Soraya anak bungsu dari tiga bersaudara, ceria, mudah bergaul dan sedikit pintar. Keluarganya berkecukupan tapi sederhana. Hari Pertama SMA kelas 10 bertemu Aldrian yang kelas 12, Aldrian orang yang pendiam, perhatianya tidak diucapkan. Soraya dan Aldrian memiliki hari hari yang canggung disekolah. Banyak interaksi tak pernah terjalin komunikasi. Soraya akhirnya harus terpisah dengan Aldrian. Aldrian yang sudah lebih dulu lulus pergi tanpa kata tanpa berpamitan, membuat hari hari Soraya disekolah selalu mengingat Aldrian.
Setelah 2 tahun terpisah akhirnya mereka bertemu kembali. Aldrian mempunyai keberanian untuk menemui Soraya dirumahnya.
Soraya dan Aldrian dari keluarga yang sangat berbeda, keyakinan yang berbeda membuat mereka mempunyai banyak cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MayRedN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetapi dia membangun tembok tembok yang kokoh
Saat ini dia hanya bisa dipandang dari balik jendela. Seperti kata yang tak pernah terucap. Diamnya bak patung yang hanya bisa dipandang namun tak tersentuh. Meski aku berusaha lupa, kenapa juga bayangnya masih terikat denganku.
Aku seperti tidak mengenalnya tetapi mengenal hanya dalam senyap dan mengawasinya dari kejauhan.
Seringkali berjalan berdekatan, beriring iringan tapi tak mampu membuat menjadi lebih dekat.
"Sebenernya aku udah males banget ngomongin kak Aldrian, sebulan ini kayaknya udah cukuplah ya... Orangnya aja diem gitu, tar dikira aku ada apa apanya ke dia"
"Kamu sendiri ngerasa ada apa apanya nggak sih?? Tanya Putri sambil melirik ke arah Tamiya
Triinggggggg...... Triinggggggg......
Bel masuk kelas berbunyi
Tamiya denga pandangan yang kecewa "Yahhh cepet amat. Baru juga duduk udah masuk, padahal lagi serius seriusnya nih kasus"
Bu Astuti yang cantik, rambutnya panjang dan lemah lembut seperti putri Solo masuk kekelas dengan senyumnya yang mampu menenangkan suasana kelas.
"Selamat pagi anak anak"
"Selamat pagi bu guru" jawab kami bersamaan dengan sangat kompak yang sudah terlatih selama 1 bulan penuh.
Bu Astuti ini guru Bahasa Indonesia, yang menurutku sangat menyenangkan, beliau suka sekali bercerita tentang pengalaman pengalamanya yang pernah tinggal diluar negeri. Usianya sudah tidak muda akan tetapi dari tutur kata dan bahasanya masih enak dan nyambung banget sama muridnya yang selisih umurnya sangat jauh.
Bu Astuti menjelaskan materi secara interaktif, jadi kami tidak cepat bosan. Kali ini penjelasan masih tentang Mengungkap Fakta Alam Secara Objektif.
Kami diminta untuk belajar cara menulis dan menyajikan laporan hasil observasi secara objektif. Fokus utamanya ada pada keakuratan informasi, struktur teks, dan penggunaan kaidah kebahasaan yang tepat.
Triinggggggg...... Triinggggggg......
Bel istirahat berbunyi,
3 jam pelajaran Bahasa Indonesia oleh bu Astuti selesai sudah, waktu rasanya cepat sekali berlalu. Kami bersiap siap istirahat, memasukan semua perlengkapan ke dalam tas.
Bu Astuti berdiri dari duduknya sambil membawa setumpuk buku ditangan kirinya. Berpamitan lalu keluar dari kelas. Murid murid mulai berhamburan keluar dari kelas.
"Bagaimana ini kita lanjutkan penyelidikan kasus tadi pagi atau udah kita tutup selesai gini aja nih?" Tanya Putri yang terlihat tidak sabar.
Tamiya berpindah duduk disebelah Putri, jadi kita berdesakkan bertiga duduk di dua kursi. "Ayolah kita lanjutin aja, masih penasaran nih, gimana Ya? Kamukan sebagai korban, dilanjutin nggak nih"
"Aku sebenernya males, jaket udah ketemu ini, tapi aku penasaran juga hehe. Kalau hari ini Arya menghindar berarti fix ada apa apa, ntar sorekan kita basket ketemu nih, liatin aja tu anak, keluar yuk? Laper nih" kataku sambil tertawa kecil, mengepalkan tangan lalu keluar dari kelas bersama Putri dan Tamiya.
Kami bertiga berdiri sebentar didepan balkon kelas. Menyisir keramaian, memperhatikan orang satu per satu secara berurutan agar tidak ada yang terlewat namun yang dimaksud tak terlihat. Lalu kami berjalan santai menyusuri balkon kelas 10 dan lorong laboratorium. Turun ke kantin belakang dekat dengan toilet.
"Enaknya makan nasi apa roti aja nih?" kata Putri sambil melihat lihat kantin yang sudah ramai.
"Kayaknya kalau kita makan nasi masih kepagian deh, roti aja lah. Tar siang baru kita makan nasi, kan ntar kita pulangnya sore" jawabku yang melihat sekeliling memang lagi ramai banget.
"Iya ya ntar kita ada basket, yaudah aku aja yang masuk dari pada berdesakan didalem, kalian jagain bangku sini aja biar nggak dipakai orang! mana uangnya?" kata Tamiya menjulurkan tangan begitu saja sambil menggoyangkan jarinya secara santai.
Aku mengambil uang disaku lalu memberikan ke Tamiya "Biasa Kacang Keju, Kripik kentang 1"
Putri pun memberikan uang yang sudah ada di genggaman tanganya ke Tamiya "Pisang coklat aja 1"
Tamiya masuk ke dalam kantin, berdesak desakan sendirian di dalam sana, sebenarnya kami kasihan juga ngelihatnya, tapi kalau kami semua ikut masuk nanti malah semakin tambah berdesakan. Jadi setiap ke kantin kami bergantian yang masuk kedalam.
Aku dan Putri duduk santai dibangku, lama kelamaan bangku jadi ramai banyak yang duduk.
"Geser dikit Put, kasih jarak! Ntar biar buat duduk Tamiya" aku sambil melirik kearah Putri.
Putri melihat ke arahku sambil sedikit menggeser badannya "Udah cukup kali, badanya Tamiya nggak gede gede amat"
Ternyata betul kata Putri, badan Tamiya nggak gede gede amat. Tamiya datang langsung duduk ditengah tengan antara aku dan Putri dan masih ada celah diantara tempat duduk kami. Tamiya membagikan makanan yang kami pesan.
Kamipun makan bersama dengan santai sambil ngobrol.
Tamiya "Kak Arya biasanya kesini ya, nyamperin kamu makan roti kacang bareng, nggak kelihatan nih orangnya"
Aku memasukan roti kedalam mulutku sambil menjawab "Kalau sampai kita kembali ke kelas dia nggak kesini juga berarti fix dia emang menghindar"
Putri menjawab dengan mulut yang udah penuh dengan roti "Pantengin aja ntar di balkon"
Setelah selesai makan kami kembali ke kelas lagi, kami masih saja membicarakan tentang hal yang dari tadi pagi belum selesai dibicarakan.
Kami melewati tangga belakang, lalu menuju lorong laboratorium,
Brak...
Aaarrgh... Aku berteriak kesakitan dan kaget. Aku jatuh persis didepan pertigaan tangga. Kali ini tubuhku menabrak tubuh besar seseorang yang berlari muncul tiba tiba dari tangga. Setelah melihat kearahku ternyata Arya naik dari tangga dibelakang kelas 10. Dibelakangnya ada beberapa teman temanya termasuk kak Aldrian dan kak Firuly. Semua panik mendekat ke arahku.
"Kamu nggak kenapa napa kan Ay?? Sorry... Nggak liat bener , aku buru buru tadi" Arya nafasnya tak beraturan bertanya dengan nada panik matanya berputar ke kak Aldrian lalu kembali lagi melihatku.
Teman teman Arya terlihat kawatir ada yang menawarkan bantuan, ada yang menyalahkan Arya.
"Kalau pusing kita bantu ke UKS"
"Arya liat liat kalau lari, badan kamu tu nggak kecil!!!"
"Kalau susah jalanya kita bantuin"
Putri memegang kepala lalu bahuku dengan panik "Aya, sakit nggak?"
Tamiya memegangi tanganku satunya "Perlu ke UKS nggak nih"
Diantara semua hanya Aldrian yang diam. Matanya melihatku, seperti menelitiku secara seksama. Wajahnya terlihat menghawatirkan keadaanku, tapi hanya terdiam tanpa kata dan tanpa tindakan. Mata kami bertemu dalam 1 detik, tanpa menunggu aba aba langsung saja dia membuang pandanganya, melihat ke arah lain dan memasukan kedua tangan kanan dan kiri kesaku celana.
Sebenernya apa yang diam diam disembunyikan Aldrian... Tatapanya aneh, Takut ketahuan karena nemuin jaket atau ada hal yang lain...
Seperti saat ini, terkadang tanpa sengaja sosok Aldrian sering kali melintas di pandanganku yang tak bisa ku tolak. Tetapi dia membangun tembok tembok yang kokoh dengan matanya yang setenang ombak di samudra. Aku tak ingin merobohkan pertahanannya yang sudah sebulan ini sengaja dia bangun setinggi bintang dilangit.
Dia membangun tembok yang kokoh dan tinggi itu untuk apa... Sederhananya aku hanya ingin tau kebenaran, tak usah menjelaskan atas semua pertanyaan pertanyaanku.