Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Kopi yang Tumpah

Kemunculan mendadak Bapak Danurdara Pradipta—sang patriarch utama pendiri imperium Pradipta Group—membawa tekanan udara yang amat berat di dalam ruangan kerja lantai lima puluh itu. Kata "sampah" yang meluncur tenang namun tajam dari bibirnya bagaikan belati yang menusuk langsung ke ulu hati Clarissa.

Namun, sebelum pimpinan tua itu melangkah lebih jauh, Asisten Bagas dengan sigap menyela dan mengarahkan rombongan pengawal Danurdara menuju ruang VIP khusus para pendiri di lantai atas untuk pembahasan tertutup mengenai struktur saham keluarga besar. Kedatangan singkat sang patriarch menyisakan riak ketegangan yang amat membekukan di dalam ruangan.

Rendy membalikkan tubuh tegapnya, menatap lurus ke arah dinding kaca kota. Aura di sekitar tubuh atletisnya kian membatu, gelap dan penuh intimidasi yang tak tersentuh.

Clarissa berdiri kaku di tempatnya dengan dada yang bergemuruh heboh. Ia bisa merasakan betapa riak emosi dan beban masa lalu kembali bergejolak di dalam diri mantan suaminya. Dengan jemari yang gemetaran, Clarissa bermaksud mencairkan ketegangan yang mencekik itu. Ia melangkah perlahan menuju meja pantry kecil di sudut ruangan, menyeduh secangkir kopi hitam panas kesukaan Rendy—kebiasaan lama yang masih dihafalnya luar kepala.

Dengan kedua telapak tangan yang gemetar hebat, Clarissa membawa cangkir porselen berisi cairan hitam pekat yang asap tipisnya masih membumbung hangat.

"M-Mas... Tuan Presdir," panggil Clarissa pelan, suaranya bergetar patah-patah saat mendekati Rendy yang masih berdiri tegap di dekat meja jati raksasa. "Ini... kopi panas untuk Anda..."

Rendy tidak membalikkan badan secara utuh, hanya melirik dingin lewat sudut matanya yang pekat.

Gugup yang luar biasa mendadak menyergap Clarissa. Tatapan membeku dari mantan suaminya, dipadu dengan bentuk tubuh Rendy yang begitu berwibawa dan mengintimidasi dalam jarak yang amat dekat, membuat persendian lutut Clarissa melentur pasrah. Ujung sepatu tumit tingginya mendadak tersandung pelan pada lekukan karpet sutra tebal di bawah kakinya.

STUMBLE!

"Ah!" jerit Clarissa panik.

Tubuh ramping Clarissa hilang keseimbangan dan terdorong ke depan. Cangkir porselen di tangannya miring tajam, dan cairan kopi hitam yang masih amat panas itu seketika tumpah berhamburan!

SPLAT!

Cairan kopi hitam pekat itu menciprat deras, membasahi bagian depan celana bahan kustom berwarna abu-abu gelap yang membungkus ketat paha tegap Rendy!

Clarissa terhenyak kaget, cangkir porselen jatuh berdenting di atas karpet sutra tanpa pecah. Wajah cantiknya seketika pucat pasi bak mayat, matanya membelalak lebar menyaksikan kekacauan yang baru saja dibuatnya.

"M-Maaf! Maafkan aku, Tuan Presdir!" jerit Clarissa histeris, kepanikan mutlak menguasai seluruh jalan pikirannya.

Tanpa memikirkan risiko atau batas profesionalisme, Clarissa secara spontan menyambar kotak tisu tebal dari atas meja jati. Dengan posisi tubuh yang panik, Clarissa berlutut di atas karpet sutra tepat di hadapan Rendy, lalu menempelkan segumpal tisu putih tersebut pada celana bahan Rendy yang basah oleh noda kopi hangat.

"Aku tidak sengaja... Aku benar-benar minta maaf..." tangis Clarissa pecah pelan, jemari lentiknya bergerak cepat dan terburu-buru mengusap bercak kopi cair di atas kain celana mewah milik Rendy.

Namun, dalam kepanikan yang luar biasa itu, Clarissa tidak menyadari posisi tangannya.

Jemari lentiknya yang terbalut tisu merayap dan mengusap kain celana Rendy tepat di area paha bagian atas—terus bergeser ke arah dalam, amat dekat dengan selangkangan dan pangkal paha tegap pria tersebut.

DEG!

Usapan cepat dan berulang dari jemari halus Clarissa di area paha atas itu menciptakan gesekan fisik yang amat intens dan membakar! Suhu hangat dari cairan kopi yang meresap ke dalam serat kain celana berbaur rapat dengan kehangatan jemari lentik Clarissa yang menekan lembut di atas paha tegap Rendy.

Rendy berdiri mematung kaku di tempatnya. Helaan napas berat yang amat dalam mendadak berembus dari hidungnya.

Sentuhan spontan namun terasa begitu intim dari mantan istrinya di area sensitif tersebut seketika menyalakan getaran gairah liar yang amat dahsyat di dalam aliran darah Rendy. Otot-otot paha tegap Rendy menegang keras secara spontan. Di balik kain celana bahan kustom yang basah hangat itu, area sensitif Rendy mendadak merespons cepat, membengkak dan menegang keras menekan kain celananya!

Clarissa yang masih sibuk mengusap tisu mendadak merasakan perubahan bentuk yang nyata dan membesar tepat di bawah tekanan jemari tangannya.

DEG! DEG! DEG!

Gerakan tangan Clarissa membeku seketika.

Jemari lentiknya tertahan kaku di atas paha atas Rendy, tepat menempel pada bagian sensitif mantan suaminya yang kini telah menegang sempurna dan keras di balik celana basah tersebut. Kehangatan panas memancar kuat meresap menembus lapisan tisu ke telapak tangan Clarissa.

Sensasi fisik yang begitu nyata dan menggoda itu membakar seluruh kesadaran Clarissa. Desir panas yang luar biasa dahsyat menyembur cepat melintasi perut bawahnya, menyebarkan gelombang merinding hebat di sepanjang tulang belakangnya hingga ke dada. Napas Clarissa mendadak tertahan, dadanya yang membusung di balik gaun pensil hitam naik turun dengan ritme berantakan yang amat berhasrat.

Clarissa mendongakkan wajahnya yang memerah panas secara perlahan.

Di atasnya, Rendy menundukkan wajah tegapnya. Pria itu menatap Clarissa yang berlutut di bawahnya dengan raut wajah yang tak lagi membeku—melainkan dipenuhi kilatan amarah yang bercampur rapat dengan gairah liar yang memburu dan tak lagi terbedung. Rahang tegap Rendy mengeras tajam, urat-urat di leher kokohnya menimbul memperlihatkan betapa hebatnya pria itu menahan gejolak di dalam dadanya.

Suasana di dalam ruangan berlampu temaram itu seketika memuncak oleh aura sensualitas yang amat pekat dan membahayakan.

Sebelum Clarissa sempat menarik tangannya yang gemetaran—

SRET!

Gerakan jemari tegap Rendy meluncur cepat bagaikan kilat. Tangan kokoh pria itu mencengkeram erat pergelangan tangan halus Clarissa yang masih tertahan di paha atasnya.

Cengkeraman tangan Rendy amat kuat, panas, dan menuntut kepatuhan penuh, sementara manik mata hitamnya yang pekat membakar wajah Clarissa dengan tatapan memburu gairah yang siap melumat habis wanita di bawah kekuasaannya.

Cengkeraman jemari tegap Rendy di pergelangan tangan Clarissa begitu kuat dan panas, seolah mengunci seluruh aliran darah wanita itu. Clarissa terengah-engah, dadanya yang membusung di balik gaun pensil hitam naik turun dengan cepat, berjarak amat dekat dari lutut tegap sang Presdir.

"Kamu sengaja, Clarissa?" suara Rendy mengudara—berat, parau, dan bergetar oleh gairah liar yang berusaha ditahannya.

Napas hangat Rendy berembus menusuk permukaan kulit wajah Clarissa, membakar sisa-sisa keberaniannya. Clarissa mencoba menarik tangannya, namun sentuhan keras di balik kain celana basah Rendy justru makin terasa nyata di telapak tangannya yang gemetaran.

"T-Tuan Presdir... aku benar-benar tidak sengaja..." bisik Clarissa pasrah, air mata bening kembali meleleh menyusuri pipinya yang memerah panas. "Tolong lepaskan..."

Bukannya melepaskan, Rendy justru menarik pergelangan tangan Clarissa makin merapat ke arah tubuhnya. Pria tegap itu menundukkan wajahnya hingga ujung hidungnya yang tegas mengusap pelan bibir basah Clarissa yang gemetaran. Aroma parfum maskulin berpadu aroma hangat kopi menciptakan buaian sensual yang memabukkan di antara mereka.

"Kamu pikir kamu bisa memicu gejolak ini lalu pergi begitu saja?" bisik Rendy tepat di depan bibir Clarissa, suaranya sarat akan dominasi mutlak yang meremukkan seluruh pertahanan batin mantan istrinya. "Kamu milikku, Clarissa. Kontrak itu memastikan kamu harus menanggung setiap konsekuensi atas apa yang kamu sentuh."

Desir panas menyengat ulu hati Clarissa saat bibir tegap Rendy menempel rapat menyapu sudut bibirnya dengan kehangatan yang amat menuntut. Tepat ketika napas Clarissa tertahan dalam pusaran gairah dan kepatuhan yang membakar—

KLIK!

Pintu kayu jati ruang kerja mendadak bergeser terbuka, dan langkah kaki berirama tajam dari sepatu tumit tinggi Siska bergema keras memecah keheningan ruangan.

1
Dian Paramita Dewi
Semangat....terus berkarya ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!