Indonesia
NovelToon NovelToon
BLACK AND WHITE

BLACK AND WHITE

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Chicklit / Enemy to Lovers
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: Bubble🫧

Pout for Me, Little Mouse.

Keylana Reinhardt, Putri seorang raja perbankan lokal Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang Miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.

Setelah disatukan, mereka tinggal bersama di Berlin, Kota kelahiran Julian. Tidak ada satu hari pun tanpa perdebatan. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal, memanggil Julian dengan nama depannya.

Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan Perasaan yang dianggap tidak penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubble🫧, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Julian

Julian duduk di belakang kemudi Maybach yang sedang bertengger di tepi jalan. Pada saat bersamaan ponsel lana kembali berbunyi.

Julian menekan layar ponsel yang bergetar-getar itu. Suara Lana kembali terdengar setelah ketegangan beberapa saat lalu.

"Halo, Julian, Apa kau sibuk sore ini? Aku akan pergi ke rumah sakit untuk tes kesehatan rutin jam tujuh, Kau akan mengantarku dan juga melakukan tes kesehatan bersama."

Julian menghela nafas kesal mendengar arahan Lana yang memerintah tanpa jeda. Diluar mobil, pejalan kaki dan berlalu-lalang melakukan aktivitas sore.

"Aku sibuk, Lana." Katanya sambil memeriksa jam nya lalu mencibir.

"Tes kesehatan itu hanya pekerjaan orang-orang senggang."

"Oh? Jadi pemeriksaan kesehatan tidak lebih penting dari 'kesibukan' mu."

Jawabnya skeptis. Julian bertambah kesal mendengar nada menyindir itu, menggenggam ponsel erat-erat dan membalas dengan nada tajam.

"Dengar, Kesibukanku melibatkan pertemuan merger yang bernilai Jutaan Euro. Untuk membiayai tes kesehatan sialan yang kau maksud itu."

"Dan... untuk fasilitas apapun yang sedang kau gunakan itu. Paham?"

Di seberang, Lana memutar matanya mendengar nada defensif yang dia tau tidak bisa bantah itu.

"Ya paham, lanjutkan 'Kesibukan' itu. Jangan sampai terserang stroke mendadak dan mati sebelum laporan kesehatan berikutnya keluar."

Julian mengatupkan gigi mendengar jawaban penuh sarkasme itu, gadis ini sulit dikalahkan dalam perdebatan. Jika mereka tidak sedang berbicara di telepon, Julian mungkin bisa membalasnya dengan mengikatnya atau membungkamnya dengan bibir.

Ia menarik nafas panjang menenangkan diri dan mengambil nada santai yang menggoda.

"Mengapa? Kamu sedih jika aku mati?" Julian bersandar pada kursi.

"Cukup sedih, aku jadi tidak bisa melihat wajahmu yang marah ketika aku menghancurkan konsol game mu. Itu salah satu bagian terbaik dari menjadi tunanganmu."

Katanya dengan nada serius tiruan, Julian menegakkan tubuh dan segera memperingatkannya dengan nada tajam.

"Jangan coba-coba sentuh! Atau aku kan melemparmu ke luar jendela."

"Yah, Mungkin sudah terlambat..."

"Lana! Aku akan melemparmu ke sungai. Benda itu lebih mahal dari tas jelek mu."

Julian mencengkram setir. Untungnya suaranya yang marah tidak merambat keluar dari interior mobil.

"Baiklah," Lana mengela nafas dengan nada menyerah tiruan.

"Tapi kau akan membayar untuk menyebut barang milikku jelek." Katanya menjanjikan kejahilan lain.

"Tunggu!" perintahnya tajam sebelum Lana menutup telepon.

"Apa lagi? berubah pikiran?"

"Berubah pikiran," Julian mencibir

"Kau tetap disana, Vila itu dekat dengan asrama. lagipula itu tidak disewakan untuk sementara."

Nadanya santai tapi serius sambil menyalakan mesin mobilnya lalu melanjutkan perkataannya dengan penuh ejekan.

"Itu lebih baik daripada asrama kumuh yang kau tempati."

"Setidaknya aku tidak perlu mendengarkan suara jelek mu. Dan itu tidak kumuh!"

"Tidak?" ejeknya,

"Jangan menangis padaku jika suatu saat kau menemukan serangga disana." Julian bersandar sambil menyeringai.

"Lalu," Julian menjelaskan dengan serius lagi.

"Minggu ini kita pindah apartemen. Kau harus mengatur sendiri barang-barang milikmu akhir pekan. Segera."

Katanya seolah membicarakan rencana makan malam. Diseberang lana tercengang sambil mengerutkan alis.

"Pindah?! Kau pikir bisa melakukan sesuatu seenaknya?!"

Lalu ia juga teringat keputusan Julian tentang tanggal pernikahan.

"Dan juga, kau memutuskan tanggal pernikahan tanpa diskusi denganku! Tanpa pendapatku." Katanya menekankan.

"Suka dengan itu? Tanggal pernikahan ditentukan. Kita pindah apartemen. Tidak ada protes."

"Kau—"

Julian mematikan telepon dengan senyum puas, menemukan foto lana sebelum mematikan layar dan mengantongi kembali ponsel milik Lana itu.

Julian membawa mobil dari tepi jalan dan menuju kembali Ke kantornya, Waktu dengan Ethan dan ditambah dengan kecerewetan Lana telah memakan waktu lebih dari satu jam.

Julian melanjutkan pekerjaannya sampai kantor itu benar-benar sepi, Pada pukul tujuh ia menghadiri makan malam dengan rekan bisnis.

Ponselnya sendiri bergetar di sakunya, ia diam-diam mengintip aplikasi pesannya dari bawah telapak meja bundar saat pembicaraan dijeda dengan isi ulang sampanye.

Enrico: Hotel xxx malam ini?

Julian membalas pesan singkat dari temannya itu dengan emoji Like Dan kembali mendongak untuk fokus pada obrolan.

Sekitar pukul sepuluh, Julian selesai dan pergi ke hotel dengan Mobil lain yang dikendarai oleh asistennya, Mark.

Julian meluruskan kaki panjangnya sambil memejamkan mata sejenak, bersandar pada kursi empuk itu.

Suara lalu lintas menjadi latar belakang yang kurang menenangkan.

"Pak, kita sudah sampai."

Mark melepaskan sabuk pengamannya sendiri. Julian membuka mata dan mendapati mobil sudah sampai di tempat tujuan.

"Apakah Anda ingin saya memanggil Nona Shakira atau Nona Adriana untuk menemani anda?"

Tanya Mark saat membuka pintu untuk Julian.

"Ataukah Nona Bianca? Dia berada di berlin untuk pemotretan hari ini."

Julian turun, Nama-nama Mistress yang diucapkan seperti daftar belanja itu adalah hal normal dalam kehidupannya.

Bianca adalah model cantik dari Milan tapi sepertinya hari ini Julian sedang tidak mood bermesraan.

"Tidak perlu,"

Mark mengangguk tanpa protes atau reaksi dan mengikuti beberapa langkah dibelakang bosnya.

Lift sampai di Lounge luas yang mewah, Disana dua teman sudah menunggu. Enrico yang duduk di sofa dengan tangan terbentang di sandaran sambil menonton siaran olahraga di televisi lebar sambil tertawa terbahak-bahak.

Di sofa pendek, Jean si rambut coklat juga menikmati tontonan sambil merokok.

"Scotch on the rocks." Julian memesan pada pelayan tanpa menoleh, berjalan ke sofa dan duduk saat pelayan bergegas menyiapkan.

"Julian, Akhirnya memutuskan bergabung dengan kami?"

Enrico selesai dari tawanya. "Mengapa kau tidak membawa wanita cantik malam ini?"

"Cuacanya buruk." Jawabnya singkat penuh arti sambil menyalakan cerutu dari dalam saku mantel lalu menyilangkan kaki sambil bersandar.

"Ah... Cuacanya, Aku sedikit kecewa. Gadis yang kau bawa selalu terlihat menawan. Mataku menjadi segar melihat mereka."

Jean terkekeh mendengarnya, Obrolan santai mereka beralih ke acara olahraga yang sedang mereka tertawakan.

Teman lainnya datang beberapa saat kemudian. Kelompok menjadi lebih ramai dan hidup.

Salah satu teman yang duduk di samping Julian mendekat sambil menyeringai geli dan penasaran.

"Jadi bagaimana kehidupan keluarga konglomerat memperlakukanmu? Masih menikmati membuat calon pengantin kecilmu yang berapi-api itu bahagia?"

Rahang Julian menegang, sedikit mencengkram gelasnya saat Lana dikaitkan dalam obrolan mereka.

"Bukan urusanmu," jawabnya dingin,

Julian menyesap scotch nya mengakhiri obrolan tentang Lana bahkan saat barusaja akan dibuka.

Enrico menyeringai geli dnegan penuh pengertian melihat respon defensif itu. Lana dianggap terlarang bahkan jika orang di depan Julian adalah teman lama.

"Santai saja bro, Keylana pasti lebih fokus pada studi untuk saat ini. Benar, Julian?"

Enrico menyenggol pundaknya sambil mengedipkan mata main-main. Julian tidak menjawab, Masih dengan wajah muram tanpa menoleh padanya.

Bajingan ini tersenyum seperti orang tolol. Julian kesal

"Bro, situasi itu lebih baik daripada harus terus mencari-cari alasan untuk pergi bermain."

Salah satu teman mengela nafas dengan nada serius, teman yang lain menimpali sambil tertawa.

"Tepat sekali, Pacarku mengeluh tentang diriku yang larut malam di kantor. Dia menuduhku lebih jatuh cinta pada laptopku daripada dia."

Yang lain tertawa, salah satu menggeleng sambil bercanda dengan datar

"Aku berharap Istriku lebih sedikit mengeluh dan lebih banyak berbelanja, setidaknya aku akan mendapatkan kedamaian sementara saat dia menghabiskan uangku."

Ekspresi Julian tetap netral sepanjang obrolan. Jasnya sudah dilemparkan ke sandaran sofa di belakangnya. Satu kakinya berada di atas satu paha.

Percakapan beralih ke topik bisnis saat para pria mendiskusikan tren pasar terkini dan gosip industri.

Merger dan akuisisi, startup teknologi baru yang membuat heboh di Silicon Valley, dan drama politik yang sedang berlangsung di berbagai pemerintahan Eropa.

Julian ikut berbicara secara berkala dengan wawasan dan juga sesekali membicarakan beberapa pesaing yang menurutnya kurang. Wajahnya disandarkan ke tangannya.

Percakapan mengalir lancar di antara para pria, diselingi tawa dan dentingan gelas.

1
Jordin Yanti
semangat yha kakak othor ❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!