Indonesia
NovelToon NovelToon
HALAMAN TERAKHIR

HALAMAN TERAKHIR

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: T.K. OKVIANDI

Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.

Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.

Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.

Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HALAMAN TIGA PULUH

Di tempat parkir sepeda motor sebuah mall, terlihat Langit sedang mengeluarkan sepeda motor dari posisi parkirnya dengan helm masih ditangan kirinya. Sesaat setelah memundurkan sepeda motornya, Langit langsung mengenakan helmnya tersebut dan segera memacu sepeda motornya menuju pintu keluar tempat parkir.

Sepanjang perjalanan, sambil memacu sepeda motornya Langit masih bingung dengan pertanyaan yang spontan keluar dari mulut ibu Allisya ditempat makan tadi. Pikirannya itu sering kali membuat Langit kehilangan konsentrasinya saat mengendarai sepeda motornya, hingga dia harus mendadak menggunakan rem tangannya karena terkejut atau tak sadar ada mobil yang berhenti didepannya. Lebih parahnya,di sebuah persimpangan jalan, Langit tak melihat lampu lalu lintas sudah menunjukkan warna kuning akan segera berganti merah, namun Langit tetap memacu sepeda motornya. Alhasil , baru saja sepeda motor Langit melewati garis, lampu sudah berubah menjadi merah. Melihat kendaraan dari arah kanannya sudah melaju, Langitpun terkejut dan dengan terpaksa Langit membelokkan sepeda motornya kearah kiri mengikuti rombongan kendaraan yang melaju dari sisi kanannya. Langit segera menepikan sepeda motornya didepan sebuah warung kecil untuk membeli air mineral botol dan langsung meminumnya, sebelum dia melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.

Di depan rumah Langit, terlihat sepeda motor Langit tiba dan dengan segera Langit langsung turun dari sepeda motornya berjalan ke dalam rumah. Setelah Langit meletakkan helm ditempatnya , dia langsung berjalan menuju kamarnya sambil membawa tas dan tongkat miliknya. Tiba dikamar , setelah meletakkan tas dan tongkat di pojokkan kamar, Langit langsung mencari laptopnya berada. Diatas meja belajarnya, sambil sesekali mengecek handphone miliknya apakah ada pesan yang masuk, Langit menghidupkan laptopnya dan segera melanjutkan penulisan novelnya.

"......... ada yang jangkal gue rasakan ketika gue berjumpa dengan Ibu Allisya di mall siang tadi, kenapa beliau menanyakan hal yang menurut gue sih jangkal. Beliau menanyakan tentang peristiwa ibu dan adik gue dahulu. Kenapa begitu penasaran ya Beliau? Ada kaitan apa sebenarnya? Benarkah hanya sekedar ingin mengetahui seberapa ikhlaskah gue memaafkan? Atau untuk apa? Sepanjang perjalanan hal tersebut membingungkan gue hingga gue hilang fokus dan hampir saja gue menerobos lampu merah...."

Langit mematikan dan menutup laptopnya, tidak berselang lama handphone miliknya bordering, ternyata Ferry yang menghubungi dirinya. Tanpa berpikir lama Langit segera menjawabnya.

"Halo , iya Fer kenapa?" tanya Langit.

"Ini El, gue mau nanya chargeran gue kebawa lu kagak ya? Gue udah nanya yang lain katanya waktu itu lu yang pake terakhir" tanya Ferry.

"Bentar Fer gue cek dulu di tas gue, ini juga baru balik gue dari sekolah ngambil tas" jawab Langit.

"Yaudah El, kalo ada besok bawain ya nggak enak guw minjem punya ade gue mulu, eh besok lu masuk kan? Kaki lu aman kan?" tanya Ferry.

"Alhamdulillah udah bener Fer, iya besok gue masuk kok, nanti malem gue kabarin deh kalo nggak ada, kalo ada besok langsung gue bawain" jawab Langit.

Langit mengakhiri sambungan teleponnya. Bergegas Langit mengambil tas yang dia letakkan dipojokan kamar tadi. Diatas tempat tidurnya, Langit membuka tasnya tersebut mencari chargeran milik Ferry yang diperkirakan terbawa oleh dirinya. Tidak berselang lama Langit mencari, yang dicarinya pun ketemu, dan Langit terlihat terkejut sesaat setelah melihat sebuah kalung emas dengan liontin huruf R ada didalam tasnya tersebut. Langit berusaha mengingat-ingat kembali kalung siapa tersebut. Langit teringat saat dirinya berlari dengan Rindu dikejar oleh sekelompok geng di jalanan, saat berlari Rindu menjatuhkan sebuah kalung dari sakunya dan diambil oleh dirinya, Langit lupa mengembalikannya saat di Bandung.

"Gue inget sekarang, ini punya Rindu , ya udah besok gue kembaliin deh, semoga dia masuk sekolah" ucap Langit dalam hatinya sambil meletakkan kalung tersebut diatas meja samping tempat tidurnya dan langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur dalam kamarnya.

Suasana di pagi hari, terlihat baru saja Langit mengeluarkan sepeda motornya dari rumah, hp Langit terdengar berdering, setelah dilihat ternyata ada sebuah pesan yang masuk dari nomor milik Rindu.

"Sorry pagi-pagi gue ganggu nih, ini barang kali aja ya pas di Bandung lu ngeliat kalung gue ga?" isi pesan Rindu.

Langit segera mengambil kalung yang di letakkannya tersebut, dengan handphone miliknya, Langit memfoto kalung tersebut dan segera dikirimkan kepada Rindu. "Ini bukan kalungnya?" isi pesan Langit disertai dengan foto kalung tersebut.

Tidak berselang lama handphone milik Langit kembali berdering menerima jawaban pesan dari Rindu. "Iya betul banget itu punya ague, lu bawa ya ke sekolah nanti ketemuan di pos babeh aja, kalo gue belum sampe tungguin ya" Isi pesan dari Rindu.

Langit segera bersiap-siap untuk berangkat sekolah, Langit langsung menuju ke kamar mandi tidak lupa membawa seragam sekolahnya. Beberapa saat kemudian, Langit keluar dari kamar mandi sudah lengkap mengenakan seragam sekolahnya, tanpa menunggu lama Langit langsung mengambil tas sekolah dan kalung milik Rindu dikamarnya . Sekelah mengenakan sepatu dan dengan membawa tas sekolahnya, Langit bergegas menuju tempat parkir sepeda motornya, sesaat menuruni tangga Langit melihat ayahnya baru saja pulang.

"Papah baru pulang? Tara kira semalem papah udah ada dikamar" ucap Langit.

"Iya Tara, semalem sih emang papah udah dik amar, ya sekitar jam 1 papah keluar ada panggilan darurat" Jawab Inspektur Nugroho

"Oh begitu pah, ya udah Tara berangkat dulu ya pah, udah terlambat ini, Assalamu alaikum pah" pamit Langit sambil menghampiri dan langsung mencium tangan ayahnya.

Langit langsung pergi keluar rumah, dan bergegas menaiki sepeda motornya. Setelah mengenakan helm, Langit langsung menghidupkan sepeda motor dan melaju meninggalkan rumahnya. Langit memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, hingga disebuah persimpangan Langit mencoba menghentikan sepeda motornya dengan mendadak saat melihat seorang gadis yang menggunakan seragam sama dengan sekolah Langit, sedang digoda oleh sekelompok remaja disisi jalan.

Terlihat gadis tersebut terus saja di goda oleh tiga orang remaja, walau gadis tersebut sudah mencoba menghindar tetap saja remaja tersebut mencoba menghalanginya. Langit mulai rishi melihat kejadian itu, ditambah lagi ketika dia sadar bahwa gadis itu ternyata adalah Rindu. Entah mengatasnamakan sahabat atau ada perasaan yang lain bagi Langit, Langit langsung menepikan sepeda motornya dan berlari menghampiri Rindu. Langit menarik tangan Rindu menjauhkannya dari remaja-remaja tersebut. Langit mengajak Rindu untuk berlari ke sepeda motor yang diparkirkan disisi jalan lainnya.

"Ayo buruan Rin, masih ngejar tuh anak-anak" ucap Langit.

Langit dan Rindu segera menaiki sepeda motornya dan Langit memacu sepeda motornya. Terlihat para remaja tersebut kesal melihat Rindu berhasil lepas dari jeratannya.

"Ah sial, gagal deh semua gara-gara itu cowok dateng" gerutu salah satu remaja tersebut dengan wajah kesal.

Langit dan Rindu mulai menjauh dari lokasi pemuda tersebut berada. Tanpa sungkan Rindu merangkul pinggang Langit saat dibonceng di sepeda motor. "Makasih ya Langit, untung aja ad alo, kalo tadi lu nggak datang tau deh gimana nasib gue" ucap Rindu.

"Iya Rin sama-sama, kebetulan aja pas gue lagi lewat situ hehehe...." balas Langit lalu terlihat menatap kearah jam tangan yang dikenakannya. "Waduh udah jam segini Rin, gue tancep gas ya? Pegangan lu yang kenceng " lanjut Langit.

Tanpa menunggu jawaban dari Rindu, Langit menambah kecepatan sepeda motornya. Hal tersebut membuat tangan Rindu semakin erat berpegangan pada pingang Langit. Setelah sekitar 10 menit sepeda motor melaju, akhirnya tiba di depan sekolah mereka, tepat sesaat sebelum babeh menutup pintu gerbang.

"Beh tunggu dulu beh , jangan ditutup dulu ya hehhe" pinta Langitkepada satpam sekolah.

"Eh eh, gue turun di sini aja ya, nggak enak sama yang laen, ya lu tau lah , hehehe makasih ya Langit sekali lagi" ucap Rindu sambil turun dari sepeda motor langit dan menyerahkan helm yang dikenakannya.

"Oke deh Rin, sama-sama" balas Langit.

Baru saja Rindu melangkahkan kakinya, Langit memanggil dirinya kembali. "Eh Rin tunggu, ini kalung lu, sampe kelupaan gue" panggil Langit sambil mengeluaran kalung milik Rindu yang ada pada dirinya.

"Eh iya sama, lupa juga gue, thanks ya" jawab Rindu sambil menerima kalung miliknya.

Rindu melangkahkan kakinya meninggalkan Langit menuju kearah kelasnya, sementara Langit melanjutkan perjalannya menuju tempat parkir sepeda motor. Langit memarkirkan sepeda motor dan melepaskan helm yang dikenakanya. Langit berlari menuju kelasnya sambil sesekali melihat kearah jam tangan yang dikenakan olehnya. Karena takut terlambat , dengan terburu-buru Langit berlari hingga sempat Langit kepeleset pada lantai yang baru saja di pel. Usaha Langit agar tak terlambat sia-sia, saat dirinya tiba didepan kelas, sudah terlihat seorang guru berada didalam kelas sedang menerangkan pelajaran matematika. Langit mengetuk pintu dan meminta ijin untuk dibolehkan masuk kedalam kelas, Langit memasuki kelas dan menuju ke tempat duduknya setelah sang guru mengijinkan dirinya untuk masuk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!