~~
Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.
Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29 KERTAS YANG TERBAKAR
***
Cahaya pagi menyusup perlahan ke dalam ruang kerja Grand Duke Darian, memantul lembut di atas meja kayu mahoni tua yang kini menjadi ruang kendali Iris selama sang suami berperang. Wajah Iris masih menyimpan sisa kelelahan dari malam sebelumnya, namun matanya tetap tajam, waspada.
Seorang pelayan perempuan membungkuk di depan pintu dan menyerahkan gulungan surat berstempel lambang kekaisaran Valeria—naga bersayap kembar yang menjulang megah.
"Surat dari istana kekaisaran, Yang Mulia," ucap pelayan itu dengan hormat.
Iris menerima surat itu dengan tangan tenang. Ia membuka segel lilin emas perlahan. Tetapi begitu matanya mulai membaca, jemari yang memegang kertas itu menegang.
“Dengan menyayangkan peristiwa kebakaran yang terjadi di wilayah kekuasaan Ravengard, pihak istana mengapresiasi kegigihan Grand Duchess Iris dalam mempertahankan kestabilan wilayah tersebut bahkan dalam kondisi yang... sensitif. Namun kami juga berharap bahwa ketahanan itu tidak bersifat sementara. Apalagi mengingat absennya Grand Duke Darian von Ravengard yang seharusnya menjadi pilar utama dalam menjaga benteng utara kekaisaran.”
Alis Iris turun.
“Kami juga ingin mengingatkan, bahwa sejarah telah mencatat betapa pentingnya figur pemimpin yang stabil dalam menjaga warisan wilayah bangsawan tua, apalagi ketika takdir tampak tidak berpihak pada generasi berikutnya.”
Tangannya bergetar.
“Kekaisaran tetap akan memantau perkembangan Ravengard dengan seksama.”
Hening. Napas Iris mulai cepat, matanya tidak berkedip saat ia membaca ulang kata-kata yang dibungkus halus dengan nada sindiran itu.
Ia meremas surat itu perlahan dan seketika kertas itu menyala.
Api kecil muncul dari tengah surat, menjalar cepat seperti bunga api yang sedang marah. Iris tidak menyadarinya sampai api menyambar tepi mejanya.
“Yang Mulia!” Lisa berteriak dari ambang pintu.
Ia berlari menghampiri, mengambil kendi air di dekat rak buku dan menuangkannya ke atas api kecil yang menjilat sisi meja.
“Api! Astaga... Yang Mulia, Anda terbakar!”
Iris baru sadar, surat itu sudah berubah menjadi abu hitam di tangannya. Ia menoleh ke Lisa, lalu tersenyum tipis.
“Sepertinya... bayi ini mulai belajar menggunakan hadiah dari ayahnya.”
Lisa masih panik. “Tapi Anda tak bisa sembarangan marah begitu! Apalagi kalau... kalau kekuatan api itu menyala tanpa kendali. Itu bisa membahayakan Anda dan bayi Anda sendiri!”
Iris berdiri perlahan, merapikan selendangnya yang setengah terbakar.
“Aku tak sadar melakukannya, Lisa. Tapi aku juga tak merasa menyesal. Surat dari istana itu terlalu... manis untuk dibakar di tungku biasa.”
Lisa masih memandangnya dengan mata membelalak.
Iris berjalan pelan ke arah jendela besar, menatap keluar ke taman yang masih basah sisa embun pagi.
“Kau tahu,” katanya, lembut namun tajam, “kadang aku heran... kenapa para penguasa ibu kota suka menulis sindiran dengan tinta emas. Apakah mereka pikir aku akan terkesan?”
Lisa menghela napas dan berkata lirih, “Saya hanya takut rumor-rumor itu makin menyebar...”
Iris menoleh. “Rumor apa lagi?”
Lisa menunduk sesaat, lalu berbicara dengan nada pelan namun tegas.
“Di ibu kota... beberapa bangsawan mulai membicarakan tentang kejadian-kejadian akhir-akhir ini. Tentang keguguran permaisuri... lalu kebakaran besar yang menimpa Ravengard. Mereka mulai berkata... bahwa ini tanda-tanda buruk. Bahwa generasi berikutnya... akan membawa bencana.”
Iris terdiam sejenak.
Lalu ia tertawa.
Tertawa yang tidak keras, tapi penuh sindiran dan kesadaran.
“Jadi... mereka mulai mencari kambing hitam?”
Lisa tetap khawatir. “Mereka menghubungkan semuanya, Yang Mulia. Ada yang berkata... bahwa bayi dalam kandungan Anda terlalu kuat. Bahwa ia bukan anak biasa.”
Iris mengnoduk pelan, menatap perutnya yang bergerak pelan di balik gaun tipisnya.
“Mereka benar,” bisiknya. “Ia memang bukan anak biasa.”
Lisa menatapnya dengan gentar. “Apa maksud Anda?”
Iris mendekat ke kursi dan duduk perlahan.
“Darah Ravengard mengalir dalam dirinya. Darahku juga... bukan darah kalangan biasa. Ia akan lahir sebagai keturunan bangsawan tertinggi dari dua daratan. Dan mereka takut. Itu sebabnya mereka menyebar ketakutan lebih dulu... karena mereka tak bisa mengendalikan masa depan.”
Lisa menelan ludah, lalu duduk di lantai di dekat kakinya, seperti biasa saat mereka berdua ingin bicara tanpa jarak formal.
“Apakah... Anda percaya rumor itu bisa mempengaruhi Kaisar?”
“Tidak langsung,” jawab Iris. “Tapi jika cukup banyak orang yang percaya, istana akan menggunakannya sebagai alasan. Untuk mengawasi. Mencampuri. Atau lebih buruk, mengambil alih.”
Lisa menggenggam tangan Iris. “Kalau begitu... apa yang akan Anda lakukan?”
Iris menghela napas panjang.
“Menjadi api, Lisa. Jika mereka menakutiku dengan bayang-bayang... maka aku akan menjadi cahaya yang lebih terang dari apa pun yang pernah mereka nyalakan.”
Ia menoleh ke jendela, wajahnya sekarang tenang, tapi matanya menyala seperti bara.
“Anak ini... bukan pertanda kutukan. Ia adalah warisan. Dan aku akan memastikan mereka tahu... bahwa tak ada yang bisa memadamkan darah Ravengard hanya dengan surat dan rumor basi.”
Lisa akhirnya tersenyum kecil, meski masih penuh rasa cemas.
"Saya percaya pada Anda, Yang Mulia. Tetapi janji ya... jangan terlalu sering membakar surat. Kami butuh waktu untuk mengganti furnitur.”
Iris terkekeh kecil.
“Aku akan mencoba. Tapi aku tidak janji kalau surat berikutnya menyebut kata ‘ketidakwajaran darah bangsawan utara’.”
Mereka berdua tertawa. Tapi di balik canda itu, sebuah tekad telah lahir.
Tekad seorang ibu, seorang Grand Duchess, dan seorang wanita yang tahu bahwa masa depan sedang mengintainya dari balik api.
Kabut tipis masih menyelimuti tenda pusat komando di perbatasan saat seorang pengawal pribadi Darian masuk ke dalam ruangan dengan tergesa, membawa tabung logam kecil bersegel merah marun.
“Laporan dan surat, Yang Mulia. Salah satunya dari Grand Duchess,” ujar prajurit itu sambil membungkuk.
Darian, yang tengah menekuni peta topografi wilayah utara, mengangkat alisnya. Ia menerima tabung itu, membuka segelnya, dan mengeluarkan sehelai surat beraroma khas lavender—bau yang selalu menempel di bantal tidur Iris.
Sekilas, senyum tipis muncul di bibir Darian. Ia langsung mengenali bentuk tulisan rapi namun penuh tekanan, tanda bahwa istrinya sedang mencoba tetap tenang meski kemungkinan besar sedang sangat kesal.
Ia mulai membaca:
Untuk Yang Mulia Grand Duke Darian von Ravengard, yang kabarnya masih hidup meski tidak membalas surat istrinya dengan cukup cepat.
Kuharap kau masih ingat bahwa kau punya istri. Dan seorang anak. Yang keduanya boleh kuberitahu sangat aktif. Salah satu menendang dari dalam, satu lagi mungkin ingin menendangmu dari jauh.
Bagaimana kabarmu di utara? Apakah kau cukup nyaman tidur di bawah suhu minus dua puluh? Atau sudah berubah menjadi batu beku seperti senyummu?
Kau mungkin sudah mendapat laporan dari Kapten Arven tentang kebakaran besar di Ravengard. Tapi tetap saja, aku ingin memberitahumu sendiri, kami baik-baik saja.
Darian mendesah pelan, memutar surat itu sejenak lalu membacanya lagi dengan lebih lambat. Di luar tenda, salju masih turun, tetapi hatinya mulai menghangat sedikit.
Aku mengoordinasikan pemadaman api, menyelamatkan penduduk, dan bahkan membuka gerbang kastil untuk menampung warga. Iya, Darian—aku, dalam kondisi hamil lima bulan, melakukan semua itu. Karena seseorang harus melindungi rumah kita saat kau sibuk menjadi pahlawan di perbatasan.
Dan jangan salah sangka, anakmu juga ikut membantu. Meski... kadang dia suka membuat punggungku nyeri dan perutku kencang hanya karena terlalu aktif. Sama seperti ayahnya—keras kepala, menyebalkan, tapi penuh api.
Darian tersenyum pelan, dan kali ini, senyum itu tidak hilang dengan cepat.
Oh, satu hal lagi.
Darian mengangkat alis, mengantisipasi sesuatu yang tajam.
Jangan terlalu betah di sana. Aku tidak mau tanah yang dingin itu meleleh karena hawa panas darimu. Kau milikku, Darian, bukan milik salju dan kabut.
Kembali dengan cepat. Karena jika kau tidak, aku mungkin akan datang sendiri ke sana dengan anak kita dalam pelukan dan daftar panjang amarah dalam tangan.
Iris von Ravengard (yang masih bersabar entah sampai kapan).
Darian memandangi surat itu lama, lalu melipatnya perlahan dan menyelipkannya di dalam jubah dalamnya, tepat di dekat dadanya.
"Dia marah," gumamnya lembut, "tapi dia rindu."
Di seberangnya, Duke Maeltorn—ayah Iris yang diam-diam berdiri memperhatikan dari balik tumpukan gulungan strategi—bersuara tanpa mengangkat kepala.
"Dia selalu seperti itu. Mencaci maki... tapi menunggu."
Darian menoleh. “Dan aku selalu membuatnya menunggu terlalu lama.”
Maeltorn mengangkat bahu. “Maka kau tahu jawabannya.”
Darian menatap ke luar tenda. Hawa dingin utara menusuk tulang, tapi pikirannya melayang jauh ke arah selatan, ke benteng batu hitam yang penuh aroma teh hangat dan suara tenang Iris ketika membaca buku di jendela.
Tapi pikirannya segera kembali ke laporan yang tersusun di atas meja.
Gambaran tentang penyergapan pasukan bayangan yang mulai merembet. Laporan mata-mata yang menyebutkan bahwa serangan musuh kali ini terlalu... rapi. Terlalu diam.
“Mereka sudah sampai di kota,” gumam Darian.
Maeltorn menatapnya tajam. “Ravengard?”
Darian mengnoduk. “Bayangan itu. Aku yakin bukan hanya pasukan biasa. Ada sesuatu yang bergerak dari balik kabut... dan aku tak bisa diam di sini terlalu lama.”
“Jadi apa rencanamu?”
Darian berdiri, mengambil pedang panjangnya, dan mengikatnya kembali ke punggung.
“Aku bersihkan garis depan dalam satu gerakan. Hancurkan logistik mereka. Giring semua ke satu titik... dan bakar dari dalam.”
“Cepat, berani, dan tanpa kompromi,” ujar Maeltorn dengan nada kagum bercampur lelah. “Putriku memilih pasangan yang seimbang untuk darah utara.”
Darian menatap lurus ke mata ayah mertuanya. “Karena tanah yang ia jaga... sedang terbakar. Dan aku tak akan membiarkan dia sendirian menahan nyala itu.”
Ia berjalan ke pintu tenda.
“Persiapkan pasukan utama. Kita mulai serangan saat salju mereda. Kali ini... tidak ada lagi bayangan yang bisa bersembunyi.”
Dan ketika Darian melangkah ke luar, salju yang turun seperti mengalah di hadapannya—seolah tahu, bahwa Grand Duke Ravengard sedang terbakar oleh dua hal: cinta dan amarah.
...****************...
Bersambung