Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20,1
Sistem muncul, bukan dengan warna merah darurat atau biru tenang, tapi dengan warna keemasan yang hangat, warna yang sama seperti lampion festival yang belum jatuh, dengan suara lonceng yang merdu, bukan alarm.
[Hidden Quest unlocked: Promise Under the Stars]
[Type: Soul Promise - Unbreakable]
[Objective: Return to Aria, no matter where you go, no matter what you find.]
[Reward: Unknown - Depends on whether promise is kept.]
[Failure: Unknown - But system advises not to fail this one.]
Yamada mengerutkan kening, menatap jendela emas itu, dengan wajah bingung.
"Kenapa quest ini muncul? Aku cuma janji kelingking, bukan janji jiwa."
Aria yang tidak bisa melihat sistem, menatap Yamada yang tiba-tiba mengerutkan kening ke udara kosong, dengan bingung.
"Apa? Ada apa? Kau melihat sesuatu lagi? Lingkaran sihir lagi?"
"Tidak. Tidak ada apa-apa. Hanya sistem yang... terlalu sensitif." Jawab Yamada, menutup jendela emas itu dengan kibasan tangan, kembali menatap langit.
Yamada menatap langit yang penuh bintang, bintang yang berkelap-kelip seperti janji-janji kecil.
Namun kemudian, sistem yang baru saja ditutup, menampilkan pesan lain, pesan yang muncul otomatis, tanpa dipanggil, dengan warna ungu yang sama seperti saat pertama kali mendeteksi Aria di kereta, dengan tulisan yang berkedip pelan.
[Memory resonance detected. High-level resonance.]
[Aria's soul signature matches 87% with a sealed memory fragment: Memory Fragment #7 - The Girl Who Waited.]
[Memory Fragment #7 Status: Sealed by White Witch. Cannot be opened without permission or without Soul Resonance >80%. Current Resonance: 55%.]
Yamada membeku, cangkir cokelat panas di tangannya hampir tumpah, matanya membelalak menatap tulisan ungu itu, lalu menatap Aria yang ada di sebelahnya, yang sedang menyesap cokelat panas dengan pipi yang sedikit memerah karena dingin.
"Aria." Panggilnya, dengan suara yang tiba-tiba serius, sangat serius, tidak ada malas-malasan lagi.
"Hm? Apa? Cokelatnya kurang manis?" Aria menoleh, dengan mulut masih menempel di cangkir.
"Siapa sebenarnya dirimu? Siapa Aria Luvellia yang sebenarnya? Kenapa tanda jiwamu cocok 87% dengan ingatan yang disegel tentang gadis yang menunggu? Apakah kau... apakah kau gadis rambut hitam itu?" Tanya Yamada, dengan pertanyaan yang langsung, tanpa basa-basi, pertanyaan yang sudah dia tahan sejak ruang rahasia di dungeon.
Aria menatapnya, untuk sesaat, senyum hangatnya yang tadi mengembang karena janji kelingking, menghilang, wajahnya kembali menjadi tenang, dingin, seperti danau beku di musim dingin, seperti pertama kali Yamada melihatnya di kereta. Mata ungunya yang tadi hangat, kini terlihat jauh, sangat jauh, seperti sedang melihat sesuatu yang jauh di masa lalu, jauh di balik bintang-bintang.
Kemudian, setelah beberapa detik yang terasa seperti menit, dia kembali tersenyum, tapi senyumnya kali ini berbeda, senyum yang sedih, senyum yang menyimpan rahasia yang sangat besar, senyum yang sama seperti senyum perempuan rambut putih di Hutan Elaria.
"Aku juga..." Katanya pelan, dengan suara yang hampir tenggelam oleh angin malam, matanya menatap bintang-bintang di atas, bintang-bintang yang mungkin adalah saksi janji lima tahun lalu. "...sedang mencari jawabannya. Siapa aku sebenarnya. Kenapa aku merasa sudah mengenalmu sejak lama. Kenapa aku bermimpi tentang lingkaran sihir ungu dan seorang anak laki-laki yang berjanji akan kembali. Aku juga tidak tahu, Yamada. Aku juga sedang mencari."
Jawaban yang jujur, tapi juga jawaban yang menyisakan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Jauh di dalam Hutan Elaria, di pusat hutan yang terlarang, di mana bahkan cahaya bintang tidak bisa menembus dedaunan rapat, di depan makam tua yang bertuliskan YAMADA yang hampir tertutup lumut, yang kini ditumbuhi Requiem Flower kedua yang sudah mekar penuh—
perempuan berambut putih yang selalu tersenyum sedih itu membuka matanya yang tertutup selama beberapa minggu, mata merahnya yang menyala terang dalam kegelapan hutan, memantulkan cahaya Requiem Flower.
"Dia sudah bertemu dengannya. Lebih cepat dari yang kukira. Janji kelingking di bawah bintang, ya." Bisiknya, dengan suara yang lembut tapi bergema di seluruh hutan, membuat semua monster di hutan terdiam.
Bayangan hitam besar di belakangnya, monster bermahkota tiga tanduk yang berlutut, bertanya dengan suara berat,
"Apakah itu sesuai rencana, Nyonya? Apakah memang seharusnya mereka bertemu sekarang? Di akademi? Bukankah seharusnya mereka bertemu nanti, setelah dia mengingat semuanya?"
Perempuan berambut putih itu tersenyum, senyum yang kali ini bukan sedih, tapi senyum yang sedikit... kesal, sedikit geli, seperti seorang ibu yang melihat anaknya melakukan sesuatu yang tidak direncanakan tapi lucu.
"Tidak. Sama sekali tidak sesuai rencana. Rencana awal adalah mereka bertemu setelah dia mengingat semuanya, setelah dia tahu siapa dia, setelah dia siap. Bukan sekarang, saat dia masih Level 8 dan masih mengira dirinya hanya pemalas mana 0."
"Kalau begitu? Apakah kita harus memisahkan mereka? Membawa Aria kembali? Atau membawa Yamada kembali ke sini?" Tanya bayangan hitam itu.
"Rencana kita sudah berubah." Jawab perempuan berambut putih itu, mengulurkan tangan pucatnya untuk menyentuh kelopak Requiem Flower yang mekar di atas makam tua itu.
Dia menatap langit malam yang tidak terlihat dari dalam hutan, tapi seolah-olah dia bisa melihat atap perpustakaan lama akademi, melihat dua anak 15 tahun yang sedang berjanji kelingking di bawah bintang.
"Karena kali ini..." Matanya yang merah berubah menjadi merah terang, merah seperti darah yang mendidih, merah yang penuh dengan emosi yang tidak bisa dijelaskan, antara marah, sedih, dan sedikit bahagia.
"...Yamada jatuh cinta terlalu cepat. Jauh lebih cepat daripada yang seharusnya. Lima tahun aku menjaganya agar tidak jatuh cinta pada siapa pun sebelum dia mengingat janjinya, tapi dia malah jatuh cinta pada orang yang seharusnya dia tunggu, bahkan sebelum dia ingat siapa orang itu. Dasar bodoh. Sama seperti kakaknya."
Di waktu yang sama, di atap perpustakaan lama Akademi Asteria, di bawah langit yang penuh bintang, sistem Yamada yang sudah ditutup dua kali, menampilkan satu pesan terakhir, pesan yang bahkan tidak dapat dibaca oleh Yamada, pesan yang muncul di lapisan paling dalam sistem, lapisan yang hanya bisa dibaca oleh sistem itu sendiri, dengan tulisan abu-abu transparan.
[Primary objective updated by external authority: White Witch.]
[New Objectives:]
[1. Protect Yamada (Primary Host) - Do not let him die.]
[2. Protect Aria (Critical Variable) - Do not let her be taken by corrupted monsters.]
[3. Prevent the reunion - Do not let Yamada and Aria remember their promise completely. If they remember, seal will break.]
Dan di bawahnya, dengan tulisan merah darah yang berkedip pelan, tulisan yang ditulis oleh sistem itu sendiri sebagai peringatan terakhir sebelum sistem memaksa dirinya untuk diam,
[Warning: If Yamada remembers everything about who he really is, about who Aria really is, and about who made the contract five years ago...]
[This world will end. Not because of monsters. But because of the promise that was made.]
Yamada yang tidak bisa melihat pesan itu, hanya merasakan angin malam yang tiba-tiba menjadi lebih dingin, menarik jaketnya lebih erat, dan menatap Aria yang masih bersandar di bahunya, yang kini tertidur pelan karena lelah setelah serangan dan cokelat panas.
Dia tidak membangunkan Aria, hanya membiarkan kepalanya bersandar di bahunya, menatap bintang-bintang di atas, dengan janji kelingking yang masih terasa hangat di jari kelingkingnya.
"Janji." Bisiknya sekali lagi, pelan, hanya untuk dirinya sendiri, untuk bintang-bintang, dan untuk gadis yang tertidur di bahunya.
Dan bintang-bintang di atas akademi yang rusak itu berkelap-kelip, seolah-olah menjawab janji itu, seolah-olah menjadi saksi janji kedua yang dibuat di bawah langit yang sama, lima tahun setelah janji pertama dibuat di bawah cahaya ungu lingkaran Elaria.
[End of Volume 1: The Second Life - Promise Under the Stars]
[Soul Synchronization: 61%]
[Memory Reconstruction: 18% -> 22% after promise.]
[Soul Resonance with Aria: 55% -> 62% after promise.]
[Status: Ready for Volume 2]