“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Intan masuk ke dalam rumah dengan langkah ringan sambil membawa beberapa kantong belanjaan. Kedua tangannya penuh. Ada tas pakaian, kotak sepatu, beberapa kantong kosmetik, bahkan satu tas kecil yang terlihat seperti barang bermerek.
Wajah Intan tampak puas.
Hari itu ia memang sengaja berbelanja cukup banyak. Setelah menikah dengan Haikal, ia merasa tidak perlu lagi terlalu memikirkan harga. Bukankah sekarang ia adalah istri pemilik usaha?
Selama Haikal masih bisa membayar, mengapa harus menahan diri?
Namun, baru beberapa langkah memasuki ruang tengah, langkah Intan terhenti.
Rumi sedang duduk di sofa.
Tatapan wanita tua itu langsung tertuju pada tumpukan belanjaan di tangan Intan.
Kening Rumi berkerut.
"Belanja lagi?"
Intan menoleh malas.
"Iya. Memangnya kenapa, Bu?"
Rumi menghela napas panjang.
"Kurangi belanjamu, Intan. Berhematlah."
Intan meletakkan beberapa kantong belanjaan di atas meja.
"Kenapa Ibu selalu mempermasalahkan belanjaanku?"
"Karena uang itu bukan untuk dihabiskan seenaknya!" jawab Rumi. "Kalian harus memikirkan masa depan. Bagaimana kalau nanti punya anak? Anak-anak kalian membutuhkan banyak biaya. Jangan hanya memikirkan kesenanganmu sendiri."
Intan langsung mendengus.
"Jangan cerewet, Bu. Jangan suka mengaturku."
Rumi terdiam.
Kalimat itu terasa seperti tamparan.
Selama ini Intan selalu berbicara lembut kepadanya. Setidaknya itulah yang Rumi lihat sebelum pernikahan Haikal.
Intan selalu tersenyum.
Selalu menawarkan makanan.
Selalu memanggilnya dengan sopan.
Rumi bahkan pernah berpikir bahwa Intan jauh lebih baik daripada Tiara.
Tetapi ternyata...
Rumi mulai melihat sisi lain wanita itu.
"Jadi ini sifat aslimu, Intan?" tanyanya dengan suara bergetar.
Intan mengangkat alis.
"Maksud Ibu?"
"Kau berpura-pura baik untuk menarik simpatiku!" Rumi berdiri dari sofa. "Ternyata kau busuk!"
Intan tertawa kecil.
"Kalau Ibu tidak suka melihatku belanja, jangan lihat."
"Kau benar-benar kurang ajar!"
Rumi menunjuk tumpukan barang di atas meja.
"Kau pikir Haikal akan terus punya uang sebanyak ini? Usahanya juga punya utang! Bukannya membantu suami mengatur keuangan, kamu malah menghambur-hamburkannya!"
Wajah Intan berubah.
"Jangan bawa-bawa utang!"
"Kenapa? Aku salah?"
Rumi semakin emosi.
"Kau harus sadar diri. Pernikahan bukan hanya soal rumah besar, mobil, pakaian mahal, dan uang belanja!"
Intan mendekat.
"Sudah cukup, Bu."
"Belum!"
Rumi menatapnya tajam.
"Lihat saja nanti. Aku akan meminta Haikal untuk meninggalkanmu."
Intan tertegun.
"Apa?"
"Sama seperti dia meninggalkan Tiara!"
Nama Tiara membuat suasana seketika berubah.
Intan mengepalkan tangan.
Rumi melanjutkan dengan penuh kemarahan.
"Kau pikir karena sekarang kau menjadi istri Haikal, kau tidak akan pernah ditinggalkan? Jangan terlalu percaya diri!"
"Jangan mencoba mengancamku, Bu."
Suara Intan berubah dingin.
Rumi menatapnya.
Intan tersenyum tipis, tetapi tatapannya menusuk.
"Napasmu saja sudah sampai tenggorokan."
Rumi membeku.
"Apa maksudmu?"
"Besok mati saja tidak ada yang tahu."
Mata Rumi membelalak.
Untuk beberapa detik, wanita tua itu seolah kehilangan kata-kata.
Lalu wajahnya memerah karena amarah.
"Menantu kurang ajar!"
Rumi mengangkat tangannya.
Ia hendak menampar Intan.
Namun sebelum tangannya mengenai wajah Intan, terdengar suara keras dari arah kamar.
"Ibu!"
Haikal keluar dengan wajah terkejut.
Rumi menghentikan gerakannya.
Intan seketika mengubah ekspresinya.
Wajah yang sebelumnya penuh tantangan berubah menjadi wajah ketakutan.
Ia mundur beberapa langkah.
"Mas..."
Suaranya dibuat bergetar.
Haikal langsung menghampirinya.
"Ada apa?"
Intan memegang lengannya.
"Mas, lihat... Ibumu gila."
Rumi terbelalak.
"Apa?"
"Dia mau menamparku."
Intan mulai mengusap sudut matanya.
"Dia juga memaksaku untuk bercerai darimu."
"Intan!"
Rumi hampir tidak percaya.
"Kau jangan berbohong!"
"Aku tidak berbohong, Mas."
Intan menatap Haikal dengan mata berkaca-kaca.
"Aku hanya pulang membawa barang belanjaanku. Tiba-tiba Ibu memarahiku, mengatakan aku boros, lalu mengancam akan menyuruhmu meninggalkanku."
Haikal menatap ibunya.
"Ibu?"
Rumi buru-buru menjelaskan.
"Haikal, dengarkan Ibu dulu. Dia menghabiskan uangmu seenaknya!"
"Itu bukan alasan Ibu mengangkat tangan kepada istriku!"
"Aku tidak jadi memukulnya!"
"Tapi Ibu berniat melakukannya!"
Rumi menggeleng kuat.
"Kau tidak mengerti!"
"Aku mengerti, Bu!"
Suara Haikal meninggi.
"Sudah cukup! Jangan selalu mencari masalah dengan Intan!"
Rumi menatap putranya dengan mata berkaca-kaca.
Dulu...
Anaknya juga pernah berdiri seperti itu.
Tetapi saat menghadapi Tiara, Haikal tidak pernah membela istrinya.
Kini semuanya berbeda.
Rumi merasa seperti sedang melihat seorang anak yang bukan lagi anaknya.
"Haikal..." suara Rumi bergetar. "Kau benar-benar membelanya?"
"Karena Intan adalah istriku."
Rumi tertawa getir.
"Istri?"
Ia menatap Intan dengan penuh kebencian.
"Wanita rubah bermuka dua."
Intan langsung menundukkan kepala, seolah terluka.
Namun Rumi sudah tidak peduli.
"Aku menyesal."
Haikal terdiam.
"Aku menyesal membuang Tiara hanya demi rubah licik seperti kamu!"
Ruangan mendadak sunyi.
Nama itu kembali terdengar.
Tiara.
Untuk pertama kalinya, Haikal tidak langsung membantah.
Pandangannya kosong.
Bayangan mantan istrinya tiba-tiba muncul dalam pikirannya.
Tiara yang dulu selalu bangun pagi.
Tiara yang mengurus rumah.
Tiara yang menyiapkan makanan.
Tiara yang tidak pernah meminta barang mahal.
Tiara yang bahkan rela berhenti bekerja demi merawat ibunya.
Dan apa yang ia lakukan kepada wanita itu?
Ia menceraikannya.
Demi Intan.
Demi keinginan ibunya.
Demi keyakinan bahwa Intan akan menjadi istri yang lebih baik.
Tetapi sekarang?
Setiap hari rumah ini dipenuhi pertengkaran.
Tidak ada ketenangan.
Tidak ada kebahagiaan.
Rumi semakin sering marah.
Intan semakin sering meminta uang.
Haikal semakin lelah menghadapi keduanya.
Dan yang paling mengganggunya...
Sudah berbulan-bulan menikah, tetapi Intan belum juga hamil.
Bukankah dulu semua orang mengatakan Tiara yang tidak bisa memiliki anak?
Bukankah itu alasan utama Haikal meninggalkan Tiara?
Haikal menelan ludah.
"Apakah ini karma?"
Pertanyaan itu muncul dalam hati tanpa bisa ia cegah.
Rumi menatap putranya dengan kecewa.
"Suatu hari nanti kau akan sadar, Haikal."
Ia kemudian berbalik dan berjalan menuju kamar.
Intan memeluk lengan Haikal.
"Mas..."
Haikal tidak menjawab.
Tatapannya masih tertuju pada pintu kamar ibunya.
Sementara di atas meja, kantong-kantong belanjaan Intan masih berserakan.
Barang-barang mahal yang tadi membuat Intan bahagia kini justru terasa seperti bukti bahwa rumah tangganya sedang perlahan runtuh.
Haikal mengusap wajah.
Ia tidak tahu sampai kapan semua ini akan bertahan.
Namun satu hal mulai disadarinya.
Dulu ia mengira meninggalkan Tiara akan membuat hidupnya lebih bahagia.
Ternyata sejak Tiara pergi...
rumah ini justru terasa seperti neraka.
Dan entah mengapa, semakin hari Haikal semakin sering merindukan satu-satunya wanita yang pernah membuat rumah itu terasa seperti rumah.
Tiara.
Bersambung....