"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."
Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.
Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.
Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Hari yang Berbeda, Hati yang Saling Memilih
Matahari pagi terus naik perlahan, menyinari setiap sudut rumah besar itu dengan kehangatan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Di taman belakang, Su Yi berjalan pelan di antara deretan bunga yang bermekaran — langkahnya ringan, wajahnya bersinar. Ia berhenti di dekat semak melati yang harumnya memenuhi udara, mengulurkan tangan menyentuh kelopak putih yang masih basah oleh embun pagi. Senyum tak lepas dari bibirnya — senyum yang tulus, yang mulai terbiasa hadir sejak semalam.
"Nyonyakah?" Su Yi menoleh, melihat pelayan tua yang sudah bekerja di rumah itu sejak ia pertama kali datang berdiri di balik pintu kaca. Wajah wanita itu tersenyum lembut, matanya memancarkan kebahagiaan tulus. "Saya membawakan teh hangat dan sedikit kue. Saya pikir Nyonya mungkin ingin duduk sebentar di sini."
"Terima kasih, Bu Lin," jawab Su Yi pelan, mengambil nampan itu dan meletakkannya di meja batu di sudut taman. "Kau tidak perlu repot seperti ini setiap hari."
"Bukan repot, Nyonya," jawab Bu Lin pelan, suaranya rendah namun jelas. "Selama dua tahun, saya belum pernah melihat Tuan Muda tersenyum begitu pagi ini. Dan belum pernah melihat Nyonya terlihat begitu... hidup. Rumah ini akhirnya terasa seperti rumah yang sesungguhnya."
Su Yi terdiam, lalu menunduk tersenyum pelan. "Aku juga belum percaya semuanya berubah begitu cepat. Rasanya seperti mimpi."
"Jika itu mimpi, biarlah mimpi itu menjadi kenyataan," ucap Bu Lin lembut sebelum berundur. "Semoga Tuan Muda dan Nyonya selalu bahagia."
Su Yi duduk di kursi rotan, menyesap teh hangat yang aromanya menenangkan. Matanya menatap ke arah gerbang rumah — tempat di mana mobil Mo Ha menghilang tadi. Ia teringat bagaimana Mo Ha memegang tangannya sebelum pergi, bagaimana ia menatapnya seakan ia adalah hal paling berharga di dunia. Dua tahun. Dua tahun ia menunggu, berharap, hampir menyerah berkali-kali. Dan sekarang, saat semuanya terjadi, ia justru merasa takut — takut semuanya akan berakhir, takut ia akan kembali menjadi istri yang tidak diinginkan.
"Jangan berpikir negatif, Su Yi," bisiknya pelan pada dirinya sendiri. "Ia berjanji. Dan kau harus percaya padanya."
Sementara itu, di dalam mobil yang melaju tenang menuju pusat kota, Mo Ha duduk bersandar di kursi belakang, namun pandangannya tidak tertuju pada dokumen di tangannya. Ia menatap ke luar jendela, melihat jalanan yang sibuk namun terasa berbeda — lebih cerah, lebih hidup. Setiap kali ia teringat wajah Su Yi pagi tadi, senyumnya yang malu-malu namun tulus, hatinya terasa penuh dan hangat — perasaan yang belum pernah ia miliki sebelumnya.
"Tuan Muda," suara pengemudi memecah lamunannya. "Kita akan sampai di kantor dalam sepuluh menit."
"Baik," jawab Mo Ha pelan, lalu kembali menatap ke luar jendela. "Hari ini ada jadwal makan siang dengan mitra bisnis, bukan?"
"Benar, Tuan. Pukul satu siang di Restoran Langit."
"Batalakan," ucap Mo Ha tegas. "Saya akan pulang lebih awal hari ini. Katakan pada mereka saya akan menjadwalkan ulang pertemuannya."
Pengemudi itu sedikit terkejut namun tetap menjawab. "Baik, Tuan Muda. Akan saya sampaikan."
Mo Ha tersenyum tipis. Ia tidak peduli dengan pertemuan itu sekarang. Yang ia inginkan hanyalah segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang — pulang ke rumah di mana ada seseorang yang menunggunya, seseorang yang ia cintai lebih dari apa pun.
Saat mobil berhenti di depan gedung perkantoran tertinggi di kota itu, semua orang yang melihatnya tertegun — bukan karena mobil mewahnya, tapi karena wajah Tuan Muda Mo Ha yang biasanya dingin dan kaku kini tampak tenang, bahkan sedikit tersenyum. Ia berjalan masuk ke gedung dengan langkah tegap namun ringan, menyapa staf yang berpapasan dengannya — sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
"Selamat pagi, Tuan Muda," sapa sekretarisnya dengan ragu.
"Selamat pagi," jawab Mo Ha lembut, lalu berjalan masuk ke ruang kerjanya. Sekretaris itu menatap punggungnya dengan takjub — dunia seakan terbalik hari ini. Tuan Muda yang dingin dan tak tersentuh ternyata bisa bersikap begitu ramah.
Di dalam ruangan yang luas itu, Mo Ha duduk di kursi kerjanya, namun ia tidak langsung bekerja. Ia membuka laci meja, mengambil sebuah bingkai foto kecil — foto pernikahan mereka yang diletakkan di paling bawah, tersembunyi selama dua tahun. Ia menyeka debu tipis di atas kaca itu, menatap foto itu lama sekali — dirinya yang tampak dingin dan kaku, dan Su Yi yang berdiri di sampingnya dengan senyum tipis yang menyembunyikan kesedihan.
"Maafkan aku," bisiknya pelan pada foto itu. "Aku akan memperbaiki semuanya. Aku berjanji."
Ia meletakkan foto itu di sudut meja, tepat di tempat yang selalu ia lihat saat bekerja. Lalu mulai menyelesaikan tugas-tugasnya dengan cepat dan fokus — setiap kali merasa lelah, ia menatap foto itu, dan kekuatan itu kembali datang.
Sementara itu, di rumah, Su Yi tidak berdiam diri. Setelah selesai minum teh, ia berjalan ke ruang kerja Mo Ha — ruangan yang selama ini ia hindari, karena ia tahu itu adalah tempat di mana suaminya merasa paling nyaman dan ia tidak ingin mengganggu. Namun hari ini, ia memberanikan diri masuk. Ruangan itu rapi namun terasa dingin — buku-buku tersusun rapi, dokumen-dokumen tertata, dan di rak sudut terdapat beberapa foto keluarga yang tampak lama.
Su Yi berjalan mendekati rak itu, menatap foto-foto itu dengan lembut. Ia melihat foto Mo Ha saat masih kecil — tampan namun dengan tatapan yang kesepian. Ia melihat foto orang tuanya — ayahnya yang tegas dan ibunya yang lembut. Dan di sudut paling bawah, tersimpan sebuah foto yang terlihat agak baru — foto dirinya, yang diambil saat ia sedang duduk di taman, tanpa ia ketahui.
Su Yi mengambil foto itu perlahan, jemarinya menyentuh wajahnya sendiri di dalam foto. Air mata menetes di pipinya — bukan sedih, tapi terharu. Selama ini ia berpikir Mo Ha tidak pernah memperhatikannya, tidak pernah melihatnya. Ternyata... ia salah. Mo Ha selalu melihatnya, selalu memperhatikannya — hanya saja ia menyimpannya dalam diam, dalam cara yang tak terucapkan.
"Kau bodoh, Mo Ha," bisiknya pelan sambil tersenyum. "Kau bodoh sekali... tapi aku mencintaimu."
Ia meletakkan foto itu kembali ke tempatnya, lalu berjalan keluar dari ruangan itu dengan hati yang lebih tenang. Ia pergi ke dapur, meminta bahan-bahan kepada koki rumah — ia ingin memasak makan siang untuk Mo Ha, sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
"Kau yakin, Nyonya?" tanya koki itu terkejut. "Tuan Muda belum pernah meminta Nyonya memasak."
"Hari ini berbeda," jawab Su Yi dengan senyum yakin. "Dan aku ingin mengejutkannya. Tolong bantuanku, ya?"
Sepanjang siang itu, Su Yi sibuk di dapur — mencoba resep-resep yang ia inginkan, sesekali tersenyum sendiri saat membayangkan wajah Mo Ha saat melihat makanan itu. Ia tahu masakannya mungkin tidak sebaik masakan koki rumah, tapi ia yakin — rasa yang terbuat dari cinta selalu terasa lebih enak dari apa pun.
Pukul empat sore, Mo Ha pulang lebih awal dari yang dijanjikan. Saat ia melangkah masuk ke rumah, aroma masakan yang harum dan hangat langsung menyambutnya — aroma yang membuat perutnya lapar sekaligus hatinya terasa penuh. Ia berjalan menuju ruang makan dan berhenti di pintu — melihat Su Yi sedang sibuk menata piring di meja, rambutnya sedikit berantakan namun wajahnya bersinar cerah.
"Su Yi..." panggilnya pelan.
Su Yi menoleh, wajahnya memerah karena malu namun tetap tersenyum lebar. "Kau pulang lebih awal. Aku... aku mencoba memasak. Maaf jika rasanya tidak enak."
Mo Ha berjalan mendekat, tidak menjawab dulu. Ia berdiri di samping meja, menatap hidangan yang sederhana namun tertata rapi — sup hangat, tumisan sayur, dan daging yang dimasak dengan bumbu sederhana namun aromanya menggugah selera. Lalu ia beralih menatap Su Yi — melihat tangan istrinya yang sedikit kotor tepung, melihat wajahnya yang penuh harap dan cemas.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Mo Ha menarik tubuh istrinya dan mendekapnya erat. "Terima kasih," ucapnya dengan suara yang bergetar karena emosi. "Terima kasih, Su Yi. Ini adalah hal terindah yang pernah ada untukku."
"Tapi belum dicoba..." bisik Su Yi malu-malu, memeluk pinggang suaminya balik.
"Rasanya pasti enak," jawab Mo Ha melepaskan pelukan, lalu menarik kursi untuk istrinya. "Karena kau yang membuatnya. Dan itu sudah cukup bagiku."
Mereka makan bersama — berbicara, tertawa, saling bercerita tentang hal-hal kecil yang terjadi hari itu. Mo Ha memuji setiap hidangan, memakan semuanya hingga habis, meskipun ada sedikit yang terlalu asin atau kurang manis. Baginya, itu adalah makanan paling lezat yang pernah ia makan — karena dibuat oleh tangan wanita yang ia cintai, dengan hati yang tulus dan penuh kasih.
Setelah makan, mereka duduk di ruang tengah, berdekatan di sofa yang lebar. Mo Ha menggenggam tangan Su Yi, memainkannya dengan lembut, menatap cincin pernikahan di jari manis istrinya — cincin yang selama ini terasa dingin, namun kini terasa hangat dan penuh makna.
"Su Yi..." panggilnya pelan.
"Ya?" Su Yi menatapnya.
"Terima kasih," ucap Mo Ha tulus. "Terima kasih karena tidak pergi. Terima kasih karena menungguku. Dan terima kasih karena... mencintaiku."
Su Yi menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, merasakan kehangatan dan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Terima kasih juga, Mo Ha. Terima kasih karena akhirnya menyadari. Terima kasih karena memilihku."
Malam pun tiba, langit berubah menjadi gelap namun dipenuhi bintang yang bersinar terang. Di kamar utama itu, lampu tidur yang remang-remang menyala lembut. Mo Ha dan Su Yi berbaring berdampingan, saling berhadapan, tangan mereka tetap saling menggenggam di atas selimut.
"Besok pagi aku harus pergi ke luar kota untuk urusan bisnis," ucap Mo Ha pelan, sedikit berat hati mengatakannya. "Tiga hari. Aku tidak ingin pergi, tapi..."
"Pergilah," potong Su Yi lembut, menyentuh wajah suaminya. "Aku akan menunggumu di sini. Tiga hari itu tidak lama. Dan sekarang... aku tahu kau pasti kembali."
Mo Ha mencium kening istrinya dengan lembut. "Aku akan segera pulang. Dan setiap hari selama aku di sana, aku akan meneleponmu. Setiap malam. Aku berjanji."
"Ingat janjimu," ucap Su Yi sambil tersenyum tipis.
"Aku selalu ingat," jawab Mo Ha lembut, lalu menarik selimut hingga ke bahu mereka berdua. "Tidurlah, Sayang. Mimpi yang indah. Dan saat kau bangun besok... aku masih ada di sini bersamamu."
Su Yi memejamkan matanya, merasakan pelukan hangat suaminya yang melindunginya dari segala kegelapan. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia tidur tanpa rasa takut, tanpa rasa kesepian, tanpa perasaan tidak diinginkan. Ia tidur dengan hati yang penuh — penuh cinta, penuh harapan, dan penuh keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan melewatinya bersama.
Dan di sampingnya, Mo Ha menatap wajah istrinya yang sudah terlelap. Ia berjanji dalam hatinya — pada dirinya sendiri, pada Su Yi, dan pada langit — bahwa ia akan menjaga wanita ini seumur hidupnya. Bahwa ia takkan pernah lagi membiarkannya merasa tidak diinginkan, tak dicintai, dan kesepian. Bahwa setiap hari yang tersisa dalam hidupnya, ia akan berusaha menjadi suami yang pantas untuknya.
Malam itu damai. Dan cinta yang sempat terlambat datang, kini tumbuh dengan begitu kuat — berakar di dalam hati dua orang yang akhirnya saling memilih, saling menerima, dan saling mencintai dengan segenap jiwa mereka.
salam interaksi thor😉