Di lima alam kultivasi yang bertingkat — Dunia Fana, Dunia Roh, Dunia Dewa, Dunia Dewa Kuno, hingga Dunia Kekosongan — seorang Kaisar Dewa gagal menembus batas tertinggi dan tubuhnya hancur menjadi debu. Namun jiwanya yang tak pernah mati terlahir kembali ke dunia fana sebagai Ye Hu, anak tertua seorang Marquis yang dicap sampah karena dantian-nya hancur akibat keracunan tiga tahun lalu.
Dengan ingatan ribuan tahun dan pengetahuan alkimia serta teknik kuno yang telah hilang dari dunia, Ye Hu bangkit perlahan. Ia menyembuhkan dantian-nya sendiri, menciptakan pil dengan kemurnian mustahil bagi siapa pun di tingkatnya, dan mengungkap pengkhianatan di dalam keluarganya sendiri —
Ini barulah awal perjalanannya, Selanjutnya dia menemui keturunan dari murid-muridnya sedang menderita di dunia dana ini. Dengan kondisi tubuh yang terbatas, Ye Hu berusaha untuk membantu buyut dari murid-muridnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Mendadak
Jauh di angkasa, di belakang mereka namun tetap menjaga jarak aman, terlihat rombongan sosok terbang menggunakan Perahu Terbang dan Pedang Terbang. Mereka semua adalah Foundation Establishment dan pemimpinnya berada di Core Formation. Wajah mereka tertutup topeng hitam, membuat identitas mereka tak dapat dikenali. Pemimpin rombongan, yang di panggil ketua Cang sebagai ketua Cabang Kota Awan itu terus menatap sebuah diagram perak di tangannya — di atasnya berkedip titik cahaya merah terang yang tak pernah berhenti menunjuk ke depan. Mereka sengaja tidak mendekat, cukup mengikuti jejak yang ditandai, membiarkan mangsa membawa mereka langsung ke tujuan.
Kemudian ada rombongan lain yang bergabung dari arah yang berbeda. Ini adalah rombongan dari kota yang lain yang di pimpin oleh seorang Core formation juga.
Tak lama kemudian muncul lagi rombongan dari kota raja yang semuanya bertopeng juga.
Tiga cabang Bayangan Malam telah berkumpul dengan di pimpin oleh Core Formation.
Di belakang Ketua Cang bergabung dua orang Ketua Cabang kota lain yang berdekatan dengan kota Awan.
"Ketua Cabang Cang, Mengapa kita mengerahkan seluruh kekuatan kita? sampai tiga cabang. "
"Ketua Cabang sekalian yang terhormat. " Ketua Cang Cabang Kota Awan memberi hormat. "Ini perintah langsung dari Ketua pusat. Di duga, sasaran kita memiliki guru yang tingkatnya Nascent Soul tingkat tinggi.
Mereka sudah menduga lawan yang akan dihadapi pasti cukup kuat.
"Kalau begitu, biarlah operasi ini di pimpin langsung oleh Ketua Cang karena ini masih masalah kota awan. " Ucap salah seorang Ketua cabang yang tidak ingin di persalahkan jika mengalami kegagalan.
Sementara Ketua Cang memang hendak memperbaiki kesalahannya karena kesalahan Liu Bersaudara.
......................
Sementara itu, perahu terbang Puteri Ping Yue perlahan turun dan mendarat di tengah Pegunungan Pamul. Ye Hu berdiri di haluan, menatap hamparan pegunungan yang kini tampak sangat berbeda dari ingatannya. Ribuan tahun lalu, tempat ini hanyalah hutan belantara yang sunyi, penuh binatang buas dan roh iblis. Namun sekarang, ia melihat desa-desa kecil tersebar di lereng bukit, asap dapur mengepul, dan banyak orang berlalu-lalang di kaki gunung.
"Pegunungan ini berubah banyak sekali," gumam Ye Hu pelan. "Dulu tak ada manusia yang berani tinggal di sini."
Ru Shun mendengar ucapannya dan menjawab sambil melipat sayap perahu. "Lima ratus tahun lalu, sekte-sekte besar mengirim pasukan untuk membersihkan wilayah ini dari binatang buas dan roh jahat. Sejak itu penduduk mulai berdatangan, membuka lahan, dan membangun pemukiman. Kini tempat ini sudah menjadi wilayah yang cukup ramai."
Ru Shun mengeluarkan cincin penyimpanannya untuk menyimpan perahu terbang itu. Namun tiba-tiba ia mengerutkan dahi. Tangannya berhenti di udara.
"Ada sesuatu yang salah…"
Ia merogoh kembali ke dalam ruang penyimpanan, lalu mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk segitiga hitam yang memancarkan aura dingin dan gelap. Sebuah Token Bayangan Malam.
Ping Yue melihat benda itu dan wajahnya langsung berubah pucat. "Bagaimana bisa…? Mengapa token itu ada di dalam tempat penyimpananmu?"
"Seseorang menempelkannya pada badan perahu terbang kita tanpa disadari," ucap Ru Shun dingin. "Token ini berfungsi sebagai penanda — semacam alat pemancar lokasi. Selama benda ini ada di dekat kita, mereka tahu persis di mana kita berada kapan pun."
"Mereka sudah melacak kita sejak Kota Awan," tegas Ping Yue, tangannya mengepal erat. "Kita dikepung sejak awal tanpa kita sadari."
Ye Hu menatap token itu dengan tatapan tajam. "Sepertinya rencana Bayangan Malam hendak mengejar saya. ini kemungkinan besar sudah dipantau sejak awal."
"Mengapa mereka mengejarmu.? " Ping Yue setengah tak percaya.
"Kalau sudah aman akan kujelaskan. " Ye Hu mempercepat langkahnya. "Sebaiknya kita bergegas. "
"Kalau begitu kita tidak boleh tinggal di sini lebih lama lagi," kata Ru Shun. "Mereka pasti sudah tahu kita mendarat."
Mereka segera bergerak masuk ke dalam hutan belantara yang lebih dalam, meninggalkan area pemukiman. Setelah setengah jam berjalan kaki, rombongan mereka berhenti. Dari arah depan, berbondong-bondong binatang buas berlari kencang meloloskan diri ke arah mereka — rusa, babi hutan, harimau, semuanya ketakutan seakan ada bencana besar yang datang.
"Mengapa semua binatang kabur? " Ping Yue curiga.
"Ada bau asap!" seru salah satu pengawal.
Di kejauhan, kepulan asap hitam membubung tinggi ke langit. Seseorang sengaja membakar hutan untuk menghalangi pandangan dan memotong jalan pelarian mereka.
"Lari... " Seru Ye Hu. "Terbang rendah semua. "
Ping Yue mengajak Ye Hu bersamanya. Ping Yue dan Ye Hu berada di satu pedang. Ye Hu belum bisa terbang.
Tiba-tiba — wusss! wusss! wusss!
Ribuan anak panah turun dari langit! Ratusan sosok bertopeng melayang di atas pohon, menyerang tanpa peringatan. Panah-panah itu menembus dedaunan dengan kecepatan luar biasa. Beberapa pengawal Ping Yue langsung jatuh berdarah, ada yang terluka parah, dan beberapa lainnya tewas seketika sebelum sempat mengeluarkan senjata.
"Perisai! Bentuk perisai pertahanan!" teriak Ru Shun sambil melepaskan gelombang Qi yang menangkis ratusan panah sekaligus. Ru Shun yang berada di tingkat Core Formation adalah yang terkuat di antara mereka, namun jumlah musuh terlalu banyak dan serangan terus datang bertubi-tubi tanpa henti. "Mereka terlalu banyak dan ada tiga core formation. *
Belum sempat mereka bernapas lega, gelombang kedua datang — panah yang ujungnya memancarkan asap kehijauan yang berbau tajam. Panah beracun.
"Mundur! Mundur ke belakang!" Ye Hu berteriak lantang. "Jangan biarkan asap itu terhirup!"
Ia bersama Ping Yue memimpin rombongan berlari menjauhi area terbuka, mencari tempat yang lebih sulit diserang dari atas. Mereka terbang berkelit diantara pohon dan api. Para prajurit hanya berada di Qi Establishment tidak dapat terbang menjadi sasaran empuk dan yang Foundation mengajak seorang yang lain untuk ikut terbang. Prajurit yang lemah menjadi sasaran panah.
Pasukan Bayangan Malam sebagian mengejar terbang rendah juga.
Terlihat kejar-kejaran si tengah hutan.
"Berjuanglah, Kita sudah dekat. " Teriak Ye Hu sambil menunjuk arah.
"Seandainya tahu akan seperti ini, Aku pasti akan membawa pengawal yang lebih kuat. "
"Aku juga tidak menyangka kalau menjadi sasaran dari organisasi penjahat. " Ucap Ye Hu.
hingga sampai di sebuah tebing curam yang dindingnya tegak lurus ke atas. Tidak ada jalan lain ke depan, dan musuh terus mendekat dari belakang.
"Kalian tahan serangan mereka selama beberapa menit!" perintah Ye Hu dengan suara tegas. "Aku akan membuka jalan baru!"
Para Pengawal yang kuat membangun perisai bersama.
Di dinding tebing itu, tepat di ketinggian dada, terlihat sebuah ukiran batu persegi yang menjorok ke dalam — lubang yang ukurannya persis sama dengan lempengan yang mereka miliki. Tanpa menunggu, Ye Hu mengeluarkan lempengan pertama dan menempelkannya ke dalam lubang itu.
Lempengan itu langsung menyala! Cahaya keemasan memancar keluar, menerangi seluruh dinding tebing hingga ke celah-celah terkecil. Ye Hu menempelkan telapak tangannya di atas lempengan itu, mengalirkan Qi-nya tanpa henti. Keringat mulai menetes di dahinya, ia harus mempertahankan aliran itu agar formasi kuno itu aktif.
Di belakangnya, pertempuran semakin sengit. Para penyerang bertopeng mulai turun ke tanah, tidak hanya menggunakan panah tetapi juga sihir dan teknik serangan jarak jauh. Perisai pelindung yang dibentuk oleh Ru Shun dan para pengawal mulai bergetar dan retak di beberapa tempat.
"Berapa lama lagi?!" teriak Ru Shun sambil menangkis serangan sihir musuh yang cukup kuat hingga ia mundur beberapa langkah. "Perisai ini tidak akan bertahan lama!"
"Sabar…" desis Ye Hu di antara gigi. "Sedikit lagi…"
Tiba-tiba — gemuruh!
Bagian tengah dinding tebing yang berukuran raksasa perlahan bergerak menjorok ke dalam, lalu meluncur ke samping membuka lorong gelap yang cukup lebar untuk dilewati dua orang beriringan.
"Masuk! Semua masuk sekarang!" perintah Ye Hu sambil menarik kembali lempengan itu dari dinding. Cahaya redup seketika, namun pintu itu sudah terbuka.
Ye Hu masuk paling dulu, diikuti Ping Yue, lalu Ru Shun. Para pengawal yang masih bertahan mundur perlahan sambil tetap mengangkat perisai. Namun pintu batu itu mulai bergerak menutup kembali dengan sangat cepat.
"Cepat! Masuk!" teriak Ru Shun.
Beberapa pengawal yang terluka dan berada paling belakang tidak sempat melompat masuk tepat pada waktunya. Pintu batu raksasa itu menutup rapat dengan bunyi dentuman yang mengguncang tanah, memisahkan mereka dari dunia luar — dan membiarkan sebagian prajurit tetap berada di luar, menghadapi ratusan musuh sendirian.
"Mengajakmu berharap tidak ada korban tapi justru sebaliknya, kau membawa malapetaka. * Ping Yue kesal.
Di dalam lorong yang kini sunyi dan remang-remang, Ye Hu berdiri memegang lempengan itu, napasnya memburu. Di sampingnya, Ping Yue menatap pintu batu yang tertutup itu dengan wajah sedih — tahu bahwa teman-temannya yang tetap di luar kemungkinan besar sudah tewas.
"Jangan berisik, Aku tahu aku salah. Mereka berkorban agar kita bisa masuk," ucap Ye Hu pelan namun tegas. "Dan pengorbanan mereka tidak akan sia-sia. Kita harus melanjutkan."
Lorong kuno di depan mereka terbentang gelap dan panjang, namun di ujung sana terlihat cahaya samar-samar.