Saka mengalami kecelakaan tragis. Mobilnya menabrak pembatas jembatan lalu terjun bebas ke sungai dan meledak.
Ajaibnya Saka masih hidup. Namun saat membuka mata, dia terbangun di tubuh orang lain. Saka hidup dalam tubuh Aryan, pria yang mengalami kecelakaan di hari yang sama dengannya.
Setelah selamat dari kecelakaan tragis, hidup Saka berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan saja harus menjalani kehidupan orang lain, matanya juga bisa melihat kilatan masa depan.
Saka bisa melihat kejadian buruk di masa depan. Kejadian yang memaksanya ikut campur dalam takdir seseorang. Dan membuka tabir rahasia tentang kematiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Risiko Terbongkar
Penglihatan Saka menunjukkan sebuah gedung dengan nama LIFE INSURANCE . Di sisi kiri gedung, tampak seorang pria mengendap-endap. Tak berapa lama kemudian, pria itu keluar dan berlari sekuat tenaga.
Kemunculan pria itu tertangkap mata Firlan dan anggota timnya. Polisi tersebut langsung mengejar pria itu.
Di sebuah perempatan, dia berbelok ke kiri. Sadar bahwa dirinya akan tertangkap jika terus berlari, pria itu memilih bersembunyi.
Matanya menangkap gorong-gorong yang tertutup terpal. Tempat itu dirasa bisa dijadikan tempat persembunyian. Buru-buru dia masuk ke dalam gorong-gorong kemudian menutupnya kembali dengan terpal.
Tak berapa lama kemudian, Firlan dan timnya sampai di perempatan. Dia membagi timnya menjadi dua.
Firlan bersama dua orang anggota timnya berbelok ke kiri. Mereka terus berlari tanpa menyadari bahwa pria yang dikejar sedang bersembunyi.
Setelah yakin polisi yang mengejarnya sudah pergi, pria itu diam-diam keluar. Saat dia berlari menjauh, tiba-tiba Firlan sudah berada di depannya.
Tanpa pikir panjang, pria itu mengeluarkan pisau yang sedari tadi dibawanya, lalu menusukkan ke perut Firlan.
Penglihatan Saka berakhir. Pria itu seketika terbangun. Keringat membasahi tubuhnya. Penglihatan yang baru dilihatnya hanya berdurasi tiga puluh detik. Namun, apa yang dilihatnya cukup membuatnya terkejut.
Saka mencoba mengingat waktu yang tertera saat penglihatannya tadi. Penglihatan menunjukkan pukul 21.17.
Pria itu langsung melihat jam di pergelangan tangannya. Hanya tersisa dua puluh menit lagi sebelum peristiwa penusukan terhadap Firlan terjadi.
Saka kebingungan. Dia tidak mau sesuatu terjadi kepada Firlan, tetapi untuk datang ke lokasi dalam waktu dua puluh menit rasanya tidak mungkin. Terlebih, Saka belum mengenal seluk beluk jalan di kota ini.
Agar kejadian seperti tadi siang tidak terjadi lagi, Saka memutuskan untuk menghubungi Firlan. Tidak masalah jika rahasianya harus terbongkar. Yang penting dia bisa menyelamatkan pria itu. Saka segera mencari ponselnya lalu menghubungi Firlan.
Saka semakin resah karena Firlan tidak juga menjawab panggilannya. Pria itu semakin frustrasi.
Karena Firlan tak kunjung menjawab panggilannya, Saka terpaksa mengubah rencana. Dia memutuskan menghubungi Dirga. Hanya pria itu yang menjadi harapannya mencegah musibah yang akan menimpa Firlan.
“Halo,” terdengar suara Dirga dari seberang.
“Dir, ke rumahku sekarang!” ujar Saka yang lebih cocok disebut sebagai perintah.
“Ngapain?” tanya Dirga bingung. Padahal dia baru saja hendak bobo cantik.
“Ke sini aja. Nggak usah banyak tanya!” hardik Saka sambil memutuskan panggilan.
Di seberang sana, Dirga yang cukup kesal dengan perintah Saka melampiaskan kekesalannya dengan meninju angin beberapa kali.
Namun, akhirnya pria itu menyambar jaket dan kunci motor. Meski misuh-misuh, Dirga berangkat juga ke kediaman Aryan.
Tak lama setelah Saka mengakhiri panggilan dengan Dirga, ponselnya berdering. Di layar ponsel muncul nama Firlan.
Tanpa pikir panjang, Saka langsung menjawabnya. “Halo. Kenapa baru menjawab telepon dariku?!” sembur Saka kesal.
“Aku sedang mengejar buronan. Ada apa?”
“Apa kamu mengejarnya sambil berlari?” tanya Saka penasaran sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu tersisa lima belas menit lagi.
“Tidak. Aku dan tim masih mengejarnya menggunakan mobil. Ada apa?”
“Apa di dekatmu ada gedung Life Insurance?” Saka menyebutkan nama gedung yang dilihatnya saat penglihatan terjadi.
“Aku belum sampai di sana, tapi aku akan melewati gedung itu. Bagaimana kamu tahu?”
“Buronan yang kamu kejar ada di sekitar gedung itu.”
Alih-alih menjawab pertanyaan Firlan, Saka justru memberitahukan lokasi buronan itu. Saat kejar-kejaran terjadi, dia memang melihat buronan itu keluar dari sisi gedung asuransi tersebut.
“Apa kamu yakin?”
“Iya. Tapi selama kamu mencarinya, jangan putuskan sambungan telepon supaya aku bisa memandumu.”
“Baiklah.” Firlan memasang earphone ke telinganya, lalu mengalihkan panggilan ke perangkat tersebut. Pada saat bersamaan dia sudah tiba di gedung asuransi.
Firlan memerintahkan anak buahnya mencari buronan di sekitar gedung.
“Dia ada di sisi kiri gedung. Coba cari di sana!” Saka memberi arahan.
Firlan segera mencari buronan yang diburunya sambil terus mendengarkan instruksi Saka.
Saat mendengarkan ucapan Saka, sudut mata Firlan menangkap sosok mencurigakan. Dia langsung mengarahkan senter ke sosok tersebut.
Terkejut dengan sorot senter mengarah kepadanya, pria itu langsung berlari. Menyadari bahwa itu adalah buronan yang diburunya, Firlan berteriak. “Itu dia!”
Teriakan Firlan menarik perhatian anggota timnya. Mereka langsung mengejar buronan tersebut.
“Berhati-hatilah, buronan itu membawa pisau,” Saka memperingatkan Firlan.
Firlan terus mengejar buronan tersebut. Saat melewati sebuah pot besar, Firlan menjadikan pot tersebut sebagai tumpuan, lalu melompat. Tubuhnya tepat menabrak buronan yang diburunya. Kedua pria itu terjatuh.
Firlan bangkit dengan cepat, sementara buronan itu mengambil pisau yang disembunyikan di belakang pinggangnya.
Secepatnya, Firlan menendang tangan buronan itu hingga pisau di tangannya terlepas. Sebuah tendangan kembali dilayangkan Firlan hingga membuat buronan tersungkur.
Bergegas Firlan memborgol buronan tersebut. Anggota timnya segera membawa pria itu ke mobil patroli.
“Apa sudah selesai?” tanya Saka.
“Ya. Terima kasih atas bantuanmu. Aku masih sibuk malam ini, tapi besok aku menunggu penjelasanmu.”
“Aku akan menemuimu setelah jam kerjaku selesai.”
“Aku tunggu janjimu.”
Saka mengakhiri panggilan. Hatinya sudah lega sekarang karena berhasil menyelamatkan Firlan. Soal reaksi Firlan akan dia pikirkan nanti. Yang penting dia sudah berhasil menyelamatkan satu nyawa hari ini.
Lamunan Saka buyar saat mendengar suara Dirga. Rupanya, pria itu baru saja tiba di rumah. “Ada apa?” tanya Dirga yang sudah sampai langsung bertanya tanpa basa-basi.
“Nggak ada apa-apa. Pulang aja sana,” jawab Saka dengan santainya.
“Yaa!!” teriak Dirga kesal. Karena telepon Saka, dia harus menunda kepergiannya ke pulau kapuk. Dia buru-buru datang ke rumah sang sahabat. Namun setibanya di sana, Saka dengan enteng menyuruhnya pulang.
Dirga menjatuhkan dirinya di lantai. Dia merajuk seperti anak kecil. Pria itu menggesek-gesekkan kakinya di lantai sambil mengeluarkan keluh kesahnya.
“Aku baru aja mau tidur, tidur! Tapi demi kamu, aku secepatnya ke sini. Terus dengan entengnya kamu nyuruh aku pulang. Kenapa nggak nyuruh aku mati sekalian!” kesal Dirga.
Karena suara Dirga cukup kencang, Astri yang berada di bawah bisa mendengar teriakannya. Wanita itu bergegas ke lantai atas. Dia terkejut melihat Dirga yang duduk di lantai sambil merajuk.
“Kamu kenapa, Dirga?”
“Tanya Aryan aja, Bu,” jawab Dirga sambil berdiri.
Pria itu memutuskan untuk pulang. Meski kecewa dengan sikap Aryan, Dirga masih menganggap bahwa perubahan sikap sahabatnya terjadi karena kecelakaan yang dialaminya. Dengan langkah lunglai, dia menuruni tangga.
Dirga segera menaiki motornya. Ketika dia memakai helm, Saka datang menghampiri. “Maafkan aku,” ujar Saka, membuat Dirga tidak jadi menyalakan mesin motor.
“Ayo masuk. Ada yang mau kuceritakan padamu.”
Saka segera berbalik lalu berjalan memasuki rumah. Sadar bahwa Dirga tidak mengikutinya, Saka menoleh. “Kalau nggak mau ikut, ya udah. Tapi nggak ada kesempatan kedua.”
Mendengar itu, Dirga buru-buru membuka helmnya lalu turun dari motornya. Bergegas dia mengikuti Saka. Melihat tingkah Dirga tak ayal membuat Saka tertawa.
Sekarang keduanya duduk di lantai sambil menyandarkan punggung ke dinding. Belum ada pembicaraan di antara mereka.
“Apa yang mau kamu ceritakan?” tanya Dirga, memecah kesunyian di antara mereka.
“Apa yang mau kamu tanyakan? Aku akan menjawabnya,” jawab Saka yang malah bertanya balik.
“Cuma satu yang mau aku tanyakan. Apa kamu bisa melihat masa depan?”
***
Udah siap cerita nih
bentar mau ambil air sama baskom...
mau di liat lewat media air dlm baskom... apakah bisa keliatan gk ya .... Saka mau jujur apa mingkem 😂
apakah mau jujur kau...ato kau masih mau ngeles blom mau terbuka 😔
jangan bikin in cemas pembaca Ka....kamu itu kuat dan dgn keyakinan seyakin-yakinnya pasti kerja kerasmu akan membuahkan hasil /Determined//Determined//Determined/