Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan Mesiu di Kota Suci
Gerbang Emas Ibukota setinggi lima puluh meter itu dulunya adalah simbol ketidaktumbangan. Selama ribuan tahun, tidak ada satu pun pasukan musuh yang pernah menyentuhnya. Namun hari ini, tanpa perisai jiwa yang melindunginya, gerbang itu hanyalah sasaran empuk dari baja murni.
Dari balik punggung Kaelen, armada Behemoth Darat meraung membelah daratan. Kendaraan komando Rexor melaju paling depan, roda rantai bajanya menggilas sisa-sisa reruntuhan pualam.
"Isi dengan mesiu penembus zirah murni!" raung Rexor dari atas geladak meriam, wajahnya menghitam oleh jelaga dan keringat. "Hancurkan pintu sialan itu!"
Meriam raksasa di atas kendaraan Rexor memuntahkan api. Tiga detik kemudian, peluru baja seberat dua ratus kilogram menghantam titik tengah Gerbang Emas dengan kecepatan supersonik.
BUMMM!
Bunyi ledakan fisik itu memekakkan telinga. Logam mulia berukir sejarah ribuan tahun itu koyak, terbelah dua, dan runtuh menimpa jalanan pualam Ibukota dengan suara gemuruh yang menggetarkan seisi kota. Debu emas mengepul ke udara, menutupi langit seperti kabut fajar.
Kaelen tidak menoleh. Ia berjalan lurus menembus celah gerbang yang hancur, diikuti oleh lima ribu pasukan Garda Ketiadaan yang merangsek masuk bagai banjir lumpur hitam yang menodai lantai surga.
Pemandangan di balik gerbang adalah keindahan absolut yang memuakkan. Jalanan selebar sungai diaspal dengan pualam putih berkilau. Gedung-gedung menjulang tinggi dengan arsitektur menantang gravitasi, dihiasi taman gantung yang memancarkan pendar sihir warna-warni. Namun, jalanan itu tidak kosong.
Tiga baris formasi infanteri berat Garda Kekaisaran, mengenakan zirah perak dan memegang perisai cahaya, memblokir jalan utama menuju Istana Matahari yang menjulang di pusat kota. Di balkon-balkon pualam dan jembatan layang di atas mereka, ribuan penyihir istana telah merentangkan busur magis dan merapal mantra pemusnah massal.
"Hujani mereka!" teriak komandan Garda Kekaisaran dari balik barisan. "Jangan biarkan hama kotor ini mengotori jalanan suci kita!"
Langit seketika berubah warna. Bola-bola api raksasa, tombak petir, dan badai kristal es dilontarkan serentak dari atas balkon, melengkung turun seperti meteor menuju armada Kaelen.
"Formasi Payung Hitam!" Kaelen memberi perintah lewat gauntletnya, suaranya terhubung langsung ke pengeras suara magis di kendaraan Jenderal Kael.
Kaelen melangkah ke depan, mengangkat lengan obsidian raksasanya. Ia tidak menelan serangan itu ke dalam tubuhnya—otaknya masih berdarah akibat membedah jutaan jiwa tadi. Sebaliknya, ia melepaskan Domain Null dalam bentuk kubah statis di atas armadanya.
Ledakan magis bertubi-tubi menghantam kubah ketiadaan Kaelen. Percikan sihir yang gagal meledak berjatuhan bagai kembang api rusak, mendesis saat menyentuh atap baja Behemoth Darat. Kaelen mengertakkan giginya. Beban menahan serangan jutaan mana dari seluruh penyihir elit ibukota membuat tulang bahunya berderit ngeri.
Namun, pasukan Kaelen tidak hanya diam berlindung.
"Balas tembakan!" Jenderal Kael menebaskan pedang komandonya ke arah balkon-balkon pualam.
Lima ribu laras senapan uap terangkat menembus batas kubah Null milik Kaelen. Karena peluru mereka adalah proyektil fisik murni, peluru-peluru itu melesat keluar tanpa terpengaruh oleh batas ketiadaan.
Rentetan tembakan senapan uap bergema, menciptakan simfoni kematian mekanis. Peluru timah menembus sutra mewah dan menembus daging para penyihir yang tidak sempat merapal perisai fisik. Mayat-mayat berjatuhan dari taman gantung dan balkon, menodai pualam putih dengan darah merah kotor. Bangunan-bangunan indah hancur oleh terjangan peluru meriam yang meleset, meruntuhkan patung-patung dewa menjadi puing berserakan.
Melihat penyihir di atas mereka dibantai, barisan infanteri Garda Kekaisaran di darat menerjang maju dengan tombak terhunus, berniat menabrak kendaraan tempur Faksi Ketiadaan secara frontal.
Lyra melompat turun dari kap kendaraan Rexor, kedua belatinya berputar di tangannya. Di belakangnya, ratusan prajurit mantan preman jalanan Sektor Empat ikut melompat turun dengan seringai buas, membawa kapak, parang gergaji, dan bayonet kotor.
"Beri mereka pelajaran jalanan!" teriak Lyra, menerjang langsung ke barisan perisai perak musuh.
Pertarungan jarak dekat pecah dengan brutal. Disiplin dan keanggunan ksatria ibukota sama sekali tidak berguna menghadapi kebrutalan murni pasukan jalanan yang bertarung tanpa aturan. Zirah perak mereka penyok dihantam palu godam uap, dan formasi rapi mereka diacak-acak oleh granat mesiu rakitan Silas yang dilemparkan langsung ke tengah barisan.
Di tengah kekacauan itu, Kaelen terus berjalan maju. Matanya terkunci pada pintu raksasa Istana Matahari di ujung jalan raya.
Dua orang Inkuisitor berzirah putih menyilaukan melompat dari jembatan layang, mencoba menyergap Kaelen dari atas dengan pedang api suci yang berkobar. Kaelen bahkan tidak menghentikan langkahnya. Gauntlet obsidiannya bergerak dengan kecepatan yang meninggalkan bayangan buram. Ia menangkap bilah pedang api itu dengan tangan kosong, menghancurkan sihir apinya dalam sekejap, lalu menarik sang Inkuisitor hingga lehernya terpenggal oleh cakar metalik gauntlet tersebut. Inkuisitor kedua mencoba mundur saat melihat rekannya tewas dalam satu detik, namun Kaelen menjentikkan jarinya, menciptakan ruang hampa seukuran bola kasti tepat di dalam helm sang Inkuisitor, meremukkan kepalanya ke dalam akibat tekanan vakum.
Pembantaian itu berlanjut dari blok ke blok. Kota suci itu kini dipenuhi jeritan, asap mesin uap, dan tumpukan mayat. Tatanan sihir yang berkuasa selama ribuan tahun sedang digilas habis oleh revolusi mesin dan ketiadaan.
Setelah satu jam peperangan tanpa henti, pasukan Kaelen berhasil menembus Alun-Alun Pencerahan—pelataran luas yang berhadapan langsung dengan tangga raksasa menuju Istana Matahari.
Di sinilah sisa-sisa pertahanan ibukota runtuh. Armada Behemoth Darat mengepung pelataran, moncong meriam mereka diarahkan langsung ke istana. Para ksatria Kekaisaran yang tersisa telah membuang senjata mereka, berlutut gemetar di atas pualam yang banjir darah, menyerah pada teror mesin perang Kaelen.
Namun Kaelen tidak mempedulikan para tawanan. Ia mendongak menatap Istana Matahari.
Bangunan itu terbuat dari kristal dan emas, tidak memiliki jendela, hanya memancarkan cahaya dari dalam layaknya jantung raksasa yang berdetak. Pintu ganda istana itu tertutup rapat.
"Kita berhasil," Silas terengah-engah, berjalan terseok-seok dibantu oleh Lyra yang wajahnya dipenuhi cipratan darah musuh. Jenderal Kael berdiri di samping mereka, napasnya memburu namun matanya memancarkan kelegaan yang tak terlukiskan.
"Perang telah berakhir, Kaelen," ucap Jenderal Kael, menurunkan pedangnya. "Pasukan mereka telah menyerah. Kita tinggal menembus pintu itu dan memaksa Kaisar turun takhta."
Kaelen menatap lengan kanannya. Gauntlet obsidiannya berdengung dengan frekuensi yang sangat tinggi, mendistorsi udara di sekitarnya.
"Belum," suara Kaelen memecah harapan mereka, dingin dan hampa. "Perang fisik telah berakhir. Tapi makhluk yang ada di dalam sana... dia tidak pernah peduli pada pasukannya. Mereka hanyalah pion untuk mengulur waktu."
Tiba-tiba, tanah di bawah alun-alun bergetar hebat. Bukan getaran mesin uap, melainkan gempa tektonik dari kedalaman bumi. Retakan-retakan raksasa muncul di permukaan pualam. Cahaya emas yang menyilaukan memancar dari dalam retakan tersebut.
Pintu ganda Istana Matahari berderit terbuka secara perlahan, namun tidak ada seorang pun yang melangkah keluar. Alih-alih, sebuah tekanan gravitasi yang luar biasa masif menyapu keluar dari dalam istana, memaksa seluruh pasukan Ketiadaan—bahkan Behemoth Darat seberat ratusan ton—terdorong mundur hingga berderit keras.
Silas jatuh berlutut, memegangi kepalanya yang terasa seperti ditusuk ribuan jarum. "Tekanan mana ini... ini mustahil! Ini bukan kekuatan satu entitas! Ini adalah akumulasi dari seluruh energi yang disedot dari dunia selama ribuan tahun!"
Dari balik bayang-bayang pintu istana, terdengar suara langkah kaki yang bergema ke seluruh penjuru kota.
Sesosok pria melangkah keluar. Ia tidak mengenakan zirah, tidak membawa tongkat sihir, dan tidak memiliki sayap cahaya. Ia hanya mengenakan jubah putih polos yang menjuntai di lantai. Tubuhnya ramping, rambutnya sewarna perak cair, dan wajahnya tidak memiliki cacat sedikit pun—terlalu sempurna untuk disebut manusia. Matanya adalah dua lubang cahaya bintang yang menyilaukan, menatap Kaelen dengan ketenangan abadi.
Ini bukanlah Kaisar dalam wujud penguasa politik. Ini adalah Kaisar yang telah menyatu sepenuhnya dengan Jantung Astral dunia.
"Kau menolak membiarkan mereka menjadi perisaiku, Kaelen Adiwangsa," suara Sang Kaisar tidak keluar dari bibirnya, melainkan bergema langsung di dalam tengkorak semua orang yang ada di alun-alun. "Kau mengorbankan kewarasanmu demi makhluk-makhluk fana yang masa hidupnya tidak lebih dari kedipan mataku."
Kaisar merentangkan kedua tangannya. Tanah di alun-alun meledak sepenuhnya. Akar-akar emas yang bersinar—akar dari Jantung Astral—menjulur keluar dari dalam tanah layaknya tentakel raksasa, mengambang di udara di belakang punggung sang Kaisar, membentuk siluet pohon cahaya yang ukurannya menutupi matahari.
"Kau membawa potongan senjataku yang hilang," Kaisar melayang beberapa sentimeter dari tanah, tatapannya terfokus pada gauntlet obsidian Kaelen dan Inti Leviathan di dadanya. "Serahkan padaku, dan aku akan merangkai ulang jiwamu. Menolak, dan aku akan menghapus konsep ketiadaanmu dari realitas itu sendiri."
Kaelen melangkah maju, menjauh dari pasukannya. Angin yang membawa badai sihir dari tubuh Kaisar menampar jubah hitamnya dengan buas, namun tubuh Kaelen berdiri sekokoh gunung besi.
Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Kaelen mengangkat lengan kanannya perlahan. Ia mengepalkan gauntlet obsidian itu dengan bunyi derak logam yang tajam, lalu menarik pusaran Domain Null miliknya ke tingkat absolut. Kegelapan pekat meledak dari tubuhnya, membentuk pilar ketiadaan raksasa yang membakar cahaya emas di sekitarnya menjadi abu hitam.
Dua entitas terkuat di dunia—Sang Dewa Sihir dan Sang Anomali Pemakan Dewa—kini berdiri berhadapan. Tidak ada lagi intrik, tidak ada lagi pasukan. Hanya ada ruang bagi satu tatanan yang bisa bertahan melihat matahari terbenam hari ini.