabung rumit yang kita sepakati itu... tiba-tiba kau sebut sebagai anak orang lain di depan umum?!"

Deg.

Jantung Savea berhenti berdetak sesaat. Penglihatan di matanya mendadak kabur oleh ketakutan yang teramat sangat. Kalimat Arthur menghantamnya bagaikan godam besar. Arthur masih berpikir bahwa Ocean lahir dari rahimnya melalui prosedur medis resmi! Arthur tidak pernah tahu bahwa bayi mereka Savea sebenarnya telah meninggal!

"Kau tahu betapa bahayanya ucapan gila dari mulutmu itu?!" lanjut Arthur dengan raut wajah hancur dan jijik yang teramat pekat. "Hanya karena rasa cemburu butamu kau tega melemparkan kotoran paling busuk ke wajah keluargaku! Kau berteriak bahwa Ocean bukan darah dagingku!"

Tubuh Savea makin bergetar hebat. Keringat dingin mengucur deras melintasi pelipisnya. Ia tidak bisa membocorkan fakta bahwa Ocean lahir dari rahim Snow, karena jika Arthur tahu, Arthur akan menyelidikinya.

"Jika sekali lagi..." Arthur memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata Savea yang dipenuhi keputusasaan, "...kau melemparkan tuduhan gila itu pada Ocean atau menyentuh Snow dan Pelayan Yang lain, aku tidak akan peduli lagi pada janji pernikahan atau hukum kerajaan. Aku sendiri yang akan menyeretmu keluar dari istana ini dengan tangan telanjangku!"

Arthur menghentakkan kakinya keras, membalikkan badan dan membuang napas penuh kejijikan sebelum menerjang keluar dari kamar mereka, membanting pintu dengan kekuatan yang sanggup meretakkan bingkai kayu.

Brak!

Savea merosot perlahan di balik pintu, berlutut di atas karpet mahal dengan deru napas yang terengah-engah. Isak tangis ketakutan dan frustrasi akhirnya pecah dalam keheningan kamar.

"Dia tidak tahu..." bisik Savea dengan suara tercekik, jemarinya meremas dadanya yang terasa sesak luar biasa. "Arthur tidak tahu bahwa anak itu... anak itu lahir dari rahim wanita itu..."

Di sudut Sayap Barat yang sepi, Snow berdiri di dekat jendela kamar Ocean, menatap pemandangan taman luar. Sebuah senyuman tipis yang sarat akan kemenangan dan kejamnya pembalasan dendam terukir sempurna di paras cantiknya.

Roda catur telah bergerak persis seperti yang diskenariokannya. Savea kini terjebak di dalam penjaranya sendiri—teraniaya oleh kebohongannya sendiri, dicurigai oleh keluarga kerajaan, dan makin digilas oleh kegilaannya yang kian mendekati jurang kehancuran.

1
Astrid Kucrit
ocean minta adik tuhh 😂😂
Astrid Kucrit
menikah jugaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: yeayyy🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
akhirnya snow menikah jg🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren raja
Astrid Kucrit
yukk nikah yukk
Astrid Kucrit
yeeaayyyyyyy akhirnyaaaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di tunggu besok
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
ya kk lanjut besok ditunggu up nya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Ranita Rani
q kurang paham waktu mundur dlm crta ini,,,,
Ranita Rani
ocean umur brp sih
Rosdianah 🌷: Ocean umur dua bulan sebelumnya ya kak
total 1 replies
Astrid Kucrit
siap2 kaget tur arthur
Rosdianah 🌷: Gedubrak dia🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan berpikir buruk dulu arthur
Astrid Kucrit
silahkan bermimpi savea
Leo
Bener2 cerita yg keren, selalu bikin penasaran
Rosdianah 🌷: ikutin terus cerita nya kak🤭
total 2 replies
Yusry Ajay
savea ga waras..🤔
Rosdianah 🌷: author silent 🤭🤣
total 1 replies
Leo
Bener2 gila nihh savea
Rosdianah 🌷: mau digetok 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan termakan bualan istrimu
Rosdianah 🌷: nah kasih tau 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
tunggu tanggal mainnya wanita gila
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
semoga ocean tidak jadi tumbal,kasian Thor 😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🫶
total 1 replies
Leo
Ceritanya keren gak sabar nunggu lanjutnya
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!