Valencia Florence mengira penderitaannya telah usai setelah palu hakim meresmikan perceraiannya dengan Julian Edgar. Namun, sebuah fenomena misterius justru melempar jiwanya melakukan time travel kembali ke tiga tahun lalu—tepat di tahun kedua pernikahan mereka yang dingin.
Kembali menjadi Nyonya Edgar berarti Valencia harus mengulang fajar pernikahan tanpa cinta. Dia kembali menghadapi Julian, suami sedingin es yang menguburnya dalam kemewahan finansial dan fasilitas jet pribadi, namun memperlakukannya tak lebih dari sekadar pajangan rumah. Valencia sadar diri, dia hanyalah pengantin pengganti untuk mendiang saudara kembarnya, Gracia Florence, yang tewas menjelang pernikahan. Di kesempatan kedua ini, Valencia bersumpah tidak akan lagi mengemis cinta yang tidak pernah ada. Dia akan menjalani sisa waktu pernikahan ini dengan caranya sendiri, bersiap untuk pergi sebelum hatinya hancur untuk kedua kalinya.
#by_Parkha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGULANG LUKA Bab 12: Interogasi Larut Malam
...MENGULANG LUKA...
...Bab 12: Interogasi Larut Malam...
Keheningan yang mencekik kembali menguasai kamar utama setelah gema suara ponsel yang mati itu lenyap. Kamar yang luas itu mendadak terasa begitu sempit oleh atmosfer ketegangan yang pekat. Valencia masih duduk tegak di atas ranjang, menatap Julian dengan kilatan kekesalan yang tertahan di balik matanya. Di bawah temaram sinar bulan yang menerobos celah gorden, Julian masih terpaku dalam posisinya. Pria setinggi 190 sentimeter itu tidak bergeser satu milimeter pun. Tatapannya yang sulit diartikan di kegelapan malam seolah sedang menguliti setiap riak ekspresi di wajah Valencia, mencari celah dari kebohongan yang mungkin disembunyikan sang istri. Ada amarah yang tertahan, ada harga diri yang koyak karena merasa dilangkahi, namun ada juga riak kebingungan yang sangat pekat di balik sepasang manik mata elang pria itu.
"Sejak kapan?"
Suara bariton Julian memecah kesunyian kamar dengan sangat lambat. Nada bicaranya terdengar begitu rendah, berat, dan sarat akan penekanan yang mengintimidasi. Dia memiringkan sedikit tubuh tegapnya ke arah Valencia, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma segar sabun mint bercampur wangi maskulin dari tubuhnya kembali mengusik indra penciuman Valencia.
Valencia tidak mundur setapak pun. Tekanan aura Julian yang biasanya membuat dia gemetar ketakutan di kehidupan pertama, kini tidak lagi berpengaruh apa-apa bagi jiwanya yang datang dari masa depan. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, menegakkan punggungnya, lalu menantang balik tatapan suaminya dengan berani.
"Apa maksud Anda, Tuan Edgar?" tanya Valencia, sengaja menggunakan nada suara yang teramat datar.
"Jangan berlagak bodoh di hadapanku, Valencia," desis Julian, rahangnya tampak menegang kokoh hingga urat-urat halus di pelipisnya terlihat jelas. "Sejak kapan kau mengenal Lucas Frederick? Sampai-sampai pria itu memiliki nomor pribadimu dan berani meneleponmu di jam tidur seperti ini? Jawab aku!"
Pertanyaan menuntut yang sarat akan dominasi itu membuat Valencia hampir saja mendengus geli di dalam hati. Dia langsung paham ke mana arah pikiran Julian. Pria ini pasti sedang didera rasa curiga yang luar biasa, berpikir bahwa istrinya yang selama ini dia anggap seperti boneka pajangan telah melakukan hal yang mencoreng nama baiknya di belakangnya. Namun, Valencia menolak untuk terlihat tersudut atau bersalah. Jiwanya terlalu matang untuk merasa takut pada gertakan kosong Julian Edgar.
"Kami baru berkenalan kemarin di galeri seni, Tuan Edgar. Tidak lebih dan tidak kurang," Valencia menjeda kalimatnya sengaja, menatap langsung ke dalam manik mata hitam Julian dengan ekspresi acuh tak acuh yang mematikan. "Dan mengenai nomor kontak... dia adalah seorang pengusaha besar. Bertukar kontak untuk urusan pekerjaan profesional adalah hal yang sangat wajar di dunia bisnis. Bukankah Anda juga sering melakukannya dengan rekan bisnis wanita Anda?"
"Wajar kau bilang?" Julian terkekeh sinis, sebuah tawa kering yang terdengar sangat berbahaya dan menusuk pendengaran. "Tidak ada kata wajar jika itu melibatkan seorang Lucas Frederick! Dia adalah musuh bisnis terbesarku, Valencia! Dia rival yang selalu mencari celah untuk menjatuhkan Edgar Group! Dan kau—istri sahku—bertukar nomor telepon dengan pria itu lalu menerima panggilannya larut malam? Kau pikir aku bodoh percaya bahwa ini murni urusan pekerjaan?"
"Terserah Anda mau percaya atau tidak," jawab Valencia dengan nada yang luar biasa dingin. Dia tidak memiliki energi untuk meladeni kecurigaan egois pria ini. Valencia bergerak mundur, bersiap untuk kembali merebahkan tubuhnya ke atas kasur, menarik selimut tebalnya, dan mengakhiri perdebatan yang tidak berguna ini. "Saya tidak memiliki kewajiban atau alasan apa pun untuk membuat Anda percaya pada penjelasan saya."
Namun, sebelum punggung Valencia sempat menyentuh bantal yang empuk, Julian bergerak jauh lebih cepat dari dugaannya. Pria itu mencondongkan tubuh tingginya ke depan dengan agresif. Dengan satu jentikan gerakan, Julian mengurung pergerakan Valencia menggunakan satu tangannya yang kekar yang bertumpu kuat di atas kasur, tepat di samping kepala istrinya.
Jarak mereka terkikis begitu ekstrem hingga Valencia bisa merasakan helaan napas Julian yang memburu menerpa permukaan kulit wajahnya. Tatapan tajam Julian terkunci rapat pada sepasang mata jernih Valencia, mencoba mencari-cari getaran ketakutan atau kepanikan yang biasanya selalu ada setiap kali dia menekan wanita itu. Namun, nihil. Yang dia temukan di dalam bola mata Valencia hanyalah hamparan es yang luas, tenang, dan sama sekali tak tersentuh oleh kehadirannya. Pertemuan jarak dekat yang sangat intens itu kembali menguji batas kesabaran Julian, memicu pergolakan batin yang semakin membingungkan di dalam dadanya. Pria itu didera rasa penasaran yang menyiksa, tidak mengerti mengapa sosok istri pajangan di hadapannya ini bisa menjelma menjadi wanita yang begitu asing dan berjarak.