Indonesia
NovelToon NovelToon
Terikat Cinta Sang Mafia

Terikat Cinta Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.

‎Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.

‎"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.

‎Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9 : Perang dingin pertama di mansion.

‎Celine meringis kecil karena cengkeraman kasar itu, ia menatap Jason tajam, matanya dingin dan penuh kebencian yang tak lagi bisa disembunyikan.

‎‎"Kau tidak perlu tahu siapa dia," jawabnya tegas, suaranya tenang namun menampar. "Karena bagiku dia jauh lebih berharga daripada lelaki pengecut yang hanya berani berselingkuh di belakang!"

‎‎Jason mengerang kesal, cengkeramannya makin kuat hingga buku jarinya memutih. "Kau milikku! Kita sudah bersama selama dua tahun! Kau butuh uang untuk biaya ibumu kan?! Aku akan berikan!"

‎‎"Aku tidak butuh uangmu, sosis busuk!" Celine menarik tangannya sekuat tenaga, namun Jason tak melepaskan. "Kita putus! Puas?!"

‎‎Tiba‑tiba suara derap langkah berat terdengar mendekat sebelum Jason sempat kembali bersuara. Dua bayangan besar mendarat di samping mereka. Tanpa perlu banyak bicara, salah satu pengawal mencengkeram pergelangan tangan Jason yang memegang Celine. Cengkramannya begitu kuat hingga membuat Jason meringis kesakitan dan refleks melepaskan tangannya.

‎‎"Jauhkan tangan kotormu dari Nyonya Salvatore," ucap pengawal itu rendah namun mengancam.

‎‎Jason mundur selangkah, memegangi pergelangannya yang nyeri, matanya membelalak tak percaya. "Nyonya... Salvatore?"

‎‎Celine mengangkat dagunya, mengusap pergelangan tangannya yang memerah. Ia melirik sekilas ke arah Jason yang terpaku, lalu berbicara tanpa menatapnya lagi.

‎‎"Kau dengar sendiri," ucapnya dingin. "Aku bukan lagi milikmu. Dan jangan pernah berani menyentuhku lagi... atau kau akan menyesal seumur hidupmu."

‎‎Dengan isyarat tangan kecil, pengawal memberi jalan. Celine melangkah pergi meninggalkan mereka berdua, meninggalkan Jason yang gemetar karena marah dan takut, serta Renata yang wajahnya pucat pasi.

‎‎"Jay... aku tidak salah dengar kan tadi?" suara Renata bergetar, "Nyonya Salvatore... mungkinkah Celine..."

‎‎"Tidak mungkin!" potong Jason cepat, "Itu hanya akting."

‎‎Renata menatap tak percaya ke arah mobil hitam yang perlahan melaju menjauh, meninggalkan debu tipis di belakangnya.

‎"Tapi Jay... cincin itu... dan orang‑orang yang menjaganya... mereka terlihat seperti sungguhan," suaranya masih bergetar ragu, matanya tak lepas dari bayangan mobil yang makin mengecil. "Bukankah keluarga Salvatore itu keluarga paling berkuasa, ditakuti... mustahil wanita seperti dia bisa masuk ke sana begitu saja?"

‎‎Jason mendengus kasar, berusaha menyembunyikan gelisah yang mulai merayap di dadanya. Ia mengusap pergelangan tangannya yang masih terasa sakit dan dingin bekas cengkeraman pengawal tadi.

‎‎"Aku sudah bilang, itu semua hanya sandiwara!" potongnya tajam, terlalu cepat hingga terdengar memaksakan diri. "Celine itu wanita yang lemah, dia tidak punya apa‑apa selain masalah! Dia cuma marah karena aku lupa menelepon, cuma ingin memancing perhatianku dengan cara konyol begini! Pasti dia menyewa orang, menyewa mobil, semuanya pura‑pura!"

‎‎Ia tertawa sinis, meski tawanya terdengar kosong dan tak meyakinkan.

‎‎"Tunggu saja... tidak sampai besok pagi, dia pasti sudah menangis meneleponku, memohon agar aku kembali padanya. Dia tidak akan mampu hidup tanpaku. Aku tahu Celine, aku lebih mengenalnya daripada siapa pun!"

-

-

-

‎‎Begitu turun dari mobil, Celine langsung melangkah masuk ke dalam mansion megah yang terasa seperti penjara baginya. Dagunya sedikit terangkat, wajahnya datar namun matanya jelas terlihat masih menahan kesal.

‎‎Di ruang tengah, Leon duduk sendiri di atas karpet dan sedang menyusun balok‑balok mainan.

‎Dua pelayan lalu lalang membawa nampan di kejauhan. Begitu melihat Celine, mereka langsung menunduk dalam dan cepat-cepat menghilang ke arah dapur. Seolah tidak ada yang berani mendekat.

‎‎Celine berhenti tak jauh dari anak itu.

‎‎"Hei kamu..." panggilnya dengan nada datar sedikit tinggi. "Mana ibumu yang cerewet dan banyak omong itu?"

‎‎Leon mendongak, menatap wanita yang masih tampak asing baginya itu.

‎‎"Mommy pergi ke kantor menemui Daddy," jawabnya datar, tanpa rasa takut. "Jangan ganggu aku bermain. Pergi sana! Nanti aku bilang Om Don suruh tembak kamu kalau kamu berani jahat sama aku."

‎‎Celine mengangkat alisnya heran. Sudah dua puluh tujuh tahun hidup, baru kali ini ia merasa seperti sedang diusir oleh bocah berusia lima tahun.

‎‎"Om Don?" ulangnya pelan, menatap Leon dari atas ke bawah dengan pandangan sedikit meremehkan. "Kau yakin Om Don berani menembak Tante barumu hanya karena kau menyuruhnya?"

‎‎Leon memeluk balok mainannya makin erat, dagunya ikut terangkat tinggi meniru sikap Celine yang angkuh. Matanya bulat namun tajam, tak mau kalah sedikit pun.

‎‎"Tentu saja! Om Don paling nurut sama aku. Karena aku anak paling disayang di rumah ini."

‎‎"Oh begitu." Celine berjalan santai melewatinya, lalu sengaja menjatuhkan diri di sofa seberang. "Sayang sekali. Tapi Om Don mu itu bilang padaku. Katanya... Om Don lebih suka menjaga aku daripada bocah kecil seperti kamu."

‎‎Mata Leon langsung membulat sempurna. Balok kayu di tangannya terhenti melayang di udara.

‎‎"Bohong!" tuduhnya cepat sekali, wajahnya mulai terlihat cemas namun tetap berusaha tegas. "Om Don bilang dia bagian timku!"

‎‎"Mungkin dulu." Celine mengambil majalah dari meja samping, membukanya santai tanpa benar‑benar membaca satu baris pun. "Bahkan sekarang yang tanda tangan gaji semua orang di sini aku. Ini perintah khusus dari Om Don karena sekarang aku adalah istrinya. Jadi semua orang di mansion ini harus tunduk dan menuruti perintahku, termasuk kamu bocil."

‎‎Hening yang panjang.

‎‎Leon melirik curiga ke arah Celine, lalu menoleh berulang kali ke pintu, berharap sosok Om Don datang untuk membuktikannya. Tapi pintu itu tetap diam, hanya ada pelayan yang lewat sambil mendorong troli dan langsung menunduk saat berpapasan.

‎‎"Hmph!" Leon mendengus keras, lalu kembali menyusun balok sambil dihentakkan sedikit lebih berisik, meluapkan kekesalannya. "Aku nggak peduli! Pokoknya kamu nggak boleh duduk di sofa itu! Itu sofa favorit Mommy!"

‎‎"Valentina?" Celine menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat santai. "Sofa ini milik Mansion Salvatore. Dan mansion ini milik suamiku. Jadi secara aturan, ini sofaku."

‎‎Leon terdiam terpaku. Mulutnya sedikit terbuka, menggigit bibir bawahnya karena sadar tak bisa membantah. Kalah argumen.

‎‎Lalu tiba‑tiba ia berdiri dengan gerakan sengaja dramatis, mengangkat satu balok merah besar, dan berjalan melewati depan Celine. Bahunya dengan sangat jelas sengaja menabrak kaki Celine pelan.

‎‎"Awas," gumamnya ketus tanpa menoleh. "Jangan coba‑coba duduk di karpetku juga."

‎‎Celine menahan senyum. Anak ini keras kepala luar biasa.

‎Setelah Leon duduk kembali di ujung karpet dengan wajah masih cemberut masam, Celine akhirnya bersuara lagi, nadanya kini sedikit lebih lembut namun tetap tenang.

‎‎"Kau lapar?"

‎‎Leon pura‑pura tidak mendengar. Sibuk menyusun menara yang sama berulang kali.

Celine melirik ke arah dapur. Tadi pagi sebelum pergi, ia tidak sengaja mendengar Madame Rosa bicara dengan Chef Marco untuk membuatkan makanan favorit tuan muda Leon, yaitu pizza keju.

‎‎"Ada pizza keju," lanjut Celine pelan. "Tanpa nanas. Katanya itu favorit Tuan Muda di sini."

‎‎Gerakan balok di tangan Leon kembali berhenti. Pizza keju, itu memang makanan favoritnya.

‎‎"Aku nggak mau makan pemberian orang asing," katanya akhirnya, suaranya mengecil, nyaris tak terdengar. Tangannya mengepal di sisi balok merah.

‎‎Celine menutup majalahnya perlahan, berdiri tegak.

‎‎"Baiklah." Ia berjalan santai menuju tangga. Saat kaki kanannya menyentuh anak tangga pertama, ia menoleh sekilas. "Nanti kalau kau berubah pikiran... bilang saja ke pelayan. Kalau butuh aku, aku di lantai dua."

‎‎Ia melanjutkan langkah menaiki tangga. Kini tinggal Leon sendirian di ruang tengah yang sunyi. Di kejauhan, seorang pelayan sedang mengepel tapi pura-pura tidak melihat.

‎Matanya menatap pintu dapur yang tertutup rapat, lalu menatap balok‑balok di depannya. Terdengar bunyi halus, perutnya mulai mengerang protes.

‎‎"Hmph. Pizza basi juga aku nggak mau," gumamnya pelan sekali, tak ada yang mendengar. Namun matanya tak beralih sedikit pun dari celah pintu dapur yang mengeluarkan bau keju hangat.

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
sulit Cel... mana dia bos nya
🍓ADIRA🍓
Yuuhuuuuu 💃 selamat buat kalian berdua yang mau jadi orang tua 🤗
🍓ADIRA🍓
Etdah ini si nona,,, masih aja banyak bacot gak jelas 🙄🙄🙄 perlu diseruduk banteng dulu kayaknya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
bakalan ada Don junior kah 😱
〈⎳ FT. Zira
kecebong sudah berkembang beneran kann🤭
🍓ADIRA🍓
Kalaupun si Matt tak balik, masih ada yang nganggur di depan mu noh Val 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Masih aja dirimu Val /Proud/
〈⎳ FT. Zira
bales aja Cel.. doakan juga yaa sambil ngelus perut🤣
〈⎳ FT. Zira
ketika kekakuan berubah menjdi jelly🤭🤭
🍓ADIRA🍓
Kwkwkwkwk... diriku cuma intip dikit Thoorrr 🫣😂😂
🍓ADIRA🍓: Diriku masih polos Thorrrr 😂😂 janganlah kau nodai dengan kelakuan messyyumm si Revan 😂😂😂
total 2 replies
🍓ADIRA🍓
jawab apa hayo 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Seketika Val pun lupa dengan gengsinya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Pamer 🤮🤮🤮
🍓ADIRA🍓
Oh si remote toh 😂😂
MamDeyh
Aku bukan bocil tp emak yg punya bocil, jadi boleh yaaa/Grin/
🔥Violetta🔥: boleh banget... diwajibkan malah /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
Siapa. pulak ini /CoolGuy/
🍓ADIRA🍓
Yeeee suka^ Oma donk /Tongue/
MamDeyh
Siapa itu yaaaa
🍓ADIRA🍓
Nah 👏👏👏
🍓ADIRA🍓
Semoga si Oma melunak kali ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!