Indonesia
NovelToon NovelToon
Putri Yang Dibuang

Putri Yang Dibuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.

​Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
​Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.

​"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."

​Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-bayang Masa Lalu

"Setelah ini, bersiap-siaplah. Ikut aku ke kantor," ucap Gabriel tanpa mengalihkan pandangannya dari piring sarapannya.

Amara mengerjap kaget, menghentikan sendok yang sedari tadi ia pegang. Dengan jemari gemetar, ia buru-buru meraih buku catatan kecil di pangkuannya dan menulis sesuatu dengan cepat.

"K-kantor?" tulis Amara, lalu memperlihatkannya pada Gabriel dengan raut wajah ragu dan sedikit cemas.

Gabriel menoleh, membaca tulisan itu, lalu meletakkan alat makannya dengan pelan. Ia menatap Amara lekat-lekat untuk meyakinkan gadis itu.

"Ya, kantor," jawab Gabriel dengan artikulasi yang sangat jelas dan lembut. "Kau tidak mungkin terus-terusan berdiam diri di penthouse seharian penuh. Lagipula, ada beberapa hal yang harus kuurus di sana, dan aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian di sini untuk sementara waktu."

Amara meremas ujung bajunya. Jantungnya berdegup kencang bukan karena takut pada Gabriel, melainkan karena bayangan dunia luar—dunia di mana ia biasa disembunyikan, direndahkan, dan disiksa oleh keluarganya sendiri.

Melihat keraguan dan ketakutan yang tersirat di mata Amara, Gabriel menghela napas pelan. Pria itu mengulurkan tangannya, menyentuh lembut punggung tangan Amara di atas meja.

"Tenanglah," bisik Gabriel meyakinkan. "Tidak ada seorang pun di sana yang bisa menyentuhmu. Kau aman bersamaku."

Sentuhan hangat itu bagaikan sihir yang perlahan meredakan gemetar di tangan Amara. Gadis itu menunduk malu, lalu mengangguk pelan sebagai tanda setuju.

"Bagus," ucap Gabriel tersenyum tipis. "Habiskan sarapanmu, lalu Bik Sum akan membantumu bersiap."

Setelah sepuluh menit, Amara sudah selesai bersiap-siap. Kini Gabriel sedang menunggu di ruang tengah.

Biasanya, pria itu tidak suka menunggu siapa pun, namun kali ini ia rela meluangkan waktunya untuk menunggu gadis itu.

"Sudah?" tanya Gabriel pelan begitu melihat Amara melangkah mendekat dengan pakaian rapi yang pas di tubuhnya.

Amara menganggukkan kepalanya pelan. Belum sempat Gabriel membuka suaranya kembali untuk memuji atau mengajak gadis itu berangkat.

Tiba-tiba—

"Tuan Gabriel!"

Seketika, tubuh Amara menegang kaku saat ia mendengar suara yang begitu ia kenal—suara yang selama bertahun-tahun menjadi mimpi buruk dalam hidupnya.

Mata Amara membelalak ketakutan, napasnya mendadak tercekat, dan jemarinya refleks mencengkeram lengan baju Gabriel erat-erat.

Gabriel langsung menangkap perubahan drastis pada diri Amara. Rahangnya mengeras seketika, dan tatapan matanya berubah tajam mematikan saat melihat arah pintu utama.

"Bagaimana bisa kau masuk kemari?!" bentak suara lain dari arah pintu masuk utama penthouse.

"Maafkan saya, Tuan. Tuan Hendra memaksa ingin masuk dan menemui Anda," sahut salah satu penjaga mansion dengan nada panik, berlari kecil menyusul pria paruh baya yang kini sudah berdiri tegah di ruang tengah.

Hendra Valerie—ayah kandung Amara berdiri di sana dengan napas memburu dan tatapan penuh amarah yang langsung tertuju pada sosok gadis yang bersembunyi di balik punggung Gabriel.

Hendra Valerie melangkah maju dengan angkuh, meski sorot matanya menyiratkan kepanikan mendalam. Suaranya menggema di ruang tengah penthouse yang luas itu, penuh tuntutan dan rasa tidak terima.

"Tuan, Anda tidak bisa membatalkan kerja sama ini hanya karena Amara!" seru Hendra dengan napas memburu, menatap tajam ke arah Gabriel. "Saya sudah berjuang selama beberapa bulan penuh untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan Anda. Saya tidak terima jika ditolak, hanya karena urusan rumah tangga dan saya menelantarkan Amara!"

Mendengar pengakuan blak-blakan itu keluar dari mulut sang ayah kandung tanpa secercah rasa bersalah, tubuh Amara yang bersembunyi di balik punggung Gabriel semakin bergetar hebat.

Air mata langsung tumpah membasahi pipinya. Rasa sakit dari luka-luka di punggungnya seolah hidup kembali, berpadu dengan trauma mendalam yang selama ini ia pendam.

Gabriel merasakan cengkeraman tangan Amara di balik jasnya semakin mengerat, gemetar ketakutan. Gabriel tidak langsung menjawab. Pria itu perlahan berdiri tegak, membalikkan badan sepenuhnya untuk menghadap Hendra.

Aura dingin, gelap, dan mematikan langsung menguar dari setiap jengkal tubuhnya. Tato mawar di lehernya tampak kontras dengan kulitnya yang menegang karena amarah yang tertahan di ambang batas.

"Kau..." suara berat Gabriel berbisik pelan, namun bergemerincing tajam penuh ancaman, menghentikan langkah Hendra seketika.

Gabriel melangkah maju perlahan, mendekati Hendra dengan tatapan mata elang yang siap meremukkan mangsanya kapan saja.

"Dengan bangganya kau mengakui di depanku, bahwa kau menelantarkan anak kandungmu sendiri?" desis Gabriel tajam. "Dan sekarang kau berani mendatangi tempatku, berteriak-teriak hanya demi kontrak bisnis?"

"Saya sudah bilang kepada Anda malam itu. Amara hanya pembawa sial, Tuan!" seru Hendra tanpa rasa bersalah sedikit pun, dagunya terangkat tinggi seolah ia sedang membela kebenaran.

Deg.

Kalimat itu meluncur begitu saja, menghantam telinga Amara

yang kini mendengar setiap kata dengan sangat jernih berkat alat bantu dengar baru pemberian Gabriel.

Seketika, dunianya terasa runtuh. Kata-kata keji itu mencabik-cabik sisa kewarasannya, membuat napasnya terhenti dan isak tangis tertahan lolos dari bibirnya.

Amara melemah, lututnya terasa lemas, dan ia hampir merosot ke lantai jika saja tangannya tidak mencengkeram ujung kemeja Gabriel dengan lebih erat.

Di hadapannya, Gabriel menghentikan langkah. Suhu di ruang tengah itu mendadak drop, berubah menjadi sedingin es yang mematikan.

Pria itu menatap Hendra bukan lagi dengan amarah biasa, melainkan dengan tatapan makhluk yang siap mencabut nyawa mangsanya detik itu juga.

"Pembawa sial... kau bilang?" ulang Gabriel dengan suara bariton yang begitu rendah, berat, dan bergetar karena murka yang teramat pekat.

Hendra mengerjap sesaat, baru menyadari aura mengerikan yang terpancar dari tubuh Gabriel. Namun, kerakusan dan rasa panik akan kebangkrutan perusahaannya membuat pria paruh baya itu tetap nekat.

"I-iya, Tuan! Sejak dia lahir, istri saya meninggal, dan bisnis keluarga kami hampir hancur. Dia gadis bisu yang tidak berguna, pantas saja jika—"

Bugh!

Satu pukulan telak melayang tepat di rahang Hendra. Pria paruh baya itu terpelanting hebat ke lantai marmer, meringis kesakitan sambil memegang sudut bibirnya yang langsung mengeluarkan darah segar.

"Tuan!" teriak dua pengawal penthouse yang baru saja datang terlambat, langsung siaga mengepung Hendra.

Gabriel perlahan menarik kerah kemeja Hendra dengan satu tangan, mengangkat tubuh pria tua itu hingga kakinya hampir tidak menyentuh lantai. Urat-urat di leher Gabriel menegang, dan tato mawar di lehernya tampak semakin mencolok di bawah amarah yang menggelegak.

"Dengar baik-baik, bajingan tua," desis Gabriel tepat di depan wajah Hendra yang pucat ketakutan. "Gadis yang kau sebut pembawa sial itu... adalah harta paling berharga yang tidak akan pernah bisa kau sentuh lagi. Dan sekarang, perusahaanmu bukan hanya sekadar batal bekerja sama..."

Gabriel menatap mata Hendra dengan seringai dingin yang mengerikan.

"...tapi aku pastikan, detik ini juga, kerajaan bisnismu hancur lebur tanpa sisa."

1
Rahmat
ayah dan ibu tiri lucknat masih gak nyadar y di penjara baru tau rass ciuh😠
Rahmat
bahagiax jd istri moga sukses ritualx🤭
Rahmat
lanjut thor
Rahmat
saking traumax sering dpt kekerasan fisik dan hinaan mpai suarax pun tdk kedengaran
Rahmat
lanjut thour ceritax bagus
Iffanaya 😽
belum sah ya Gabriel udah di klaim jd istri 🤣🤣
Soraya
lanjut
Fitria Syafei
semangat KK 👌 KK cantik kereen 😍 kereen 😍
Soraya
mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!