Indonesia
NovelToon NovelToon
Kurebut Pacarmu

Kurebut Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: gadis bucin

Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.

​Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.

​Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Bayangan Masa Lalu

Udara sore di atap gedung sekolah mendadak terasa membeku. Kaleng soda dingin di genggaman Cassandra terasa seberat bongkahan batu. Suara Rizal—suara dari masa lalu yang paling ingin ia hapus dari ingatannya—bergema memantul di dinding semen atap, menghantam kesadarannya tanpa ampun.

"...karena dia yang bikin mantan pacarnya hampir mati koma di rumah sakit?"

Narendra perlahan menoleh ke arah Cassandra. Tatapan mata cowok itu yang beberapa detik lalu dipenuhi kehangatan dan ketulusan, kini berganti menjadi raut syok berat yang dibaluti kebingungan mendalam.

"Cas..." suara Narendra terdengar tercekat di tenggorokan. "Apa maksud dia?"

Cassandra membisu. Bibirnya yang biasa pandai merangkai kebohongan licik kini terasa kaku. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya. Trik manipulasi yang selama ini menjadi senjata andalannya seolah lumpuh total saat dihadapkan pada sosok Rizal.

"Lu enggak usah sok amnesia gitu dong, Cassandra," ujar Rizal seraya melangkah maju beberapa tindak.

Sepatu botnya mengetuk lantai beton dengan irama yang menakutkan. Ia memiringkan kepala. Menyunggingkan senyum narsis yang sangat dibenci Cassandra.

"Coba kasih tahu pahlawan baru lu ini... siapa nama cowok yang waktu itu lu dorong dari lantai dua gedung olahraga SMA Nusantara? Dan kenapa sampai detik ini dia masih harus terapi jalan?"

"Cukup, Zal!" bentak Cassandra, suaranya akhirnya pecah, bergetar hebat antara amarah dan trauma yang mencuat kembali. "Lu enggak tahu apa-apa! Jangan asal bicara lu!"

"Gue enggak tahu apa-apa?" Rizal tertawa lepas, sebuah tawa meremehkan yang membuat suasana makin tegang. "Gue ini saksi kuncinya, Cas! Gue yang ada di sana waktu lu hilang kendali!"

Narendra melangkah maju, memotong jarak dan memasang badannya tepat di depan Cassandra—insting protektifnya masih tersisa, meski keraguan besar kini membayangi pikirannya.

"Lu siapa sebenarnya?" bentak Narendra pada Rizal, suaranya berat dan menuntut. "Dan ada urusan apa lu datang ke sekolah ini?"

Rizal menghentikan langkahnya, menatap Narendra dari atas ke bawah sebelum terkekeh pelan. "Gue Rizal. Teman... atau mungkin lebih tepatnya, korban dari kegilaan cewek di belakang lu itu. Dan gue ke sini bukan mau cari ribut sama lu, Bro. Gue cuma diundang sama seorang cewek bernama Anggita buat meluruskan fakta."

Narendra mengepalkan tangannya rapat-rapat. Nama Anggita kembali mencuat, membuat puzzle di kepalanya makin rumit. "Anggita yang bawa lu ke sini?"

"Bingo!" Rizal mengedipkan sebelah matanya. "Anggita tuh cewek pinter. Dia tahu ada yang enggak beres sama rumor kepindahan Cassandra. Jadi dia bayar orang buat melacak masa lalu cewek ini ke Bandung, dan ketemulah nama gue. Dia mau gue kasih bukti nyata ke lu, supaya lu tahu cewek macam apa yang lagi lu lindungi."

Cassandra menggeretakkan giginya hingga terasa ngilu. Anggita benar-benar tidak main-main. Ketika dokumen rahasia kemarin gagal menjatuhkannya karena tertutup oleh simpati Narendra, Anggita merogoh lebih dalam dan menerbangkan iblis dari masa lalunya langsung ke hadapannya.

"Ren, jangan dengerin dia..." bisik Cassandra dari balik punggung Narendra. Jemarinya meremas kain seragam Narendra dengan sangat kuat, bukan lagi sekadar akting rapuh, melainkan keputusasaan nyata. "Dia dalang dari segalanya di Bandung. Dia yang jebak gue..."

"Alasan klasik," potong Rizal santai.

Ia merogoh saku jaket kulitnya. Mengeluarkan sebuah kilas data (flashdisk) berwarna hitam dan mengacungkannya di udara.

"Di dalam sini ada rekaman CCTV koridor SMA Nusantara tiga tahun lalu. Jelas banget kelihatan siapa yang mendorong Danu sampai jatuh dari tangga mejanin. Lu mau lihat sendiri, Narendra?"

Narendra menatap flashdisk itu, lalu berbalik menatap mata Cassandra. Ada keraguan yang begitu besar di dalam manik mata cowok itu. Narendra adalah tipe orang yang menghargai kejujuran di atas segalanya. Dikhianati oleh Anggita soal kebohongan dan sikap dominannya sudah cukup memukul Narendra, dan kini, sosok Cassandra yang baru saja ia percayai mendadak diterpa badai rahasia yang jauh lebih mengerikan.

"Cas... tatap mata gue," ujar Narendra pelan namun menuntut.

"Omongan dia beneran cuma fitnah... atau ada hal besar yang selama ini lu sembunyiin dari gue?"

Cassandra menatap manik mata Narendra. Kehangatan yang tadi ada di sana telah redup, berganti menjadi celah keraguan yang amat dingin. Jika Cassandra berbohong sekarang dan Narendra kemudian melihat isi rekaman itu, ia akan kehilangan Narendra selamanya. Namun jika ia mengaku, Narendra mungkin akan memandangnya sebagai monster.

Sebelum Cassandra sempat menjawab, pintu atap kembali terbuka.

Anggita melangkah masuk dengan gaya anggunnya yang khas, disusul oleh Raka di belakangnya. Anggita menyilangkan lengan di dada. Menatap pemandangan di depannya dengan kepuasan yang terpancar jelas dari raut wajahnya.

"Gimana, Ren?" suara Anggita terdengar manis tapi beracun. "Udah dengar sendiri dari saksi kuncinya? Ini bukan dokumen cetak yang bisa lu sebut sebagai 'fitnah' atau 'manipulasi'. Ini kenyataan tentang cewek yang selama ini lu bela-belain."

Anggita berjalan mendekati Narendra, berhenti tepat di samping Rizal.

"Aku melakukan ini bukan karena dendam, Ren," lanjut Anggita dengan intonasi lembut yang dibuat-buat. "Aku cuma enggak mau kamu dimanfaatkan sama cewek psikopat yang pura-pura jadi korban rapuh. Dia itu berbahaya. Dia udah bikin satu cowok cacat di Bandung, dan kamu mau jadi korban dia berikutnya?"

"Diam lu, Anggita!" jerit Cassandra, matanya memerah menahan panas air mata amarah.

"Kenapa? Takut rahasia lu terbongkar sepenuhnya?" Anggita tersenyum sinis, lalu menoleh pada Rizal. "Zal, kasih flashdisk itu ke Narendra. Biar dia lihat sendiri."

Rizal mengangguk, lalu melemparkan flashdisk hitam itu ke arah Narendra. Narendra menangkapnya dengan refleks cepat. Ia menatap benda kecil di telapak tangannya itu dengan perasaan campur aduk.

Suasana di atap gedung menjadi sangat hening. Hanya ada suara angin sore yang bertiup kencang memoles wajah mereka berlima.

Cassandra memejamkan matanya rapat-rapat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, strategi permainannya hancur berkeping-keping. Papan catur yang ia bangun dengan begitu rapi, mendadak dibalikkan oleh Anggita.

Rasa panik yang murni menyelimuti dadanya. Jika ia kehilangan Narendra sekarang, bukan cuma rencananya yang gagal, tapi hatinya—yang tanpa sadar mulai benar-benar jatuh pada cowok itu—akan hancur lebur.

"Gue enggak boleh kalah. Gue enggak boleh biarin Anggita menang begitu aja!" batin Cassandra berteriak.

Tiba-tiba, sebuah ide gila yang sangat nekat terlintas di kepala Cassandra. Sebuah langkah ekstrem yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Sebuah taruhan hidup dan mati untuk merebut kembali kendali permainan.

Cassandra menghembuskan napas panjang. Kejengkelan dan ketakutannya mendadak menguap. Berganti dengan tatapan mata yang sangat dingin dan berani.

Ia tidak merampas flashdisk itu. Ia justru melangkah maju. Melepaskan pegangan tangannya pada seragam Narendra, dan berdiri tepat di antara Narendra dan Anggita.

"Lu mau tahu kebenarannya, Ren?" suara Cassandra mendadak tenang. Begitu tenang hingga membuat Rizal dan Anggita sedikit terkejut.

"Lu enggak perlu repot-repot tonton isi flashdisk itu."

Narendra mengernyitkan dahi. "Cas?"

Cassandra menoleh menatap Rizal, lalu menatap Anggita dengan senyuman miring yang penuh ketegasan.

"Gue emang ada di sana waktu Danu jatuh," aku Cassandra secara terbuka di hadapan mereka semua. Anggita menyunggingkan senyum kemenangan, tapi senyum itu langsung membeku saat mendengar kalimat Cassandra selanjutnya.

"Tapi apa Rizal kasih tahu lu alasan kenapa Danu jatuh, Ta? Apa dia kasih tahu lu kalau hari itu, Danu dan Rizal berusaha pelecehan seksual ke gue di kamar ganti gedung olahraga?!"

DEG!

Pernyataan itu meledak seperti bom di atap gedung.

Wajah Anggita mendadak pucat pasi. Ia menoleh kaget ke arah Rizal. Sementara itu, raut wajah Rizal yang semula penuh percaya diri seketika berubah tegang dan gelisah.

"Lu... lu jangan asal bual ya, Cas!" gagap Rizal. Suaranya naik satu oktav karena panik.

"Gue enggak bohong!" tegas Cassandra dengan mata menyala-nyala, kini menatap lurus ke dalam mata Narendra.

"Hari itu, Danu dan Rizal nahan gue di dalam kamar ganti. Gue ngelawan sekuat tenaga. Gue dorong Danu buat menyelamatkan diri gue sendiri dari mereka berdua! Tapi karena Rizal punya koneksi sama kepala sekolah SMA Nusantara, cerita itu dibalik! Gue dipaksa bungkam, gue dituduh penganiayaan, dan bapak gue yang waktu itu lagi kena kasus hukum enggak punya kekuatan buat membela gue!"

Air mata yang sejak tadi ditahan Cassandra akhirnya menetes jatuh melewati pipinya. Namun kali ini, itu bukanlah air mata buatan dari aktingnya. Melainkan luapan amarah atas ketidakadilan nyata yang selama ini dipendamnya sendirian dalam sunyi.

Narendra tertegun. Matanya membelalak menatap Cassandra. Lalu beralih menatap tajam ke arah Rizal yang kini mulai melangkah mundur secara perlahan.

"Itu... itu cuma alibi murahan dia, Ren!" sergah Rizal panik, mencoba mengelak.

"Jangan percaya sama cewek gila ini!"

"Kalau itu cuma alibi," pangkas Cassandra cepat seraya merogoh saku rok seragamnya dan mengeluarkan ponselnya sendiri. "Kenapa gue punya rekaman suara pengakuan Danu di rumah sakit dua minggu setelah kejadian? Di mana dia minta maaf ke gue karena udah nurutin rencana bejat lu, Rizal?!"

Cassandra menekan tombol play pada sebuah berkas suara di ponselnya.

Dari speaker ponsel, terdengar suara lemah seorang cowok yang terengah-engah: "Cas... maafin gue... ini semua ide Rizal. Dia yang ngajak gue buat jebak lu di kamar ganti hari itu. Maafin gue, Cas..."

Suara rekaman itu mengudara dengan sangat jelas di atap sekolah.

Bagaikan disambar petir di siang bolong, Anggita kaku tak berkutik. Rencananya untuk membawa senjata pamungkas justru berbalik menghantam dirinya sendiri dengan dampak yang jauh lebih menghancurkan.

Anggita tidak tahu latar belakang lengkap kejadian itu. Ia hanya membayar Rizal untuk menjatuhkan Cassandra tanpa memeriksa kebenaran di balik drama tersebut.

Narendra mencengkeram flashdisk di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Kemarahan yang luar biasa meluap dari dalam dirinya—bukan kepada Cassandra, melainkan kepada Rizal dan Anggita.

"Lu..." suara Narendra bergetar oleh amarah yang mendalam.

Ia melangkah maju menatap Rizal dengan tatapan membunuh. "Lu berani-beraninya datang ke sini, bawa bukti setengah-setengah, cuma buat menutupi kejahatan lu sendiri?!"

"Ren, dengerin gue dulu—" Rizal mencoba membela diri, tapi sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, Narendra sudah melayangkan satu pukulan mentah tepat di rahang kiri Rizal!

BAM!

Rizal tersungkur ke lantai beton atap, memegangi rahangnya yang terasa bergeser. Helmnya menggelinding jauh. Panik dan kalah jumlah. Rizal buru-buru bangkit berdiri, menatap Narendra dan Cassandra dengan ketakutan. Lalu berbalik berlari kencang menuju pintu tangga, kabur meninggalkan atap sekolah.

Kini, tinggal tersisa empat orang di atap.

Narendra berdiri dengan napas memburu, membelakangi Anggita dan Raka. Kemudian, Narendra membalikkan badannya perlahan. Menatap Anggita dengan pandangan yang benar-benar asing dan penuh rasa jijik.

"Ini cowok yang lu sebut 'saksi kunci', Ta?" bisik Narendra dengan nada suara dingin yang sanggup menyayat hati. "Lu bekerja sama sama pelaku pelecehan cuma buat merusak nama baik Cassandra? Lu benar-benar menjijikkan."

"Ren... aku enggak tahu kalau Rizal..." Anggita melangkah mundur, matanya berkaca-kaca karena ketakutan dan rasa malu yang mendalam.

Raka di sampingnya bahkan tidak berani membela Anggita lagi. Ia tahu mereka telah melintasi batas yang sangat berbahaya.

"Pergi dari sini," usir Narendra tegas, tanpa memberikan ruang sedikit pun untuk negosiasi. "Sebelum gue laporkan lu berdua dan Rizal ke polisi atas dugaan pencemaran nama baik dan kerja sama tindak kejahatan."

Tanpa bisa berkata-kata lagi, Anggita menutup mulutnya sambil terisak keras. Lalu berbalik, berlari meninggalkan atap sekolah bersama Raka. Kebanggaannya, reputasinya sebagai ketua OSIS yang sempurna, dan cintanya pada Narendra runtuh sepenuhnya sore itu.

Atap sekolah kembali hening. Angin sore bertiup. Membawa aroma tanah basah.

Narendra memutar tubuhnya menghadap Cassandra. Amarah di wajah cowok itu luluh seketika, berganti dengan rasa penyesalan yang begitu besar. Ia melangkah mendekati Cassandra yang masih berdiri mematung dengan air mata yang mengalir diam-diam di pipinya.

Narendra tanpa ragu menarik Cassandra ke dalam pelukannya.

Tubuh Cassandra terperanjat kaget. Namun, hangat dekapan Narendra yang begitu protektif dan erat perlahan-lahan meruntuhkan seluruh pertahanan dinding tebal yang ia bangun selama ini. Cassandra menyandarkan kepalanya di dada Narendra. Mendengarkan detak jantung cowok itu yang berdegup kencang.

Rasa sunyi yang selama ini merawat lukanya sendirian seolah sirna dalam sekejap.

"Maafin gue, Cas..." bisik Narendra di atas pucuk kepala Cassandra, meremas pelan seragam cewek itu. "Maaf karena sempat ragu sama lu. Gue janji, enggak akan ada siapapun lagi yang bisa menyakiti atau mengungkit masa lalu lu. Gue bakal ada di samping lu."

Cassandra memejamkan mata. Membalas pelukan Narendra dengan erat. Di balik kemenangan besarnya atas Anggita, ada perasaan baru yang membakar dadanya—sebuah ketakutan baru yang bukan berasal dari musuh-musuhnya, melainkan dari hatinya sendiri: Bagaimana jika Narendra suatu hari nanti tahu bahwa awal dari semua kedekatan ini didasari oleh niat licik dan dendam?

Satu Minggu Kemudian.

Dunia di SMA Garuda telah berubah total. Anggita resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua OSIS. Dia memilih pasif dari kegiatan sekolah karena tekanan sosial.

Sementara itu, posisi Cassandra berbalik seratus delapan puluh derajat. Ia tak lagi dicap sebagai cewek bermasalah, melainkan sosok tangguh yang selamat dari ketidakadilan. Di sampingnya, selalu ada Narendra yang siap pasang badan.

Sore itu, Cassandra baru saja keluar dari perpustakaan sekolah setelah menyelesaikan tugas kelompok. Lorong sudah mulai sepi.

Saat ia melangkah menuju gerbang utama tempat Narendra berjanji akan menjemputnya dengan motor. Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti tepat di sampingnya. Kaca mobil bagian belakang perlahan turun.

Di dalam mobil itu, duduk seorang pria paruh baya berpakaian setelan jas rapi dengan aura dominan yang sangat kuat. Pria itu melepaskan kacamata hitamnya. Menatap Cassandra dengan senyuman tipis yang terasa dingin dan berkuasa.

"Cassandra... sudah lama ya tidak bertemu," sapa pria itu dengan suara berat.

Jantung Cassandra seolah berhenti berdetak seketika. Seluruh sendi tubuhnya mendadak kaku.

Pria di dalam mobil itu adalah Baskoro—ayah kandung Narendra, sekaligus sosok pengusaha ulung yang beberapa tahun lalu merupakan dalang utama di balik kebangkrutan dan kasus hukum yang menghancurkan keluarga Cassandra.

Pria itu memiringkan kepalanya, menatap Cassandra dari atas ke bawah.

"Saya mendengar putra saya putus dengan Anggita demi kamu. Kamu bermain sangat rapi, Anak Muda. Persis seperti cara ayahmu mencoba menjatuhkan saya dulu."

Baskoro mengetukkan jemarinya di pintu mobil.

"Masuk ke mobil. Ada hal yang perlu kita bicarakan soal Narendra... sebelum saya sendiri yang memberitahu Narendra siapa kamu sebenarnya di keluarga kami."

1
Ros Mawa Tyy
👍👍👍
gadis bucin: terima kasih 🤗🙏🏻
total 1 replies
gadis bucin
Teman-teman, silakan mampir dan baca karyaku. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. 🤗❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!