Indonesia
NovelToon NovelToon
Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Menolak Cerai dari Sang Perwira, Aku Malah Jadi Permata Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Menikahi tentara / Antagonis Jahat
Popularitas:15.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35

Simulasi Mengajar

Tema simulasi Laras adalah pecahan sederhana untuk kelas tiga.

Ia tidak membawa alat mahal. Hanya lingkaran karton, daun pisang bersih, beberapa gambar makanan, dan kartu angka. Arya membawakan kotak, kursi kecil, serta botol air ke sekolah.

“Saya menunggu di luar,” katanya.

“Jangan menatap jendela seperti penjaga tahanan.”

“Saya menatap pintu.”

Laras tertawa dan masuk.

Di kelas, Pak Sutris, Bu Endang, dan tiga anggota komite duduk di belakang. Delapan murid menjadi peserta simulasi. Setiap calon mendapat dua puluh menit dan boleh memakai kursi.

Melati tampil sebelum Laras. Ia menulis definisi pembilang dan penyebut, lalu meminta anak-anak menyalin. Dalam ingatannya, cara itu pernah mendapat nilai baik. Namun anak di baris depan segera kehilangan perhatian.

“Kalau satu dibagi dua, kenapa angkanya jadi dua?” tanyanya.

Melati mengulang definisi lebih keras.

Anak lain memainkan pensil. Ketika Melati menegur, suasana kelas makin kaku. Ia menyelesaikan materi, tetapi tidak sempat memeriksa apakah murid benar-benar memahami.

Bu Endang menulis panjang di lembar penilaian.

Saat giliran Laras, ia duduk di kursi depan agar tidak berdiri terlalu lama.

“Siapa yang pernah membagi tempe dengan saudara?” tanyanya.

Semua tangan terangkat.

Laras menunjukkan satu lingkaran karton. “Ini satu tempe. Kalau dibagi untuk dua anak dengan adil, masing-masing mendapat berapa?”

“Setengah!”

Ia memotong lingkaran menjadi dua bagian sama besar dan menuliskan satu per dua. Setelah itu murid bekerja berpasangan menggunakan daun pisang sebagai benda utuh. Ada yang membagi dua, empat, dan delapan.

Sebelum memberi tugas, Laras menyepakati tiga aturan dengan murid: alat dipakai bergantian, tidak menertawakan jawaban, dan tangan diangkat bila membutuhkan bantuan. Ia meminta seorang anak mengulang aturan dengan bahasanya sendiri.

Ketika kartu angka jatuh, murid lain langsung memungut tanpa berebut. Pak Sutris memberi tanda pada kolom pengelolaan kelas.

Laras juga bertanya siapa yang lebih suka menghitung dengan gambar dan siapa yang ingin memegang benda. Dengan begitu, anak yang malu berbicara tetap dapat menunjukkan jawaban melalui potongan karton. Satu murid yang belum lancar membaca dipasangkan dengan teman yang sabar, bukan ditempatkan sendirian.

Seorang anak memotong bagian tidak sama. Laras tidak mengatakan salah.

“Kalau kamu mendapat bagian kecil dan temanmu bagian besar, adil?”

Anak itu menggeleng, lalu memperbaiki lipatan sendiri.

Ketika dua murid selesai lebih cepat, Laras meminta mereka menemukan contoh pecahan di kelas. Mereka menunjuk jendela yang memiliki empat panel dan kotak kapur yang setengah kosong.

Murid yang tadi bermain pensil mulai ikut mencari.

Pada menit kedua belas, Laras berhenti untuk minum dan mengubah posisi duduk. Ia tetap mengajar tanpa menyembunyikan kebutuhan tubuhnya. Bu Endang mengangguk seolah menghargai keputusan itu.

Untuk penutup, setiap anak menerima kartu gambar. Mereka harus memasangkan gambar dengan angka pecahan, lalu menjelaskan alasan kepada teman.

“Kalau jawabannya berbeda?” tanya seorang murid.

“Kita periksa gambarnya bersama. Bukan orangnya yang kita sebut salah, tetapi cara hitung yang kita perbaiki.”

Bel kecil berbunyi. Dua puluh menit selesai.

“Bu, besok belajar pakai makanan sungguhan?” tanya seorang anak.

Kelas tertawa. Bahkan Pak Sutris tersenyum.

Di sesi tanya jawab, komite menanyakan cara Laras bekerja setelah melahirkan.

“Saya akan mengikuti kondisi kesehatan, hak cuti yang disepakati sekolah, dan dukungan keluarga,” jawabnya. “Saya tidak menjanjikan tidak pernah absen. Saya menjanjikan komunikasi dan rencana pengganti yang jelas.”

“Kalau gaji honorer terlambat?”

“Keluarga saya tidak menjadikan gaji ini satu-satunya sumber biaya hidup. Namun keterlambatan tetap harus dicatat karena kerja guru punya nilai.”

“Mengapa ingin mengajar?”

Laras melihat daun pisang yang terlipat di meja. “Karena anak yang belum paham sering dianggap malas. Saya ingin mencari cara lain sebelum memberi cap.”

Bu Endang menutup penanya. “Kamu punya naluri mengajar. Yang perlu dipelajari nanti administrasi kelas dan kurikulum sekolah.”

“Saya siap belajar.”

Setelah Laras, Rina mengajar membaca pemahaman melalui cerita pendek tentang pasar. Penyampaiannya tenang dan rapi. Murid menjawab baik, walau interaksi tidak seramai sesi Laras. Ketika selesai, Rina tidak tampak kecewa.

“Aku belajar dari cara kamu membuat aturan di awal,” katanya di luar. “Kalau nanti aku ditempatkan di sekolah lain, boleh kupakai?”

“Tentu. Aku juga suka caramu meminta anak mencari kalimat utama.”

Mereka saling memberi masukan nyata. Persaingan tidak mencegah dua calon guru berbagi sesuatu yang akan membantu murid di mana pun mereka bekerja.

Dua peserta terakhir mengalami masalah berbeda. Satu terlalu banyak memakai istilah yang tidak dipahami murid. Yang lain ramah tetapi kehilangan waktu karena permainan tidak diarahkan ke tujuan belajar. Komite tetap memberi kesempatan yang sama dan tidak mengumumkan komentar di depan peserta lain.

Transparansi itu membuat perbedaan kemampuan terlihat tanpa perlu mempermalukan siapa pun. Hanya Melati yang menafsirkan setiap catatan sebagai serangan.

Di luar, Arya bangkit saat Laras keluar. Ia tidak menanyakan nilai.

“Ada kontraksi?”

“Tidak.”

“Pusing?”

“Tidak.”

“Baru sekarang saya boleh bertanya. Bagaimana?”

“Anak-anak ingin tempe sungguhan.”

Arya menganggap itu jawaban bagus.

Ia menuntun Laras ke kursi beranda dan menyerahkan makanan kecil. Setelah dua puluh menit mengajar serta sesi tanya jawab, kaki Laras terasa berat meski tidak bengkak. Arya mengangkat kakinya di atas bangku pendek sampai warna wajahnya kembali segar.

“Saya akan bicara dengan sekolah soal jadwal kalau kamu diterima,” katanya.

“Jangan sebelum hasil keluar.”

“Saya bicara setelahnya. Maksimal jam mengajar, kursi, dan siapa yang mengganti jika harus kontrol.”

“Mas sudah menjadi manajer guru?”

“Saya suami yang tidak mau kejadian di saluran terulang karena semua orang merasa tidak enak meminta bantuan.”

Laras menggenggam pergelangan tangannya. Ketakutan itu masih hidup di balik setiap aturan baru. Ia tidak menertawakan lagi.

Melati berdiri dekat tangga. Ia mendengar murid-murid menceritakan pelajaran Laras kepada orang tua mereka, sementara tidak seorang pun membahas definisi yang ia tulis.

“Selamat,” katanya ketika Laras lewat. “Sepertinya kamu sudah menang.”

“Nilai belum diumumkan.”

“Semua orang sudah memihakmu.”

“Anak-anak memihak pelajaran yang mereka mengerti.”

Laras pergi bersama Arya. Rina menyusul setelah gilirannya dan mengajak bertukar catatan evaluasi bila keduanya tetap mengajar di tempat lain.

Sore itu, nilai komite dikumpulkan dalam amplop tertutup. Hasil gabungan baru diumumkan beberapa hari lagi.

Melati pulang tanpa Bu Sri. Di tikungan sepi, ia mengeluarkan telepon dan membuka grup WhatsApp desa.

Jika ia tidak dapat mengalahkan Laras di ruang kelas, ia akan membuat desa mempertanyakan apakah perempuan itu pantas masuk kelas sejak awal.

Jarinya menggantung di atas kolom pesan, lalu mulai mengetik nama keluarga Reksonegoro dengan tangan yang gemetar.

1
lin sya
thor updatenya dikit kli
lin sya
kpn melati taubat, hnya krn sft iri dan gk bsa menerima tkdir jg hobby bohong ujung2nya nyalahin laras tp ujung2nya dia yg rugi, tp rasa malunya gk ada, apa menurun dri ibunya🤭
lin sya
blm update thor?
Siti Kamisah Hasnul
lanjut kakak up nya
lin sya
klo sudah tau melati sprti apa, jdi kan pelajaran dan kewaspadaan , jgn mengulang supaya kmu ttp aman laras, apa tdk ada saksi yg melihat, atau melati meninggalkan jejak, utk bukti kedepannya
lin sya
laras kmu trllu prcya dgn melati, ceroboh, smga anak mu aman2 aj
lexxa
ceritanya bagus bngtt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!