Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.
Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.
Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...
Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dikelabui
"Baiklah, di mana kita bertemu?" Grace pun menanggapi dengan cepat.
"Kau keluar saja dari butikmu, berjalanlah ke simpang tiga. Aku menunggumu di situ."
Setelah berkata demikian, panggilan langsung diputus.
Grace bergerak cepat. Setelah pamit dengan Carmen, ia keluar dari butik.
Selang beberapa menit, Grace telah sampai. Di bawah cahaya lampu temaram, ia celingak-celinguk ke segala arah, mencari keberadaan Eva.
Malam ini, suasana di jalanan terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang berjalan lalu-lalang di sekitar.
"Hai, cepat juga kau." Suara Eva terdengar dari belakang.
Grace sedikit terperanjat, secepat kilat memutar badan ke sumber suara.
"Aku takut ada yang melihat kita," jawab Grace cepat.
Eva tersenyum kecil. "Tenanglah, CCTV di sekitar sini mati."
Grace mengangguk saja. Meskipun Eva berkata demikian, dia harus selalu bersikap waspada. Apalagi orang yang dihadapi memiliki kekuasaan.
"Jadi, informasi apa yang kau dapatkan?"
Eva tak langsung menjawab, malah tersenyum tipis dan mulai melangkah ke jalan lain. Grace pun segera mengikuti Eva dengan berjalan di sisinya.
"Ini mungkin bisa jadi informasi terakhirku." Eva mulai membuka percakapan.
Grace hanya diam saja. Kakinya bergerak pelan, mengikuti irama kaki Eva.
"Baiklah, karena kau penasaran. Informasi pertama yang aku dapatkan, Ellian bukanlah anak kandung Norman."
Mendengar hal itu, Grace tersenyum tipis.
"Lalu informasi kedua, Mona memiliki pria lain selain Norman."
Senyum Grace makin melebar.
"Bukan hanya satu pria, ada banyak. Mereka masih berhubungan. Ini daftar nama mereka beserta alamatnya dan informasi mengenai keluarga Turner," sambung Eva sambil menyodorkan kertas kecil kepada Grace.
Secepat kilat Grace mengambil kertas dari tangan Eva.
"Dan yang terakhir, semua anggota keluarga Turner tahu hubungan suamimu dan Mona. Bahkan Tuan Edmund, kakek Norman, tahu. Semua anggota Turner tidak ada yang setia. Mereka pandai menutupi perselingkuhan mereka."
Langkah kaki Grace mendadak terhenti. Senyumnya yang tadi merekah seketika memudar. Eva pun refleks menghentikan langkah lalu menghadap ke samping.
Seperti disambar petir di malam hari, Grace membeku di tempat.
Grace tak menyangka, bahkan Edmund yang dia pikir berpihak padanya ternyata mengelabuinya.
"Jadi mereka tahu ..." Grace bergumam sambil perlahan mencondongkan tubuh ke arah Eva.
"Iya, mereka semua tahu. Dan kau juga harus tahu, sebenarnya bisnis mertuamu di ambang kehancuran. Dalam dua tahun terakhir, keuangan mereka tidak stabil. Gaya hidup seluruh anggota keluarga merekalah yang perlahan-lahan menyeret mereka ke dalam kehancuran."
Grace hanya tersenyum getir saat dipermainkan Norman beserta anggota keluarganya.
"Aku harap mereka mendapatkan ganjaran suatu hari nanti." Seolah-olah ingin menyemangati Grace, Eva memegang pundak Grace. "Kau akan menceraikan suamimu, 'kan?"
Grace kembali tersenyum. Kini senyumannya terlihat menakutkan sampai-sampai Eva menurunkan tangannya dari pundak Grace.
"Tentu saja, untuk apa aku bertahan dengan pria yang tidak pantas dicintai? Tapi sebelum aku pergi, aku harus membuat mereka hancur satu per satu," kata Grace dengan senyum semakin mengembang.
Melihat ekspresi Grace, Eva ikut tersenyum. "Bagus, aku suka pilihanmu. Aku minta maaf jika terlalu ikut campur. Apa aku boleh bertanya bagaimana hubunganmu dengan mama mertuamu?"
"Tak apa, anggap saja aku temanmu, Eva." Kepedulian Eva membuat Grace terharu. Dia sudah menganggap Eva sebagai kakaknya.
"Hubunganku dengan mertuaku tidak baik. Ada apa, Eva?" lanjut Grace tampak penasaran.
Eva tersenyum tipis lalu berkata, "Hanya penasaran saja. Kau manusia yang baik, tapi bisnis tetaplah bisnis. Aku hanya menganggap kau sebagai klienku. Aku pamit dulu, semoga rencanamu berjalan dengan lancar. Jika perlu sesuatu, teleponlah aku. Sampai jumpa lagi."
Tanpa mendengar balasan, Eva berlari kecil ke gang lain, meninggalkan Grace mengerutkan dahi dengan perkataan Eva yang terakhir.
"Sampai jumpa lagi ..." gumam Grace memandang kepergian Eva di ujung sana.
Eva pun menghilang di balik kegelapan malam. Grace pun kembali ke butik, langsung membersihkan diri dan memutuskan untuk tidur. Untuk kesekian kalinya, Grace menginap di butik. Norman sudah berulang kali mengirim pesan bahkan menghubunginya, tapi Grace abaikan.
Keesokan harinya.
Kira-kira pukul tujuh pagi, Norman berjalan cepat menuju kantor saat mendengar Henry, sang papa, telah kembali dari perjalanan bisnis dan sekarang sedang menunggunya di sana.
Saat berpapasan dengan beberapa karyawan, Norman sesekali mendapatkan pandangan jijik. Walaupun sudah berusaha menyangkal video tersebut, nama Norman tak serta-merta langsung bersih. Sebagian tak percaya dan sebagian lainnya percaya.
Norman mengepalkan tangan dengan kesal. "Ck!"
Tak lama kemudian, baru saja membuka pintu ruangan.
Bugh!
Norman mendapat satu pukulan tepat di rahangnya. Ia hampir saja terjatuh. Norman tampak terkejut sekaligus kebingungan.
Dengan cepat Norman memusatkan perhatian ke depan. Ia melihat Henry berdiri dengan wajah memerah. Di dalam ruangan ini, terlihat Tuan Edmund dan Jacob, abang kandung Norman, duduk di sofa, menatap ke arahnya dengan tatapan sinis.
"Kenapa Papa memukulku?!" tanya Norman dengan mata melotot.
"Kau masih bertanya?! Kenapa uang di rekening berkurang jadi 200 miliar? Mau kau apakan uang itu, hah?!" bentak Henry.
Tanpa sepengetahuan Henry, Edmund, dan seluruh anggota keluarga, Norman mengambil uang di rekening keluarga sebanyak 200 miliar.
Norman menghela napas kasar. "Itu karena ada seseorang yang mengancamku akan membeberkan perselingkuhanku dengan Mona. Aku takut reputasiku hancur! Bukankah Papa mengatakan padaku jangan sampai membuat citra keluarga kita buruk?"
Mendengar hal itu, Henry mengusap wajahnya dengan sangat kasar.
"Astaga, kenapa kau malah takut dengan sebuah ancaman, hah?!" Henry tiba-tiba mencengkeram kerah kemeja Norman dengan rahang mengeras.
Norman tergugu, hendak melawan balik, tapi tinggi tubuh sang papa membuatnya kewalahan.
"Makanya kalau berselingkuh itu yang rapi! Dasar pengecut kau!" sembur Henry sambil mengangkat tangan ke udara.
Norman spontan memejamkan mata.
"Siapa yang selingkuh?"
Namun, belum sempat mendapat pukulan, suara Grace memecah keributan di ruangan.
"Grace ..."
Akan bahagia klo video perselingkuhan Edmund juga juga viral 🤣
Mona yang haus status Turner hingga tak sadar bahwa Mona membuka jalan untuk keruntuhan Turner sekeluarga 🤣