Indonesia
NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mentari dan Janji

Cahaya matahari pagi bulan September merayap masuk secara perlahan lewat celah-celah tirai beludru abu-abu di kamar tidur utama penthouse pribadi Victor Thorne. Udara pagi kota pelabuhan Rotterdam terasa sejuk, namun atmosfer di dalam kamar tersebut justru dipenuhi oleh selimut kehangatan yang begitu pekat dan menenangkan.

Freya Zivanka membuka matanya perlahan. Ia mengerjap beberapa kali, menyesuaikan pandangannya dengan cahaya lembut yang menerobos masuk. Hal pertama yang ia lihat saat kepalanya menoleh adalah sosok pria yang selama ini menjadi pusat dari seluruh dunianya—Victor Thorne.

Pria itu masih terlelap dalam tidurnya yang sangat pulas. Wajah tegas yang biasanya memancarkan aura dingin, dominan, dan penuh kekuasaan kini tampak begitu damai. Rambut hitamnya sedikit berantakan di atas bantal, dan satu lengan kokohnya masih melingkar erat di pinggang telanjang Freya, seolah pria itu bahkan tidak ingin melepaskannya meskipun dalam alam bawah sadar.

Sebuah senyuman tipis yang tulus dan penuh kebahagiaan terukir di bibir Freya. Ia memandangi wajah Victor lekat-lekat, mengenang kembali setiap kata cinta yang diucapkan pria itu semalam, serta bagaimana badai gairah yang menyatukan jiwa dan raga mereka berhasil meruntuhkan seluruh keraguan di hatinya.

Namun, ketika Freya mencoba menggerakkan tubuhnya untuk beranjak dari tempat tidur, sebuah sensasi nyeri yang cukup tajam mendadak menghantam bagian bawah tubuhnya.

Aduch...

Freya meringis pelan, menggigit bibir bawahnya untuk menahan desisan agar tidak membangunkan Victor. Sisa-sisa kehebatan dan keganasan permainan semalam masih meninggalkan rasa pegal dan ngilu yang luar biasa di setiap persendian ototnya. Durasi panjang dan intensitas tinggi yang mereka lalui membuat tubuh mungilnya benar-benar kelelahan.

Dengan sangat hati-hati, Freya mengangkat tangan kokoh Victor dari pinggangnya, menggantinya dengan sebuah bantal empuk sebagai penopang, lalu merayap turun dari ranjang secara perlahan. Ia menyambar jubah mandinya yang berserakan di lantai, mengenakannya dengan gerakan pelan, lalu melangkah ke luar kamar menuju dapur untuk menyiapkan secangkir air hangat.

Di belahan kota Rotterdam yang lain, suasana damai pagi hari sama sekali tidak ditemukan di dalam unit apartemen mewah milik Annelise Van Der Bilt.

Sinar matahari pagi yang cerah justru terasa bagaikan terik api neraka bagi wanita itu. Di atas ranjang kusut berseprai satin merah, Annelise terbangun dengan kepala berdenyut hebat dan tenggorokan kering. Seluruh persendian tubuhnya terasa remuk redam, sisa dari pergumulan panjang yang berlangsung sepanjang malam.

Di sampingnya, Winston masih mendengkur pelan, tidur dengan posisi telungkup tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh atletis paruh bayanya.

Annelise terduduk kaku di tepi ranjang. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang, sementara kedua tangannya mencengkeram kepalanya sendiri. Matanya membelalak lebar, menatap kosong ke arah dinding kamar. Ingatan semalam berkelebat kencang di benaknya—bagaimana ia salah mengenali pria, bagaimana ia menyerahkan diri kepada Winston dalam pengaruh obat feromon, dan bagaimana ia berulang kali memanggil nama Victor di pelukan orang lain.

Namun, di tengah rasa jijik, amarah, dan kehinaan yang menghantam batinnya, sebuah ketakutan yang jauh lebih besar mendadak mencengkeram jantung Annelise hingga ia hampir berhenti bernapas.

Pil kehamilan...

Wajah Annelise langsung pucat pasi. Bola matanya berputar panik. Semalam, karena amarah yang membakar dan rencana licik yang berantakan, ia sama sekali lupa untuk meminum pil pencegah kehamilan darurat. Mengingat intensitas hubungan intim yang terjadi berulang-ulang tanpa pengaman sepanjang malam bersama Winston, probabilitas terjadinya pembuahan sangatlah tinggi.

"Tidak... tidak mungkin..." bisik Annelise gemetar, air mata ketakutan tumpah seketika membasahi pipinya.

Jika ia sampai hamil, dan anak yang dikandungnya adalah anak dari pria hidung belang seperti Winston—bukan dari garis keturunan keluarga Thorne—maka kehormatannya akan hancur lebur dalam seketika. Keluarga besar Van Der Bilt akan membuangnya, masyarakat elit Netherlands akan mencemoohnya, dan impian seumur hidupnya untuk bersanding dengan Victor Thorne akan terkubur selamanya di dalam kubangan skandal paling memalukan di dunia bisnis Eropa.

Annelise menatap tajam ke arah Winston yang masih tertidur pulas. Kebencian luar biasa bergemuruh di dadanya, bercampur aduk dengan rasa panik luar biasa yang membuatnya ingin berteriak histeris di tengah kesunyian pagi itu.

Kembali ke penthouse megah di pusat kota Rotterdam, aroma harum kopi hitam panggang segar menguar lembut ke seluruh ruangan.

Freya berdiri di dekat pulau dapur marmer, mengenakan jubah mandi satin putih sambil menunggu air di teko elektrik mendidih. Ia sedikit meregangkan otot bahunya yang masih terasa pegal, namun senyuman kecil tidak pernah lepas dari bibirnya. Kejadian semalam telah mengubah dinamika hubungannya dengan Victor ke level yang jauh lebih dalam. Mereka bukan lagi sekadar bos dan gadis kontrak; mereka adalah dua jiwa yang saling terikat oleh perasaan cinta yang sesungguhnya.

Tiba-tiba, sebuah sepasang tangan kekar melingkar hangat di pinggang rampingnya dari arah belakang. Dagunya bersandar lembut di atas bahu Freya, disusul oleh hembusan napas hangat di dekat lehernya.

"Pagi, Maan," suara bariton Victor terdengar serak khas baru bangun tidur, namun begitu menenangkan di telinga Freya.

Freya tersenyum, menyandarkan punggungnya pada dada bidang Victor. "Pagi, Victor. Kau sudah bangun? Kenapa tidak tidur lebih lama lagi?"

Victor mengecup lembut leher jenjang Freya sebelum membalikkan tubuh gadis itu agar menghadap langsung kepadanya. Pria itu mengenakan celana bahan hitam tanpa baju, menampilkan dada bidang dan otot perutnya yang terpahat sempurna. Sorot mata birunya menatap lekat wajah Freya dengan kelembutan luar biasa yang tidak pernah dilihat orang lain di dunia luar.

"Bagaimana aku bisa tidur lebih lama jika wanita yang kucintai sudah menghilang dari sisiku?" ucap Victor pelan, tersenyum tipis. Tangannya terulur merapikan helaian rambut Freya yang berantakan di dahi. "Apa badanmu masih sakit karena ulahku semalam?"

Wajah Freya langsung merona merah padam hingga ke pangkal telinganya. Ia memukul pelan dada Victor dengan tangan mungilnya. "Kau ini... tahu persis apa yang kau perbuat semalam! Kau benar-benar keterlaluan, Victor Thorne."

Victor tertawa kecil—sebuah tawa renyah yang sangat langka dan berharga. Ia menarik Freya semakin merapat ke dalam pelukannya. "Aku tidak menyesal sedikit pun, Maan. Malam tadi adalah malam terbaik dalam hidupku, karena aku tahu kau sepenuhnya milikku."

Freya mendongak, menatap manik mata biru Victor dengan penuh keyakinan. Ia melingkarkan tangannya di leher pria itu. "Ya, aku milikmu, Victor. Dan kau juga milikku."

Sementara kemesraan menyelimuti pagi hari di penthouse Victor, di lantai dasar gedung parkir privat, Markuz berdiri bersandar pada kap mobil sedan hitam sambil melipat tangan di depan dada. Di hadapannya, berdiri seorang agen intelijen lapangannya yang membawa sebuah tablet pemantau digital.

"Bagaimana situasi di apartemen distrik utara?" tanya Markuz dingin tanpa basa-basi.

"Sesuai rencana, Tuan Markuz," jawab sang agen melapor cepat. "Winston sudah meninggalkan apartemen tersebut pagi-pagi sekali melalui pintu darurat belakang tanpa disadari siapapun. Sementara Nyonya Annelise... yah, informan kami melaporkan bahwa wanita itu sedang mengalami kepanikan hebat di dalam kamarnya. Ia tampak sangat ketakutan."

Markuz menyunggingkan senyuman tipis penuh kepuasan di bibirnya. "Bagus. Biarkan dia merasakan akibat dari permainannya sendiri. Wanita itu mengira ia bisa mempermainkan orang lain sesuka hatinya, tapi ia lupa bahwa keluarga Thorne tidak pernah bermain-main dalam hal pembalasan."

"Apakah kita perlu melaporkan hal ini langsung kepada Tuan Victor?" tanya agen tersebut.

Markuz menggelengkan kepalanya tegas. "Tidak perlu. Biarkan Tuan Victor menikmati hari-hari bahagianya bersama Nona Freya. Urusan dengan Annelise biarkan berjalan secara alami. Kita hanya perlu mengawasi dari jauh untuk memastikan jalannya kehormatan keluarga tetap aman."

Kembali ke ruang tengah penthouse, Freya dan Victor duduk berdampingan di sofa besar menghadap pemandangan pagi kota Rotterdam yang membentang luas. Secangkir teh hangat dan roti panggang tersaji rapi di atas meja marmer di hadapan mereka.

Victor menggenggam tangan Freya erat-erat, menyelipkan jemarinya di sela-sela jemari gadis itu.

"Maan," ucap Victor dengan nada suara yang mulai serius namun tetap lembut. "Mulai hari ini, aku ingin kau dan keluargamu berhenti hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Rumah di Oud-Zuid sudah aman, penjagaan diperketat, dan ibumu serta Steven bisa hidup dengan tenang. Dan untukmu... kau tidak perlu lagi kembali ke apartemen lamamu. Tempatmu adalah di sini, bersamaku."

Freya menatap mata Victor, merasakan gelombang ketulusan dan perlindungan mutlak yang terpancar dari diri pria itu. Ia tahu bahwa hidupnya telah berubah selamanya sejak ia menerima kalung zamrud dari mendiang ayahnya dan bertemu dengan pria di hadapannya ini.

"Aku akan tinggal bersamamu, Victor," jawab Freya mantap, senyuman manis mengembang di bibirnya. "Ke mana pun kau membawaku, aku akan ikut."

Di luar sana, badai intrik dunia bisnis, ancaman dari Annelise yang tengah ketakutan setengah mati akibat kecerobohannya sendiri, serta rahasia besar tentang silsilah keluarga Houten yang belum sepenuhnya terkuak, masih menunggu waktu untuk meledak ke permukaan. Namun di dalam pelukan hangat pagi itu, Freya dan Victor tahu bahwa tidak ada kekuatan apapun di dunia ini yang dapat memisahkan mereka lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!