Aku menikahi dia, tapi justru pamannya yang membuatku kehilangan akal. Setiap kali pria itu menatapku, ada bara yang tak bisa kupadamkan. Di mata keluarga, pria itu hanyalah paman dari suamiku. Di hatiku, dia adalah pria yang tak pernah boleh kusentuh. Namun, semakin aku menghindar, semakin dekat dia datang, membawa bisikan-bisikan yang memecah pertahananku. Bagaimana jika cinta ini terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RASA TIDAK AMAN
Eric mempercepat langkahnya, rahangnya mengeras, tangannya mengepal kencang. Lalu tanpa aba-aba, dia menarik pria yang sedang berdiri di depan istrinya.
“Bugh” suara pukulan yang terdengar keras dan kasar baru saja mendarat di wajah tampan yang sedari tadi terlihat tersenyum kepada seline.
Pria yang dipukul itu pun terjatuh ke lantai. Mata Seline terbelalak ketika melihat pria yang melakukan pemukulan adalah suaminya sendiri. “Eric apa yang kau lakukan?”
“Apakah sikap dinginmu beberapa hari ini, karena pria ini. Dia selingkuhamu ya!” ujar marah Eric.
Seline membasahi bibir bawahnya. Lalu “Plak” dia pun mendaratkan tamparan keras ke wajah suaminya itu.
“Kau baru saja kehilangan otakmu ya. Bukankah hari ini kau yang baru saja membawa selingkuhanmu ke acara keluarga kita?”
Seline menatap Simon yang masih berusaha untuk bisa berdiri. Dia pun meraih tangan pria itu seraya berkata, “Simon apa kau baik-baik saja?”
Melihat Seline begitu perhatian kepada Simon, api cemburu membakar hati Eric lagi. Dia pun menarik kerah kemeja pria itu. Namun, malah ditepis oleh istrinya sendiri.
“Otakmu benar-benar kemasukan air ya!” kata kesal Seline lagi, sambil berdiri di depan Simon, terlihat ingin melindungi Simon dari pukulan selanjutnya yang siap dilayangkan oleh Eric.
“Katakan padaku! Apa… dia pacarmu?” Eric berkata sambil bertelak pinggang.
“Dia ini Direktur Rumah Sakit Sayap Suci ini!” kata Seline sambil menaikan dagunya, seraya mengeluarkan aura arogan seorang wanita mandiri.
“Eum… Direktur… Atasanmu?” kata Eric sedikit terbata.
Simon berdiri di samping Seline lalu berkata, “Ya, aku adalah atasannya?”
Eric pun langsung merasa canggung, dia menarik tangan Simon lalu memperkenalkan dirinya. “Maafkan karena ketidaktahuanku, aku Eric Mo. Suaminya!”
Simon tersenyum lalu berkata dengan sedikit sarkas, “Aku memahamimu! Eum… memiliki istri hebat dan secantik Seline, pasti siapapun suaminya, akan merasa tidak tenang hati. Jika itu aku, pasti aku tidak akan mengizinkannya bekerja, aku akan menyimpannya dikamar hanya untuk aku, orang lain tidak boleh memandangnya. Karena, aku pasti akan cemburu!”
Seline langsung menatap Simon, “Apa otak dia juga baru saja kemasukan air!”
Sepanjang mereka saling mengenal di bangku kuliah dulu, Simon termasuk orang yang tidak bisa menggombal soal wanita. Bahkan dia termasuk pria yang selalu gemetar kaku jika ada wanita yang menyukai dan mengejarnya.
Bagi Simon, Seline pengecualian. Dia bisa dengan nyaman berada di dekat dia, meski itu harus memakan waktu selama 24 jam. Seline memperhatikan sudut bibir Simon yang sedikit mengeluarkan darah.
“Ayo, aku obati bibirmu!” kata Seline seraya menarik Simon masuk ke ruangan kerjanya.
Eric tidak mau ketinggalan, dia pun ikut masuk ke dalam ruang kerja istrinya itu. Ruang kerja itu mendadak terasa sempit dan panas.
Eric berdiri beberapa langkah dari meja kerja istrinya. Tatapannya tidak lepas dari tangan sang istri yang sedang membersihkan luka di bibir Simon. Ada sedikit darah yang masih terlihat di sudut bibirnya. Luka itu jelas bukan karena kecelakaan. Dialah yang baru saja memukul pria itu. Namun, melihat istrinya sekarang begitu perhatian, rasa kesalnya justru semakin menjadi.
"Jangan bergerak," kata Seline kepada Simon sambil mengambil kapas baru. "Lukanya masih berdarah."
Simon yang duduk di kursi hanya mengangguk. "Sakit tidak?" tanya Seline
"Sedikit!” jawab Simon sambil melirik Eric.
Seline kembali membersihkan luka tersebut dengan hati-hati. Melihat itu, rahang Eric langsung mengeras, menahan marah dihati.
"Sudah cukup! Seline berhenti dan menoleh kepada Eric, lalu berkata "Apa?"
"Aku bilang sudah cukup!” kata Eric lagi
"Kau yang membuat bibirnya seperti ini. Sekarang aku yang mengobatinya. Kenapa kau malah marah?"
"Karena aku tidak suka melihat istriku mengobati pria lain." Kata Eric sambil bertelak pinggangl lagi di depan keduanya dengan nada suaranya yang terdengar dingin.
Seline menghela napas. "Dia terluka karena kau."
"Aku tahu."
"Bagus! Kalau tahu, jangan bikin masalah." Kata Seline lagi seraya melanjutkan pengobatannya.
Eric melangkah mendekat lalu berkata, "Aku bikin masalah?" Matanya berpindah ke Simon yang sedang duduk di hadapan istrinya. "Aku lihat sendiri bagaimana dia menatapmu sambil tersenyum senang."
"Dia cuma sedang bicara denganku." Kata Seline tanpa melihat wajah Eric yang sudah memerah padam karena marah.
"Bicara Apanya! Lihat saja sekarang, apa kau harus menyentuh wajahnya seperti itu?" kata marah Eric lagi.
Seline berdiri dari kursi dan langsung menatap eric tajam. "Aku sedang mengobati lukanya!” kata Seline sambil sedikit memijit-mijit pelipisnya lagi.
"Aku tahu." Kata Eric lagi
"Kalau tahu, kenapa kamu terus mempermasalahkannya?" sungut kesal Seline
Eric terdiam beberapa detik. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dia tahu dirinya sedang cemburu. Dan yang membuatnya semakin kesal adalah dia tidak bisa menyembunyikannya. "Aku tidak suka," katanya pada akhirnya.
Seline menatapnya tanpa menjawab. Lalu Eric berkata lagi. "Aku tidak suka ada pria lain duduk di depanmu, apalagi kau menyentuhnya seperti itu."
"Jadi karena cemburu, kamu memukulnya?" tanya Seline terdengar ingin memastikan sesuatu.
Eric tidak tidak menjawab. Dia memang merasa cemburu. Tapi, merasa gengsi untuk mengakuinya. Sementara, Simon yang sejak tadi diam akhirnya berdeham kecil. "Kalau kalian mau bertengkar, aku akan keluar dulu!"
Keduanya langsung menoleh kepadanya. Simon bangkit berdiiri lalu keluar dari ruangan kerja seline. Sepasang suami istri itu saling menatap dalam diam. Terlihat sedang menunggu siapa dulu yang akan bicara.
Mereka tertegun beberapa saat, lalu ponsel Eric berdering. “Kau dimana?” suara Rania terdengar sedikit memelas.
Eric membasahi bibir bawahnya, menatap Seline lalu tanpa rasa bersalah dia berkata, “Aku akan ke sana!”
Seline menarik napas sambil bersedekap tangan. Semenit yang lalu hatinya masih berharapa masih ada sedikit percakapan romantis diantara mereka. Namun, pertanyaan yang menggelayut di hatinya tadi sudah terjawab dari sikap Eric yang baru saja melangkah pergi untuk menemani selingkuhannya.
Seline menghela napas sambil duduk di sofa, bersandar sambil memejamkan matanya. Potoangan-potongan kenangan indah semasa mereka memadu kasih dulu, semakin membuat kepalanya pening. Lalu kedua matanya langsung membelalak, ketika wajah Xander terlintas di pelupuk matanya.
“Kenapa jadi teringat dia!” pikirnya sambil mengusap tengkuk lehernya yang baru saja merinding. Dalam hati, ingin lupa tapi masih ingat rasa.
Pada saat ini, Eric masuk ke kamar rawat inap Rania. “Jadi apa yang terjadi dengannya?” tanyanya pada Dokter. Dre.
“Baiknya kau jangan membuat Ibu hamil kita merasa stress ya!”
“Aku membuatnya stress?” pikir heran Eric.
Dokter Dre kembali berkata dengan tersenyum, “Menjaga mood ibu hamil itu penting, jadi jangan berbuat sesuatu yang sekiranya bisa memicu rasa tidak aman si ibu!”
Eric memahami maksud Dokter Dre, rasa tidak aman yang dimaksud adalah “Seline” istirnya.
seline kamu polos bed
thor pengen visuaaaaalllllll
biar halu ny enak🤭
semoga si pelakor kena jebakan Batman..niat hati menjebak Selin malah dia yg terbukti bersalah
suka banget dg ketegasan tuan Mo..tapi lebih suka lagi kalau mereka di izinkan berpisah biar Selin jadi adik ipar saja 🤭
pph you the best,,,tp maaf bentar lg bkal jd istri paman
xender aku mau satuuuu