*THE HEIR'S MISTAKE*
*Kesalahan Sang Pewaris*
Mereka tidak pernah ditakdirkan untuk saling mencintai.
Dia adalah pewaris keluarga terpandang. Dingin, arogan, dan punya reputasi buruk.
Pertunangan yang diatur kedua orang tuanya adalah mimpi buruknya.
Dia adalah gadis baik-baik, putri dari sahabat orang tuanya.
Sama-sama benci perjodohan ini. Sama-sama ingin bebas.
Sampai satu malam menghancurkan segalanya.
Alkohol. Amarah. Dan satu kesalahan besar.
Dia hamil. Tanpa pernikahan. Tanpa cinta.
Penuh benci dan malu, dia memilih pergi.
Menghilang selama 5 tahun. Membesarkan anak itu sendirian.
Bersumpah tidak akan pernah kembali.
Kini dia kembali. Lebih kuat. Lebih dingin.
Menggandeng tangan putra yang wajahnya mirip sekali dengan sang pewaris.
Dia tidak butuh istri.
Tapi dia akan melakukan apa saja demi anaknya...
Bahkan jika itu berarti berlutut di hadapan wanita yang bersumpah akan membencinya selamanya.
_Beberapa kesalahan tidak bisa dihapus.
Kau harus menikahinya._
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delapan
# Delapan
Seperti detective dadakan, pagi itu Leon membuntuti Hanum dari rumah sampai tempat Hanum bekerja. Sementara Hanum sendiri tak mengerti bahwa ia sedang diamati oleh pria yang paling dibenci.
Leon yang sudah mengantongi alamat kantor, penitipan anak dan rumah Hanum. Ia pun kembali ke kantornya sendiri. Sambil menyusun rencana, apa saja yang akan ia lakukan selanjutnya.
Baru juga duduk di meja kerjanya, sekretarisnya datang. Sudah lama ia ganti sekretaris, buka Zura si gadis pemikat nan menggoda. Kini sekretaris Leon jauh lebih baik dari sebelumnya, lebih profesional dalam bidangnya. Dan dia juga seorang single parent.
Mengingat hal itu, membuat Leon kembali teringat dengan Hanum. Pasti susah sekali bagi gadis itu membesarkan anak seorang diri. Apalagi Tante Ratih sudah tidak ada lagi, makin merasa bersalah. Leon pun nampak murung.
“Pak, nanti kita ada meeting dengan klien.” Kata-kata sekretaris Leon membuat pria itu bangun dari lamunannya.
“Apa tidak bisa ditunda?” Leon yang suasana hatinya sedang buruk enggan untuk menghadiri beberapa pertemuan. Percuma ia tidak akan bisa konsentrasi.
“Tidak bisa, Pak.”
Dengan berat hati, Leon pun meraih berkas. Mempelajari laporan yang sekretarisnya berikan. “Jam berapa meeting nya?”
“Satu jam lagi, Pak!”
Masih ada waktu, Leon pun membuka berkas satu persatu. Ia sebenarnya tak berminat dengan proposal yang kini ia pegang. Pikirannya masih menjurus ke Hanum dan anak kecil yang dititipkan di penitipan anak.
Lama ia melamun, hingga sekretarisnya datang lagi.
“Pak, sudah waktunya meeting!” ucap Desi mengingatkan bosnya tersebut.
Leon mengangkat tangan, tanda ia paham. Sebagai isyarat agar Desi menunggu di depan. Dengan masih malas-malasan, Leon pun masuk ke ruang rapat. Ini adalah klien baru untuk pengembangan gedung perkantoran di pinggir kota.
Pria itu sebenarnya tak ingin bekerja sama dengan mereka, apalagi ia sudah membaca proposal yang telah diajukan sebelumnya. Leon merasa perusahaan itu masih kecil, bila bekerja sama. Benefit yang akan diperoleh tidak cukup banyak, meskipun tak rugi.
Hanya saja Leon tak suka bisnis kecil-kecilan, ia lebih suka tender dengan keuntungan yang besar.Meski modal banyak, laba pun menyesuaikan. Namun, niatannya langsung ia buang jauh-jauh.
Bila semula ia berniat meeting sebentar dan memtuskan tak akan kerja sama, kini ia berubah total. Setelah melihat siapa perwakilan klien yang datang.
Mungkin ini yang namanya takdir, kemanapun kamu sembunyi dan lari. Bila saatnya bertemu, di lobang semut pun pasti ketemu.
Seperti itulah Leon dan Hanum kini, meskipun Hanum mencoba menghilang dari pandangan Leon. Nyatanya pekerjaan malah mempertemukan mereka.
Hanum yang kala itu tak menatap wajah pemilik perusaahan, karena ia sibuk memeriksa berkasnya saat Leon masuk ruangan. Begitu mendengar sapaan Leon, ia pun langsung terhenyak.
‘Takdir yang buruk!’ batin Hanum saat mata mereka saling bertemu.
Tidak mungkin Hanum lari dari ruang itu, ia sudah diutus oleh bosnya untuk melancarkan perjanjian kerja dengan perusahaan yang ternyata milik Leon.
Ia merasa salah, mengapa tak memeriksa siapa pemilik perusahaan yang akan diajak kerja sama. Hanum kira pasti pimpinannya pria tua dengan uban di sekujur rambutnya.
Tapi kini apa yang terjadi, nyatanya pimpinan perusahaan itu malah orang yang ia kenal. Orang yang ia benci selama ini. ‘Bagaimana ini?’ gumamnya namun mencoba tetap tenang. Ia harus profesional!
“Selamat pagi semuanya.” Leon terlihat kharismatik, dengan setelan jas warna hitam dan paduan dasi yang senada. Terlihat gagah, tampan dan cukup membuat wanita akan kepincut. Tapi tidak bagi Hanum, ia menatap Leon dengan tatapan penuh benci dan Leon merasakan hal itu.
‘Lihat, bahkan dia melihatku seakan ingin membunuhku!’ bati Leon yang melirik sesaat setelah memberikan sambutan sebentar.
Rapat dimulai, ketika presentasi dilakukan Hanum berjalan lancar. Tiba saat Leon mengajukan pertanyaan, suasana sedikit menegangkan. Padahal Hanum sejak tadi berusaha menguasai hati, agar tak terpancing sama sekali.
“Hanya itu saja? Kamu yakin ini yang terbaik? Aku rasa ini tak menjanjikan untuk kedepannya, untung di kalian dan rugi di kami!” Leon sengaja memojokkan gadis itu.
Hanum menahan geram, ia menggenggam tangannya dengan erat. Menahan marah dan kesal. ‘Penjahat!’ rutuknya pelan dalam hati.
“Ini yang terbaik, Pak. Tidak ada yang dirugikan atau diuntungkan.”
“Besok ajukan proposal baru.”
“Besok?” Hanum membelalakkan matanya. “Maaf, itu terlalu singkat, tiga hari?” wanita itu mencoba tawar menawar dengan pemilik perusahaan, peserta rapat lainnya menatap aneh pada dua orang tersebut.
Tak tega, ingat Hanum juga merawat anak kecil. Yang masih belum jelas anak dia atau bukan, karena ia belum sempat tanya pada Hanum. Leon pun memberi waktu pada Hanum.
Ia mengangguk.
Hanum bersyukur, setidaknya ia bisa mengulur waktu sambil membuat proposal yang baru. Setelah rapat usai. Semua pun meninggalkan ruangan. Tersisa Leon dan sekretarisnya yang memang ingin bicara sesuatu.
Leon yakin, bila hanya berdua saja dengan Hanum, wanita itu langsung akan kabur. Bila ia mengajak Desi sekretarisnya, mungkin Hanum akan mau bicara dengannya. Leon membuat pekerjaan menjadi alasan untuk berkomunikasi dengan Hanum.
Sementara itu, Hanum sendiri dalam hal pekerjaan ia sudah membuang jauh egonya dan masalah pribadi. Sebab tidak mungkin ia melepas pekerjaan ini, toh bila kerjasama berakhir. Dirinya gak bakalan ketemu dengan Leon lagi. Kiranya itu dalam benak Hanum saat ini.
“Karena jam makan siang, sebaiknya kita membicarakan ini sambil makan.”
“Maaf, Pak. Saya tidak bisa!” Hanum langsung menolak. Bila membicarakan masalah pekerjaan mending di dalam kantor.
“Kita pergi bertiga!” ujar Leon sedikit penekanan. Sebab ia tahu Hanum sedang menghindari dirinya.
“Kita makan dulu, Bu Hanum!” Desi mencoba membujuk Hanum. Sekretaris cerdas itu dapat mengendus ketertarikan bosnya tersebut.
Sebagai orang yang selama empat tahun menemani Leon di kantor, ia bisa mengira gelagat atasannya tersebut. Hampir saja ia mengira Leon menyukai pria. Bila dipikir-pikir itu terlalu konyol juga.
Tapi bukan tanpa alasan juga Desi mengira begitu, sebab selama ini Leon tak memiliki kekasih. Bila ada klien wanita yang mencoba mendekati, Leon justru bersikap acuh.
Tapi kini, setelah ia melihat usaha bosnya tersebut untuk menahan Hanum lebih lama. Di sana ia merasa, sepertinya Leon ada rasa dengan klien barunya kini. Sekedar ingin membantu, Desi pun mencoba menjadi jembatan bagi bosnya tersebut.
Karena Desi terus memaksa, maka Hanum pun ikut juga. Mereka naik mobil milik Leon, pria itu yang menyetirnya.
“Bu Hanum di depan saja, saya mau memeriksa sedikit berkas dan membuka laptop. Akan susah bila duduk di depan.” Desi sengaja menjebak Hanum agar mau duduk di samping Leon.
Terlihat sekali Hanum yang ogah-ogahan, tapi tak bisa menolak. Dengan berat hati, ia pun membuka pintu depan dan duduk di samping Leon.
Dalam hati, Leon memuji sekretarisnya.
Sepanjang jalan Leon terus melirik Hanum, dan wanita itu sadar bila ada yang mencuri pandang terhadapnya.
Mumpung ada kesempatan, Leon pun mengajukan pertanyaan.
“Kemarin, yang bersamamu... anak siapa?”
dan Leon sudah tidak di marahin lagidi usir di dorong dan tidak pakai baju ya hanya koloran saja wong kadung nesu ga ngertio ulah calon Leon Junior 👍👍🌹🌹😂😂
Su TREMOSI. hampir meledak kaya gunung Krakatau ,,, memuntahkan lahar koyo wedus gembel 😆 gregeten sama dua orang itu,,,,sudah di panghil sayang ga terima,,,di galak i mewek,,,di belani hanya pakai kolor ijo. ngopo ga pakai kaca mata riben nya Hanum Leon,,,,,biar kocak. ,
coba acak cerita bagaimana awal ketemu nya ,,,tapi lagi senang ketemu pak Su nya beruntung Lo ga di bikin amnesia. sapa sang jawara penulis 😂 baik Lo Jeng Sept
wong di buat jebur berenang lama,,
mempermain kan wanita Ahir sekarang
sedang di uji,, kasian Hanum dan Shian
sabar ya shean ,,,jadi kantor nya siapa yang pegang,,,apa di jarah
anak dan istrinya berpisah dalam keadaan tidak tau mati opa urip,,,😭😭 penuh air mata
namanya juga pELaKoR dan dia juga mau balas dendam menggunakan anak pria lain dodol kuprettt Leon,,,
Leonardo ko ga cerds si sewa dong mata mata,,,masa percaya begitu saja. dan jujur pah agar ada tempat untuk curhat jangan
malah jadi takut,,, justru malah ketauan
bobrok nya cerdas dong Leon. jangan terlbat,,,,ehhh protes sama penulis nya keles 😄😄 ngapa sama Leonardo di ke
pruk i,,😈😈
berat Leon. menjaga hati sang istri dan buah hati,,,
dengan sendirinya lebih baik jujur dan seperti tadi bilang seandainya terjadi sesuatu di masa lalu jangan tinggalkan Ak ya Hanum gitu dan jangan bawa Sean,,,
ya katakan juga mengapa baru bilang ya
karena baru tau dan yang tau justru mama Yesi ,,,
seandainya tau ternyata kebaikan Leon
saat ini ada Nido besar di masa lalu kini,,
tinggal menunggu Bom nya meledak ,,,,
beruntung Hanum tidak keluar dari kerjanya. jadi apabila kelak terjadi percekcokan karena masa lalu sang Suami sebagai pemain wanita ternyata membuahkan anak laki-laki tak berdosa,,,
berarti lebih cerdas Hanum. memang si di tolong Hendra. tetapi tidak pacaran apa
lagi menikah,,,lebih baik hanya hidup berduaan dengan putrinya,,
yang sudah sudah kalau abis bahagia biasanya di bikin sedih sengsara. mudah mudahan kali ini ga ya kasian sudah sama sama menderita 4 th dah cukuplah tinggal meraih kebahagiaan saja,,,,tapi masih ada Anak nya Zura bikin dah dig dug derrrr,,,,
menyesal karena merusak Anak gadis
wanita yang sangat di kenal,,,duh kayanya akan ada perang dunia ke empat 😂👍
semoga Leon benar' benar insyaf ,,,menjadi suami dan Ayah terbaik dan Mama Yesy. menjadi orang tua yang sangat bangga 👍🤲🤲♥️♥️